Beranda Publikasi Kolom Merawat “Bahasa Panginyongan” Melalui Pembelajaran Muatan Lokal di Sekolah Dasar

Merawat “Bahasa Panginyongan” Melalui Pembelajaran Muatan Lokal di Sekolah Dasar

785

Mukhamad Hamid Samiaji (Pemerhati Bahasa di Lembaga Kajian Nusantara Raya Purwokerto)

Indonesia adalah negara yang kaya dengan khasanah bahasa daerah. Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Kebudayaan menyatakan Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Data ini disampaikan oleh Prof Endang Aminudin Aziz, MA, PhD dalam Diseminasi Pencanangan Tahun Kongres Bahasa Indonesia (KBI) XII Maret 2023 lalu.

Ia menuturkan rincian perkembangan revitalisasi bahasa daerah mulai tahun 2021(5 bahasa daerah dari 3 provinsi), 2022 (total 39 bahasa daerah dari 12 provinsi), 2023 (tambah 12 bahasa dari 7 provinsi (hingga Maret 2023) jadi totalnya 71 bahasa daerah dari 25 provinsi. Sehingga total ada 71 bahasa daerah yang masuk program revitalisasi daerah kemendikbudristek.

Sedangkan total bahasa daerah yang kini diinventarisasi Kemendikbud dalah 718 bahsa daerah. Dan kemungkinan akan terus bertambah karena pendataan masih berlangsung. Di antara ratusan bahasa daerah tersebut terdapat Bahasa Jawa dialek Banyumasan yang digunakan oleh masya-rakat yang tinggal di Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen. (Barlingmascakeb).

Bahasa daerah yang juga dikenal dengan bahasa “Ngapak” oleh masyarakat di luar Banyumas tergolong sebagai bahasa yang unik. Bahasa Jawa dialek Banyumasan merupakan bahasa daerah yang masih digunakan oleh masyarakat di Jawa Tengah bagian barat. Namun demikian seiring dengan perkembangan zaman penggunaan Bahasa Banyumasan ini mengalami kemunduran bahkan bisa dikatakan menghadapi bahaya kepunahan.

Budayawan Ahmad Thohari seorang sastrawan penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk mengatakan bahwa Bahasa Banyumasan terancam kepunahan. Hal itu terjadi seiring dengan gerusan modernisasi, termasuk atas pengaruh dominasi Bahasa Jawa dialek Solo-Jogja.

Kurikulum muatan lokal Bahasa Jawa yang diterapkan di Banyumas adalah Bahasa Jawa dialek Solo-Yogya. Akibatnya siswa mengalami kesulitan baik dalam pengucapan maupun dalam hal memahami makna kata. Karena apa yang mereka pelajari berbeda dengan yang mereka pergunakan dalam dialog sehari-hari. Ketimpangan tersebut yang kemudian disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan menyusun kurikulum dan buku ajar Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Ada kecenderungan masyarakat Banyumas terutama golongan milenial malu untuk menggunakan Bahasa Penginyongan ini. Pandangan dan perlakuan Sebagian anggota masyarakat terhadap Bahasa Banyumas sebagai bahasa kelas dua semakin memperburuk keberadaan bahasa Banyumasan. Para siswa lebih mahir menuturkan bahasa Indonesia maupaun bahasa asing lain. Upaya pemerintah Banyumas dengan memasukkannya ke dalam kurikulum muatan lokal merupakan langkah maju sebagai upaya penyelamatan dan merawat Bahasa Banyumasan dari kepunahan.

 
Upaya Merawat Bahasa Panginyongan

Masyarakat Jawa Tengah atau Banyumas khususnya tentu belum benar-benar lupa dengan banyolan-banyolan khas Banyumas ala Peyang Penjol. Komedi yang bergenre bahasa Banyumasan ini terkenal di era tahun 80 an. Dua orang tokoh komedian Banyumas ini telah sukses mengocok perut para penggemarnya dengan banyolan-banyolan khas Banyumas. Banyolan-banyolan mereka tidak hanya disukai oleh masyarakat Banyumas tapi juga oleh masyarakat di luar Banyumas.

Parodi era Peyang Penjol telah berlalu. Namun kelucuan mereka digantikan oleh Samidi yang juga tak kalah sukses membuat orang terpingkal-pingkal dengan banyolan-banyolan khas Cilacap. Parodi tersebut mengisahkan tentang kehidupan masyarakat desa dengan segala kelucuannya. Kelucuan itu semakin bertambah karena dibawakan dengan Bahasa Banyumasan atau lebih dikenal dengan Bahasa Ngapak.

Rupanya kelucuan dialek Banyumas tidak berhenti dengan parodi Samidi. Saat ini salah satu stasiun swasta sukses menayangkan parodi dari tiga bocah . Tayangan tersebut telah merebut hati pemirsa. Tiga bocah dari Kabupaten Kebumen ini sukses mengocok perut penonton dengan banyolan-banyolan ngapaknya. Mereka muncul menjadi idola baru dengan kelucuannya bertutur dengan “Bahasa Ngapak.” Acara komedi yang dikemas dalam sebuah program Bocah Ngapa(k) bergenre komedi situasi mulai mengangkat citra bahasa ngapak bagi golongan mileneal. Acara tersebut membawa angin segar upaya merawat Bahasa Jawa dialek Banyumasan dari kepunahan.

Sukses acara komedi yang mengangkat Bahasa Jawa dialek Banyumasan ini membuktikan bahwa bahasa Banyumas dengan segala kekhasannya telah mampu mengangkat citra bahasa Banyumas tidak hanya dikenal oleh masyarakat Banyumas saja tetapi juga dikenal luas oleh masyarakat di seluruh tanah air. Setidaknya lewat parodi tersebut menunjukkan bahwa Bahasa Banyumasan masih eksis. Diakui atau tidak parodi itu merupakan salah satu bentuk merawat bahasa Banyumasan dari kepunahan.

Pembiasaan Bertutur Dialek Banyumasan Bagi Siswa SD di Kabupaten Banyumas dengan ciri khas bahasa Banyumasan yang terkesan norak dan dianggap kampungan oleh sebagian masyarakat luar daerah menimbulkan rasa malu bagi masyarakat penggunanya terutama generasi muda. Mereka malu untuk berkomunikasi dengan bahasa ngapak. Tidak jarang orang dari luar daerah Banyumas tertawa mendengar percakapan dengan menggunakan bahasa Banyumas. Ketika tidak kuat mental mereka akan minder dan malu berkomunikasi menggunakan bahasa Banyumasan ini.

Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut perlu berbagai upaya merawat yang melibatkan pemerintah dan dunia pendidikan. Pemerintah Kabupaten Banyumas terus berupaya merawat bahasa Jawa dialek Banyumasan untuk mencegah kepunahan. Adanya kegiatan lomba pidato berbahasa Banyumasan merupakan salah satu upaya pembiasaan bertutur menggunakan bahasa Banyumasan. Menumbuhkan rasa percaya diri generasi muda khususnya siswa SD di Kabupaten Banyumas dalam menggunakan bahasa ngapak ini.

Adanya kewajiban menggunakan bahasa Jawa Bayumasan setiap hari Kamis dalam beberapa kurun waktu terakhir mulai dilupakan. Hanya masyarakat pedesaan saja yang masih eksis menggunakan bahasa Banyumasan. Selebihnya para siswa di perkotaan sudah sangat jarang menggunakan bahasa ngapak ini. Mereka lebih sering mengunakan bahasa Indonesiadalam berkomunikasi.

Menyikapi adanya kekhawatiran punahnya Bahasa Jawa dialek Banyumasan Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pendidikan mengadakan berbagai upaya merawat berbagai aset budaya Banyumas. Banyumas memiliki aset budaya yang sangat beragam dan merupakan aset daerah yang memiliki prospek untuk dikembangkan. Siapa tak kenal dengan getuk Sokaraja, batik Banyumas, mendoan tak terkecuali dialek bahasa Banyumas.

Belum lama ini Dinas Pendidikan menyusun kurikulum muatan lokal tentang Budaya Banyumasan dan Bahasa Jawa dialek Banyumasan. Disusunnya kurikulum muatan pelajaran budaya Banyumasan dan Bahasa Jawa Dialek Banyumasan menunjukkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam merawat bahasa Banyumasan. Selain itu juga disusun buku ajar budaya Banyumasan dan Bahasa Jawa Dialek Banyumasan sebagai pedoman dan rujukan utama kegiatan pembelajaran budaya Banyumasan dan bahasa Jawa Dialek Banyumasan.

Kurikulum dan bahan ajar bahasa Jawa dialek Banyumasan disusun oleh pakar budaya Banyumas, pemerhati pendidikan dan para pendidik di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Dengan disusunnya kurikulum dan bahan ajar tersebut maka bahasa Banyumasan secara resmi menjadi materi ajar yang wajib diajarkan kepada siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Banyumas.

Para siswa dibiasakan untuk menggunakan bahasa Banyumasan dalam berkomunikasai baik dengan teman maupun guru di sekolah. Dengan kegiatan ini diharapkan para siswa mengenal, menggunakan dan mencintai bahasa Banyumasan sebagai salah satu aset budaya bangsa yang harus dilestarikan keberadaannya.

Dengan telah disusunnya perangkat pembelajaran Bahasa Jawa dialek Banyumasan maka bahasa ibu ini tidak lagi menjadi anak tiri di daerahnya sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman bahasa Banyumasan mulai tergerus arus modernisasi. Upaya merawat bahasa Banyumasan harus segera dilakukan agar masyarakat Banyumas tidak kehilangan ciri khasnya sebagai orang “Ngapak”.

Sebagai warga Banyumas kita tidak perlu malu dengan kekhasana dialek Banyumasan . Kita patut berbangga dengan kekhasan tersebut. “Ora Ngapak Ora Kepenak” . Pernyataan tersebut merupakan ungkapan masyarakat Banyumas khususnya dan Barlinmascakeb umumnya untuk tetap eksis menggunakan bahasa Banyumasan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengenalkan bahasa Banyumasandi kalangan generasi muda terutama siswa SD maka sekolah melakukan kegiatan pembiasaan kepada siswa untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Bacaan

Ani Widosari,dkk 2019. Pinter Basa Jawa Banyumasan. Jakarta: Erlangga.

https://www.detik.com/edu/edutainment/d-6629523/jumlah-bahasa-daerah-yang-direvitalisasi-tambah-12-jadi-71-bahasa-apa-saja

Retnosari, H. (2013). Pergeseran Bahasa Jawa Dialek Banyumasan di Kalangan Remaja Dalam Berkomunikasi (Studi Kasus di Desa Adimulya, Wanareja, Cilacap dalam penggunaan Bahasa Banyumas) (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang).

Trianton, T. (2017). Bahasa sebagai Identitas dan Perlawanan Kultural Masyarakat Banyumas Pascakolonial. Konferensi Bahasa dan Sastra III, 608-614

Abdullah, A. (2019). Bahasa ‘Ngapak’sebagai Sarana Konstruksi Budaya Jawa. Buletin Al-Turas, 25(2), 141-162.

Isfandani, L. N. (2017). Bahasa Jawa Masyarakat Daerah Perbatasan Jawa Tengah Jawa Barat di Kecamatan Losari Kabupaten Brebes: Kajian Sosiolinguistik. Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa, 5(2).

Andriani, A. A. (2016). Melatih Kearifan Intelektual, Emosional, dan Spiritual Pemuda Guna Menghadapi Pasar Bebas Asia Tenggara (Masyarakat Ekonomi AseanMEA). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 25(2), 138-143.

Herusatoto Budiono , (2008) Banyumas Sejarah, Bahasa, Seni, dan Budaya, Yoyakarta:LKis

Sugiarto, R. B. (2019). Dialek Banyumas dalam Pelajaran Muatan Lokal Sebagai Upaya Merawat Budaya Banyumas di SD Negeri 2 Sudagaran Banyumas (Doctoral Dissertation, Universitas Muhammadiyah Purwokerto).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini