Beranda Publikasi Kolom Metode Belajar Sariswara Ki Hadjar Dewantara

Metode Belajar Sariswara Ki Hadjar Dewantara

1197
Newton Creative School, Massachusetts, USA

Oleh: Chusnul C (Alumni CRCS UGM)

Metode Sariswara Ki Hadjar Dewantara

Salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (KHD), telah mewariskan salah satu metode belajar yang sangat sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Metode yang ia cetuskan merupakan sebuah sistem pendidikan yang dinamis dan mengakar sehingga selalu relevan untuk diterapkan dalam setiap zaman, dan di berbagai tempat di seluruh bumi Nusantara. Metode tersebut dikenal dengan konsep ambuka raras angesthi widji yang bisa diartikan bahwa pendidikan harus dilaksanakan melalui pendekatan seni dan budaya.

Penggunaan kesenian dalam sistem pendidikan tentu tidak dimaksudkan untuk mencetak seniman, namun lebih pada nilai-nilai estetika yang terkandung dalam seni yang mampu menghaluskan ‘rasa’ anak-anak. Karena bagi KHD, pendidikan tidak boleh hanya sekadar mengutamakan aspek kognitif atau intelektual semata namun juga harus menyeimbangkan dengan psikomotorik atau gerak dan afeksi atau rasa.

Pengembangan pendidikan dengan pendekatan seni dan budaya yang dikembangkan oleh KHD lebih dikenal sebagai metode sariswara, yakni salah satu metode pendidikan yang mengutamakan aspek wirasa (rasa, batin, afeksi), wirama (pikiran, kognitif) dan wiraga (gerak tubuh/ psikomotorik). Dalam implementasinya, metode sariswara menggunakan sastra, lagu dan cerita sebagai instrument pembelajaran. Selain itu, metode sariswara juga memberikan pengajaran sesuai dengan porsi usianya.

Sebagaimana yang diajarkan oleh KHD melalui metode pendidikan sariswara, berbagai permainan tradisional seperti misalnya cublak-cublak suweng, pada dasarnya menekankan berbagai aspek kecerdasan serta nilai-nilai kehidupan. Aspek psikomotorik melalui gerak yang dimainkan, aspek kognitif melalui cerita dan nilai-nilai yang terkandung dalam syair, dan aspek afeksi melalui syair yang dibawakan.

Dengan memainkan permainan tradisional, kecerdasan dan karakter anak-anak terbentuk sesuai dengan karakteristik lokal maupun nasional. Selain itu, metode sariswara juga menjadi salah satu metode yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar sekaligus memenuhi kebutuhan dasar anak untuk bermain.

Lebih lanjut, metode sariswara juga menitiktekankan tiga hal yakni konsentris, konvergen dan kontinyu. Konsentris berarti mengakar pada budaya setempat, konvergen berarti dinamis dengan budaya luar untuk kemudian dikolaborasikan dengan budaya sendiri sehingga mampu membentuk budaya baru yang lebih tinggi, dan selanjutnya kontinyu yang berarti berkelanjutan (Setyawan, 2021).

Karena itu, konsep ini sekali lagi sangat cocok untuk diimplementasikan sebagai salah satu metode pendidikan di Indonesia yang memiliki karakter majemuk secara budaya maupun geografis. Namun sayangnya, metode pendidikan sariswara yang mengakar dalam pada jati diri bangsa ini seolah luput dari pembicaraan publik serta tidak banyak digunakan sebagai sebuah sistem pendidikan kolektif di sekolah-sekolah formal.

Manfaat Permainan Tradisional atau Dolanan Rakyat dalam Tumbuh Kembang Anak

Tenggelamnya metode belajar sariswara seiring dengan tenggelamnya ragam dolanan kerakyatan atau permainan tradisional di berbagai tempat yang kini tergantikan oleh gawai. Keberadaan gawai atau ponsel pintar yang menawarkan beragam fitur permainan perlahan menggeser eksistensi permainan tradisional  (Nurrachmawati, 2014). Meski gawai bisa digunakan untuk belajar, namun sisi lainnya gawai juga menawarkan beragam fitur hiburan seperti sosial media dan game yang melenakan anak-anak dan membuat mereka lebih nyaman menghadap layar dibandingkan dengan keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya.

Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena permainan online membuat anak-anak berfikir passif dan enggan untuk bergerak sehingga tumbuh kembang anak bisa terganggu. Selain itu, permainan online yang banyak menyita waktu anak-anak akan membuat mereka tumbuh sebagai pribadi yang individualis karena kurangnya interaksi.

Padahal, bermain dalam hal ini bermain permainan tradisional adalah salah satu kebutuhan dasar anak-anak dalam proses tumbuh kembang fisik, maupun psikologis. Dengan bermain, anak-anak akan belajar mengendalikan banyak hal seperti otot, perasaan, emosi maupun pikiran. Melalui permainan, anak-anak juga akan belajar bagaimana harus berkomunikasi baik dengan teman-teman sebaya, dengan teman beda usia ataupun dengan orang tua.

Ekspresi dan gerak dalam permainan menjadi dasar penilaian perkembangan anak, menjadi instrument pemeriksaan perkembangan berkala sesuai umurnya, apakah mengalami pertumbuhan yang baik ataukah terjadi penyimpangan dari perkembangan pada umumnya. Selain itu, permainan tradisional lebih ekonomis karena menggunakan bahan-bahan material yang sederhana dan bisa diperoleh langsung dari alam.

Elizabeth Hurlock dalam bukunya ‘Perkembangan Anak’ mengatakan bahwa bermain adalah proses ketika anak mencapai perkembangan utuh. Selain itu, bermain adalah sebuah aktivitas murni untuk mencari kesenangan tanpa mencari menang atau kalah (Ismail, 2006: 26). Dengan demikian, permainan bagi anak-anak adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi baik untuk proses tumbuh kembang maupun untuk memenuhi kebutuhan akan kesenangan.

Pasal 31 Konvensi hak anak bahkan mengatakan bahwa anak-anak berhak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan dan untuk turut serta secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni (Tedjasaputra, 2007).

Untuk mendeteksi perkembangan anak, setidaknya terdapat empat parameter yang bisa digunakan diantaranya gerakan motorik kasar, gerakan motorik halus, bahasa dan kepribadian atau tingkah laku (Khosasi, 2018; Lip.6/2021). Gerakan motorik kasar bisa dikembangkan melalui berbagai permainan fisik seperti bermain lompat tali, egrang, gobak sodor, gethekan, layang-layang dan lain sebagainya. Sementara gerakan motorik halus pada anak bisa dikembangkan melalui kegiatan seperti menggambar, mengukir, atau bahkan mendekorasi ruangan.

Untuk meningkatkan kemampuan bahasa, anak-anak bisa diajarkan untuk bermain wayang kertas, ketoprak anak, menyanyikan tembang dolanan, mendengarkan karawitan dan lain-lainnya. Sementara untuk menumbuhkan kemampuan kognitif atau berfikir, anak-anak bisa diajarkan bermain dam-daman, monopoli, catur, macanan dan berbagai permainan rakyat yang menekankan pada kemampuan berfikir.

Ragam permainan tradisional atau dolanan rakyat yang bisa meningkatkan tumbuh kembang anak banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Permainan rakyat umumnya dilakukan secara berkelompok sehingga akan memaksa anak-anak untuk saling berinteraksi. Selain itu, permainan rakyat merupakan cerminan ekspresi masyarakat terhadap lingkungannya sekaligus penggalian budaya nusantara yang banyak mengandung nilai-nilai spiritual, pendidikan moral dan sosial. Wujud permainan rakyat pun sangat sederhana dan bisa dibuat dari hasil alam dan karenanya memantik anak-anak untuk berkarya dalam wujud nyata sehingga membangun daya kreativitas anak.

Selain itu, karena umumnya permainan tradisional atau dolanan rakyat banyak menggunakan material dari lingkungan sekitar, anak-anak juga sekaligus belajar untuk mengenal alam lingkungannya. Karena itu nilai-nilai ekologis juga bisa diajarkan sejak dini. Jika di masa lampau, para orang tua tidak menyertakan narasi ekologis ketika anak-anak bermain, kini narasi ekologis bisa mulai digaungkan melalui permainan tradisional sehingga harapannya generasi mendatang tidak hanya memiliki keseimbangan tubuh, namun juga kepekaan ekologi, serta spiritual budaya yang mengakar kuat.

Perlunya Telaah Ulang Metode Belajar dalam Kurikulum Sekolah Serta Mempopulerkan Ulang Dolanan Rakyat

Kurikulum pembelajaran yang diimplementasikan di sekolah-sekolah umumnya lebih banyak menekankan kecerdasan intelektual atau kognitif dan di sisi lain mengabaikan sisi afeksi dan psikomotorik. Metode tersebut banyak menciptakan generasi hebat namun kurang cakap dalam hal sikap, serta kering secara spiritualitas.

Untuk itu, keseimbangan dalam proses pembelajaran sangat diperlukan agar generasi penerus bangsa tidak hanya hebat dalam akademik tetapi juga sikap yang mencerminkan jati diri bangsa. Hal ini bisa dilakukan dengan salah satunya mengimplementasikan ajaran yang pernah digaungkan oleh Ki Hadjar Dewantara yang menekenkan keseimbangan belajar antara aspek wirasa (rasa, batin, afeksi), wirama (pikiran, kognitif) dan wiraga (gerak tubuh/ psikomotorik).

Metode yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara sebenarnya banyak dijumpai di dalam berbagai permainan tradisional atau dolanan rakyat seperti yang telah dicontohkan misalnya dalam permainan cublak-cublak suweng. Untuk itu, ragam dolanan rakyat yang telah banyak punah, perlu kembali dieksplorasi dan dilestarikan meski tentu ada banyak diantaranya yang memang tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Kembali menghidupkan dolanan rakyat bukan berarti benar-benar menghilangkan permainan modern sepenuhnya, namun lebih kepada proses memahami, menyadari dan menyeimbangkan berbagai jenis permainan yang menjadi instrument pembelajaran anak-anak.

Pada hakikatnya, permainan adalah hak yang harus didapatkan seorang anak dan karena itu, perlu dipenuhi. Sebagai salah satu proses tumbuh kembang anak baik dari segi motorik, bahasa, spiritual, kepekaan ekologis, dan intelektualnya, permainan tradisional adalah instrument tepat yang bisa digunakan anak-anak untuk berekspresi dan mengembangkan diri. Anak-anak sepantasnya mendapatkan hak mereka, sepantasnya diberikan ruang-ruang untuk berekspresi dan bereksplorasi sehingga terwujud anak-anak bangsa yang tumbuh dengan bahagia. Narasi kebahagiaan versi kerakyatan yang dilandasi oleh nilai-nilai spiritual, penuh makna dan berkelanjutan. [NI]

Referensi:

Setyawan, A. D. (2021). Analisis Integrasi Metode Sariswara Pada Mata Kuliah

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4600134/5-aspek-penting-tumbuh-kembang-anak-yang-bisa-dilatih-lewat-permainan

Khosasi, L., Damajanti, M. N., & Muljosumarto, C. (2018). Perancangan media pengenalan permainan tradisional untuk mendukung tumbuh kembang anak usia 6-9 tahun. Jurnal DKV Adiwarna1(12), 8.

Hurlock, E. B. (1994). Perkembangan Anak; Jilid 1.

Tedjasaputra, M. S. (2007). Pemberian ASI Eksklusif: Suatu Tinjauan dari Sudut Psikologi.

Ismail, Andang. 2006. Education Games (menjadi cerdas dan ceria dengan permainan edukatif). Yogyakarta: Pilar Media

Nurrachmawati, 2014. Pengaruh sistem operasi mobile android pada anak usia dini. Jurnal pengaruh system operasi mobile android pada anak usia dini. Jurnal Pengaruh Sistem Operasi Mobile Android Pada Anak Usia Dini. Universitas Hasanuddin. Makasar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini