Beranda Publikasi Kolom Ritual Shamanisme dalam Kesenian Jathilan

Ritual Shamanisme dalam Kesenian Jathilan

23
0

Fiki Fernanda Nur Rahmawati (Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Seni Universitas Negeri Yogyakarta)

Aspek Seni dan Pertunjukan

Ritual shamanisme sering kali kaya akan unsur teatrikal, musik, dan tarian. Di Jawa, misalnya, shamanisme diduga telah memengaruhi perkembangan musik dan seni pertunjukan, seperti yang terlihat dalam penggunaan instrumen tertentu dan ritual yang menyertainya. Dalam konteks seni dan budaya shamanisme menjadi sebuah narasi panjang tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan dunia spiritual, mengatasi masalah kehidupan, dan membentuk identitas budaya. Ia adalah warisan kuno yang terus beradaptasi, berinteraksi dengan modernitas, dan tetap relevan dalam berbagai bentuk hingga saat ini.

Shamanisme dan Kearifan Lokal

Kesenian rakyat Jawa, khususnya Jathilan, adalah arena performatif yang kaya akan simbolisme, di mana batas antara realitas, ritual, dan pertunjukan menjadi kabur. Salah satu elemen paling esensial sekaligus kontroversial dalam Jathilan adalah praktik shamanisme yang dioperasikan oleh figur sentral, yakni pawang atau bapa.

Menurut Mircea Eliade dalam Shamanism: Archaic Techniques of Ecstasy (1964), shamanisme didefinisikan sebagai teknik kuno untuk mencapai keadaan ekstase yang memungkinkan mediator melakukan perjalanan antara dunia manusia dan dunia roh. Kata “shaman” berasal dari bahasa Manchu-Tungus, di mana “ša-” berarti “mengetahui”.

Seorang shaman secara harfiah berarti “orang yang mengetahui”. Sejarah shamanisme sangat panjang dan universal, ditemukan dalam berbagai budaya di seluruh dunia. Terutama di masyarakat Indonesia, praktik ini tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan dunia spiritual dan membentuk identitas budaya.

Dapat dipahami pada seorang individu yang disebut “shaman” (dukun atau tabib) pada masyarakat jawa shaman seing disebut “wong pinter”, pada kesenian Jathilan disebut pawang. Jejak shamanisme masih sangat kuat dalam kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia. Praktik shamanisme ini menciptakan sinkretisme yang unik, bukan sekadar praktik mistis, melainkan bagian integral dari identitas budaya dan spiritual masyarakatnya. Ini adalah cerminan dari hubungan mendalam antara manusia, alam, dan roh yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kesenian Jathilan praktik shamanisme melibatkan ritual pemanggilan roh, pengendalikan indang (kerasukan), dan pencapaian kondisi transenden, sering kali memicu respons moral-teologis dari sebagian masyarakat yang mengaitkannya dengan kegiatan musyrik—penyekutuan Tuhan atau praktik yang bertentangan dengan doktrin monoteisme.

Untuk itu menanggapi dikotomi penghakiman tersebut melalui lensa semiotika Roland Barthes dan teori ritual Victor Turner (1988). Praktik shamanisme sebagai sebuah teks kultural dan peristiwa liminal, dapat didekonstruksi kan makna teologis yang melekat dan menemukan signifikansi yang berbeda, yakni signifikansi estetis dan sosial, yang jauh dari konotasi musyrik dalam ranah seni pertunjukan.

Tanda Tingkat Pertama: Deskripsi dan Signifikasi

Menurut Barthes dalam Elements of Semiology (1967), tanda bekerja dalam dua tingkatan. Pada tingkat pertama (denotasi), kita mendapati sistem bahasa atau objek itu sendiri. Dalam konteks Jathilan, penanda (signifier) adalah tindakan pawang: pembacaan mantra, persembahan, dan gerakan-gerakan ritualistik yang memicu kesurupan penari (indang).

Petanda (signified) dari tindakan ini adalah ‘mediasi spiritual’ atau ‘pengendalian kekuatan supranatural’ yang diperlukan untuk menjamin keberlangsungan dan keselamatan pertunjukan. Secara denotatif, tanda ini adalah sebuah praktik tradisi yang berfungsi secara pragmatis untuk mengikat dan melepaskan energi performatif.

Dalam kerangka ilmu pertunjukan, praktik yang dilakukan oleh pawang/bapa dapat dilihat sebagai teknologi ritual untuk mengantar penari dan penonton ke dalam fase liminalitas. Liminalitas adalah fase transisi dalam ritual di mana tatanan sosial normal dibatalkan, memungkinkan munculnya kekacauan performatif yang terstruktur, seperti fenomena indang. Pawang adalah otoritas liminal yang memediasi kekacauan ini, yang secara fungsi adalah mekanisme dramaturgi untuk menciptakan ketegangan dan klimaks artistik.

Tanda Tingkat Kedua: Mitos Musyrik sebagai Naturalisasi Makna

Barthes, dalam karyanya yang monumental, Mythologies (1972), mendefinisikan Mitos sebagai sebuah sistem metalinguistik, di mana tanda tingkat pertama digunakan kembali sebagai penanda baru pada tingkat kedua (konotasi). Inilah proses di mana praktik shamanisme Jathilan diserap ke dalam wacana moral-religius.

Pada tingkat konotasi, tanda denotatif ‘praktik pawang/mediasi spiritual’ diangkat menjadi Penanda Mitos baru. Petanda mitos ini adalah ideologi atau konsep abstrak ‘transgresi batas teologis’ atau ‘penyimpangan dari kemurnian monoteisme’. Hasilnya adalah Mitos Musyrik.

Teks kultural Jathilan ini dibaca bukan berdasarkan fungsinya dalam konteks seni dan sosial, tetapi berdasarkan pelanggarannya terhadap doktrin agama. Mitos ini bekerja dengan cara naturalisasi, mengubah makna yang bersifat kultural dan historis menjadi makna yang tampak abadi, benar, dan universal secara teologis. Tindakan pawang yang awalnya adalah teknik dramaturgi dinaturalisasi menjadi dosa moral. Teori Barthes menyebut bahwa mitos menghilangkan kerumitan sejarah dan menggantinya dengan kejelasan ideologis yang sederhana.

Signifikasi Estetis dan Transendensi Performatif

Apabila kita menggeser fokus interpretasi dari dimensi teologis ke dimensi estetis-performatif, Barthesianisme, yang diperkuat oleh Turner, menawarkan pembacaan yang melepaskan praktik shamanisme dari beban musyrik. Dalam konteks kesenian Jathilan, praktik pawang adalah untuk mencapai transendensi estetis dan mengukuhkan komunitas (communitas) bukan untuk kepentingan musyrik.

Merujuk pada momen pertunjukan ketika penari dan pawang diangkat melampaui batas-batas pengalaman sehari-hari, mencapai keadaan emosional atau spiritual yang luar biasa, semata-mata melalui kekuatan ekspresi artistik dan ritual.

Sedangkan mengukuhkan Komunitas merujuk pada fungsi sosial seni pertunjukan Jathilan, di mana ritual bersama menciptakan ikatan emosional dan identitas kolektif yang kuat di antara para pesertanya (pemain dan penonton).

Fungsi Pawang bertindak sebagai operator tanda yang memastikan tanda-tanda pertunjukan (musik gamelan yang intens, gerakan yang berubah drastis) mencapai intensitas tertinggi. Kesurupan (trance) adalah petanda estetis yang menunjukkan keberhasilan komunikasi kultural dan puncak dramatik. Ia mengesahkan narasi tradisi dan menciptakan pengalaman kolektif akan hal yang luar biasa (the extraordinary).

Praktik shamanisme oleh pawang adalah kode budaya (cultural code) yang berfungsi ganda: Pertama, secara dramaturgi, menyediakan mekanisme untuk memulai dan mengakhiri kekacauan performatif. Kedua, secara sosial, ia mengikat komunitas melalui pengalaman liminal bersama yang memperkuat identitas kultural kolektif yang mendahului formalisasi ajaran agama tertentu. Seni Jathilan melalui mediasi pawang adalah ruang negosiasi identitas yang menolak pembacaan monokromatik.

Benang Merah

Semiotika Barthes yang diperkaya oleh teori ritual Victor Tuner membongkar proses ideologis di balik penghakiman moral terhadap penghakiman musyrik pada praktik shamanisme dalam kesenian di Jawa yang meliputi seni Jathilan. Ketika praktik pawang dilabeli musyrik, yang bekerja adalah mitos konotatif yang menumpangkan doktrin teologis di atas tanda kultural.

Padahal, dalam ranah kesenian Jathilan, praktik tersebut berfungsi sebagai penanda estetis dan ritual liminal yang esensial, menciptakan transendensi performatif dan mengukuhkan struktur dramatik pertunjukan, sederhananya penonton dapat takjub melihat pertunjukan yang dramatis.

Pada akhirnya, praktik shamanisme dalam Jathilan harus dipahami sebagai kode budaya (cultural code) yang memiliki fungsi ganda—dramaturgi (memulai/mengakhiri kekacauan performatif) dan sosial (mengikat komunitas). Kesenian ini adalah ruang negosiasi identitas yang menolak pembacaan tunggal (monokromatik), dan signifikansinya yang utama terletak pada nilai estetis dan fungsi sosialnya, bukan pada konotasi musyrik.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini