Beranda Publikasi Tionghoa Muslim Di Balik Pendirian Kerajaan Majapahit?

Tionghoa Muslim Di Balik Pendirian Kerajaan Majapahit?

621
0
Ziarah ke Makam Troloyo, 21 Oktober 2018 (dokumen penulis)

Oleh: Ali Romdhoni (Dosen Universitas Wahid Hasyim, Semarang)

Dari catatan sejarah kita bisa mengerti bahwa orang-orang penting di lingkaran istana Singasari telah menjalin komunikasi baik dengan kelompok Muslim dari negeri seberang. Kondisi yang demikian terus berlangsung sampai Singasari runtuh, dan akhirnya Majapahit berdiri. Mengenai hal ini, sangat menarik mencermati pemberitaan dalam Serat Pararaton.

Cerita bermula ketika kerajaan Singasari di Tumapel berhasil digulingkan oleh Adipati Gelang-gelang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1292. Awalnya Kertanegara tidak percaya bahwa Jayakatong, raja bawahan dan besannya sendiri berkhianat. Setelah melihat para prajuritnya bersimbah darah, raja yang bergelar Bhatara Siwa-Buddha (bertahta 1270-1292) itu mulai sadar, istana telah bobol.

Kertanegara memerintahkan menantunya, Wijaya untuk menghadang pemberontak dari arah utara Tumapel. Wijaya dilindungi para satria pilih-tanding Singasari: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajah Pagon, Nambi, Peteng, dan Wirot.

Pasukan Daha dalam jumlah yang jauh lebih besar telah mengepung istana Singasari. Untuk melawan orang-orang Jayakatong itu jumlah tentara Singasari terlalu sedikit. Iya, sebagian dari mereka sedang diberangkatkan ke Sumatera untuk menaklukkan Melayu. Kelak peristiwa ini dikenal sbagai ekspedisi Pamalayu (1275).

Pasukan Wijaya kocar-kacir. Kertanegara gugur bersama Patih Kebo Tengah (Apanji Aragani), dan lebih banyak lagi dari pembesar Singasari. Wijaya bersama para pengikut setianya menjadi pelarian.

Atas saran Sora, Rangga Lawe, dan Nambi, seyogyanya Raden Wijaya lari ke Madura bagian timur, meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja. Sora meyakinkan, Wiraraja bisa menolong.

Benar, Wiraraja menerima Wijaya yang sedang dalam pelarian dengan sangat baik. Puncaknya, Arya Wiraraja menyanggupi permintaan menantu bekas junjungannya itu. Ahli strategi dan penasehat politik Singasari itu kemudian mengatur langkah untuk mewujudkan keinginan Wijaya menjadi raja. Wiraraja menggunakan senjata pamungkasnya, meminta bantuan kepada raja Tatar di seberang utara (Mongolia).

“Saya bersahabat baik dengan raja Tatar. Saya akan berkirim surat ke Tatar, mengajak mereka untuk menyerang Daha,” kata Arya Wiraraja sebagaimana tertulis dalam serat Pararaton.

Dengan keahlian Arya Wiraraja dalam bidang diplomasi, politik, dan strategi kemiliteran, Raden Wijaya akhirnya berhasil menggulingkan Raja Jayakatong. Peristiwa ini terjadi tahun 1292.

Hal yang menarik dicermati dalah persahabatan Wiraraja dengan orang-orang Tatar. Asal-usul bangsa Tatar (kadang dilafalkan dengan ‘Tartar’) adalah orang-orang Turki. Mereka bermigrasi ke timur, sampai kemudian menjadi warga minoritas terbesar di Rusia. Ada juga kelompok suku Tatar yang tersebar di berbagai negara, mulai dari China, Jepang, Polandia, dan ke San Francisco. Nama Tatar mulai muncul pada abad pertengahan untuk menyebut salah satu suku Mongol. Pada awalnya, istilah Tatar atau Tartar digunakan oleh orang China untuk menyebutkan bangsa Mongol yang melewati negara China tanpa izin.

Di China, Tartar merupakan suku terkecil yang tinggal di Provinsi Xinjiang, di wilayah barat laut negeri itu. Mayoritas penduduk Xinjiang adalah warga etnis Uighur yang beragama Islam. Walaupun dikaitkan dengan Mongolia, pada kenyataannya suku Tartar lebih memiliki kemiripan budaya dan rupa (wajah) dengan orang-orang Eropa Timur. Mereka paling mashur dengan reputasi sebagai penunggang kuda terbaik.

Di Universitas Heilongjiang Harbin, China penulis memiliki seorang teman mahasiswa yang berasal dari suku Tatar. Dia seorang Muslim berkebangsaan Rusia. Kepada penulis, dia bercerita seputar tradisi keislaman orang-orang Tatar di kampung halamannya. Termasuk bagaimana suku Tatar belajar agama Islam, dan mengajari anak-anaknya.

Menurut kesan penulis, orang Tatar umumnya bisa membaca dan menulis aksara Arab dengan baik. Anak-anak di lingkungan suku Tatar mendapat pendidikan tata-cara shalat lima waktu hingga doa-doa penting keseharian. Ini menunjukkan, model keislaman mereka tidak berbeda jauh dari pendidikan keislaman tradisional di Indonesia.

Jadi, pengaruh pribadi seorang Arya Wiraraja yang bisa meyakinkan orang-orang Tatar untuk datang ke pulau Jawa, kemudian membantu penyerangan Wijaya ke Daha bukanlah kedekatan yang biasa. Artinya, pada saat itu bangsa Tatar telah percaya dengan setiap berita dan analisis politik Arya Wiraraja.

Di sisi lain, mayoritas orang Tatar beragama Islam. Iya, pasukan Angkatan Laut Tatar yang didatangkan dari daratan China itu semuanya terdiri dari orang-orang Muslim. Menurut cerita, setelah sampai di pinggiran pantai di dekat Surabaya, perahu-perahu membawa bala tentara yang dipesan Wiraraja itu menuju Tarik dengan menyusuri sungai Brantas (Wahid, 2010:2).

Mencermati kisah tentara Tatar dan orang-orang Tarik, kedekatan kedua pihak agaknya memiliki landasan (etika) nilai-nilai tertentu, mengingat mereka berasal dari dua negeri yang berbeda, bahkan berjauhan. Selanjtnya, bukan tidak mungkin prinsip (ajaran) yang dipegang kedua belah pihak saling bertemu dan mempengaruhi. Apakah Wiraraja sudah mengenal Islam, atau lebih jauh dari itu, semuanya memiliki kemungkinan.

Penulis juga mencatat ceramah-ceramah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, khususnya yang ada kaitannya dengan informasi sejarah. Dalam beberapa kesempatan Gus Dur mengatakan, hutan Tarik—yang kemudian dibuka oleh Wijaya, dan kelak menjadi kotaraja Majapahit—berasal dari kata thariqat (tarekat).

Artinya, wilayah hutan Tarik sejak awal sudah didiami oleh sekelompok orang yang mengamalkan ajaran tarekat. Mungkin juga, kerajaan Majapahit dibangun di atas landasan nilai-nilai sufistik yang bersumber dari ajaran tarekat. Bila benar demikian, sejak awal kerajaan Majapahit sebenarnya telah menjalankan nilai-nilai keislaman.

Kecurigaan penulis tentang kemungkinan kerajaan Majapahit sejak awal didirikan oleh orang-orang (muslim) penganut ajaran tarekat bukan tanpa dasar. Diceritakan, pada abad ke-10 telah ada komunitas muslim di Gresik, tidak jauh dari desa Tarik (hutan Tarik). Lahirnya masyarakat muslim itu dipelopori atau didirikan oleh Fatimah binti Maimun di desa Leran, dekat Gresik (Soedjatmoko, 2007:43).

Hingga berdirinya Majapahit berarti telah ada jeda waktu sekitar tiga ratus tahun. Dalam rentang waktu yang demikian panjang, sangat masuk akal bila masyarakat muslim telah berkembang menjadi kelompok yang kuat (Wahid, 2010:22).

Sampai di sini menjadi mudah dipahami, mengapa Arya Wiraraja meminta bantuan kepada pasukan angkatan laut Tatar ketika hendak mendirikan Majapahit.

Peristiwa lain yang memungkinkan orang-orang (tentara) Singasari bertemu dengan komunitas Muslim adalah ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Raja yang bertahta di Dharmasraya (Tanah Melayu) kala itu adalah Tribuwanaraja Mauliwarmadewa (1286–1316). Pada tahun 1286 raja ini menerima Arca Amoghapasa dari Raja Kertanegara. Delapan tahun kemudian, anaknya, Putri Dara Petak diboyong ke Majapahit dan diperistri Wijaya yang telah dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit pada tahun 1294 (Muljana, 2007:4).

Di sisi lain, sudah sejak tahun 1028 M para saudagar asing yang berpusat di muara sungai Perlak dan Pasai (keduanya di dekat Aceh) berusaha memonopoli daerah penghasil lada di sungai Kampar kanan dan Kampar kiri (di Minangkabau). Mereka umumnya seorang Muslim beraliran Syi’ah, berburu buah lada di Pulau Sumatera dengan dukungan pemerintah Dinasti Fathimiah (909-1171 M) di Mesir.

Selain berdagang dan mengenalkan ajaran Islam, pada tahun 1128 M para pedagang ini menyeponsori berdirinya kesultanan Pasai, dan pada tahun 1161 M ikut mendirikan kesultanan Perlak. Sampai tahun 1168 M, tidak ada kelompok lain yang bisa menggeser pengaruh kaum perantau dari Mesir ini (Muljana, 2007:130).

Keberadaan kerajaan Islam di Sumatera ini juga disaksikan seorang pedagang dan penjelajah dari Venesia, Italia yang pernah menyusuri jalur sutera. Sekitar tahun 1292 M, Marco Polo singgah di Samudera Pasai. Menurut Marco Polo, di Pasai ada banyak orang yang sudah mengenal dan menyebarkan Islam. Catatannya tentang kisah-kisah menarik selama berperjalanan kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul The Travels of Marco Polo (New York, 1845).

Pertemuan pasukan Singasari dengan orang-orang dari Dinasti Fatimiyah di Tanah Melayu selama hampir dua puluh memungkinkan mereka saling bertukar-pengetahuan dan kebudayaan, termasuk nilai-nilai universal (agama).

Selain itu, sumber-sumber lama seperti Babad Tanah Djawi, Babad Demak Pesisiran, dan Babad Pajang mengabarkan, raja Majapahit terakhir memiliki seorang istri perempuan muslim anak seorang raja dari negeri Campa. Pernikahan Raja Brawijaya dengan Putri Campa melahirkan tiga anak. Keluarga Campa ini pendukung bagi kemudahan perkembangan Islam di Jawa pada masa-masa selanjutnya.

Dari paragraf-paragraf di atas bisa dipahami, pada akhir kekuasaan Singasari telah terjadi kontak politik antara elit istana Singasari dengan angkatan laut Tatar yang muslim. Pada masa-masa berikutnya, penguasa Majapahit memberi kelonggaran bagi tumbuh dan berkembangnya agama Islam di Jawa. Para pembawa agama Islam dari negeri seberang (Campa) diijinkan untuk menyiarkan syari’at, dan pada akhirnya dijadikan kerabat dekat istana.

Tanah pekuburan Muslim Troloyo yang berada tidak terlalu jauh dari pusat situs terbesar peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur juga menjadi bukti bahwa Islam sudah berada di dalam Istana Majapahit. Sejumlah tokoh penting Majapahit yang ternyata seorang Muslim dimakamkan di tanah pekuburan itu.[]