Beranda Publikasi Kolom Mencari Pop Daerah di Tanah Gayo

Mencari Pop Daerah di Tanah Gayo

517
Foto: dok pribadi penulis

Michael H.B. Raditya (Mahasiswa PhD di Asia Institute, The University of Melbourne; Pendiri dangdutstudies.com)

Pada hari Rabu, 16 Agustus 2023 tahun lalu, saya tiba di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Gayo. Setahun sebelumnya, Januari 2022, saya memang berikrar pada diri sendiri jika tahun depannya saya harus mencari dan mengalami kesenian Gayo. Tentu ada banyak nama kesenian yang muncul bila kita membicarakan Gayo sebagai etnik, semisal kesenian Didong, tari Guel, Bejamu Saman, hingga yang akan saya artikulasikan di tulisan ini, Pop Gayo.

Namun Pop Gayo menjadi sentral, karena lima tahun belakangan saya memang lebih banyak bergiat dengan pencatatan musik populer, khususnya dangdut dan pop daerah. Atas dasar itulah, mengalami Pop Gayo menjadi fokus utama kedatangan saya di tanah Bener Meriah, selain mengunjungi sanak famili di sana.

Setelah berbincang dengan Oda—yang adalah peneliti musik Gayo sekaligus istri—, ia mengajak saya memulainya dengan rilisan fisik. Kami memang suka mencari rilisan fisik pop daerah, mendapatkannya macam harta karun. Sulit dicari, tetapi jika dapat rasanya terpuaskan. Maklum kemajuan teknologi membuat kaset pita dan cakram padat semakin jarang digunakan seiring berjalannya waktu.

Alhasil ajakan Oda untuk memulai dengan rilisan fisik juga menjadi masuk akal apalagi kuantitas toko dan produk yang semakin minim. Dalam konteks ini, rilisan fisik merujuk pada cakram padat, baik CD, VCD, ataupun DVD, bukan kaset pita. Namun di Gayo, cakram padat tetap disebut kaset—yang selanjutnya juga saya gunakan di dalam tulisan.

Lantas rilisan fisik penyanyi siapa yang ingin kami cari menjadi pertanyaan selanjutnya. Oleh karena Oda telah mengoleksi rekaman fisik dari beberapa penyanyi setempat, semisal subjek penelitiannya ketika meneliti untuk kepentingan tesis dan bukunya, Sakdiah; serta penyanyi perempuan lainnya baik yang lebih senior ataupun sebaya, maka saya menyarankan agar pencarian ditujukan pada penyanyi laki-laki dan barangkali penyanyi perempuan lainnya—yang mungkin terlewat. Pun Oda menyetujui tawaran tersebut tanpa tedeng aling-aling. Dengan begitu, kami berangkat dalam satu tujuan yang sama, menambah wawasan mengenai Pop Gayo agar lebih utuh, sekaligus melengkapi koleksi rilisan fisik kami tentang pop Gayo dan selingkarnya.

Mengais Jejak Tersisa

Tepatnya di sebuah pagi, pada hari Minggu, 20 Agustus 2023kami mencarinya. Bermodal ingatan Oda sebagai orang lokal dan bantuan Google Maps, kami berangkat mencari rilisan fisik tersisa pop daerah di tanah Gayo. Lokasi pertama adalah Pasar di Pondok Baru, Bener Meriah. Menurut penuturan Oda, ketika melakukan fieldwork untuk penelitiannya pada tahun 2019-2020, ia mendapatkan rilisan fisik Pop Gayo dari sebuah toko di Pondok Baru. Tidak berpikir dua kali, saya mengamini lokasi tersebut sebagai tujuan. Kendaraan telah siap, kami berdua tancap gas ke lokasi. Perjalanan menghabiskan waktu 20 menit menaiki kendaraan roda empat.

Setibanya di Pasar Pondok Baru, kami mulai berkeliling mencari toko kaset tersebut. Oda memberi clue jika toko kaset tersebut tergabung dengan toko sound system. Tepatnya berada di sebuah ruko, berdempet dengan sebuah toko pakaian. Terdengar mudah dan jelas, walau kenyataannya tetap sulit dicari karena berderet ruko dan banyaknya penjaja sandang di sana. Mendengar informasi tersebut, kami mulai menyisir satu per satu toko yang ada. Beberapa blok ruko kami terus lewati, tidak hanya sekali, bahkan dua hingga tiga kali. Namun setelah 40 menit mencari dan bertanya sana-sini, kami mendapati hasil yang tak menyenangkan. Toko tersebut telah tiada, entah pindah ke mana. Sementara yang kami duga tetangga bloknya tak tahu di mana lokasi penjualnya kini.

Hampir putus asa, saya memaksakan berjalan ke blok yang lain. Dengan harapan toko tersebut pindah ke ruko lain di daerah sekitar. Namun setelah 20 menit waktu tambahan tetap tak menemukan apa pun, kami memutuskan untuk berhenti sejenak sambil memikirkan strategi lainnya. Karena lelah, lalu saya mengajak Oda untuk mampir di kedai makanan. Setibanya kami di sana, saya segera memesan menu andalan mereka, teh tarik dan mi Aceh.

Sambil mencari tempat duduk yang nyaman, suara musik mulai terdengar. Saya segera tersenyum ke Oda mengharap bahwa mereka memutar lagu pop Gayo, sehingga saya dapat menanyakan lebih lanjut. Namun saya keliru, mereka menyetel lagu-lagu dari Baskara Putra, alias Hindia; sesekali mereka mendengar Fourtwnty, dan band Indie lainnya. Tidak hanya suara, di dekat kami duduk tampak bagaimana video klip di YouTube dari band-band tersebut terpampang di TV pintar mereka.

Tentu saya tidak tertegun bagaimana lagu Hindia, Fourtwnty, dan lain sebagainya dapat tersebar hingga ke daerah Bener Meriah di Aceh, karena semudah membuka internetlah mereka dapat mengakses lagu-lagu berbahasa Indonesia tersebut. Pun melihat para pramusaji yang masih berusia belia dan bergaya trendi, saya menduga ia baru kembali bekerja dari tanah Jawa. Ya begitulah anak muda di daerah, di mana Jakarta masih menjadi tempat pengharapan untuk mendulang pundi ketimbang berkarya di daerahnya sendiri.

Jika sudah terkumpul pengalaman atau ‘kalah’ karena kejamnya ibukota, maka mereka akan kembali—sekaligus dengan membawa dan menyebarkan pergaulan yang mereka alami ke selingkarnya. Alhasil sambil mendengar lagu-lagu tersebut, kami beristirahat dan mengisi perut. Setelah membayar, kami bertanya kepada mereka mengenai pop Gayo. Tak banyak informasi yang kami terima, bahkan beberapa nama yang disebut Oda tidak lagi mereka kenali.

Setelah kami berembuk, akhirnya kami memutuskan pergi ke kabupaten tetangga, Aceh Tengah. Kami menetapkan tujuan ke Takengon, ibukota dari kabupaten tersebut. Untuk menempuh ke kota tersebut, kami membutuhkan waktu ±60 menit perjalanan darat. Takengon menjadi tujuan selanjutnya karena Oda pernah membeli rilisan fisik di sana. Alih-alih hanya satu lokasi, saya ikut mencari dengan bantuan mesin pencari, Google.

Benar saja, terdapat satu toko terdaftar yang terpampang di layar ponsel pintar saya. Tidak hanya itu, lokasi tersebut tidak diketahui Oda sebelumnya. Atas dasar itu, kami memiliki dua lokasi yang akan kami tuju di Takengon, yakni—sebut saja—Toko Disco Mantap (TDM) dan Toko Music Asyik Disc (TMAD). Lokasi pertama, TDM yang kami tuju adalah lokasi yang tidak diketahui Oda sebelumnya, karena jika lokasi tersebut palsu, setidaknya ada pengharapan dari lokasi kedua, TMAD—walau tetap ada kecemasan serupa.

Sebagaimana TDM tidak diketahui Oda, saya hanya menggantungkan arah pada Google Maps untuk mencapai toko kaset di Takengon, Aceh Tengah. Setelah melewati jalanan berliku, naik dan turun, mengingat kontur Bener Meriah dan Aceh Tengah adalah pegunungan, kami tiba di Takengon. TDM terletak di kawasan Takengon Timur dan berlokasi di jalan utama, ditandai dengan jalan satu arah. Tidak sulit menemukannya, apalagi Google Maps sangat membantu. Hal yang menjadi soal adalah ketika mobil kami kebablasan beberapa meter dari lokasi sehingga membuat kami harus memutari jalan utama kembali.

Setibanya di TDM, saya terkejut, karena bukan kaset atau alat musik yang saya jumpai; melainkan casing handphone dengan pelbagai model yang terpajang di depan toko. Saya kembali melihat Google Maps, “pasti ada yang salah ini,” ucap saya ke Oda. Namun Oda hanya tersenyum dan memasuki toko. Setelah saksama memperhatikan, Google Maps tidaklah keliru dan telah menunjukkan titik yang benar. Nama dari toko kaset yang saya cari juga terpampang di spanduk yang digantung di atas gerbang toko mereka.

Menyusul Oda yang telah dulu masuk, Saya melangkah ke dalam toko. Oda telah menanyai pramuniaga yang bertugas di sana, “Bang, ada jual kaset?” Sang Pramuniaga mengangguk sambil menunjukkan jalan ke arah kaset terjejer. Kaset-kaset itu berada di area belakang toko, melewati bilik ponsel, charger dan flashdisk, hingga tongsis. Di hadapan ratusan kaset tergantung, Saya melihatnya beberapa saat dan tidak mendapat yang saya cari. Yang saya temukan hanya penyanyi pop Barat dan pop Indonesia, juga dangdut ala Jakarta. Melihat muka kami yang tak puas, pramuniaga kembali mengusulkan beberapa nama, semisal Bunga Citra Lestari, Yovie and Nuno, hingga Rhoma Irama. Ia pun melanjutkan, “ada yang Barat juga, bang”, sambil menunjuk VCD dari Britney Spears, Lenka, Green Day, One Direction, dan lain sebagainya.

Terdiam mendengar tawaran tersebut, lantas saya mengatakan, “Saya cari kaset Pop Gayo, Bang. Bisa bantu cari kah?” Tampak raut wajah tak menyangka, tetapi ia mengangguk dan kembali memasuki ruas-ruas rak kaset. Saya dan Oda hanya mengikuti di belakangnya. Oda menoleh dan berkata kepada saya, “ketemu!” Pramuniaga itu lantas berlutut, menatap ke arah puluhan kaset di lantai yang tersender pada sebuah dinding. Tidak terpajang di depan dan di rak-rak yang kami lewati, melainkan teronggok di lantai dengan debu di sekitarnya. Pramuniaga lantas beralih dan meninggalkan kami dengan kaset-kaset itu.

Kami segera berlutut dan mulai mencarinya. Dan, ya benar, beberapa penyanyi Pop Gayo yang Oda kenali mulai tampak. Namun Oda mengatakan jika tak hanya Pop Gayo di kumpulan kaset teronggok ini, juga terdapat Pop Aceh. Kami lantas mulai membuka, melihatnya satu per satu. Setelah mendapatkan beberapa yang kami cari, kami juga menambah koleksi dengan Pop Aceh. Walau dari segi bahasa Gayo dan Aceh berbeda, tetapi saya pikir penting untuk memiliki keduanya—apalagi Oda memahami kedua bahasa tersebut.

Tiba di kasir, Saya kembali bertanya ke pramuniaga, “tidak ada yang mencari Pop Gayo dan Pop Aceh kah, Bang?” Ia segera menggeleng, melanjutkan dengan “sudah jarang yang cari, Mas”. Jawabannya seraya menjadi clue atas raut wajahnya ketika kami menanyakan pop daerah. Pun Oda melanjutkan, “kok kasetnya berada di bawah lantai, Bang.” Sang Pramuniaga buru-buru menjelaskan jika ia meletakkannya di lantai karena tidak adanya lubang pada kemasan kaset tersebut. Mendengarnya kami hanya mengangguk, dan membeli beberapa di antaranya. Kami lantas kembali berbincang untuk beberapa saat di sana.

Setelah mendapatkan rilisan fisik di TDM, saya bersikeras agar tetap mendatangi TMAD. Dengan kemampuan ingatannya, Oda menunjukkan jalan ke toko tersebut. Tidak terlalu jauh dari lokasi pertama, kami hanya membutuhkan waktu 5-6 menit untuk tiba di Pasar Takengon Timur, lokasi kedua. Yang berbeda, TMAD berada di kawasan pasar ikan dan bukan di jalan utama. Sesampainya di kawasan tersebut, kami memasuki area dengan ruko-ruko bertingkat di sekeliling.

Kendaraan telah diparkir, kami mulai menyusuri kawasan ruko. Sekali jalan, kami kembali tidak mendapatkan toko tersebut. Saya sempat putus asa akan bernasib sama seperti di Pondok Baru. Berjalan ke kiri dan ke kanan, mondar mandir tetapi tak menemukan di mana toko tersebut berada. “Tokonya sudah pada tutup, seingatku di sini”, ujar Oda. Lalu ia kembali mengajak berkeliling, karena penasaran.

Beberapa saat setelahnya, Oda menemukan toko tersebut. Ia melambai ke arah saya yang jalan beberapa meter di belakangnya. Senyum tampak dari wajahnya, seraya berhasil mendapatkan tujuannya. Tiba di samping toko, ada yang aneh bagi saya, karena Oda menunjuk ke toko mainan anak-anak dan sembako. Saya kembali menanyakan, “Ga salah, kamu? Itu toko mainan.” Ia tak menjawab dan tetap menuju ke toko tersebut. Saya pun kaget, ternyata Oda tidak keliru. Toko tersebut adalah toko kaset yang memang sempat Oda kunjungi beberapa saat lalu. Soal lain, Oda menandai di spanduk atas toko yang tertulis Toko Disc., maka itu ia begitu percaya diri.

Setelah masuk ke dalam ruko melewati mainan anak dan sembako, tergantung di dinding toko banyak kaset dengan kover wajah penyanyi yang saya kenal, mulai dari The Virgin, Utopia, Stinky, Merpati Band, J-Rock, Chrisye, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Ayu Ting Ting, Yus Yunus, dan masih banyak lainnya. Tentu Anda mengenal nama-nama itu sebagai musisi yang telah malang melintang sedari dulu, pun saya berjalan di antaranya juga terasa kembali ke sepuluh tahun atau lebih yang lalu. Karena cukup mengagetkan jika saya masih mendapati produk-produk mereka di tahun 2023. Kecurigaan saya, barang-barang itu adalah barang-barang lama yang akhirnya tak hanya dijual, tetapi menjadi pajangan dari si pemilik toko.

Di antara wajah demi wajah penyanyi terpampang, kami mencari nama dan wajah musik Pop Gayo. Tentu ini sulit bagi saya, sehingga saya hanya menandai beberapa dan berkonsultasi pada Oda setelahnya. Namun setelah sama-sama mencari, tiada titik terang kami temukan. Tak ada satu pun musisi Pop Gayo di puluhan kaset tergantung. Menemui keterbatasan, kami menghampiri bapak penjual. Oda bertanya mengenai pop Gayo kepadanya. Merespons pertanyaan itu, bapak penjual berbalik badan. Ia mengambil sekitar 20 kaset dari rak di belakangnya. Pun saya tidak menyangka, karena di sebelah rak kaset tersebut adalah rak mi instan dan rokok.

Ia meletakkan 20 kaset tersebut dan menantang dengan pertanyaan, “mau beli berapa, kak?” Kami tersenyum meresponsnya, tetapi saya segera bertanya, “wih, sulap! Kok nggak ditaruh di sana, bang?”, sambil menunjuk kaset yang tergantung di dinding. Bapak penjual membalas, “sudah tak ada tempat di sana, Mas.” Lalu saya dan Oda melihat kaset satu ke kaset lainnya. Setelah memilih beberapa, saya meminta bapak penjual untuk menyetelnya. Namun sayang, kaset (baca: VCD atau DVD)-nya tidak dapat dicoba karena pemutar miliknya sudah tidak lagi berfungsi. Alhasil Oda memilih kaset hanya dari tingkat popularitas penyanyi, nomor lagu, dan tahun album. Sementara saya memilih beberapa lainnya yang saya rasa mewakili saling-silang genre, semisal kaset dari House Music setempat, atau percampuran bahasa setempat dengan genre lazim, laiknya dangdut, pop, atau rock.

Setelah merasa mantap membeli beberapa kaset, kami bersiap membayar. Dalam proses transaksi, Oda yang segera tahu jika produk-produk tersebut tidaklah baru menanyakan keberadaan rilisan fisik Pop Gayo masa kini. Bapak penjual tidak dapat menjawab, ia hanya menjawab jika produk kaset telah berhenti lebih dari sepuluh tahun terakhir. Pun ia menambahkan jika memang sangat jarang pengujung yang menanyakan kaset dari penyanyi Pop Gayo beberapa tahun terakhir. Maka itu ia menerangkan jika tak banyak yang tersisa dan menjelaskan alasan mengapa ia meletakkan kaset-kaset tersebut tidak di tempat yang semestinya.

Selesai transaksi, kami berpamitan dengan bapak penjual. Melanjutkan langkah ke luar, saya berkata, “oh rilisan fisik musik pop daerah, riwayatmu kini”, sementara Oda yang mendengarnya hanya menghela nafas menerima keadaan.   

Yang tersisa dari kebiasaan

Dua penjual yang kami temui sama-sama menceritakan kejayaan mereka ketika menjual kaset, dan mungkin ini juga akan berlaku surut pada toko di Pondok Baru seumpama ada. Pun dari cerita mereka, beberapa saat lalu tidak hanya mereka yang menjual kaset, melainkan ada beberapa toko lain yang sudah dulu memilih gulung tikar. Kini hanya dua yang dapat kami temui, dan apa kabar toko kaset mereka sekarang? Tentu tak seindah memori kejayaan yang mereka ceritakan.

Pemilik TDM yang pertama kami datangi harus memutar otak agar ia tetap dapat menjual kaset-kaset tersebut, maka itu ia mulai melebarkan sayap dengan menjual peralatan ponsel pintar, komputer, dan games. Tokonya cukup ramai, ada banyak anak usia tanggung duduk di toko mereka dan menggunakan layanan wifi gratis. Saat kedatangan kami, pun ada beberapa konsumen datang untuk berkonsultasi soal komputer.

Sementara pemilik TMAD yang kami datangi di Takengon juga harus mengganti fokus jualannya, yakni mainan anak dan kebutuhan pangan, seperti beras, telur, mi instan, minuman saset, dan seterusnya. Tokonya juga tampak baik-baik saja. Ada beberapa konsumen yang datang silih berganti membeli kebutuhan sehari-hari, di sela-sela kami mencari. Sedangkan di Pondok Baru tentu berbeda dengan dua sebelumnya, di mana tiada tersisa lagi jejak yang hilang dimakan zaman.

Atas apa yang mereka alami, tentu tidaklah bijak menyalahkan perkembangan teknologi yang akhirnya mengorbankan mereka. Kemajuan teknologi itu tentu macam keniscayaan yang akan terjadi cepat atau lambat. Lantas mengapa mereka masih menjual kaset-kaset itu? Apakah mereka tidak lebih dari kumpulan orang yang keras kepala? Dari obrolan yang kami lakukan, yang saya tahu mereka penggemar musik dan terus berjualan walau keadaan sekitar sudah berubah.

Tentu mereka mengerti jika keadaan telah berubah, mereka juga paham jika kemajuan zaman akan tiba tanpa terkecuali [berlokasi dekat atau jauh] dan mesti [datang cepat atau lambat]. Mereka paham akan terimbas tren di ibukota hingga perdagangan teknologi dunia. Dan mereka paham jika tidak lagi butuh cakram padat dan kaset pita untuk mendengarkan musik kini, melainkan file digital atau kuota.

Semenjak penggunaan internet meningkat, YouTube dan media sosial bak kebutuhan primer manusia Indonesia. Tak hanya itu, banyak aktivitas berpindah dari yang fisik ke digital, termasuk bagaimana dengan mendistribusikan karya musik. Tidak hanya berimbas pada artis besar di ibukota ataupun pulau Jawa, artis lokal di luar pulau Jawa—termasuk penyanyi pop daerah—juga ikut berbondong-bondong memasuki dunia digital. Hal itu membuat produksi lokal dalam bentuk rilisan fisik tidak lagi dikerjakan, sehingga rilisan fisik yang kami temukan niscaya produksi lampau.

Pun saya menanyakan berapa banyak yang mereka dapat dari menjual kaset-kaset tersebut, entah pop Indonesia, Barat, ataupun daerah. Namun saya sekaligus tahu dari raut wajah mereka jika tidak banyak yang mereka terima. Bahkan penghasilan utama mereka justru tidak lagi dari kaset, melainkan dari upaya pelebaran sayap yang mereka masing-masing lakukan. Itulah keadaannya, itulah kenyataannya. Maka, angkat topi, untuk mereka yang masih memajang kaset-kaset tersebut.

Namun itu bukan masalah bagi mereka. Mereka tetap membuka tokonya sedari pagi hingga malam, mereka tetap berdagang seperti hari-hari sebelumnya, dan mereka tiada soal dengan terus melakukan hal serupa. Atas dasar itulah saya jadi paham jika nilai kebendaan itu menetap di antara mereka yang tumbuh bersamanya. Nilai kebendaan berkelindan dengan kegiatan dan kebiasaan. Kebendaan dapat memiliki arti lebih pada kehidupan satu atau sekelompok insan.

Kendati ada dari mereka yang meninggalkan, tetapi mereka tidak sepenuhnya melupakan. Karena nilai kebendaan itu tidak lenyap begitu saja, dan justru akan membuat patokan tertentu terhadap hal baru. Alhasil, jika hingga pada waktunya mereka masih berjualan kaset, tentu itu bukan sekadar saja tetapi juga bukan hal yang terlalu dan perlu dilebihkan, melainkan hal yang memang sudah dan akan terus begitu. Ah, saya jadi tak sabar menghampirinya lagi di dua atau tiga tahun mendatang.

Berjalan beriringan?

Sebagaimana yang saya tulis jika kami tidak buru-buru meninggalkan TDM—toko kaset di Takengon Timur yang menjajakan casing handphone, keperluan ponsel pintar dan komputer—, saya kembali membuka obrolan dengan sulitnya mendapatkan perangkat pemutar kaset (baca: cakram padat) belakangan ini. Perbincangan mengarah pada pemutar lagu yang kini tengah berorientasi pada internet. Saya juga kembali meromantisir keadaan bentuk dari lagu yang berubah-ubah, dari kaset pita, cakram padat dengan beragam tipe, hingga file digital yang diputar secara manual atau cukup dengan internet dan kuota.

Oda kembali memulai dengan pertanyaan mengenai konsumen yang membeli file lagu. Di situ lah, pramuniaga toko mulai mengamini dan menawarkan kami lagu-lagu Pop Indonesia dan Pop Barat dalam bentuk file. Tentu ia menjanjikan banyak versi baru ketimbang kaset tergantung dan dengan paket yang tak tanggung-tanggung. Saya mengangguk tetapi dengan satu kondisi, yakni: lagu Pop Gayo—atau setidaknya Pop Aceh—dalam bentuk file-lah yang saya inginkan. Saya melanjutkan dengan maksud ingin membeli flashdisk yang ia jual—sebagai wadahnya.

Setelah penawaran paket flashdisk-lagudantransaksi berlangsung, pramuniaga tersebut mencoba menghimpun semua lagu Pop Gayo—juga Pop Aceh—yang ia punya di toko tersebut. Kami mengatakan jika tiada ada soal menunggu beberapa waktu untuk pemrosesannya. Atas dasar persetujuan, lantas ia meminta kami menunggu 30 hingga 40 menit ke depan. Tanpa pikir panjang, kami menyetujuinya dengan sukacita. Sembari menunggu, kami berbincang tentang pop daerah bersama sang penjaga toko—tentu dengan perkembangan toko kaset dari masa ke masa. Setelah proses transfer berhasil, kami tidak sesegera memeriksa file terkirim. Dengan modal percaya, saya ucapkan terima kasih kepadanya dan segera bergegas ke tujuan selanjutnya.  

Setelah saya tiba di Jakarta beberapa minggu setelahnya, baru saya tahu jika flashdisk itu berisi 213 files—bukan folder. 213 files tersebut berukuran 1,62 GB berisi Pop Aceh dan sedikit files Pop Gayo. Beberapa files bernama penyanyi, seperti Apache 13, Bergek, Cut Rani, Cut Rianda, Ramlah Yahya, Safira Amalia yang baru saya ketahui setelahnya sebagai penyanyi Pop Aceh; dan beberapa files dengan nama Lagu Pop Gayo 2017, Lagu Pop Gayo 2020, dan seterusnya.

Kendati merasa ada yang keliru, saya tidak mempersoalkan tersebut karena Oda telah memberitahukan jika penjual kaset tersebut orang Aceh—setelah kami pergi dari toko. Alhasil ini seturut dengan pilihannya lebih banyak menambahkan penyanyi Pop Aceh ketimbang Pop Gayo. Pun dari penamaan files yang dikirimnya tampak jika ia kurang begitu paham mengenai Pop Gayo—walau ia tinggal di daerah Gayo. Walaupun demikian, saya tiada mempersoalkan karena tentu wawasannya terhadap Pop Aceh mungkin lebih banyak dari saya, sehingga kurasi files yang ia masukkan atas nama Pop Aceh tentu [semoga] tak sembarangan—atau setidaknya ia pernah dengar.

Selain itu, beberapa nama itu tentu tak sama dengan lagu pop Gayo atau pop Aceh yang kami beli di tokonya. Tentu itu melegakan. Beberapa di antaranya justru sama dengan yang ada di YouTube, tetapi itu tidak masalah mengingat saya juga tidak paham bagaimana lanskap Pop Aceh dan siapa penyanyinya kini. Di sisi lainnya, saya pun paham jika memang musik pop daerah akan mengikuti perkembangan teknologi ke mana pun itu berpindah.

Berangkat dari flashdisk tersebut, saya justru menemui akun-akun penyanyi Pop Aceh di YouTube. Tidak berhenti sampai di situ, saya juga mencari akun-akun penyanyi Pop Gayo—karena ini tetap menjadi fokus dari perjalanan saya di Aceh. Hasilnya pun cukup menyenangkan, karena saya justru dapat melihat beberapa lagu penyanyi Pop Gayo justru bisa didengarkan di internet, walau tak semua atau seperti rilisan fisik yang saya punya.

Inilah keadaannya kini, di mana Pop Gayo—atau Pop Aceh—sudah dapat dinikmati secara digital. Flashdisk di tangan tentu menjadi perantara yang bisa saya gunakan untuk mengirimkan files lagu ke komputer, ponsel pintar, TV pintar, dan seterusnya. Dan tentu, bagi mereka yang tidak punya kendala pada kuota internet tentu mendengarkan lagu dari YouTube bisa dilakukan—mengingat tidak semua lagu pop Gayo dan beberapa artisnya dapat diputar di pemutar musik streaming. Pun saya juga tidak menyangkal jika praktik tersebut juga sudah sering saya lakoni, bahkan ketika kami tiba di Bener Meriah pun, saya mendengarkan lagu pop Indonesia, Barat, atau daerah melalui YouTube atau pemutar musik streaming.

Namun hal yang menarik, kendati bermunculan ratusan nama penyanyi, nama-nama penyanyi siapa pun itu, entah pop Indonesia, barat, atau pop daerah—entah Pop Gayo atau pop Aceh—, kita tetap akan berlabuh pada penyanyi tertentu. Yang dalam kamus Pierre Bourdieu, selera musik dibentuk karena habitus. Lebih lanjut, selera seseorang tidak turun dari langit melainkan konstruksi yang menubuh dan terus menerus melalui internalisasi serta pendidikan, lingkungan, sosial, ekonomi, dan seterusnya. Pelabuhan selera pada musik tertentu ini terjalin karena musisi membe rsamai mereka tumbuh, semisal penggunaan bahasa dan tinggal di lingkungan etnis tertentu.

Hal ini jugalah yang membantu saya mengartikulasikan apa arti pengalaman kedatangan saya di Aceh. Tepatnya di sebuah mobil dari Lhoksumawe ke Takengon, Aceh Tengah, saya mendengarkan lagu pop Indonesia diputar. Tak banyak yang hafal, sedikit yang bernyanyi, paling hanya yang lebih muda dari saya ikut bernyanyi, sementara yang tua diam saja mendengarkan—dan mungkin tak mengerti. Beberapa jam setelahnya, suasana berganti. Seisi mobil ikut bernyanyi, yang muda, sebaya, maupun yang tua. Namun bukan alunan yang saya hafal, juga bukan bahasa yang saya kenal, melainkan alunan pop dengan unsur etnis tertentu, dengan bahasa yang kerap saya dengar ketika Oda menghubungi keluarganya, bahasa Gayo.

Lantas saya bertanya ke Oda, “lagu apa ini? Apa judulnya? Siapa yang bernyanyi?”, lalu ia menghentikan lantunannya, sembari mengatakan “Berijin”, Ervan Ceh Kul, penyanyi Gayo. Setibanya di Bener Meriah beberapa jam setelahnya, saya mulai mencari dan mendengarkan karya-karya Ervan di YouTube. Saya takjub karena ia tak lebih tua dari saya, bahkan kami sebaya, tetapi lagunya dapat dihafal oleh semua usia tak kenal siapa. Saya tentu sangat menikmati geliat pop daerah yang berlangsung dan dicintai masyarakat setempat maupun para perantau dan diaspora.

Tentu mendengar orang menyanyikan lagu yang sama dalam momen yang sama menjadi kenikmatan tersendiri buat saya. Walau hanya mendengarnya tanpa tahu artinya, saya merasa jika kecintaan, kerinduan, dan penegasan pada etnik, bahasa atau sekadar kampung halaman tidak hanya dipendam sendiri, melainkan terasa dan terbagi kepada sesama mereka. Maka itu, musik pop daerah—walau persebarannya kalah masif dengan pop Indonesia atau Barat—tetap berada di singgasananya. Kendati jejaknya terbatas, formatnya berganti, cara dengarnya berubah, pop daerah [akan] terus bertumbuh. [NI]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini