Beranda Publikasi Kolom Tradisi Saparan Masyarakat Desa Giripurno Borobudur

Tradisi Saparan Masyarakat Desa Giripurno Borobudur

409
Warga Miriombo Wetan yang Masih Memanfaatkan Sumber Mata Air di Kali Sabrang (Ky Sumber), salah satu lokasi yang diberi sesaji saat Saparan Merti Dusun (Dok. Pribadi)

Chusnul C (Alumni CRCS, UGM)

Masyarakat Desa Giripurno Borobudur, sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, merayakan bulan-bulan tertentu dalam kalender Jawa dengan melakukan ragam upacara peringatan. Salah satu diantaranya yakni peringatan merti dusun sebagai bentuk perayaan Bulan Sapar. Merti Dusun diartikan sebagai upaya membersihkan diri dari hal-hal negatif dengan melakukan slametan (wilujengan), melakukan sedekah, hingga pesta bersama yang biasa dilakukan dengan mengundang kelompok kesenian rakyat. Di dusun lainnya di Desa Giripurno, saparan diperingati dengan cara lain misalnya dengan peringatan Rebo Wekasan yang dilakukan dengan salah satunya sholat tolak bala (menolak bencana) di masjid maupun mushola, atau ziarah Sunan Kalijaga yang disebut dengan Saparan Sebandot untuk tingkat desa yang dilakukan setiap dua tahun sekali.

Peringatan Saparan Merti Dusun Miriombo Wetan dimulai dengan berziarah ke makam pepunden di sore hari, dan melanjutkan acara dengan wilujengan atau slametan di malam harinya. Wilujengan dilakukan bersama-sama meski terdapat dua kepercayaan yang dianut warga yakni Kepercayaan Urip Sejati dan Islam. Karena itu, wilujengan juga dilakukan dengan doa masing-masing; bagi mat muslim, wilujengan dilakukan dengan tahlilan dan membaca kalimah toyyibah beserta do’a umat muslim lainnya sementara bagi penghayat, mereka membaca kidungan. Dengan melakukan wilujengan, masyarakat berharap akan mendapatkan keselamatan dan keberkahan. Kata wilujeng sendiri dalam Bahasa Jawa artinya selamat.

Acara puncak merti dusun dilakukan di hari Selasa Kliwon dengan mengadakan kirab tumpeng larakan menuju sembilan tempat diantaranya Kali Sabrang (Ky Sumber), Tuk Gembongan (Ki Gembung), Bukit Mongkrong (Ki Mengku Rogo), Kali Winong (Ki Murbokesumo), Nggerdu atau disebut juga dengan Cakruk yakni perbatasan antara Desa Giripurno dan Giritengah (Jogo Rekso), Tuk Semawung (Ki Songgo Buwono), Kali Jaro (Ki Jaro), Watu Adeg (Ki Selo Lukito), dan ada satu sumber mata air kecil yang belum diberi nama karena mata air tersebut hanya digunakan oleh satu keluarga. Nama-nama tersebut digunakan untuk menghormati tempat-tempat yang dianggap sakral atau memiliki makna tertentu. Sembilan tempat tersebut merupakan perbatasan dusun dan sumber mata air yang masih dimanfaatkan oleh sebagian warga.

Peringatan Saparan Miriombo Wetan kemudian ditutup dengan pesta kesenian rakyat baik dilakukan oleh kelompok kesenian rakyat dari Dusun Miriombo Wetan, dari Desa Giripurno ataupun dari luar. Pertunjukan kesenian rakyat bisa dari mana saja, namun pada peringatan merti dusun yang dilakukan pada 6 September 2022 lalu dilakukan dengan menampilkan jathilan dari dusun mereka sendiri.

Sajian Warisan Pangan Tradisional dalam Tradisi Saparan dan Pemaknaannya

Saparan Merti Dusun Miriombo Wetan, sebagaimana umumnya upacara adat Jawa, tidak pernah luput dari ragam warisan pangan yang disajikan sebagai salah satu sarana do’a dan harapan akan suatu kebaikan. Setiap jenis warisan pangan dimaknai sesuai dengan kearifan lokal masing-masing. Makanan Saparan yang disajikan di Dusun Miriombo Wetan bisa jadi berbeda dengan makanan Saparan yang disajikan di dusun atau desa lainnya  menyesuaikan dengan lokalitas masing-masing dusun. Selain makanan wilujengan, warga juga menyiapkan ragam sesaji dengan peruntukan masing-masing.

Tumpeng larakan yang dibuat untuk ditaruh disembilan tempat misalnya, disajikan dengan tempat yang merekasebut dengan ancak. Ancak ini dibuat dari bambu berbentuk segi empat. Menurut salah satu sesepuh Miriombo Wetan yang memimpin kirab tumpeng, yakni Pak Karjio, bentuk persegi empat melambangkan empat arah angin yakni barat, timur, selatan dan utara. Sementara itu, tumpeng larakan ini terdiri dari tumpeng kecil, polo kapendem (tanaman yang buahnya di tanah seperti bengkoang, ubi), polo gumantung (tanaman yang buahnya bergelantungan seperti pisang), sayuran mentah seperti kobis, tomat dan wortel, jajanan pasar seperti jenang, sembilan jenis lauk pauk yang sudah dimasak, janur, satu dupa, serta kelapa muda.

Selain sembilan tumpeng larakan, merti dusun juga menyediakan sesaji utuh yang ditaruh di rumah yang dijadikan lokasi peringatan Saparan. Sesaji tersebut terdiri dari cikal dua ganthet (empat buah kelapa tua yang sudah keluar daunnya dan siap ditanam), padi dua ikat, pisang raja, tumpeng, ingkung dan lauk pauknya, satu kelapa muda, janur, jagung empat buah, buah jeruk empat buah, ketela dua biji serta satu kendi yang berisi air dari tujuh sumber mata air yang diberi sesaji dan minuman tujuh warna. Selain itu, sesaji juga menyertakan dupa dan bunga kanthil. Kemudian sesaji tersebut diletakkan di atas pintu masuk rumah yang digunakan untuk peringatan Saparan. Menurut Lurah Giripurno, Mbah Pujo, sesaji tersebut diperuntukkan bagi para pepunden Dusun Miriombo Wetan yang barangkali ikut berkunjung.

Saparan Miriombo Wetan juga menyajikan makanan wilujengan diantaranya tumpeng rosul beserta ingkung, tumpeng robyong, jenang abang putih limo pancer, larakan, tumpeng lulut, sego giling, sego golong, dan ragam jenis makanan lainnya seperti nasi, sayur, dan lauk. Terkait ragam pemaknaan makanan wilujengan, salah satu sesepuh mirombo Wetan, yakni Mbah Ali Mukhsin, menjelaskan:

Selametan merti dusun, ngangge tumpeng rosul dipun jodoni ingkung. Anggenipun dados tumpeng rosul mergo dipun bumbuni parutan krambil, uyah, lan godhong salam. Sedoyo niku sing dicaosi termasuk kanjeng nabi sedurunge Muhammad. Sedoyo umat menungso Bapak Adam Siti Hawa. Tumpeng robyong itu untuk dewi sri sing maringi rejeki. Lantaran, kados kanjeng nabi Muhammad kan utusane Allah. Robyong niku tumpeng, disunduki onten krupuk, kubis lan werni-wernine disunduk mubeng, lombok bawang merah putih, klubanan sak bumbune. Maknane tumpeng robyong mergo dikepung bareng-bareng. Maraih ayam tentrem. Koyo sampean due rejeki diliwet sekilo, tesih ayem ulih tentreme Dewi Sri.

(Slametan merti dusun menggunakan tumpeng rasul dan ingkung. Disebut tumpeng rosul sebabnya dikasih bumbu berupa kelapa yang diparut, dikasih garam dan daun salam. Tumpeng rasul dan ingkung menjadi bentuk bakti kepada nabi sebelum Nabi Muhammad termasuk Bapak Adam dan Ibu Hawa. Tumpeng robyong itu untuk Dewi Sri yang menjadi lantaran rezeki, lantaran disini seperti Nabi Muhammad utusan Allah. Robyong itu tumpeng, ada kerupuk, kobis ditusuk pakai lidi memutari tumpeng sementara cabai, bawang merah dan putih ditusuk dan ditaruh di puncak tumpeng).

Mbah Ali kemudian melanjutkan dengan penjelasan terkait jenang abang putih limo pancer. Menu ini terdiri dari nasi yang dijadikan bubur dan disajikan dengan lepek atau piring. Dua buah piring diisi dengan bubur putih yang kemudian disebut dengan jenang putih sebagai lambang bapak. Lantas dua piring lainnya diisi dengan bubur yang berwarna merah dengan dicampur gula jawa dan dinamakan jenang abang, sebagai lambang ibu.

Penjelasan selanjutnya yakni tumpeng lulut yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa. Menurut Mbah Ali, tumpeng lulut juga menjadi simbol agar tanaman hidup dengan mudah. Selain itu tanaman dapat memberi manfaat, dapat membesarkan air dan mata air, serta menjadi pengayoman untuk seluruh warga masyarakat. Tumpeng ini juga menjadi bentuk harapan agar tidak memunculkan pendapat yang kurang baik dimasa yang akan datang dan sekaligus pengharapan agar seluruh warga masyarakat selalu rukun, semua lulut lahir dan batin.

Adapun warisan pangan lainnya yang disajikan saat merti dusun yaitu sega giling, yaitu makanan yang terbuat dari nasi putih yang kemudian dikepal-kepal sehingga membentuk bulatan sebesar kepalan tangan. Sego giling disajikan di atas piring atau ancak dengan jumlah tertentu sesuai dengan hajatan yang dilakukan. Sega giling ini dimaknai sebagai simbol untuk memproses segala permohonan supaya dapat terkabul.

Selain sega giling ada juga yang disebut dengan sega golong, yakni nasi putih yang dibungkus dengan daun jati dan berjumlah empat belas atau tujuh pasang. Setiap pasangan memiliki makna yang berbeda. Secara umum ke-tujuh pasang sega golong tersebut merupakan simbol keberlanjutan keinginan warga masyarakat dan tanaman yang akan ditanam. Sega golong ini juga menjadi simbol harapan agar masyarakat serta tanaman yang ditanam memperoleh kehidupan yang baik.

Geneologi Masyarakat Jawa

Peringatan Saparan tidak saja dilakukan oleh Masyarakat Miriombo Wetan, namun juga umum dilakukan oleh masyarakat Borobudur maupun masyarakat Jawa secara lebih luas. Hanya saja, bagaimana masyarakat memaknainya, termasuk tata cara yang dilakukan memiliki perbedaan satu sama lain. Bahkan, masing-masing dusun di Desa Giripurno pun memperingati Saparan dengan tata cara dan pemaknaan yang berbeda-beda. Begitu pula dengan sesaji serta ragam jenis makanan yang disajikan dalam slametan, atau wilujengan.

Terkait hal ini, salah seorang antropolog, yakni Andrew Beatty dalam bukunya Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account (2003) mengatakan jika Jawa pada dasarnya memiliki sistem multi keyakinan, dan nilai-nilai yang menyuburkan pemaknaan yang berbeda-beda. Argumentasinya didasarkan pada temuannya tentang slametan yang dilakukan dengan tata cara serta pemaknaan yang berbeda-beda.

The enduring quality of the slametan no doubt derives partly from its appeal to basic Javanese values which transcend local and sectarian differences. It brings together neighbours as fellow men and women, not as fellow Muslims or Hindus. But its form symbolically dense and comprehensive but at the same time flexible and ambiguous has also helped it to survive and even encompass major cultural changes (Lewis 1980: 89)”

(“Kualitas slametan yang bertahan lama sebagian berasal dari daya tariknya terhadap nilai-nilai dasar Jawa yang melampaui perbedaan lokal dan sektarian. Slametan berhasil mempertemukan tetangga sebagai sesama laki-laki dan perempuan, bukan sebagai sesama Muslim atau Hindu. Bentuk slametan yang secara simbolis padat dan komprehensif namun pada saat yang sama fleksibel dan ambigu juga membantunya bertahan dan bahkan mencakup perubahan budaya yang besar (Lewis 1980: 89 dalam Beatty, 2003: 50).

Pada contoh wilujengan Saparan yang diselenggarakan di Dusun Miriombo Wetan, warga yang terlibat datang dari dua kepercayaan yakni Islam dan Kepercayaan Urip Sejati atau penghayat. Namun, mereka bisa duduk dan melakukan acara secara bersamaan tanpa mengindahkan perbedaan diantara mereka. Sementara itu perbedaan tata cara peringatan saparan di masing-masing dusun di Desa Giripurno juga tidak pernah dipersoalkan secara berarti dan mereka menghargai tata cara dan pemaknaan masing-masing.

Hal tersebut dimungkinkan karena ada nilai-nilai lain yang dianggap lebih penting dan substansial dan sekaligus melampaui sektarian perbedaan yakni nilai-nilai Jawa. Dengan kata lain, mereka cenderung mengutamakan titik temu perbedaan misalnya rasa solidaritas, guyub rukun, keinginan untuk berbagi dan lain sebaginya.

Berdasarkan pada pemaparan tersebut, bisa disimpulkan bahwa peringatan Saparan Merti Dusun Miriombo Wetan, baik dari segi tata cara, pemaknaan, dan lain sebagainya merupakan lokalitas yang dimiliki masyarakat setempat. Namun, pola tersebut jamak ditemui di masyarakat Jawa pada umumnya, atau meminjam istilah yang digunakan Andrew Beatty sebagai ‘Agama Jawa’.

Referensi

Beatty, Andrew. Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account. netLibrary Edition. CAMBRIDGE UNIVERSITY PRESS, 2003.

Informan: Mbah Ali, Mbah Pujo, dan Mbah Karjio

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini