Beranda Publikasi Kolom Perlawanan Budaya Sastra Using dan Tari Gandrung Banyuwangi

Perlawanan Budaya Sastra Using dan Tari Gandrung Banyuwangi

661

Oleh: Tjahjono Widijanto (penulis adalah esais dan penyair yang tinggal di Ngawi, Jawa Timur. Memperoleh gelar doktor di bidang studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia)

Menurut Pigeaud, sejarawan Belanda yang ahli di bidang studi sastra Jawa, kata using (“sing”  atau “hing” mempunyai arti ‘tidak’, yang kemudian melahirkan istilah “Wong Using” dan “Basa Using”) sebenarnya untuk menyebut komunitas (masyarakat) Blambangan atau Banyuwangi (Jawa Timur) saat masih setia terhadap adat dan budaya Hindu Jawa yang tidak mau menerima dan hidup bersama dengan pendatang dari luar. Sebagai wujud kebudayaan lokal, bahasa Using dimaknai dan diperlakukan sebagai tanda budaya yang dapat menjadi identitas budaya yang dapat menjadi sikap penolakan atau wacana tanding bagi budaya lain yang lebih besar.

Sikap penolakan budaya ini tidak lepas dari perjalanan sejarah tanah Blambangan yang sarat dengan ironi dan tragedi. Secara historis Blambangan menjadi wilayah yang selalu diperebutkan mulai dari kekuasaan Majapahit, Mataram dan Bali. Peperangan dan pertumpahan darah terus mewarnai riwayat tanah Banyuwangi ini. Dimulai dari peperangan Nambi (1316), Perang Sadeng (1331), Perang Paregreg yang melelahkan dan melemahkan Majapahit tetapi berujung pada gugurnya Raja Blambangan Bhre Wirabumi (1401-1406).

Kemudian serangan Mataram dimasa penguasa pertama Mataram, Panembahan Senopati (1584), dilanjutkan lagi dengan ekspansi Pasuruan (1596). Tahun 1625, pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram untuk kedua kalinya menyerang Blambangan dalam rangka menaklukkan Surabaya, dan tak lama kemudian (1636) Blambangan dibumihanguskan oleh Sultan Agung. Lalu, tahun 1674 dilakukan penyerangan Mataram lagi (oleh Amangkurat I). Tahun 1696, Kerajaan Buleleng dari Bali juga berusaha menaklukan Bayuwangi sampai akhirnya terjadi perang “Puputan Bayu” melawan VOC dan Mataram selama lima tahun (1767-1772).

Dalam citra wacana budaya pun, Banyuwangi sering dipojokkan dan dicap sebagai masyarakat marginal yang sering memberontak. Tokoh Raja Blambangan Bhre Wirabumi, dalam versi Majapahit dan ketoprak Mentaraman dicitrakan sebagai tokoh jahat, penindas dan buruk muka dengan nama Minak Jinggo. Padahal menurut budayawan Hasan Ali, Minak Jinggo atau Bhre Wirabumi bagi masyarakat Banyuwangi adalah tokoh keluarga Majapahit yang tidak berkeinginan memberontak dan hanya sekedar menagih janji Majapahit karena telah menaklukan Kebo Marcuet yang memang memberontak pada Ratu Suhita di Majapahit.

Karena itu dalam sastra lisan Using Jinggoan di Banyuwangi, tokoh Minak Jinggo justru tampil sebagai sosok tampan, halus dan berbudi bertolak belakang dengan versi ketoprak Mentaraman yang sering dicitrakan sebagai orang yang buruk rupa, pincang, kejam dan pemarah.

Perlawanan Budaya Bahasa/Sastra Using

Bahasa Using yang digunakan di Banyuwangi karena lahir atau ekspresi traumatis dari perasaan yang selalu “ditekan” dan “ditindas” secara politis memilih jalan yang berseberangan dengan bahasa Jawa baku (Mentaraman) yang dianggap sebagai kebudayaan besar yang menghegomoninya.

Karena itu dalam bahasa (sastra) Using tidak dikenal tingkatan-tingkatan berbahasa  (bahasa Jawa: andha-usuking bhasa atau hirarki bahasa) seperti yang ditemui dalam Bahasa Jawa. Dengan demikian orang Using tidak mengenal tingkat tutur yang berdasar pada stratifikasi sosial. Semua lawan bicara diletakkan pada hubungan yang sama dan sederajat. Kultur egaliter masyarakat Using direfleksikan dalam struktur bahasa  yang  bersifat horizontal-egaliter, bukan secara vertikal-hierarkis sebagaimana budaya Jawa Mentaraman.

Perlawanan budaya ini juga tampak dalam sastra tulis Using Sri Tanjung. Oleh Zoetmulder dalam bukunya yang melegenda, Kalangwan (1985), dijelaskan bahwa cerita dalam Sri Tanjung  sangat berbeda dengan karya sastra Jawa pada umumnya, yakni tidak menampilkan latar belakang kraton dan justru menampilkan sifat kerakyatan. Naskah Sri Tanjung (versi Banyuwangi) diduga digubah pada tahun Jawa 1671 berdasarkan candrasengkala purnama anuju kuru buda, memiliki keunikan-keunikan lokal, baik dari aspek kebahasaan, kesastraan, karakterisasi tokoh, dan keberanian alur cerita.

Dari segi struktur, dalam naskah sastra Using Sri Tanjung  ditemukan struktur tembang Wukir dan Mahisa Langit yang tidak terdapat dalam tembang-tembang Jawa pada umumnya. Sedangkan pada aspek karakterisasi dan alur cerita, keagungan dan kemuliaan seorang raja tidak menjadi fokus cerita, sebaliknya justru raja menjadi obyek kritik dan kecaman. Figur raja oleh masyarakat Blambangan tidak didudukkan pada posisi istimewa tetapi diperlakukan seimbang dengan rakyat biasa.

Perlawanan Budaya Tari Gandrung

Bahasa (sastra) Using di Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari kesenian tari Gandrung  yang berakar dari kesenian Seblang. Tarian ini diselenggarakan setahun sekali sebagai upacara ritual bersih desa dalam rangka keselamatan warga desa dan mengusir roh-roh jahat.

Meskipun dalam perkembangannya saat ini Gandrung bermetamorfosa sebagai tari pergaulan yang mirip dengan seni tayub, gambyong, atau ledhek di masyarakat Jawa, namun pada awalnya tari Gandrung sebenarnya mengandung nilai-nilai simbolis perjuangan wong Blambangan dengan identias “using”-nya. Gandrung mempresentasikan karakter Using yang aclak, ladal, dan bingkak (sok tahu, penuh percaya diri, dan tak mau mencampuri urusan orang lain) dengan memakai lirik lagu berbahasa Using.

Menurut cerita lisan, gandrung muncul bersamaan dengan peristiwa “Puputan Bayu” (perang habis-habisan di Bayu) sebelum Blambangan jatuh ke tangan VOC yang dibantu oleh Mataram (Amangkurat II). Perang ini memakan korban sekitar 60.000 orang Blambangan. Padahal jumlah keseluruhan warga Blambangan saat itu hanya berjumlah 65.000 orang.

Peperangan ini melegendakan tokoh Sayu (Mas Ayu) Wiwit, pejuang wanita tanah Blambanganm yang menjadi inspirasi lahirnya tarian seblang sebagai bagian dari Gandrung. Bahkan  sebagian masyarakat Banyuwangi mempercayai arwah Sayu Wiwit akan hadir menuntun penari Seblang pada saat melantunkan gending Sukma Ilang pada bagian akhir pertunjukan Gandrung.

Akibat perang Puputan Bayu ini masyarakat Blambangan menyingkir ke pedalaman dan dalam waktu panjang bertahan dan bergerilya di hutan-hutan. Komunikasi antarprajurit (pasukan) dijalin dengan menggunakan media tarian Gandrung yang membawakan lagu-lagu perlawanan dan berita-berita rahasia dari bahasa sandi yang kemudian populer dengan nama bahasa Using.

Fungsi tari Gandrung dengan bahasa Usingnya sebagai simbol perlawanan tampak dengan tampilan gandrung yang cenderung bebas, menafikan keteraturan, kecanggihan, dan kerumitan yang menjadi ciri khas kebudayaan keraton Mentaraman. Melalui gandrung dan bahasa Usingnya, kebudayaan keraton Mentaraman (yang oleh orang Using disebut sebagai wong kulonan) bersama-sama dengan kekuatan VOC yang notabene melahirkan budaya kraton dianggap menghegomoni budaya  dan sosial politis masyarakat Blambangan dilawan habis-habisan.

Apabila budaya kraton produk wong kulonan (baca, Mentaraman) membuat benteng kebudayaan kraton yang penuh dengan aroma pensakralisasian, serba kehalusan, ketertutupan, perumitan, penghalusan, keselarasan dan kecanggihan sehingga menutup peluang improvisasi (semisal tari bedhaya, serimpi, dlsb), masyarakat Using justru membuat gandrung yang penuh dengan kebebasan, improvisasi, kesederhanaan dan keekspresifan yang sekaligus menjadi simbol identitas budaya sebagai wong etanan (“orang Timur”) yang berada pada posisi berseberangan dengan wong kulonan (“orang Barat”).

Apabila kesenian wong kulonan hadir sebagai produk budaya yang menganggap dirinya sebagai produk budaya “adi luhung” karena itu harus memisahkan diri dan mengambil jarak sedemikian rupa dengan masyarakat luar kraton, Gandrung hadir sebagai kesenian produk dari sistem masyarakat akar rumput yang membongkar standar estetika kraton dengan meleburkan diri pada kebudayaan massa.

Secara tersirat, melalui Gandrung masyarakat Banyuwangi dengan identitas mereka sebagai wong etanan menyindir  dan mengkritik produk kesenian (budaya) wong kulonan yang meskipun tampak serba halus, selaras, dan penuh kerumitan sejatinya di dalamnya penuh dengan aroma kekuasaan, ambisi penaklukan, penindasan dan peperangan. Bagi mereka sebagai wong etanan, kebudayaan kraton wong kulonan (mentaraman) yang serba harmoni dan penuh cita rasa kehalusan itu hanyalah simbol kekuasaan feodal yang tidak berdaya di bawah kendali kekuasaan kolonial.

Penggunaan bahasa-sastra berupa tembang-tembang (puisi) Using dalam pertunjukkan Gandrung pun menunjukkan landasan filosofis yang berbeda dengan filosofis orang Jawa pada umumnya (wong kulonan). Apabila syair-syair tembang (puisi) Jawa produk pujangga kraton Mentaraman seperti Wedhatama, Wulangreh, Serat Pepali Ki Ageng Selo, dlsb isinya menceritakan dan mengatur perilaku rakyat yang harus menjunjung tinggi kesetiaan pada raja (penguasa), syair-syair tembang Using pada Gandrung (seperti tembang Padha Nonton) malah menggambarkan  perjuangan serta membangkitkan semangat rakyat Blambangan melepaskan diri dari ketertindasan.

Pertunjukan Tari Gandrung dan syair-syair tembang Usingnya yang menghindari pengagungan (pengkultusan) raja berikut kewajiban untuk selalu setia pada penguasa  menunjukan bahwa masyarakat Blambangan waktu itu memiliki perspektif yang berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumya tentang konsep kekuasaan.

Apabila konsep kekuasaan wong kulonan menganggap penguasa (raja) tidak saja sebagai pusat kekuasaan sosial tetapi juga menjadi pusat kosmos (semesta) yang ditunjukan dengan penggunaan gelar-gelar raja seperti  Pakubuwono (Pusat Semesta), Hamengkubuwono ( Yang Memangku Dunia), dan gelar Khalifatullah Sayidin Panatagama (Raja Sebagai Pemuka Agama sekaligus pemimpin kawula) atau jargon Jawa yang mengatakan sabda pandhita ratu, ratu gung binathara bau dhenda anyakrawati (Perintah raja adalah sabda Tuhan, pemimpin yang memiliki kebesaran kedewataan), bagi masyarakat Blambangan raja diletakkan hanya sebagai fungsi pengatur sosial yang tidak haram untuk digugat dan dicela.

Simbol Lain Tari Gandrung

Melalui gandrung pula seakan-akan ditegaskan pandangan bahwa sebuah kebudayaan tidak selalu harus disikapi sebagai suatu yang “mesti harmoni” tetapi juga dapat menyimpan unsur konflik yang justru bermanfaat bagi kebelangsungan kebudayaan. Dengan demikian, gandrung dan bahasa Using bagi masyarakat Blambangan (Banyuwangi) juga merupakan simbol dari pemikiran bahwa sebenarnya tidak ada sebuah budaya atau produk budaya yang paling adi luhung, paling legal, paling sah, dan paling benar.    

Kini kesenian gandrung, seperti kesenian tradisi lainnya, telah “diperkaya” dengan unsur-unsur daerah lain dan kesenian modern yang lebih canggih seperti masuknya lagu-lagu “campur sari”, lagu dangdut dan sebagainya. Gandrung kini juga telah semakin jarang memainkan “seblang” dan gending Suksma Ilang, karena seni Gandrung kini lebih  cenderung memposisikan diri sebagai tari pergaulan dan komersial.

Namun demikian, meski tipis, Gandrung tetap menyimpan spirit budaya egaliter sebuah masyarakat yang ulet dan pantang menyerah, atau paling tidak Gandrung dan Using mencerminkan sebuah masyarakat yang bangga dengan identitas dirinya dan memandang dengan kepala tegak identitas kebudayaan lainya yang berbeda dengan mereka. [NI]

 

1 KOMENTAR

  1. Gandrung Banyuwangi adalah peradaban kebudayaan Nusantara yang tidak boleh hilang atau dihilangkan sebagaimana pusaka Nusantara adalah warisan leluhur kita termasuk suku terasing yang ada di Indonesia dan wajib dilindungi oleh pemerintah RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here