Minggu, Maret 29, 2020

Dewan Penasehat

Ketua

 Y.W. Junardy Y.W. Junardy adalah pebisnis sekaligus aktivis di bidang sosial kemanusiaan dan lingkungan. Ia aktif di berbagai lembaga dan perusahaan, antara lain, Wakil Presiden Komisaris PT Rajawali Corpora, Presiden Indonesia Global Compact Network, anggota Expert Network United Nations Global Compact, Konsul Kehormatan Republik Namibia untuk Indonesia, Presiden Asia Marketing Federation Foundation, Ketua Senat Indonesia Marketing Association dll. Sebelumnya, ia pernah menjadi anggota President’s Advancement Advisor Committee of National University of Singapore, anggota Dewan Riset Nasional, CEO Excelcomindo (XL Axiata), Komisaris RCTI, dan CEO IBM / USI Indonesia. Junardy pernah menerima penghargaan medali emas “Global Business and Interfaith Peace Award” dari Religion Freedom & Business Foundation. Ia menulis pengalamannya di buku Full Circle: Managing through Learning, Leading, Serving. Selain itu, ia juga editor buku Kraton Jogja: the History and Cultural Heritage.

Anggota

Ahmad Syafii Maarif  adalah sejarawan dan cendekiawan Muslim terkemuka. Buya Syafii adalah pendiri The Maarif Institute for Culture and Humanity serta guru besar sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta. Ia memperoleh gelar doktor dari The University of Chicago, Amerika Serikat, dengan disertasi berjudul Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia. Pada 2008, Buya Syafii menerima Ramon Magsaysay Award for Peace and International Understanding. Beberapa buku yang pernah ditulisnya, antara lain, Islam dan Masalah Kenegaraan; Islam dan Politik; Membumikan Islam; Islam, Humanity and the Indonesian Identity, dll

Robert W. Hefner adalah Professor of Anthropology and Global Affairs di Boston University. Ia adalah mantan Presiden Association of Asian Studies dan mantan Direktur Institute on Culture, Religion and World Affairs. Profesor Hefner yang menerima berbagai penghargaan atas prestasi akademisnya ini adalah spesialis studi ke-Indonesia-an serta kajian kebudayaan dan kepolitikan umat Islam. Disertasi doktoralnya adalah tentang komunitas Hindu Tengger di Jawa Timur. Ia telah menulis lebih dari 140 artikel yang terbit di berbagai jurnal ilmiah dan lebih dari 20 buku, antara lain, Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, The Political Economy of Mountain Java, Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, Shari’a Politics: Islamic Law and Society in the Modern World, Making Modern Muslims: the Politics of Islamic Education in Southeast Asia, Routledge Handbook of Contemporary Indonesia, dll.

Siti Musdah Mulia adalah guru besar studi keislaman, aktivis hak-hak azasi manusia, dan praktisi dialog antaragama. Ia adalah Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace, selain profesor di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Atas berbagai dedikasinya, Profesor Musdah menerima sejumlah penghargaan penting, antara lain, International Women of Courage Award (Amerika Serikat), Yap Thiam Hien Human Rights Award (Indonesia), International Women of the Year Award (Italia), The Ambassador of Global Harmony (The Anand Ashram Foundation), dsb. Beberapa buku yang pernah ditulisnya, antara lain, Negara Islam: Pemikiran Politik Haykal, Kemuliaan Perempuan dalam Islam, Muslimah Reformis, Perempuan dan Politik, dll.

 

John A. Titaley adalah Guru Besar Teologi di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) di Ambon. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Rektor, Dekan Fakultas Teologi, dan Direktur Pascasarjana, semua di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Ia sempat memprakarsai pendirian Pusat Studi Agama Asli Indonesia. Profesor Titaley memperoleh gelar Doctor of Theology (ThD) dari Graduate Theological Union, Berkeley, Amerika Serikat, dengan disertasi berjudul A Sociohistorical Analysis of Pancasila as Indonesia’s State Ideology in the Light of the Royal Ideology in the Davidic State.

 

Sudhamek AWS adalah pebisnis, altruis, spiritualis, aktivis ormas lintas iman, sekaligus pejabat tinggi pemerintah. Ia adalah anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Chairman Garudafood, Ketua Dewan Pengawas Majelis Buddhayana Indonesia, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (2016-2019), dll. Penerima Doctor of Honoris Causa (DHC) di bidang Manajemen Strategis dari Universitas Kristen Satya Wacana ini pernah mendapatkan sejumlah penghargaan internasional, antara lain, The Legacy Award dari Presiden Filipina dan Ernst & Young Entrepreneur of the Year 2004.

 

Ida Rsi Acharya Waisnawa Agni Budha Wisesanatha adalah mantan eksekutif dan pebisnis perhotelan yang–karena panggilan alam–kemudian lebih memilih menjadi seorang pandita dan guru spiritual. Ida Rsi juga aktif sebagai pembicara di berbagai forum diskusi, pembimbing spiritual dan kebijakan, serta aktivis sejumlah lembaga budaya–baik sebagai ketua maupun pembina–seperti Forum Studi Majapahit, Yayasan Mirah Delima Institute, Paiketan Krama Bali, Gema Perdamaian, dll.

 

Christine Hakim adalah seorang aktris ternama sekaligus produser film dan aktivis sosial-budaya. Sejak 1973 hingga 2019, ia telah membintangi lebih dari 53 film, sebagian mendapatkan penghargaan baik di Indonesia maupun mancanegara seperti Cinta Pertama, Daun Diatas Bantal, Pengemis dan Tukang Becak, Cut Nya’ Dien, Kartini, Di Balik Kelambu, dll. Sejak 1985, Christine juga terlibat sebagai anggota dewan juri di berbagai festival film internasional. Selain itu, oleh UNICEF dan UNESCO, Christine juga dipercaya sebagai “Goodwill Ambassador” untuk membantu membangkitkan kesadaran publik tentang pentingnya merawat kebudayaan dan kemanusiaan global.

Mudjahirin Thohir adalah Guru Besar Antropologi Universitas Diponegoro dan Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah. Profesor Mudjahirin yang juga anggota Mustasyar (Dewan Penasehat) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah ini juga pernah menjabat sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa tengah (2014-2019). Profesor Mudjahirin menyelesaikan studi doktor di Universitas Indonesia dengan disertasi berjudul Kehidupan Keagamaan Orang Jawa Pesisir: Studi Orang Islam Bangsri, Jepara. Beberapa karya akademiknya, antara lain, Kedewasaan Beragama; Orang Islam Jawa Pesisiran; Memahami Kebudayaan:Teori, Metodologi, dan Aplikasi; Wacana Masyarakat dan Kebudayaan Jawa Pesisiran; Metodologi Penelitian Sosial Budaya; Multikulturalisme Agama, Budaya, dan Sastra; dll.

Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Culture Studies. Bambang dikenal sebagai cendekiawan, praktisi dialog antar-iman, dan spesialis studi kekristenan Timur Tengah. Melalui dirinya, kekristenan Timur Tengah (Koptik, Maronit, Ortodoks Suriah dll) diperkenalkan di Indonesia sebagai medium untuk menjembatani kebuntuan dialog Islam-Kristen. Selain itu, Bambang yang pernah studi di Dar Comboni for Islamic Institute, Kairo, juga getol mengadvokasi jejak-jejak sejarah budaya dan agama warisan leluhur Nusantara. Ia telah menulis banyak karya akademik, antara lain, Telaah Kristis atas Injil Barnabas, Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam, Jangan Sebut Saudaramu Kafir, Religi and Religiusitas Bung Karno, dsb.

KGPH DipokusumoKGPH Dipokusumo (Gusti Dipo) adalah putra mendiang SSISKS Pakubuwono XII, Raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Gusti Dipo adalah seorang dosen, pembicara publik, aktivis budaya, dan praktisi dialog antaragama. Selain sebagai Ketua Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Slamet Riyadi, Gusti Dipo yang pernah menerima gelar kehormatan dari Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia, juga tercatat sebagai anggota tim ahli Cagar Budaya Surakarta, Dewan Kurator Museum Keris Surakarta, tim ahli Jaringan Kota Pusaka, dsb. Selain itu, ia juga aktif di berbagai ormas dan lembaga (baik sebagai pengurus harian maupun penasehat) seperti Forum Lintas Lembaga Adat dan Tradisi Budaya Indonesia, Forum Lintas Agama dan Golongan, Perhimpunan Pedalangan Indonesia, Komite Bahasa Jawa, dll.