Beranda Publikasi Kolom Salah Kaprah tentang Hotel Majapahit, Surabaya

Salah Kaprah tentang Hotel Majapahit, Surabaya

2397
https://www.accorhotels.com/B066

Akhmad Idris (Pengajar Bahasa Indonesia di STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya)

Sejarah menjadi topik yang lumayan saya sukai, karena Solzhenitsyn dalam buku fenomenalnya The Gulag Archipelago menyebutkan bahwa siapapun akan kehilangan sepasang matanya jika ia melupakan masa lalu, dan saya masih ingin lebih lama menikmati pemandangan dunia tipu-tipu ini.

Pada hari Rabu (21/12) akhir tahun 2022, saya berkesempatan menjelajahi satu di antara tempat paling bersejarah di Surabaya, yakni Hotel Majapahit lewat paket Heritage Hotel Tour. Melalui tur ini, saya menyadari banyak hal salah kaprah yang beredar di masyarakat luas tentang hotel bintang lima ini. Ternyata yang mendirikan hotel ini bukan orang Belanda serta nama hotel ini tidak hanya Oranje, Yamato, dan Majapahit saja.

Selain sejarah pendirian dan penamaan, sisi menarik yang lain di hotel ini adalah keberadaan Balai Adika yang menurut sejarahnya ternyata merefleksikan perbedaan kelas dan keunikan wajah Buddha yang bisa bergerak ke kirin-kanan. Tur ditutup dengan jamuan teh/kopi beserta jajanan khas hotel yang satu di antara menunya membuat saya kaget, sebuah jajanan dari kulit jeruk-baru tahu kali ini kulit jeruk bisa dimakan dan rasanya enak.

Yang Perlu Diluruskan tentang Sejarah Hotel Majapahit

Heritage Hotel Tour ini saya peroleh dengan mengeluarkan pundi-pundi rupiah sebesar Rp. 165.000 sudah termasuk jamuan teh/kopi beserta jajanan eksklusif hotel. Menurut saya, harga segitu termasuk worth it jika dibandingkan dengan fasilitas yang saya dapatkan-termasuk pemandu tur yang sangat humble. Di permulaan tur, saya langsung diajak ke area samping resepsionis. Di sana terdapat beberapa foto yang ditempel di dinding.

“Ini adalah foto keluarga pendiri hotel ini, Sarkies bersaudara. Pasti menurut masnya mereka ini orang Belanda,” kata pemandu tur. Saya manggut-manggut saja, karena begitulah yang saya ketahui dari teman-teman saya maupun dari bangku sekolah. Selama bersekolah, sejarah tentang Hotel Majapahit yang diajarkan hanya sebatas pergantian nama (yang ternyata belum utuh) dan peristiwa perobekan bendera.

“Itu adalah pandangan yang salah kaprah, sebab pendiri hotel ini adalah pengusaha yang berasal dari Iran. Sederhananya ini memang bisnis keluarga yang diwariskan turun-temurun,” imbuh pemandu tur.

Sungguh jauh sekali pengetahuan yang beredar di masyarakat, dari Belanda ke Iran-Eropa ke Asia. Pepatah lama itu memang benar, manusia cenderung lebih suka ‘mengarang’ dan mengira-ngira daripada memastikan ilmu pengetahuan. Setelah itu, saya diajak lanjut ke area berikutnya sembari dijelaskan sejarah panjang penamaan hotel ini.

Pengetahuan umum yang beredar selama ini, nama lain dari Hotel Majapahit adalah Hotel Oranje dan Hotel Yamato. Mungkin bagi yang cukup serius mencermati buku sejarah akan mengetahui nama lainnya lagi, yakni Hotel Merdeka. Ternyata selain tiga nama tadi, Hotel Majapahit juga memiliki nama lain lagi yaitu L.M.S. Hotel dan Mandarin Oriental Hotel Majapahit.

Nama pertamanya adalah Oranje yang peletakan batu pertamanya diresmikan oleh Eugene Lucas Sarkies pada tahun 1910. Kemudian pada tahun 1942, hotel ini berubah nama menjadi Yamato karena imperialisme Jepang. Berlanjut pada tahun 1945, hotel ini berubah nama lagi menjadi Hotel Merdeka untuk memeringati kebebasan dari belenggu penjajah. Selang setahun, hotel ini beralih nama lagi menjadi L.M.S. untuk mengenang pendirinya, Lucas Martin Sarkies.

Pada tahun 1969, Mantrust Holdings Co. menjadi pemilik baru dan menamainya dengan nama kerajaan legendaris di Indonesia, Majapahit. Setelah itu, pada tahun 1993 hotel ini berpindah kepemilikan ke Mandarin Oriental Grup dan pada tahun 1996 nama hotel ini kembali berganti menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit. Puncaknya pada tahun 2006 CCM Group mengambil alih hotel dan mengembalikan namanya ke Majapahit hingga saat ini.

Saya terkesima karena sejauh itu sejarah penamaan hotel ini, padahal yang beredar selama ini agaknya berkisar di antara Oranje; Yamato; dan Majapahit saja. Tur berlanjut di sebuah tempat yang bernama Balai Adika. Di dalamnya terdapat semacam gedung pertemuan dua lantai yang menurut pemandu tur menunjukkan tanda perbedaan kelas.

Balai Adika: Bukti Diskriminasi Kelas

“Dulunya tempat ini dijadikan sebagai tempat pesta maupun jamuan makan malam. Lantai bawah ditempati oleh masyarakat biasa, sedangkan lantai atas ditempati oleh kalangan bangsawan,” ucap pemandu tur. Jika boleh meminjam istilah Karl Marx, lantai atas hanya bisa dimasuki kaum Borjuis, sedangkan kaum Proletar dipersilakan untuk memasuki lantai bawah.

Saya mulai mengimajinasikan bagaimana kondisi serta situasi di hall ini saat saat diadakan pesta. Lantai bawah dipenuhi oleh orang-orang tertawa dan menari, semantara lantai atas dihuni oleh orang-orang yang kepalanya tidak bisa dimasuki helm. Penghuni lantai atas saling berbisik untuk mencibir tarian serta cara makan orang-orang di lantai bawah.

Saya sempat melontarkan candaan kepada pemandu tur, bahwa mungkin di lantai atas juga ada beberapa buaya remaja betina maupun jantan yang sedang mengintai mencari mangsa. Pemandu tur menimpali singkat, “Ya seperti itulah, Mas. Sejak dulu simbol diskriminasi kelas adalah atas dan bawah.”

Saya pun menyahuti, atas merupakan lambang pemenang atau penguasa dan bawah sebagai lambang pecundang yang harus bertekuk lutut di bawah sang penguasa. Agaknya hal ini cukup relevan dengan yang disampaikan oleh Marx dan Engels, bahwa sejarah adalah cerita perkembangan tentang perjuangan kelas.

Wajah Buddha yang Bisa ‘Tolah-Toleh’

Setelah puas berimajinasi di Balai Adika, tur berlanjut ke area kamar-kamar eksklusif di hotel ini. Sebuah hiasan dinding wajah Buddha menarik perhatian saya. “Wajah Buddha ini juga menjadi favorit para pengunjung hotel ini, sebab wajahnya bisa mengikuti siapapun yang melihatnya,” ucap pemandu tur.

Masak sih, batin saya. Rasa penasaran memancing saya untuk mendekati wajah Buddha tersebut. Setelah saya coba berkali-kali, ternyata memang benar yang diucapkan pemandu tur. Wajah Buddha selalu mengikuti ke manapun arah orang melihatnya. Memang hal ini merupakan bagian dari olah kreasi seni (sejenis dengan ilusi optik, kalau tidak salah), namun jika wajah Buddha diamati saat malam hari yang sepi, agaknya tidak lagi kesan unik yang didapat.

Arsitektur bangunan yang tetap memertahankan bentuk aslinya selain menyimpan nilai artistik, juga menyembunyikan sisi mistik bangunan-bangunan lama. Namun menurut saya pribadi, hal ini adalah masalah sudut pandang. Setiap orang bisa memandang dari sisi unik maupun mistik, terserah-mau berdecak kagum atau merinding ketakutan.

Jamuan Eksklusif

Mengelilingi area hotel yang sangat luas membuat saya sedikit lapar dan haus. Hal ini akan menemui solusi saat menikmati jamuan yang diberi nama Afternoon Tea. Meskipun berjudul tea, pihak hotel tetap menyediakan pilihan antara teh atau kopi. Tidak hanya sekadar minum, para peserta tur juga dijamu dengan beberapa jajanan khas hotel dengan rasa yang layak dinilai dengan standar hotel bintang lima. Jamuan ini saya anggap cara tuan rumah menghormati tamunya, karena dalam unggah-ungguh Jawa setiap tamu yang datang setidaknya disuguhi secangkir teh atau kopi. Akan lebih bagus, jika ditambahi dengan gedang atau jadah goreng.

Jajanannya cukup bervariasi, ada sandwich; cake; cookies; dan ada satu yang paling favorit yaitu semacam kulit jeruk yang dilapisi cokelat. Kali pertama gigitan, saya memang merasa tidak asing dengan aromanya. Karena rasanya enak, saya masih belum tersadar jika itu ternyata kulit jeruk. Baru pada gigitan selanjutnya saya benar-benar sadar bahwa itu adalah kulit jeruk dari tekstur dan aromanya.

Hal yang saya ketahui dari kulit jeruk adalah pahit, namun di sini rasa pahitnya terasa sangat samar. Saya kembali teringat perkataan tokoh Sang Pengelana Waktu dalam novel Mesin Waktu karya H. G. Wells. Ia berkata hidup ini mimpi, mimpi yang kadang buruk namun berharga. Seperti kulit jeruk yang saya nikmati, meskipun pada dasarnya berasa pahit, ternyata dengan sentuhan yang tepat bisa menjadi makanan yang eksklusif.

Melalui tur ini, saya juga tersadar bahwa masih banyak salah kaprah di sekeliling kita-baik dalam hal pengetahuan seperti sejarah, kebudayaan seperti mistikisme, atau makanan seperti kulit jeruk.

Daftar Pustaka

Solzhenitsyn. (2019). The Gulag Archipelago. Yogyakarta: Diva Press.

Wells, H.G. (2020). Mesin Waktu. Yogyakarta: Penerbit Kakatua.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini