Beranda Publikasi Kolom Koeksistensi Jawa-Islam di Desa Sambeng, Borobudur

Koeksistensi Jawa-Islam di Desa Sambeng, Borobudur

899
Kredit foto: Zurdhan Ageng Pamuji dan Heri Jaya Prayoga

Oleh: Chusnul C. (alumni Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada)

Kawasan Borobudur saya kategorikan dalam tiga tipe kebudayaan, yakni kebudayaan khas Pegunungan Menoreh, kebudayaan urban dan kebudayaan Islam. Tiga tipikal kebudayaan tersebut terbagi berdasarkan letak geografisnya. Beberapa desa yang terletak di sekitar Pegunungan Menoreh memiliki corak kebudayaan Kulonprogo, dan merujuk pada pakem kebudayaan keraton. Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar Pegunungan Menoreh cenderung lebih mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa.

Kemudian tipikal kebudayaan urban ditujukan kepada masyarakat urban yang terletak di sekitar Candi Borobudur. Terakhir, tipikal kebudayaan Islam, dalam hal ini Islam populer, merujuk kepada masyarakat yang tinggal di perbatasan Kabupaten Salaman. Letak geografis di tiga wilayah tersebut sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat setempat meskipun secara administratif ketiganya sama-sama bagian dari Kawasan Borobudur.

Namun diantara tiga tipikal kebudayaan sebagaimana saya sebutkan, Desa Sambeng merupakan sebuah pengecualian. Desa Sambeng merupakan salah satu desa di Kawasan Borobudur yang terletak diantara dataran rendah dan Pegunungan Menoreh atau sekitar 250-300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Desa Sambeng terbelah menjadi dua bagian oleh Sungai Katul yang bermuara di Sungai Progo, salah satu sungai yang terbentang dan mengalir di Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keberadaan Sungai Progo, yang di masa lampau dimanfaatkan sebagai salah satu jalur transportasi, banyak digunakan oleh masyarakat luar khususnya masyarakat Salaman dan Muntilan dengan salah satu tujuannya yakni untuk berniaga ke Pasar Jagalan, salah satu pasar tradisional tua yang ada di perbatasan Kulon Progo dan Borobudur.

Letak geografis Desa Sambeng yang berada di tengah antara dataran rendah Borobudur dan Pegunungan Menoreh serta terbelah oleh Sungai Progo menciptakan corak masyarakat tersendiri yang berbeda dari tiga tipikal kebudayaan sebagaimana disebutkan. Sebagai wilayah yang terlewati sungai yang dimanfaatkan sebagai jalur transportasi, Desa Sambeng menjelma menjadi lokal ‘melting pot’. Hal ini setidaknya nampak pada bagaimana masyarakat Sambeng hari ini yang mempertahankan kebudayaan Jawa dan Islam dengan sama kuatnya.

Masyarakat Sambeng Memaknai Jawa dan Islam

Masyarakat Desa Sambeng sangat memegang teguh tradisi Jawa sekaligus kental dengan nuansa Islam. Bagi mereka, antara Jawa dan Islam tidaklah bertolak belakang alih-alih saling menubuh satu sama lain. Salah satu sesepuh Desa Sambeng yakni Mbah Prayit (68) menekankan bahwa antara ajaran Jawa dan Islam sebenarnya memiliki substansi nilai yang sama dan karena itu tidak berlawanan satu sama lain.

Njih sakniki ngeten antawise Jawi kalih Islam niku janjane gandeng, ning tembunge bedo, bedane basa Jawa lan Arab. Nek nopo-nopo niku janjane Jawa ajeng nopo mawon tetep moco bismillahirrahmanirrahim. Niku huruf Al-qur’an wahyune illahi sing paling tua, ayat-ayat ingkang dimuat ing Al-qur’an sing paling tua njih niku. Mulo antawise Jawi kalih Islam niku janjane gandeng nopo malih sakniki wong wonge njih semanten ugi antawisipun Jawi kalih Islam nggih niku tetep gandeng dadi siji umaro kalih ulama niku tetep dadi siji. Nek mboten ibarate wong Jawa tonpo agama mboten kuat ning agama tanpa Jawa nggih berantakan. Kudu sedoyo manunggal dados setunggal.”

[“Jadi begini, antara Jawa dan Islam itu sebenarnya nyambung, hanya saja pengucapannya yang berbeda, bedanya ada pada bahasa yang digunakan satu menggunakan Bahasa Jawa satu dengan Bahasa Arab. Tetapi sebenarnya apapun yang dilakukan itu masyarakat tetap mengucapkan bismillahirahmanirrahim. Itu wahyu Al-qur’an yang paling tua. Karena itu, sebenarnya antara Islam dan Jawa itu nyambung, sebagaimana pemimpin dan ulama itu jadi satu. Kalau tidak, ibaratnya orang Jawa tanpa agama tidak akan kuat, namun agama (Islam) tanpa Jawa akan berantakan”].

Koeksistensi antara Jawa dan Islam bisa dilihat dari kehidupan masyarakat Sambeng dalam kegiatan keseharian dari mulai peringatan daur hidup, bulan Jawa, peringatan insidental personal maupun kolektif, jenis kesenian, ataupun bisa dilihat dari penggunaan warisan pangan tradisional.

Peringatan daur hidup masih dilakukan dari mulai fase janin yakni upacara empat bulan, tujuh bulan dan berbagai upacara lain di sekitar fase kelahiran, anak-anak, dewasa hingga kematian. Pada peringatan upacara daur hidup, masyarakat Desa Sambeng melakukannya dengan dua cara yakni cara Jawa dan Islam. Mbah Prayit menuturkan bahwa meski ada warga yang lebih menjiwai nilai-nilai Islam namun di upacara keagamaan yang dilakukan seperti acara tujuh bulanan, masyarakat masih menggunakan cara-cara Jawa.

Sejalan dengan pernyataan Mbah Prayit, Kepala Desa Sambeng Rowiyanto juga menyatakan hal serupa bahwa antara Jawa dan Islam saling menyatu dan melengkapi. Menurut dia, di Sambeng meski tradisi Jawa berjalan, tradisi Islam juga berjalan. “Di sini meski Jawa berjalan, Islam juga. Sebagai agama yang berbudaya juga ada. Itu kan termasuk budaya Islam, bukan budaya Islam yang di sana (Arab-red) tapi Islam yang di sini. Ya kita tidak meninggalkan, kita doa ya dibaca semua. Ada sesaji kita bacakan dulu versi Jawa, baru doa versi Islam. Dua duanya jalan. Bahkan yang non-Islam pun ikut karena di Jawa madahi kabeh (berlaku semuanya)” ungkap Rowi.

Segendang sepenarian dengan Mbah Prayit dan Pak Rowi, warga Desa Sambeng, Mas Toha juga menyatakan bahwa Islam dan Jawa sama kuatnya dan berjalan beriringan. Ia bercerita bahwa berbagai kegiatan kebudayaan yang dilakukan di atau oleh masyarakat Sambeng selalu didahului dengan cara-cara Islam dan karena itu menurut dia Islam dan Jawa bisa jalan bersamaan. “Di Sambeng antara Islam dan Jawa jalan bareng. Pas karnaval bikin Garuda kemarin untu G20, kita ngaji dulu baca Yasin 3x. Dahulu juga pernah kita bikin kuda Pangeran Diponegoro, ritualnya ngaji.” ungkap Mas Toha menjelaskan.

Wujud Koeksistensi Jawa dan Islam Di Desa Sambeng

Selain dari peringatan daur hidup, koeksistensi Jawa dan Islam juga bisa dilihat dari kesenian rakyatnya.  Kesenian rakyat yang bernafaskan Jawa dan masih eksis di Desa Sambeng diantaranya yakni kesenian setrek, jathilan, ketoprak millennial, macapatan, karawitan, maupun selawat Jawa. Sedangkan kesenian rakyat yang bernafaskan Islam bisa dilihat dari eksistensi group kesenian rebana yang kini menjadi kesenian populer. Keberadaan group kesenian rebana merata di setiap dusun di Desa sambeng. Hal ini membuktikan jika kesenian rakyat baik yang bernafaskan Jawa maupun Islam sama-sama eksis dan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Kemudian dilihat dari peringatan Bulan Jawa, masyarakat Sambeng sama-sama memperingati bulan Jawa maupun bulan Islam. Pada dasarnya kalender Jawa dan kalender Islam sudah disesuaikan misalnya Bulan Sura dalam kalender Jawa sama halnya bulan Muharram pada kalender Islam begitupun dengan bulan-bulan yang lainnya.

Namun kendati sudah disesuaikan, ada beberapa bulan yang dianggap sakral menurut tradisi Jawa seperti Bulan Sura, Sapar dan Ruwah di sisi lain ada beberapa bulan yang dianggap sakral menurut tradisi Islam misalnya Bulan Mulud (Rabi’ul Awal), Bulan Rejeb (Rajab), Bulan Pasa (Ramadhan) dan Bulan Syawal. Tradisi Jawa maupun tradisi Islam di Sambeng sama-sama dirayakan. Misalnya pada peringatan Bulan Sapar atau Saparan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bulan Mulud, masyarakat Sambeng sama-sama merayakannya dengan meriah.

Salah satu Bulan Jawa yang diperingati oleh masyarakat Sambeng yakni Bulan Sapar. Setidaknya ada tiga peringatan yang dilakukan oleh masyarakat diantaranya peringatan merti dusun yang dilakukan di masing-masing dusun, peringatan Rebo Wekasan yang dilakukan di Rabu terakhir pada Bulan Sapar, dan peringatan merti desa. Kata merti memiliki padanan kata bersih, sehingga istilah merti dusun atau merti desa bermakna bersih dusun atau bersih desa dalam makna lahir seperti bersih-bersih lingkungan ataupun makna bersih secara spiritual yang dalam hal tersebut dilakukan dengan cara membuat selamatan.

Sedangkan peringatan Rebo Wekasan dilakukan untuk memperingati bulan Safar yang dalam tradisi Islam diceritakan pada bulan Safar pernah terjadi banyak musibah sehingga kemudian dilakukan peringatan dengan melakukan mujahadah di masjid atau mushola sebagai upaya untuk menolak musibah atau biasa disebut dengan tolak bala.

Analisis Substansial Relasi Jawa dan Islam Masyarakat Desa Sambeng

Dari pemaparan masyarakat Sambeng dan praktik keseharian masyarakat sebagaimana dijelaskan diatas, bisa disimpulkan jika Islam dan Jawa sama-sama eksis dan diterima masyarakat. Kadar keislaman ataupun kejawaan masing-masing individu tentu berbeda, namun mereka sama-sama menerima dan menganggap keduanya sama baiknya. Di Desa Sambeng, kebudayaan Jawa berhasil mempertahankan diri dari hegemoni Islam.

Tarik ulur antara Islam dan Jawa tentu tidak bisa dipungkiri, namun identitas dan penerimaan yang sama kuatnya menjadikan masyarakat terhindar dari gempuran Islam revitalis yang kini massif terjadi di berbagai daerah. Corak Islam di Desa Sambeng Borobudur, merujuk pada kategori Charles Kurzman (Wacana Islam Liberal, 2003), masuk kategori Islam Adat yang mengkombinasikan tradisi dan kebiasaan yang dilakukan di seluruh dunia Islam.

Terciptanya Islam adat di Desa Sambeng pada hakikatnya merupakan hasil dari pertemuan dua peradaban yakni peradaban Jawa dan Islam. Desa Sambeng, sebagai salah stau bagian dari Kawasan Borobudur merupakan pusat peradaban Jawa dengan Candi Borobudur sebagai porosnya. Tetapi kemudian Islam datang melalui salah satunya dakwah para wali yang terkenal dengan sebutan walisanga, khususnya Sunan Kalijaga. Maka di Sambeng, ataupun di desa-desa lainnya di Kawasan Borobudur banyak dijumpai cerita, dolanan, ataupun kesenian rakyat yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga.

Tetapi sekali lagi, corak Islam Sambeng cenderung masuk kategori Islam adat. Selain itu, praktik keberagamaan di Desa Sambeng seturut dengan tesis Woodward dalam Islam in Java, mengatakan bahwa praktik keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Islam Jawa adalah praktik Islami yang dipengaruhi oleh ajaran metafisika dan mistik sufi, bukan Islam animistis dan sinkretis namun Islam yang berkontekstual dan berproses secara akulturatif. Baik Islam dan adat saling terhubung, dan mempengaruhi satu sama lain sebagaimana yang terjadi antara Jawa dan Islam di Desa Sambeng, Borobudur.

Referensi:

Kurzman, Charles. 2003. Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-isu Global. Jakarta: Paramadina.

Woodward, Mark. 1989. “Islam in Java: Normative piety and mysticism in the sultanate of Yogyakarta.” In Islam in Java: normative piety and mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. University of Arizona Press, Tucson; Association for Asian Studies Monograph, 45.

*Keterangan foto: Prosesi Jamasan Jathilan di Sungai Progo Desa Sambeng Borobudur, dalam rangka Festival Adat Nusantara yang digelar pada Bulan September 2022.

*Disclaimer: Penulis terlibat dalam projek pengembangan wisata budaya spiritual bersama Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat di Kecamatan Borobudur selama tahun 2022. Tulisan ini merupakan hasil refleksi atas perjumpaan langsung dengan masyarakat Borobudur.

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakBudaya Basa-Basi
Artikulli tjetërCalalai: Perempuan Terakhir Penjaga Arajang
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini