Beranda Publikasi Kolom Keroncong: Sebuah Hibriditasi Kultural

Keroncong: Sebuah Hibriditasi Kultural

319
Sumber Gambar: https://www.tegaraya.com/2021/12/sejarah-dan-jenis-musik-keroncong-di-indonesia.html)

Sunarto (Pengajar Filsafat dan Musikologi pada Jurusan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Univertas Negeri Semarang)

Keroncong, sebagai sebuah salah genre musik Indonesia, selalu mengundang perhatian publik. Perhatian itu lebih didominasi oleh pertanyaan tentang asal-usul Keroncong. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Keroncong (di) Indonesia memang banyak dipengaruhi atau diinspirasi oleh lagu-lagu Portugis abad ke-17, tetapi nada dan iramanya sangat berbeda.

Meskipun ada perbedaan pendapat, dari fakta sejarah perlu disadari bahwa keberadaan Keroncong (di) Indonesia dimulai pada abad ke-17, pada saat kedatangan bangsa Portugis ke Batavia. Kemunculan Keroncong (di) Indonesia tidak dapat dijustifikasi secara sepihak berasal dari negara mana. Perjalanan Keroncong sangat panjang. Berbagi pengaruh datang silih berganti, mulai dari: Portugis, Belanda, dan Jepang. Pengaruh tersebut meliputi: instrument musik dan gaya musik.

Kampung Tugu dan Kampung Kemayoran

Keberadaan awal musik Keroncong di Indonesia tidak lepas dari dua tempat, yang berperan dalam sejarah Keroncong, yaitu: Kampung Tugu dan Kampung Kemayoran di Batavia. Apabila ditelusuri ke belakang, sejarah Keroncong bermula dari suatu daerah di Batavia yang bernama Kampung Tugu. Sejak pertengahan abad ke-17, di Kampung Tugu tersebut terdapat sekelompok masyarakat yang mempunyai hubungan erat dengan Portugis yang disebut dengan Black Portuguese.

Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Black Portuguese ini sebenarnya adalah orang-orang yang berdarah Goa, Bengal, dan Coromandel, yang dibaptis Katolik oleh tuan/majikan mereka, orang Portugis. Setelah dibaptis, kemudian mereka mendapat nama Portugis. Pendapat lain yang sedikit berbeda mengatakan bahwa Black Portuguese ini adalah orang-orang Moor yang menguasai semenanjung Iberia (sekarang Portugal-Spanyol) pada abad ke-7 hingga 15.

Sampai sekarang masyarakat Kampung Tugu masih tetap memainkan Keroncong khas mereka dengan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Portugis, seperti: Moresco, Prounga, Kafrinyu, Craddle Song, dan Old Song. Orang-orang Kampung Tugu membuat sendiri alat-alat musiknya yang dibuat dari kayu waru dan kayu kembang kenanga. Selain itu, tradisi minum-minuman keras sambil bermain musik masih mereka jalankan.

Keberadaan Keroncong juga tidak dapat lepas dari Kampung Kemayoran. Pada awal abad ke-20 di Kampung Kemayoran pernah bermukim beberapa musisi Keroncong terkenal, seperti: Atingan, J. Dumas, Kramer, Any Landow dan Ismail Marzuki. Istilah de Krokodillen (“Buaya Keroncong”) kemungkinan berasal dari sini. Dari musisi Kampung Kamayoran ini pula lahir sebuah lagu yang berjudul ”Keroncong Kemayoran”.

Dari catatan yang diberikan Kusbini tahun 1935, lagu Keroncong Kemayoran memiliki beberapa kesamaan dengan lagu-lagu Portugis orang-orang Kampung Tugu, baik irama maupun cengkoknya. Perbedaannya hanya terletak pada syairnya yang berbahasa Melayu dan bersifat improvisatoris.

Pengaruh Barat

Ketika persekutuan raja-raja Katolik (Los Reyes Catolik) merebut kembali wilayah itu sekitar tahun 1492, beberapa di antara bangsa Moor, yang beragama Islam bersedia dibaptis menjadi Katolik dan kemudian mendapat nama Portugis. Meskipun sudah menjadi Katolik, mereka masih mendapat perlakuan diskriminasi sehingga akhirnya keluar dari Portugis dan Spanyol dengan cara bekerja dan ikut pada kapal-kapal dagang Portugis dan bekerja sebagai budak.

Sekitar abad ke-17 mereka sampai di Batavia dan kemudian diberi tempat di Kampung Tugu. Lagu Keroncong pertama di Indonesia lahir di kampung Tugu sekitar tahun 1661, yang berjudul: Moresco, Kafrinyu, Old Song, dan Craddle Song (Ganap, 2020). Sekitar tahun 1870-an, ketika bahasa Melayu mulai populer di Batavia, Keroncong mulai diminati oleh orang-orang Indo-Belanda dan orang-orang Indonesia sendiri.

Di tangan orang-orang Indo ini, penampilan Keroncong sedikit berubah menjadi lebih romantis. Lagu-lagu Keroncong yang dinyanyikan bersifat asmara merayu untuk merayu lawan jenisnya. Mereka menyanyikan Keroncong di jalan-jalan, di gang-gang kampung melewati rumah-rumah para noni pada malam hari. Saat itu mulai dikenal kata-kata asmara yang merrayu, seperti: indung-indung disayang, hai nona manis, dan lain sebagainya. Sejak dimainkan oleh orang-orang Indo, Keroncong menjadi identik dengan lagu asmara yang melankolis dan merayu.

Namun, pada pertengahan awal abad ke-20 (sekitar tahun 1920-1942) adalah masa yang dinamis dalam sejarah perkembangan Keroncong. Pada masa itu terjadi perubahan dan perkembangan dari segi alat musik, irama, karakter lagu, dan apresiasi terhadap Keroncong. Saat itu Keroncong mulai memiliki popularitas, terutama di beberapa kota besar, seperti; Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Solo (Becker, 1975).

Keroncong mulai diperdengarkan di radio-radio dan mulai direkan pada piringan hitam. Secara umum, perkebangan Keroncong pada abad ke-20 dipengaruhi oleh musik-musik Barat, seperti: irama off-beat dance dan hawaiian. Pengaruh tersebut tampak dalam penggunaan alat-alat musik dan irama. Pada kurun waktu tahun 1915-1937, datang ke Indonesia musisi-musisi dari: Prancis, Belanda, Rusia, Polandia, Cekoslawakia, dan Filipina, baik perseorangan maupun dalam kelompok, seperti: ensamble atau orkestra.

Melalui para musisi tersebut dunia musik Indonesia, temasuk Keroncong berkenalan dengan instrumen musik Barat, seperti: biola, cello, contra bass, flute, gitar, dan lain-lainnya. Juga mulai bersentuhan dengan irama musik; jazz, offbeat dance, dan hawaiian.

Diinspirasi musik Barat, Keroncong mulai mengadopsi unsur-unsur musik Barat tersebut. Dalam Keroncong mulai dipergunakan instrumen musik Barat dan menjadi susunan standar pembentuk musik Keroncong. Lagu-lagu yang dimainkan pun bertema romantis dengan syair asmara merayu yang menjadi pilihan dan tampak semakin diminati.

Mulai tahun 1920-an, banyak lahir kelompok Keroncong, yang sebagian pemainnya terdiri dari orang-orang Belanda, yang tersebar di kota-kota besar, seperti: Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Solo. Dengan adanya unsur-unsur pemusik Barat, terutama di Jakarta, Surabaya, dan Bandung, mendorong timbulnya “cap Barat” pada Keroncong. “Cap Barat” itu semakin diperkuat oleh kenyataan perilaku para pelaku dan penikmat Keroncong yang agak ekslusif. Kebiasaan bernyanyi sambil minum minuman keras, dansa, pesta-pesta dengan meniru budaya Barat.

Namun tidak demikian halnya di daerah Jawa Tengah (Jogyakarta, Solo, dan Semarang). Di Jawa Tengah, Keroncong berakulturasi dengan musik tradisional setempat, seperti Gamelan. Fungsi alat musik diidentikkan dengan fungsi alat musik dalam Gamelan. Bass diidentikkan dengan gong, cello dengan kendang, gitar dan biola, suling dengan gambang serta rebab. Lagu-lagu dari Jawa Tengah lebih tenang dan lembut. Irama dan perpindahan nadanya lebih lambat, sehingga memungkinkan banyak cengkok dalam menyanyikan lagunya. Cara menyanyikan dengan banyak cengkok juga identik dengan cara menyanyi lagu-lagu Jawa. Sehingga berkembang satu bentuk atau corak musik Keroncong yang dikenal dengan langgam (Keroncong Jawa).

Era Pendudukan Jepang

Berkuasanya Jepang di Indonesia menjadi faktor penting yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan Keroncong dalam perjalanan sejarahnya. Untuk memahami pengaruh Jepang dalam perkembangan dan perubahan musik Keroncong, ada dua strategi yang dijalankan Jepang dalam melancarkan misinya.

Pertama, pandangan dan sikap Jepang terhadap kebudayaan Indonesia dengan maksud ”mengambil hati” rakyat Indonesia. Kedua, strategi propaganda Jepang untuk mendekati golongan Islam. Kedua alasan tersebut dilakukan untuk mencari simpatik rakyat Indonesia Pada masa pendudukan Jepang, mereka memilki misi yang disebut dengan ”perang suci” melawan imperialisme Barat. ”Perang suci” itu dilakukan dalam setiap aspek, termasuk kebudayaan.

Melalui lembaga kebudayaannya, Keimin Bunka Shidosho yang berada di bawah badan propaganda Sendenbu, Jepang berusaha menghapus unsur-unsur budaya barat dalam kesenian Indonesia, dan secara bersama-sama mengembangkan dan memasyarakatkan kesenian asli Indonesia dan kesenian Jepang. Semua itu dilakukan dalam semangat sebagai bagian dari bangsa Asia Raya. Keroncong yang sebelumnya telah mendapat ”cap Barat”, mendapat sorotan khusus.

Melalui bagian seni suara Keimin Bunka Shidoso, banyak masuk aspirasi yang menginginkan dihapusnya unsur-unsur barat dalam Keroncong. Unsur-unsur Barat itu dimaksudkan bukan pada teknis musik, tetapi lebih pada syair yang bersifat asmara merayu dan perilaku pemusik dan peminat Keroncong yang ada di kota-kota besar. Oleh sebab itu, pada Agustus 1943, Jepang mengambil sikap dan tindakan melarang musik Keroncong yang dianggap kebarat-baratan itu.

Musik Keroncong diarahkan ke arah yang lebih ketimuran, menjadi lebih sopan dan dianggap lebih bermoral. Tidak ada lagi syair-syair asmara dengan kata-kata merayu yang dianggap melemahkan bangsa Indonesia. Tidak ada lagi Keroncong yang dinyanyikan berkeliling di jalan-jalan, dansa-dansi dan mabuk-mabukan. Dan hal ini berlangsung sampai sekarang.

Pada zaman Jepang ini pula lahir banyak lagu-lagu Keroncong yang bertemakan cinta tanah air atau kepahlawanan, seperti: Suci, Hanya Engkau, dan Jembatan Merah. Dan pada saat itu pula lagu Bengawan Solo mulai dikenal dan bahkan sampai ke negeri Jepang (Kartomi, 1998). Tema ”Kepahlawanan” dan ”Cinta Tanah Air” tetap bertahan bahkan setelah Jepang meninggalkan Indonesia. Lagu Selendang Sutera, Sepasang Mata Bola, dan Melati di Tapal Batas, adalah contoh lagu yang lahir setelah tahun 1945.

Hibriditasi Kultural

Selalu muncul pertanyaan mengenai keberadaan Keroncong di Indonesia: “Apakah merupakan musik asli Indonesia atau bukan?” Pertanyaan tersebut sebaiknya tidak perlu diperpanjang. Sangat sulit untuk menyimpulkan bahwa Keronong asli ciptaan orang Indonesia, sebab menurut catatan atau sumber yang ada, Keroncong lahir dari orang-orang yang mempunyai hubungan erat dengan orang-orang Portugis.

Namun, Keroncong yang berkembang di Indonesia pun bukanlah jenis musik Keroncong asli Portugis. Dapat dikatakan bahwa dari kasus Keroncong ini telah terjadi hibriditasi (hybridity). Ada dua hibriditasi: struktural dan kultural. Hibriditasi struktural merujuk pada berbagai ragam tempat institusional dan sosial, seperti batas suatu negara.

Hibriditasi kultural merujuk pada beberapa persepsi mulai dari sparasi dan asimilasi, yang luas cakupannya dan mengaburkan batasan kultural. Hibriditasi kultural merupakan peristiwa penggabungan beberapa unsur budaya yang (sebelumnya) terpisah yang pada akhirnya menghasilkan beragam makna dan identitas yang baru.

Dengan demikian, Hibriditasi kultural menepis konsep “budaya yang tidak berubah” (statis/esensialisme); yang mengaburkan batasan kultural yang telah mapan dalam proses yang dikenal dengan sebutan: fusi dan kreolisasi. Dilihat dari konsepsi Barker (1975), Keroncong merupakan produk hibriditasi kultural, yang merupakan perpaduan beberapa unsur budaya, yaitu: antara musik dari Portugis dengan musik atau budaya yang ada di Indonesia. Demikian pula dengan jenis musik lainnya yang banyak mendapat pengaruh luar, seperti: pop, jazz, dan blues.

Dapat dikatakan, saat ini masyarakat Indonesia secara umum mengenal Keroncong sebagai musik khas (asli) Indonesia. Kekhasan ini terlihat dalam: irama yang dinamis, melodius, dan teknik bernyanyinya dengan cengkok khusus, dibawakan oleh pemain musik dan penyanyi yang sopan dan tidak banyak gerak dan gaya, sehingga terkesan kaku. Pandangan umum mengganggap Keroncong adalah musik untuk kalangan orang tua. Namun bila ditelisik dari sejarah pada era kolonialisme, Keroncong biasa didendangkan oleh kaum muda dalam rangka hiburan sambil untuk merayu para noni Belanda.

Namun yang menjadi ganjalan, bahwa sampai sampai saat ini Keroncong belum mendapat pengakuan resmi dari UNESCO, sebagai “musik (asli) Indonesia”. Pemerintah Indonesia harus segera mengajukan proposal pengakuan Keroncong sebagai warisan tak benda ke UNESCO. Hal ini mengatisipasi supaya tidak terjadi klaim-klaim atas seni Indonesia oleh negara lain.

Bibliografi

Barker, Chris. 2008. Cultural StudiesTheory and Practice. California: Sage Publication.

Becker, Judith. 1975. “Kroncong, Indonesian Popular Music”. Asian Music. Vol. 7. No. 1.  pp. 14-19.

Bramantyo, Triyono. 2001. “Portuguese Elements in Eastern Indonesia’s Folk Tunes”. Seni: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni. Vol. VIII/03. BP- ISI Yogyakarta.

Da França, Antonio Pinto. 1985. Portuguese Influence in Indonesia. Lisbon: Calouste Gulbenkian Foundation.

Ganap, Victor. 2020. Krontjong Toegoe; Asal-Usul Musik Keroncong. Jakarta: Penerbit Kompas.

Heins, E. 1975. “Keroncong and Tanjidor: Two Cases of Urban Folk Music in Jakarta”. Asian Music. Vol. 7. No. 1. pp. 20–32.

Kornhauser, Bronia. 1978 “In Defence of Kroncong”. Margaret J. Kartomi (ed.). Studies in Indonesian Music. Centre of Southeast Asian Studies. Monash; Monash University. pp. 56-80.

Kusbini. 1972. “Krontjong Asli”. Musika. No.1, Djakarta.

Mutsaers,. Lutgard. 2014. ‘‘Barat Ketemu Timur’: Cross-Cultural Encounters and the Making of Early Kroncong History”. In Bart Barendregt and Els Bogaerts (ed.). Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters. Netherlands: Brill. pp. 259-280.

Nadapdap, Victor. (et al.). 2003 “Tugu Keroncong Music: Study Case Between Church and Tradition”. A Research Report. Lippo-Karawaci: Faculty of Art. Jakarta: Pelita Harapan University.

Artikulli paraprakVirtualisasi Seni: Tinggalan Pandemi yang Semakin Masif
Artikulli tjetërNusantara Institute Webinar Series-Perkawinan dan Poligami dalam Islam, Kristen, dan Yahudi
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

1 KOMENTAR

  1. Saya sedang Gandrungi musik Keroncong sejak remaja. Saya sangat menikmati lagu2 keroncong, terutama Koronconh Asli dan Langgam Keroncong. Nukilan Sejarah Keroncong tsb sangat penting unt diletterlekkan, disfarekan, diviralkan. Agar tidak diklaim oleh Negara Semenanjung (yg hobi sekali mengklaim Seni Budaya Nusantara).

    Menurut saya, Medik Keroncong adalah Karya dan Budaya Asli Nusantara, yang memakai Alat Musik dari Eropa (Portugal). Di Eropa, alat musik bnyk yg digesek2, di sini dibethot2. Sehingga ada alat yg disebut Bass Bethot alias Kontra Bass. Cello yg digesek2, di sini dibethot2 sehingga bunyinya hampir mirip seperti Kendang/ Perkusi.

    Pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi untuk mengembangkan musik Keroncong, agar semakin bnyk anak muda yg berminat mengreruri Keroncong. Sundari Sukoco (maestro muda Keroncong) telah membangun Yayasan Keroncong Indonesia. Perlu didukung oleh berbagai pihak..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini