Beranda Publikasi Kolom Reinterpretasi Dominasi Manusia atas Alam dalam Teks Agama

Reinterpretasi Dominasi Manusia atas Alam dalam Teks Agama

715

Jefri Andri Saputra (Alumni Pascasarjana IAKN Toraja)

Bagaimana agama berkontribusi terhadap pelestarian alam adalah usaha yang terus digaungkan akhir-akhir ini. Hal ini diupayakan dengan merujuk kepada berbagai teks dan pandangan teologis. Akan tetapi, tidak sedikit juga teks kitab suci yang dirujuk sebagai legitimasi bagi sikap superioritas manusia atas alam, dan menghasilkan praktik ekonomi yang eksploitatif (Singgih, 2020). Dalam konteks agama Kristen sendiri, ungkapan “penuhilah bumi dan taklukkanlah, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej. 1:28) adalah salah satu teks yang sulit dilepaskan dari pandangan superioritas manusia atas alam (Singgih, 2020).

Di balik tindakan eksploitatif yang dilakukan kepada alam, kepentingan ekonomi merupakan alasan terbesar. Tuntutan ekonomi membuat manusia memeras potensi yang dimiliki oleh alam. Pertanian monokultur jangka panjang, penggunaan pestisida, hingga aktivitas pertambangan adalah pemanfaatan potensi alam yang berorientasi pada kepentingan ekonomi. Hal ini membuat upaya pembebasan dari sikap superior dan tindakan eksploitasi makin sulit dihentikan.

Sikap superioritas manusia atas alam tidak hanya berimplikasi destruktif pada alam, tetapi juga kepada sesama. Masyarakat pertanian bergumul dengan fenomena pertambangan yang menggusur dan merugikan lahan mereka sekitar pertambangan. Sawah di sekitar lokasi tambang harus mengalami kegagalan karena keterbatasan air untuk mengairi persawahan. (“SEXY KILLERS,” 2019). Dalam pertanian monokultur skala besar seperti perkebunan kelapa sawit, kerusakan ekologis juga menjadi pergumulan masyarakat. Pembukaan lahan kelapa sawit dengan membabat hutan mengakibatkan kerusakan ekosistem hutan dan diikuti oleh berkurangnya kekayaan flora dan fauna. Penggunaan pupuk anorganik dalam jangka yang panjang ikut merusak tekstur tanah (Lisdayani & Ameliyani, 2021; Mailendra & Buchori, 2019; Putri, Valensia, Purnama, & Manik, 2023).

Untuk sampai kepada kondisi yang membebaskan alam dari bias superioritas manusia, maka tentunya dibutuhkan perspektif atau tafsir baru agar konsep dominasi manusia atas alam dapat diaplikasikan dalam konteks pro ekologi tanpa akibat destruktif. Selain itu, perspektif tafsir yang dikonstruksi juga perlu mempertimbangkan orientasi ekonomi, sehingga interpretasi dan implementasi teks dapat mengintegrasikan kebutuhan ekonomi dan ekologi.

Norman Wirzba dan Kecerdasan Material

Norman Wirzba adalah seorang Profesor Teologi, Ekologi, dan Studi Agraria di Duke Divinity School di Amerika Serikat. Salah satu karya Wirzba yang berimplikasi penting bagi kehidupan agraria adalah Agrarian Spirit:Cultivating Faith, Community, and the Land. Wirzba mengkritik berbagai stigma negatif yang disematkan pada kehidupan material yang dipengaruhi oleh pandangan dualistis. Spiritualitas yang dualistis meletakkan kebahagiaan pada kehidupan surgawi yang tidak mungkin diwujudkan dalam kefanaan kehidupan hari ini. Upaya pelepasan jiwa dari tubuh materi menjadi orientasi keagamaan. Implikasi penting dari pandangan ini tentu saja adalah sikap dan cara hidup yang mendiskreditkan dunia materi (Wirzba, 2022).

Wirzba menolak sikap di atas dengan mengonstruksikan sikap sebaliknya melalui kisah klasik penciptaan dunia. Kisah penciptaan dunia dalam Taurat memperlihatkan bahwa proses penciptaan diinisiasi oleh keinginan dan kasih Tuhan sendiri. Hal ini terlihat dari sikap Tuhan yang selalu berhenti sejenak dan menyebut betapa baiknya mereka. Puncak dari keistimewaan ciptaan ketika Tuhan merayakan satu hari Sabat, untuk menguduskan pekerjaannya menciptakan dunia. Segala ciptaan yang telah ada memiliki maksud dan perannya masing-masing. Tidak ada ciptaan yang ada secara kebetulan. Mereka semua ada karena kehadiran Tuhan yang meneguhkan. Kisah penciptaan membuat Wirzba menyebut ciptaan sebagai objek kasih sekaligus sebagai sarana perwujudan kasih (Wirzba, 2022). Dunia disebut objek kasih karena Tuhan mengasihi mereka, tetapi juga menjadi sarana perwujudan kasih karena Tuhan menggunakan alam sebagai sarana menyatakan kasih dan pemeliharaan-Nya.

Pandangan ini membuat Wirzba membangun sebuah paradigma yang mengasihi dan peduli terhadap dunia. Urgensi kehidupan material mengimplikasikan perlunya menjalani kehidupan ini dengan penuh keseriusan, kepedulian, dan juga pengabdian. Alternatif yang ditawarkan Wirzba untuk menjalani kehidupan dengan kepedulian pada dunia adalah kecerdasan material. Kecerdasan material yang dimaksud di sini mengacu pada pandangan Glenn Adamson, yakni memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dunia, mampu membaca lingkungan, serta mampu mengubahnya ke bentuk yang baru (Adamson, 2018).

Wirzba kemudian mengembangkan pandangan dari Adamson, dengan menjelaskan kecerdasan material sebagai sebuah wawasan yang komprehensif dan berimbang antara potensi dan kerentanan yang dimiliki oleh ciptaan lain, termasuk alam. Kecerdasan material adalah unsur penting dalam peralihan kehidupan nomad ke pertanian. Manusia yang mengetahui potensi alam dapat terlibat dalam proses pengelolaan untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu, kecerdasan material yang memahami kerentanan alam juga akan berupaya melindungi alam dari kerusakan. Alam memiliki batas kerentanan yang bila dilanggar akan mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu, manusia yang mengetahuinya perlu menjaga dan melindungi alam (Wirzba, 2022). Kedua aspek dalam kecerdasan material dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang, Keduanya berimbang dan sama-sama urgen bagi kelangsungan hidup segala makhluk.

Reinterpretasi Konsep Dominasi ala Kecerdasan Material dan Integrasi Ekonomi-Ekologi

Kecerdasan material dari Wirzba mengonstruksikan perlunya pemahaman yang berimbang dan komprehensif mengenai potensi dan kerentanan alam. Konsep inilah yang dapat digunakan untuk memberikan lensa perspektif terhadap tafsir atas sikap dominasi dan penguasaan atas alam. Penafsiran yang saya usulkan adalah menguasai alam hendaknya diletakkan pada sisi inteligensi. Menguasai berarti memahami gerak gerik, potensi, dan kerentanan alam secara komprehensif dan mendalam. Penguasaan secara inteligensi ini jelas terlihat dalam peralihan dari kehidupan nomad ke pertanian. Menguasai dalam arti kepemilikan wawasan yang komprehensif atas alam, membuat manusia memiliki pengetahuan tentang cara memperlakukan alam dan ciptaan lain baik dalam pengelolaan potensinya maupun dalam perlindungan kerentanannya. Dengan interpretasi inilah, diharapkan implementasi konsep “dominasi manusia atas alam” tidak bersifat destruktif melainkan konstruktif.

Bentuk penafsiran baru terhadap konsep dominasi manusia atas alam dari teks kitab suci, melalui kecerdasan material dapat diimplementasikan untuk menciptakan strategi kerja yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi. Mengetahui wawasan tentang potensi alam akan sangat mendukung perkembangan perekonomian masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat dapat membudidayakan padi berdasarkan wawasan mengenai iklim, cuaca, maupun tanah atau lahan yang sesuai. Hal ini berlanjut dalam kemampuan menanam, memelihara, hingga perlakuan pascapanen untuk menghasilkan beras berkualitas unggul.

Wawasan mengenai berbagai jenis masakan dengan bahan dasar nasi maupun masakan dengan bahan dasar tepung beras akan mendongkrak kehidupan perekonomian masyarakat melalui bisnis kuliner. Sementara pada sisi yang lain, kecerdasan material mengenai kerentanan alam akan menolong dalam usaha perlindungan sebuah ekosistem. Memahami kerentanan ekosistem sawah akan menciptakan pemahaman mengenai dampak buruk dari penggunaan pupuk anorganik terhadap tanah pertanian ataupun pestisida bagi berbagai organisme yang ada di sawah. Wawasan ini akan membuat petani berupaya untuk menghindari penggunaannya dan beralih ke pupuk dan pestisida organik.

Tindak lanjut terhadap konsep di atas dapat diterapkan dalam komunitas yang bergerak di bidang ekonomi maupun lingkungan.Sebut saja kepada peneliti maupun penyuluh pertanian yang selalu berupaya mendongkrak perekonomian melalui pertanian. Isu-isu ekologis dan dampak lingkungan seharusnya paket yang utuh dengan usaha pengembangan pertanian, sehingga teknologi pertanian maupun berbagai teknik dan metode yang dikembangkan tetap ramah lingkungan. Hal yang sama berlaku bagi komunitas pemerhati lingkungan.

Berbagai aturan yang ditetapkan dalam rangka pelestarian lingkungan perlu melibatkan pertimbangan kebutuhan ekonomi masyarakat. Larangan penebangan pohon, pelestarian hutan, dan peralihan dari pupuk anorganik ke pupuk organik, semestinya didukung oleh strategi pengembangan ekonomi yang sepadan. Dengan kata lain, segala usaha untuk mengembangkan pengelolaan potensi alam tidak dapat dipisahkan dari usaha melindunginya dari kerusakan. Sebaliknya, propaganda gerakan ramah lingkungan juga tidak boleh pisah dari gerakan pemberdayaan ekonomi. Pemberdayaan ekonomi harus terintegrasi dengan kepedulian lingkungan. Integrasi inilah yang kemudian menjadi bentuk aktualisasi dominasi manusia atas alam atau implementasi kecerdasan material.

Daftar Pustaka

Adamson, G. (2018). Fewer, Better Things: The Hidden Wisdom of Objects. New York: Bloomsbury.

Lisdayani, E., & Ameliyani. (2021). Dampak Industri Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Lingkungan Di Desa Paya Kulbi, Aceh Tamiang. Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan, 2(1), 101–105. Retrieved from https://semnasfkipunsam.id/index.php/semnas2019/article/view/92

Mailendra, & Buchori, I. (2019). Kerusakan Lahan Akibat Kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin di Sekitar Sungai Singingi Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Pembangunan Wilayah Dan Kota, 15(3), 174–188. Retrieved from https://doi.org/10.14710/pwk.v15i3.21304

Putri, A. F. J., Valensia, M. V., Purnama, R., & Manik, J. D. N. (2023). Dampak Kerusakan Lingkungan Biotik, Abiotik, dan Sosial Budaya Akibat Pertambangan Timah Ilegal di Kecamatan Mentok. Sentri, 2(10), 4473–4481. Retrieved from https://doi.org/10.55681/sentri.v2i10.1689

SEXY KILLERS. (2019). diakses 8 Maret 2024, dari Watchdoc Image website: https://www.youtube.com/watch?v=qlB7vg4I-To

Singgih, E. G. (2020). Agama dan Kerusakan Ekologi: Mempertimbangkan “Tesis White” dalam Konteks Indonesia. Gema Teologika, 5(2), 113–136. Retrieved from https://doi.org/10.21460/gema.2020.52.614

Wirzba, N. (2022). Agrarian Spirit: Cultivating Faith, Community, and the Land. Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame Press.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini