Beranda Publikasi Kolom Tradisi sebagai Perekat Relasi Muslim-Kristen di Maluku

Tradisi sebagai Perekat Relasi Muslim-Kristen di Maluku

1419

Setiap masyarakat memiliki cara tersendiri untuk membangun relasi sosial. Dalam dimensi pengalaman bersama yang berbeda, relasi sosial adalah sesuatu yang unik. Bagi orang yang hidup dalam konteks masyarakat lisan seperti Maluku, relasi sosial ada pada hubungan-hubungan setiap hari (everyday engagements). Relasi sosial dalam masyarakat Maluku diperlihara di dalam tradisi-tradisi lisan (kapata/lagu Ambon), cerita lisan turun temurun, dan ritual-ritual baik yang formal seperti mengukuhkan kembali jejaring budaya (panas pela) maupun yang non-formal seperti pertemuan orang yang ber-pela dalam relasi setiap hari.

Relasi sosial dalam pertemuan informal orang ber-pela  atau “bakudapa orang sudara” pada musim cengkeh dan durian di beberapa negeri di Maluku telah menjadi panggung pementasan sosial tentang interaksi sosial yang dimulai oleh masyarakat. Drama sosial itu telah menjadi kekuatan integrasi sosial di Maluku.

Pada banyak negeri di Maluku musim cengkeh adalah pesta rakyat karena cengkeh telah menjadi komoditas andalan Maluku selama ribuan tahun. Catatan Valentijn (1862), Andaya (1993), Donkin (2003), dan Reid (1984) bahwa cengkeh telah memberikan jalan bagi kontak Maluku dengan dunia luar sejak abad pertama Sebelum Masehi. Beberapa temuan tembikar dari abad pertama Sebelum Masehi di Suriah mengandung unsur cengkeh.

Raja-raja China di awal abad Masehi-pun telah meminta para pegawai tinggi kerajaan atau siapapun yang datang berbicara dengan raja untuk mengunyah cengkeh terlebih dahulu. Cengkeh dapat memberikan nafas yang segar ketika berbicara dengan raja. Beberapa tulisan tentang kedokteran di India pada era yang sama juga telah memasukan cengkeh sebagai bahan utama. Di Timur-Tengah, dokter sekaligus salah satu filsuf Islam awal, al-Kindi, telah menulis cengkeh dalam buku-buku medisnya.

Menjadi satu-satunya tempat dimana cengkeh tumbuh waktu itu, Maluku menjadi rebutan dunia luar. Bahkan ahli-ahli studi kolonialisme di atas menyimpulkan bahwa kolonialisme di mulai dengan perjalanan mencari Maluku sebagai pusat rempah-rempah. Pertemuan orang Eropa pertama  dengan benua Amerika (saya menolak menyebutnya sebagai penemuan), juga hanya karena Columbus salah membaca arah pusat rempah-rempah (cengkeh dan pala). Maluku menjadi sangat penting karena rempah-rempah sehingga Belanda bersedia menukar Manhattan di New York dengan Pulau Run di Banda.

Naik turunnya harga cengkeh juga sangat berpengaruh bagi hubungan Maluku dengan Belanda. Ketika harga cengkeh baik, anak-anak muda Maluku menolak dengan keras rayuan untuk mendaftar sebagai serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger). Pada era itu banyak anak muda Maluku diculik dan dipaksa berangkat ke Jawa untuk menjadi tentara KNIL. Inilah, menurut Nanulaita (1966) dan Chauvel (1990), salah satu alasan perang Pattimura melawan Belanda. Baru ketika harga cengkeh turun di pasar Eropa, anak-anak muda Maluku bersedia teken serdadu KNIL.

Musim cengkeh bahwa telah menjadi media mempererat hidup pela (gandong, keras, darah, batu karang, tempat siri dan sebagainya). Di tahun 1970-an dan awal 1980-an ketika cengkeh sangat berharga, orang di Pelauw misalnya akan tinggal dan turut memanen (ma’ano) cengkeh di Titawai, negeri gandong-nya, ketika cengkeh di Pelauw tidak berbuah. Pada musim yang lain ketika “emas hitam” era kolonial itu tidak muncul di Titawai, orang Titawai akan ma’ano cengkeh di Pelauw.

Kisah ini terjadi di banyak tempat dan menjadi, meminjam istilah Turner (1974), drama bagi integrasi sosial (drama of social integration).

Sayangnya ketika cengkeh dikuasai oleh Tommy Soeharto lewat Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) di tahun 1990, harga cengkeh menurun dengan sangat tajam. Kekecewaan yang memuncak dari monopoli atas komoditas utama Maluku itu, masyarakat di banyak negeri menebang pohon cengkeh. Musim cengkeh tidak lagi menjadi pesta rakyat semeriah sebelum hegemoni negara atas ekonomi rakyat ini terjadi. Di era ini hampir tidak ada lagi orang Pelauw yang datang ma’ano cengkeh di Titawai. Orang-orang Ambalau yang biasa datang dengan tujuan yang sama ke Nusalaut juga tidak terlihat. Negara dalam wujud Orde Baru, dalam hal ini, telah merampas drama sosial orang basudara di banyak negeri di Maluku. Untung bae kata pada era reformasi, ketika BPPC bubar, harga cengkeh kembali naik sehingga drama di negeri-negeri tetap berlanjut, meski tidak sekuat sebelum monopoli Orde Baru.

Kisah berbeda terjadi terlihat di negeri-negeri Maluku yang “terlambat” disentuh oleh Belanda, terutama negeri-negeri di pegunungan Seram. Hunitetu misalnya, perang antara Kerajaan Hunitetu dan Kompeni Belanda yang baru selesai pada awal abad ke-20 Masehi menyebabkan cengkeh tidak menjadi komoditas utama seperti negeri-negeri di Ambon, Lease dan kawasan pantai Seram Selatan. Selain karena berada di pegunungan, perlawanan Hunitetu membuat Belanda tidak dapat memaksanya menanam cengkeh seperti negeri-negeri di pesisir pantai. Cengkeh hidup di sana tetapi lebih banyak cengkeh liar yang memang telah ada di sana sebelum era kolonial. Masyarakat memang lebih banyak hidup dari damar sampai sekarang.

Meski damar menjadi komoditas utama, musim durian memberikan kesan lain dalam kehidupan masyarakat Hunitetu. Musim durian menjadi pesta tahunan rakyat (social drama). Masyarakat sangat menikmati musim durian dalam bentuk bercanda (baterek), berbagai (bage waktu jaga), dan keutungan finansial (dapa kepeng). Musim durian tidak hanya menjadi pesta rakyat di Hunitetu. Peristiwa setahun sekali ini diperluas menjadi drama sosial orang basudara. Menarik bahwa setiap musim durian di Hunitetu, masyarakat Latu, negeri gandong dari Hunitetu, akan datang ramai-ramai untuk makan durian disana.

Cerita lisan di Latu menjelaskan bahwa musim durian telah menjadi, meminjam istilah Burke yang dipopulerkan oleh Geertz (1977), aksi simbolik (symbolic action) bagi hidup orang basudara antara Latu dan Hunitetu. Ketika musim durian, masyarakat Latu mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua akan datang ke Hunitetu untuk menikmati buah yang bagi orang di Barat “baunya seperti neraka tetapi rasanya seperti surga” (smell like hell, taste like heaven). Ketika musim durian datang, dua negeri yang tidak ada batas tanah (makang masuk kaluar) ini menikmati momentum menegaskan hubungan orang basudara. Dua negeri ini tidak pernah melakukan panas pela atau gandong sebagai aksi budaya (cultural action) dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Namun Musim durian telah menjadi media bersama untuk mengikat hubungan orang bersaudara.

Orang tatua di Latu akan dengan sangat gembira bercerita tentang ingatan masa kecil mereka diajak para orang tuanya makan durian di negeri wari”, sebutan adik oleh “wa” (kakak) Latu untuk Hunitetu. Musim durian menjadi alat mengingatkan generasi muda tentang hubungan “wari-wa.” Ingatan bersama itu membuat masyarakat (basudara) di Hunitetu dengan senang hati menyerahkan dusun durian-nya untuk basudara dari Latu. Bagi banyak orang di Latu musim durian, menggunakan istilah Connerton (1989), telah menjadi “alat ingat sosial” (device of social remembrance) untuk mengingat relasi budaya dengan basudara di Hunitetu.

Dusun cengkeh dan durian di Maluku telah menjadi “teater” bagi pagelaran budaya (cultural performance) untuk menguatkan integrasi sosial. Dalam konteks ini musim cengkeh dan durian tidak hanya menjadi peristiwa ekonomi. Musim-musim ini telah menjadi titik temu basudara pela untuk menguatkan rasa orang basudara.

 

Artikel sebelumyaBlandar Dawakna: Etika Kehidupan Warga Sedulur Sikep
Artikel berikutnyaMelestarikan Budaya Srawung
Dr. Izak Y. M. Lattu adalah pengajar di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dan Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here