Beranda Publikasi Kolom Permainan Tradisional dalam Serat Centhini

Permainan Tradisional dalam Serat Centhini

627
Permainan para murid sebuah TK di Amerika Serikat (Courtesy: Sumanto Al Qurtuby)

Dewi Ayu Larasati (Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)

Terasa ada yang berbeda ketika melihat anak-anak zaman sekarang. Gempuran perkembangan teknologi rupanya telah menggeser pola bermain anak-anak saat ini.

Sulit sekali menemukan anak-anak yang bermain diluar rumah seperti kejar-kejaran, petak umpet, lompat tali, kelereng, dan permainan tradisional lainnya. Mereka asyik dengan gadget atau gawai masing-masing. Tidak hanya di rumah, sepulang sekolah atau saat berkumpul bersama teman pun gawai menjadi salah satu benda yang tidak pernah lepas dari kehidupan anak-anak yang lahir di zaman milenial saat ini. Mereka pun cenderung sudah kecanduan dengan barang kotak tersebut.

Hal ini tentu mengkhawatirkan, sebab kecenderungan meningkatnya kasus anak kecanduan permainan berbasis internet (game online) di satu sisi tentu sangat berdampak besar pada aspek psikologi anak usia dini. Meskipun dapat mengasah otak dari segi kognitif, ketertarikan anak pada gawai telah membuat mereka semakin agresif, malas, individualis, dan pikirannya selalu ingin mengikuti media sosial. Terlebih akhir-akhir ini kasus kriminalitas yang dilakukan anak di bawah umur remaja justru meningkat. Penyebabnya adalah karena kecanduan game online.

Badan kesehatan dunia WHO juga bahkan telah memasukkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit mental pada anak. Para ahli di WHO menambahkan kecanduan game ke dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD) ke-11 (dikutip dari halodoc.com, 26/7/2023).

Sebaliknya permainan tradisional yang mulai ditinggalkan justru lebih banyak memiliki kelebihan, baik dari aspek motorik, kognitif, emosi, bahasa, sosial, ekologis, moral maupun spiritual.  Itulah nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa dan merupakan karakter bangsa Indonesia.  

Oleh karena itu, alangkah sayangnya jika permainan-permainan tradisional tersebut tidak lagi dikenal oleh masyarakat, khususnya anak-anak.

Aneka Permainan Tradisional dalam Serat Centhini

Sejak dahulu, permainan tradisional sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dan diwariskan secara turun-temurun. Berbagai permainan tradisional yang asli khas Indonesia tersebut tidak saja ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi lisan (getok tular), namun juga terekam dalam naskah-naskah cetak kuno di Nusantara. Salah satu naskah cetak kuno yang memuat ingatan memori dolanan anak atau permainan tradisional adalah Serat Centhini.

Serat Centhini merupakan buku kesusastraan Jawa yang aslinya bernama Suluk Tembangraras. Buku yang selesai ditulis pada 1823 ini adalah buah karya tiga pujangga dari Kerajaan Surakarta yakni Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan R. Ng. Sastradipura.

Dalam konteks ini, Serat Centhini adalah produk adiluhung dari sebuah karya sastra yang dapat menjadi acuan atau petunjuk warisan budaya bangsa dengan pendekatan historis-antropologis. Salah satunya adalah tentang eksistensi permainan tradisional yang sudah mengakar di masyarakat Jawa khususnya.

Berikut ini adalah jenis permainan tradisional yang ada dalam Serat Centhini.

Dhakon

Menekuri naskah Centhini jilid II secara cermat, permainan tradisional dhakon kerap disebutkan berulang kali dan merupakan permainan yang sangat digemari oleh putri dari Sunan Giri yaitu Niken Rancangkapti (adik dari Jayengsari), seperti dalam kutipan berikut,

“Diyah Niken meminta dicarikan mainan yang lain, yaitu dhakon dan pasaran. Buras segera menjawab bahwa mainan tersebut telah diambil yuyu kangkang ketika berada di Kali Emas” (Serat Centhini Jilid II, 2020:21)

Dhakon adalah jenis permainan yang sangat khas dari Nusantara. Di Sumatra permainan ini dikenal dengan nama congkak; di Lampung disebut dentuman lamban; sedangkan di Sulawesi permainan ini Bernama makaotan, anggalacang, atau nogarata.

Permainan dhakon mempergunakan kecik (isi buah sawo atau tanjung), klungsu (isi buah asam), kerikil, dan sejenisnya, serta alat bantu sepotong kayu atau sejenisnya yang dilubangi berjejer mendatar dengan jumlah 7, 9, atai 11 lubang, dan dibuat sebanyak dua baris yang sama jumlahnya, kemudian di samping kanan-kiri lubang-lubang tersebut dibuat lubang yang lebih besar, dan disebut lumbung (tempat menyimpan). Jumlah pemain dhakon minimal 2 orang, dimana mereka bermain secara bergilir sesuai kesepakatan bersama.

Namun sejarah dhakon sendiri tidak diketahui pasti kapan munculnya. Menurut RA. Maharkesti, BA dalam Laporan Penelitian Jarahnitra (dikutip dari kedudayaan.pdktjateng.go.id, 9/6/2021) menyebut bahwa ada tiga versi. Pertama dhakon masuk keraton sejak kejayaan Majapahit, tepatnya di pemerintahan Ratu Kencana Wungu, karena ada satu cerita yang menyebut bahwa Ratu tersebut suka bermain dhakon.

Versi kedua di masa Belanda, dhakon disebut mbedhil (senapan/meriam), dimana di masa perlawanan Sultan Agung untuk mengimbangi kekuatan lawan. Para prajurit Mataram yang kebanyakan dari golongan petani giat berlatih bedhil dan disela-sela istirahatnya bermain tradisi mereka, termasuk dhakon. Sehingga permainan itu masuk ke lingkungan keraton.

Versi ketiga, permainan dhakon dibuat oleh Ki Buyut Manggal dari lereng Gunung Lawu. Ki Buyut Manggal merupakan seorang ilmu gaib dan meramal nasib seseorang dengan main dhakon dari kayu sawo, sehingga diberi nama Gus Gamplong. RM Gandakusuma (KGPAA Mangkunegara IV) sempat menjadi muridnya saat itu, hingga usai belajar, memohon izin untuk membawa Gus Gamplong. Sejak itu permainan dhakon masuk Pura Mangkunegaran dan digunakan sebagai permainan para putri yang menunggu giliran menari.

Pasaran

Pasaranberasal dari kata pasar. Permainan tradisional pasaran adalah kegiatan bermain yang melibatkan proses jual beli dengan menggunakan benda-benda atau barang-barang yang memiliki ciri khas lokal (Antawati, 2012:23).

Dalam hal ini, permainan tradisional pasaran merupakan satu bentuk bermain peran (role play) yang dimainkan oleh minimal dua anak atau lebih, berperan layaknya sebagai penjual dan pembeli. Aktivitas permainan ini seperti berbelanja sayur di pasar, memasak, membersihkan rumah dan lain sebagainya.

Permainan tradisional pasaran memiliki banyak manfaat, yaitu nilai sosial dan nilai pendidikan, seperti melatih kemampuan berhitung, bekerja sama, percaya diri, serta melatih keberanian.

Permainan tradisional pasaran juga berpotensi menghubungkan anak dengan alam melalui permainan. Misalnya saja daun mangkok yang ditumbuk dan diperas dapat digunakan sebagai minyak goreng, kembang sepatu bunganya bisa dijadikan sirup, benalu tali putri bisa dijadikan mie, dan batu bata yang dihancurkan bisa dijadikan sambal atau gula Jawa saat dimainkan.

Dalam Serat Centhini, permainan tradisional ‘pasaran’ disebutkan dalam teks berikut,

“Diyah Niken meminta dicarikan mainan yang lain, yaitu dhakon dan pasaran” (Serat Centhini Jilid II, 2020:21)

“Jayengsari memohon kepada Ki Buyut untuk ke puncak Tengger. Dyah Niken memilih untuk bermain pasaran dengan teman sebayanya, anak-anak gunung. Nyi Buyut mengajak Dyah Niken ke kebun belakang, dan di sana sudah banyak anak-anak lainnya. Mereka memetik daun lembayung, seledri, dan aneka macam bunga” (Serat Centhini Jilid II, 2020:41)

Mainan Pengantin-Pengantinan

Pengantin-pengantinan merupakan permainan pengantin ala anak-anak. Dalam permainan pengantin-pengantinan seorang anak akan berperan bermain sebagai perias, sebagai penari, sebagai ibu pengantin, sebagai tamu dan sebagai pengantin sendiri.

Alat-alat yang dibutuhkan untuk bermain pengantin-pengantinan cukup sederhana, seperti daun-daunan dapat dijadikan mahkota pengantin, bata merah yang dihaluskan dapat digunakan untuk bedaknya, serta gincunya yang berasal dari pewarna merah makanan.

Dalam naskah Serat Centhini (2020:21), Niken Rangcangkapti yang masih terbilang ‘bocah’ sangat suka dibuatkan aneka permainan anak-anak. Seperti ketika suara azan terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah Kiai Amat Sungѐb (Ahmad Syu’eb), saudara laki-lakinya yaitu Jayengresmi dan Buras bergegas hendak ke masjid. Namun, Niken Rancangkapti tak mau ditinggal, dan maunya mengikuti keduanya. Raden Jayengsari memberi tahu bahwa ia hendak pergi ke masjid dan akan kembali seusai salat isyak. Diah Niken bersedia ditinggal tetapi dia meminta dibuatkan mainan pengantin-pengantinan.

Jumpritan

Permainan jumpritan merupakan permainan yang sangat digemari sejak masa lampau. Kata jumprit merupakan kosakata Jawa yang bersifat lokal. Tak ada di dalam kamus yang resmi. Di sebagian wilayah Surabaya, kata jumprit bermakna sembunyi, sehingga permainan jumpritan sama dengan petak umpet.

Asal usul jumpritan konon juga dikaitkan dengan Ki Jumprit yang dikisahkan dalam Serat Centhini saat membahas perjalanan Cebolang ketika tiba di Gunung Sindoro. Dalam pengembaraannya, Cebolang bertemu dengan seorang pejabat berpangkat kentol atau demang yang menceritakan sosok Ki Jumprit. Ki Jumprit adalah seseorang yang tadinya terkena penyakit aneh. Badannya lemas hingga tak berdaya. Hingga suatu ketika ia mendapat wangsit Jawata Agung untuk bertapa saka tunggal di hulu Kali Praga. Setelah ia berendam di dalam air yang sangat dingin tersebut, alhasil penyakitnya sembuh total. Badannya sehat dan bugar kembali. 

Setelah merasa sehat wal’afiat, Kyai Jumprit lalu menetap di timur sumber air Kali Praga ini. Desa ini pun kemudian dinamakan Desa Jumprit dengan mata air yang dinamakan Umbul Jumprit.

Dewasa ini Umbul Jumprit berada di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Hingga sekarang Umbul Jumprit menjadi daerah wisata dan banyak peziarah yang mengunjungi makam Ki Jumprit di kawasan tersebut.

Permainan tradisional anak yang tertulis dalam Serat Centhini merupakan manifestasi budaya yang turun-temurun dan tentu sarat makna. Kekayaan intelektual kultural ini semakin terasingkan apabila tidak dilaksanakan atau diabaikan oleh generasi masa kini. Sudah saatnya kita melestarikan permainan tradisional. Dan akan lebih baik bila pemerintah daerah menyisipkan permainan tradisional dalam muatan lokal sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Antawati, D.I. 2012. “Membangun Jiwa Kewirausahaan Pada Anak Usia Dini dengan Permainan Tradisional Pasaran.” Majalah Ekonomi & Bisnis, 23-30.

Chodjim, Achmad. 2020. Serat Centhini Jilid 2 A. Tangerang Selatan: Penerbit BACA

Dharmamulya, Sukirman, dkk. 2005. Permainan Tradisional Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.

Khoiri, Agniya. 2018. Permainan Tradisional, Puncak dari Segala Kebudayaan.

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180817120306-241-323001/permainan-tradisional-puncak-dari-segala-kebudayaan/1

Jumpritan, Permainan Tradisional Arek Malang yang Hampir Sirna. 2022.

https://www.volkpop.co/unpopuler/pr-2105500827/jumpritan-permainan-tradisional-arek-malang-yang-hampir-sirna

Rokom. 2018. Inilah Dampak Kecanduan Game Online.

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180706/4226605/inilah-dampak-kecanduan-game-online/

WHO: Kecanduan Game Merupakan Gangguan Mental. 2023.

https://www.halodoc.com/artikel/who-kecanduan-game-merupakan-gangguan-mental

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini