Beranda Publikasi Kolom Orang Sabu dan Tradisi Bernyanyi di Atas Pohon Lontar

Orang Sabu dan Tradisi Bernyanyi di Atas Pohon Lontar

1145
Pakaian adat Orang Sabu (SHUTTERSTOCK / kuah.asam_gurita)

Daniel Hariman Jacob (Dosen Prodi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya, Universitas Indonesia)

Pulau Sabu di Nusa Tenggara Timur biasa dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk di pulau ini menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu yang artinya Tanah dari Hawu dan orang Sabu menyebut dirinya dengan sebutan Do Hawu. Nama resmi yang digunakan pemerintah setempat adalah Sabu. Masyarakat Sabu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama Hawu Ga, yaitu nama salah satu leluhur mereka yang dianggap pertama kali mendatangi Pulau Sabu.

Pulau Sabu atau dalam bahasa Sabu biasa disebut Rai Hawu, Rai Due  nga Donahu (Pulau Sabu, Pulau Lontar, dan Gula). Mata pencarian utama masyarakat Pulau Sabu adalah bertani ladang dan menyadap lontar dan mengolanya menjadi gula. Kegiatan lain yang dilakukan adalah beternak dan menangkap ikan. Masyarakat Pulau Sabu melakukan kegiatan bertani di ladang hanya sekali dalam setahun, yaitu pada musim hujan. Jenis tanaman utama yang ditanam berupa kacang hijau dan padi. Setelah itu, menyadap lontar dan memasak gula merupakan kegiatan penduduk Sabu sepanjang tahun (Kana, 1983:  6-8).

Pohon lontar (Kepue Due) dipandang sebagai dunia bagi orang Sabu, yang berarti bahwa dalam seluruh aspek kehidupan orang Sabu tidak terlepas dari lontar. Keterkaitan, keterhubungan, dan ketergantungan kehidupan orang Sabu pada lontar merupakan suatu bentuk harmoni kehidupan antara masyarakat Sabu dan lingkungan alam Sabu Raijua. Selain itu, lontar juga menjadi jembatan penghubung komunikasi yang harmonis dengan sang Ilahi, atau yang disebut Deo Ama.

Oleh karena itu, orang Sabu (Do Hawu) menyambut panen lontar penuh dengan suka cita. Mereka mempersiapkannya secara istimewa seperti hanya menyambut hari raya (hari besar). Diawali dengan pembersihan pohon-pohon lontar dan kemudian dilakukan sebuah upacara atau ritual oleh Pulodo Wadu (Ketua Adat) untuk memimpin doa sebagai ucapan syukur karena telah tiba waktunya panen lontar.

Alure Kepue Due

Dalam tradisi orang Sabu, sebelum menyadap lontar, mereka melakukan ritus (radda hubi due dan poro hogo). Ritus ini bertujuan meminta kekuatan baik untuk si penyadap dengan perlengkapannya, dan juga memohon pada Yang Ilahi agar alam bersikap ramah dengan cuaca cerah. Selain itu, orang Sabu juga meminta air nira segera datang, memenuhi mayang-mayang lontar sehingga lontar mengeluarkan air yang sedap, manis, dan melimpah untuk memenuhi kebutuhan pangan tiap-tiap keluarga. Secara khusus ritus sadap lontar diatur dalam kalender masyarakat di mana ayah (kepala rumah tangga) berperan menjadi pemimpin ritus  “radd’a hubi due”, yaitu merapikan mayang lontar.

Hal ini memberi gambaran bahwa lontar merupakan pohon dari luar yang datang dari seberang atau bagian barat dan dipelihara dengan baik sebagai dokumentasi budaya melalui ritus Hole. Poaina Bara Pa menjelaskan bahwa memang belum ada petunjuk secara ilmiah tetapi dasarnya telah disimpan dalam sejarah lisan masyarakat Sabu. Akan tetapi, dari sudut pandang religiusitas ada kesadaran bahwa lontar adalah sebuah berkat (sebagai air susu ibu) dimana mereka hanya dapat menikmati tetapi tidak dapat menambah atau memperbanyak isi nira lontar.

Nyanyian di atas pohon lontar (alu re), berisi permohonan agar mayang lontar dipenuhi air nira yang banyak seperti tampak dalam syair berikut: ‘Mai we rae toe wui,  dete wui, mai ma tobo ab’u-ab’a.’. Si penyadap menganalogikan dirinya seperti seorang anak yang telah yatim atau piatu dan meminta atau membujuk sang ibu (lontar sumber makanan) untuk memberikan air nira yang melimpah bagi penyadap dan keluarganya serta hewan peliharaanya.

Bagi orang Sabu, laki-laki yang hebat adalah laki-laki yang pandai menyadap, sebagai tanda kekuatannya untuk memelihara keluarga dan hewan peliharaan. Laki-laki yang hebat ini ditandai dengan tubuh yang sehat, rajin, tepat waktu bangun sadap, sabar, disiplin, serta teliti dalam mempersiapkan alat sadap mulai dari pisau yang perlu diasah sampai tajam, air dan sikat wadah (heb’ure) penampung nira (haba), keberanian dan keyakinan menaklukan lontar (bahkan sanggup melepas trauma usai jatuh dari pohon lontar), dan memiliki pengetahuan mengenai ritus lontar. Sang ayah adalah guru pertama yang akan melatih putra-putranya untuk menjadi penyadap dengan nilai spiritual yang diwariskan antargenerasi.

Dalam syair-syair nyanyian rakyat, selalu ditemukan pesan-pesan yang berisi pentingnya lontar bagi orang Sabu, dan menghimbau generasi demi generasi menghayati, mencintai, menjaga, memanggil untuk memelihara, dan merawat lontar bagi kelangsungan hidup manusia maupun pulau itu sendiri. Dalam tulisan ini, saya coba kutip nyanyian tua, yang hampir punah karena jarang dinyanyikan oleh generasi sekarang.

Syair ini tanpa judul, tetapi coba diberi judul oleh Paoina, Rai Due nga Donahu.

“ahi d’ue tallu, kako beko  nga pera  u ne rui, mai we di tahe la u la u,  la rai mannnyi nga-natta, harro le ie,   maji le ta j’au, b’ole ballo- ballo – rai di, rai hawu, rai due nga donahu.

Secara harafiah arti lagu tersebut adalah sebagai berikut, meskipun hidupku mulai surut, jalanku terseok-seok karena usia, aku mengajak semua saudara mengingat kampung halaman; meski berjauhan jangan lupa tanah air kita, negeri Sabu, negeri lontar dan gula. Sebagai nyanyian rakyat, pelantun syair ini tidak dikenal tetapi ia ingin menyampaikan bahwa budaya menyadap nira adalah warisan. Ia juga ingin mengatakan dan mengingatakn kepada semua generasi bahwa di mana pun kita berada, jangan pernah lupa bahwa Pulau Sabu adalah Pulau Lontar dan penghasil gula.

Pada nyanyian lain, yang penulis temukan di Sabu Barat, yang diberi judul  Due Nga Denahu, berikut kutipan dan terjemahannya:

DUE NGA DENAHU (Tuak dan Gula )

DUE NGA DENAHU NE PEMURI MADA DI (Tuak dan gula memberikan kita hidup)

MADJI LEMA DI TA HEDUI MURI MADA (Sekalipun hidup kita susah)

ERA MA DUE, DUE NGA DENAHU (tetapi ada tuak dan gula)

MURI MADA DI DJAM’MI AE MAD’DHA LO’DO (Memberi kita hidup dikala pagi dan sore hari))

DI RAI TI NAIKI DO KEPAI RI DENAHU (Semenjak kita kecil dan besar dengan gula Sabu)

NA DU WE NE DAU, ‘DHEI NGA DENAHU HAWU (Siapa pun dia, senang dengan gula Sabu)

MA’DJI LEMA RO TA DO WALA RAI (sekalipun mereka orang dari luar pulau)

ERA LEMA DO DHEI TA NGINU DENAHU HAWU (Ada juga yang minum Gula Sabu)

WO HIANGA EEEE (Hai sahabat)

MAI WE DI LA HAWU (Marilah kita ke Sabu)

LA RAI AH’HU, AH’HU TEWUNI (ke tanah asal dan pusar kita)

MA’DJI LEMA DI TA HE PARAI DAU (tetapi sekalipun kita di rantau orang)

BOLE BAL’LO RAI DI RAI HAWU (janganlah lupakan tanah Sabu)

RAI DUE NGA DENAHU (tanah penghasil tuak dan gula)

Dari syair nyanyian di atas, dapat dilihat bahwa tuak dan gula adalah salah satu mata pencaharian dan kehidupan orang Sabu. Walaupun kehidupan orang Sabu dipenuhi dengan kesulitan bahan makanan, tetapi adanya tuak dan gula selalu dapat mengatasi segala persoalan tersebut. Baik pagi maupun siang bahkan sore dan malam hari mereka dapat menahan lapar dengan makan dan minum gula Sabu.

Oleh karena sejak kecil orang Sabu sudah hidup dan besar dengan Tuak dan gula Sabu. Bahkan sekalipun orang Sabu berada di tanah rantau, mereka tidak akan pernah melupakan tanah kelahiran, yakni tanah Sabu tercinta. Syair ini semakin mempertegas bahwa orang Sabu sangat bangga dan bersyukur dengan adanya pohon lontar yang telah memberikan sumber makanan pokok mereka, yaitu gula Sabu.

Penutup

Syair nyanyian diciptakan oleh penyadap lontar berdasarkan kondisi yang ada di dalam benak penyadap sendiri. Bagi orang Sabu, bernyanyi di atas pohon lontar merupakan upaya penghiburan untuk pohon lontar (orang Sabu menganggap pohon lontar  sebagai ibu mereka), sebagai harapan agar nira yang dihasilkan lebih manis dan banyak, sebagai pengisi waktu agar tidak kesepian, sebagai penanda/pengingat untuk menyadap tuak, Sebagai tempat berkeluh kesah (Penyadap nira mengungkapkan segala perasaannya di atas pohon atau selama menyadap nira). Syair-syair ini diwariskan secara turun temurun tetapi dalam perkembangannya, penyadap nira pun bisa mengkreasikan nyanyian baru.

Kreasi nyanyian baru yang dilakukan oleh penyadap nira saat ini banyak dipengearuhi oleh beberapa hal. Berdasarkan hasil wawancara dengan Karel A. Djami Bangngu 14 Agustus 2022 diperoleh gambaran bahwa nyanyian yang muncul atau dihasilkan penyadap nira saat ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan si penyadap, misalnya latar belakang pendidikan. Pertama, apabila si penyadap nira sudah mengenyam pendidikan baik SD hingga SMA, nyanyian yang dihasilkan pun menggambarkan kondisi hati si penyadap. Kedua, masuknya agama Kristen yang membawakan lagu-lagu rohani sedikit banyaknya juga memberikan warna baru dari nyanyian penyadap lontar saat ini.

Nyanyian di atas pohon lontar menjadi gambaran bahwa orang Sabu selalu bersyukur atas karunia yang mereka dapat melalui pohon lontar. Nyanyian itu menjadi identitas orang Sabu bahwa Pulau Sabu adalah Pulau Lontar dan Gula (Rai Hawu Rai Due Nga Donahu). Oleh karena itu, melalui nyanyian mereka ungkapkan suka cita kepada Yang Ilahi.

Daftar Pustaka

Detaq, Y.Y. 1973. Memperkenalkan Kebudayaan Suku Bangsa Sawu. Ende: Nusa Indah.

Fox, James. J. 1996. Panen Lontar. Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu. PT. Sinar Harapan. Jakarta.

Kana N.L. 1983. Dunia Orang Sawu: Suatu Lukisan Analitis Tentang Azaz-Azaz Penataan Dalam Kebudayaan Orang Mehara Di Sawu, Nusa Tenggara Timur, Universitas Indonesia.

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakRelasi Agama dan Adat di Indonesia
Artikulli tjetër“Rasa” dalam Kesenian Jawa
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini