Beranda Publikasi Kolom Virtualisasi Seni: Tinggalan Pandemi yang Semakin Masif

Virtualisasi Seni: Tinggalan Pandemi yang Semakin Masif

199
Sumber foto: Info Publik

Oleh: Moch. Anil Syidqi (Pelaku Seni)

Pandemi Covid-19, yang melanda Indonesia sekitar tiga tahunan itu, tercatat sudah mengimbas ke segudang sektor. Akibatnya, kala itu, seluruh orang dipaksa untuk berdiam diri dan meninggalkan habitus mereka (berkerumun dan bersosial), agar penyebarannya tidak semakin masif.

Dalam sektor kesenian, misalnya, itu menjadi penyebab mandeknya panggung-panggung pertunjukan. Reschedule dan cancel manggung pun terjadi di mana-mana dan menghambat laju perekonomian pihak-pihak terkait (pelaku seni atau yang bersangkutan).

Sampai suatu ketika, tercetus ide untuk memvirtualisasi karya-karya seni (entah siapa penggagasnya). Dan perlahan, ratusan napas yang terengah itu pun kembali berhembus lega.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), virtualisasi berarti pembuatan produk yang dapat diakses dengan komputer atau internet demi keekonomisan, kenyamanan, dan penampilan. Sementara seni, adalah karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa dan dengan memperhatikan unsur-unsur estetis—seperti musik, tari, lukisan, dan ukiran.

Jadi, virtualisasi seni secara utuh dapat dimaknai sebagai suatu tindakan membuat sebuah produk seni yang dapat diakses dengan komputer atau internet demi keekonomisan, kenyamanan, dan penampilan—di antaranya dengan memanfaatkan platform-platform digital (yang pada zaman sekarang mudah dijumpai) seperti Youtube, Instagram, dan Zoom.

Gagasan yang terbilang anyar dalam ranah seni pertunjukan itu dinilai cukup cemerlang dan solutif. Mengingat di era digital ini, persentase seseorang dalam mengakses internet sangat tinggi. Menurut Laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada awal 2022 lalu, misalnya, telah mencapai 210 Juta Jiwa. Dari jumlah itu, mayoritas pengguna terhubung internet melalui gawai untuk mengakses media sosial. Sebab itulah lantas, upaya virtualisasi seni rasanya menjadi opsi paling baik.

Menyadari peluang emas ini, banyak pihak kemudian mulai mencari peruntungannya. Diwartakan oleh laman Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto (25 Februari 2022), Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas menghimbau kepada para seniman untuk segera beradaptasi dengan virtualisasi. Meski pandemi telah berlalu, namun Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas Djarot Setyoko tetap menghimbau.

“Saat ini dunia seni tengah mengalami perubahan tren dari pertunjukan langsung menuju pertunjukan virtual,” tegasnya.

Beranjak jauh sebelum himbauan itu dikemukakan, Erwin Gutawa Orchestra, Tulus, dan Hasna Mufida (penerjemah bahasa isyarat) sudah mendirikan panggung virtualnya pada setahun lalu (30/3/2021). Di dalam konser tersebut, mereka membawakan lagu “Andai Aku Bisa” ciptaan Ahmad Dhani dan Bebi Romeo. Sebanyak 69.049.199 jiwa terdata telah menonton konser spektakuler tersebut di YouTube, per tanggal 11 September 2022.

Tersedia pula konser kerja sama bertajuk “Konser Solidaritas Jaga Indonesia” (2020), yang lagi-lagi melibatkan Erwin Gutawa Orchestra dan sejumlah pihak layaknya Kemenparekraf, puluhan artis dan musisi, dan juga sejumlah insan kreatif Indonesia. Konser kerja sama yang menyajikan lagu “Angin Malam” (karya Erros Djarot dan Debby Nasution) itu sudah dinikmati oleh 2.267.601 jiwa tercatat per tanggal 11 September 2022.

Selang beberapa waktu kemudian, Mola TV dan Titimangsa Foundation turut meramaikan virtualisasi seni yang tengah nge-tren itu. Salah satu hasil produksi mereka adalah karya seni berbasis teater musikal berjudul “Anugerah Terindah” (2020), garapan sang pengarah adegan (sutradara) Kamila Andini. Di dalam produksi ini, mereka melibatkan nama-nama beken semisal Reza Rahardian, Mika Tambayong, Happy Salma, dan Asmara Bigail.

Berasal dari seniman tradisi ada Ki Seno Nugroho, dalang ternama asal Jogja, yang sebelum akhir hayatnya—khususnya semasa pandemi—intens menggelar wayangan dan menyiarkannya secara langsung lewat kanal Youtube miliknya.

Di dalam agenda yang lazim disebut streaming, kelompok Dalang Seno (sapaan akrab Ki Seno Nugroho) mengemas sajian sedemikian rupa agar terus menarik ketika dinikmati lewat gawai atau media sejenisnya—misalnya, mengenakan atribut manggung lengkap, menggunakan pencahayaan dan audio visual memadai, sekaligus meringkas durasi pertunjukan: dari yang mulanya semalam jemu, jadi beberapa jam saja.

Tak lekas terlupakan adalah aktivitas saweran dan request lagu. Kesibukan mesti, yang sering ditemui di tiap-tiap pagelaran wayang (secara luring) ini, mereka alihkan ke metode online: via Whatsapp dan virtual perbankan.

Terbaru, menyiarkan wayangan lewat Youtube layaknya diterapkan oleh Ki Seno dkk. sudah jadi siasat terdepan para dalang untuk mendokumentasi sekaligus menyebarkan konten mereka ke khalayak luas.

Membawa Berkah

Virtualisasi seni tak hanya dipandang solutif, tetapi juga turut membawa berkah. Nama-nama seperti Denny Caknan, Happy Asmara, Ndarboy Genk, dan (teranyar) Farel Prayoga—yang viral di jagat maya karena konten-konten cover (lagu)-nya—barangkali tak menyangka, justru pada situasi ini (semasa pandemi dan pascapandemi) pulung menghampiri mereka.

Ada lagi, Tami Aulia dan Dwi Tanty. Lewat aktivitasnya mengunggah konten-konten bernyanyi, mereka bahkan telah memiliki panggung virtual pribadi (nama lain dari kanal Youtube), dengan ratusan ribu, bahkan jutaan subscriber. Denny Caknan dengan 5.16 juta subscriber, Happy Asmara 1.57 juta, Ndarboy Genk 1.06 juta, dan Farel Prayoga sebanyak 250 ribu subscriber (dihimpun per tanggal 11 September 2022). Sementara yang lainnya, Tami Aulia dan DwiTanty, masing-masing memiliki 3,78 juta subscriber dan 406 ribu subscriber (data dihimpun per tanggal 27 September 2022).

Berkah tersebut dirasakan pula oleh pihak medis dan korban pandemi. Emtek Group, mempersembahkan “Konser Amal Satu Indonesia” dalam rangka penggalangan dana pada tahun 2020. Sebanyak 300 selebritis saling bahu-membahu menampilkan pelbagai sajian menarik secara virtual. Dana amal yang terkumpul, sesudah itu dipersembahkan untuk perlindungan Pandemi Covid-19.

Kiwari, kelas-kelas seni berbasis online pun telah tersedia. Salah satunya seperti yang dijalankan oleh Merak Badra Waharuyung (21 tahun), pegiat musik tradisi Banyuwangi yang berbasis di Surakarta. Ia membuka kelas privat online untuk dua siswa manca negara. Untuk menggelar kelas online-nya, Merak harus menyiapkan perlengkapan berupa audio lengkap dengan spek studio, seperti mic, audio interface, speaker monitor, headphone, dan layanan konferensi video. Alat musik yang digunakan dalam proses pembelajaran, kata Merak, dipesan para siswa darinya.

Dengan polarisasi semacam itu, pembelajaran seni pun dapat dilakukan dengan relatif simpel dan juga efisien.

Tak Terhindarkan

Alih-alih meredup lantaran kegiatan masyarakat mulai kembali normal, virtualisasi seni di tanah air—yang hakikatnya tumbuh dan tenar semasa pandemi itu—malah bertambah masif. Manggung virtual dan mengunggah karya ke platform-platform digital malahan sudah membentuk habitus dan pasar tersendiri, yang turut memasifkan jangkauan seni Indonesia menuju kancah internasional.

Sebagai contoh, cobalah untuk menelusuri Youtube. Di sana Anda akan menemukan banyak bakat-bakat tanah air yang mulai dikenal oleh masyarakat global, misalnya melalui konten-konten reaction atau memberi reaksi terhadap suatu video.

Tidak sebatas itu, di banyak kesempatan—mungkin Anda sudah tahu—para ahli telah mengemukakan bahwa teknologi modern (virtualisasi termasuk darinya) akan bertambah jaya di tahun-tahun ke depan. Mungkin juga sektor-sektor yang kiwari belum terpikirkan—atau bahkan dianggap mustahil—bakal tervisualisasi, dalam beberapa tahun mendatang akan menyusul.

Penulis akan memberikan contoh lain pada konteks yang sama. Dalam talkshow yang berlangsung di Institut Teknologi Bandung, CEO Bukalapak Achmad Zaki megatakan bahwa tren industri yang memiliki nilai ekonomi besar saat ini yakni industri yang mempunyai added-value commodity berupa jasa teknologi. Persoalan itu dapat ditengok dari banyaknya platform bisnis yang berkembang di masyarakat (itb.ac.id, Pentingnya Inovasi di Era Teknologi yang Masif: 2019).

Dengan perubahan dan pergeseran model aktivitas keseharian menuju ke ranah digital, upaya apa yang telah Anda persiapkan?

Artikulli paraprakNI Webinar Series #12-Antara Hindu Indonesia dan Hindu India
Artikulli tjetërKeroncong: Sebuah Hibriditasi Kultural
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini