Beranda Publikasi Kolom Gunung dan Sumbu Imajiner Manusia Jawa

Gunung dan Sumbu Imajiner Manusia Jawa

238

Oleh: Aris Setiawan (Pengajar di ISI Surakarta)

Dalam Bahasa Kawi, gunungan dalam pertunjukan Wayang Kulit Jawa itu disebut dengan Meru, atau Maha Meru. Gunungan adalah wayang dengan bentuk menyerupai gunung, biasa disebut juga dengan kayon. Sebelum pergelaran wayang kulit dimulai, dua gunungan ditancapkan di tengah-tengah kelir putih.

Gunungan itu dicabut oleh dalang, ditaruh di samping kanan dan kirinya. Menandakan sebuah pertunjukan klasik telah dimulai. Begitu juga menjelang akhir pergelaran, dua kayon itu kembali ditancapkan di tengah-tengah kelir, sebagai tanda bahwa pertunjukan telah paripurna.

Gunungan itu membuka dan menyelesaikan sebuah babak atau pelakonan akan peristiwa. Gunungan itu adalah reduksi dari gunung yang sebenarnya. Dengan demikian gunung bagi masyarakat Jawa bukan sekadar gundukan tanah yang menjulang ke atas, namun sarat akan lapis-lapis makna dan nilai.

Imajiner

Dalam narasi laku-laku spiritual di Jawa, dan pelbagai epos lawas seperti Mahabarata-Ramayana, gunung adalah tempat di mana ritus-ritus transendental dilakukan. Para kesatria, baik dari dinasti Pandawa dan Kurawa, senantiasa mendapatkan senjata-senjata sakti lewat pertapaan-pertapaan di gunung-gunung, sebagaimana Arjuna mendapatkan Pasopati di Gunung Indrakila.

Bagi masyarakat Jawa, tuhan itu membumbung tinggi di atas tubuh mereka. Langit menjadi ruang di mana tuhan melihat dan mengawasi makhluk ciptaannya. Karenanya wajar dalam setiap lantunan doa, mata dan tangan ditadahkan ke atas.

Manusia Jawa berupaya mendekatkan tubuh pada tuhannya, dan gunung adalah katalisator atau anak tangga yang meniti agar bisikan suara tuhan itu bisa dirasakan dan didengar (baca wahyu). Menyepi dan laku spiritual dilangsungkan untuk mendapat pengalaman batin dan religius yang tak dimiliki manusia pada umumnya.

Pun demikian dalam mitos-mitos raja-raja besar di tanah Jawa. Ada upaya untuk “moksa” dengan memilih gunung sebagai palagan terakhir kehidupan. Jamak kita jumpai raja-raja mencukupkan dirinya sebagai penguasa (baca Brawijaya kelima dan Gunung Lawu), hidup bergelimang kemuliaan, untuk kemudian menjadi sudra di gunung.

Mereka menjalani laku sunyi setelah puas bersentuhan dengan gaduh dan bisingnya kehidupan. Gunung disakralkan. Masyarakat mempercayai bahwa gunung memberi berkah kehidupan, sekaligus sebagai ruang pengingatan tentang sakit dan lara. Gunung memberi kesuburan dan kesejukan, sekaligus juga panas dan api.

Hal itu terlukis gamblang dalam kayon, satu kayon mempresentasikan tentang hutan dan air yang jernih, sementara lainnya berupa api yang merah menyala-nyala. Bagi manusia sekitar, berinteraksi dengan gunung menjadi penting dalam upaya merawat ekosistem ideal kehidupan semesta.

Karena itulah ritual dilakukan untuk gunung, lewat sesaji dan pelbagai macam upacara. Merawat gunung berarti merawat hidup dan masa depan mereka. Ritus itu mentradisi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melihat gunung berarti membaca kebudayaan manusianya.

Begitu pentingnya eksistensi gunung bagi masyarakat Jawa, hingga mereka membuat gunung-gunung rekaan (terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari gunung), lewat tumpeng atau “gunungan” yang berisi hasil-hasil bumi seperti sayur, buah, dan nasi. Tumpeng itu simulakrum dari gunung yang senyatanya, hadir di tengah-tengah ritus penting masyarakat Jawa.

Dalam pelpagai prosesi, dari bersih desa, ruwatan, hingga selamatan ulang tahun, tumpeng hadir untuk memberi penguatan tentang arti penting eksistensi diri menjadi manusia Jawa sejati.

Dalam jagat tradisi yang lebih besar, keraton misalnya, tumpeng itu dibuat jumbo dan juga dinamakan gunungan. Diarak, dipertontonkan, dan terakhir diperebutkan oleh masyarakat. Mereka rela berdesakan untuk mendapatkan sejumput bagian dari tumpeng besar tersebut, baik itu sayur-mayur atau buah-buahan.

Tumpeng itu sebagai ruang imajiner mereka untuk mengunjungi gunung, sekaligus mengomunikasikan diri dengan tuhannya lewat doa-doa yang dilantunkan atau disematkan. Tentu saja di rumah mereka dapat menjumpai benda serupa seperti sayur dan buah, namun benda-benda itu berubah menjadi berkah saat dirajut menyerupai gunung. Ada makna dan nilai tradisi yang terus disematkan sekaligus dipertahankan, bahwa gunung sebagai anasir megalitik tak berubah kendatipun zaman beralih kuantum.

Bersentuhan dengan gunung adalah upaya untuk mengenal hakikat manunggaling kawula gusti. Sebagaimana kisah moksa raja-raja Jawa itu. Gunung berperan besar menyatukan diri dan batin mereka pada sang penguasa jagat. Gunung itu laksana ruang kosmik yang tak dapat dilihat secara fisik ketubuhan, namun membentangkan cakrawala kearifan dan pengetahuan lokal masyarakat dalam memandang alam dan tuhan.

Puncak

Tempat tertinggi gunung yang biasa disebut sebagai puncak adalah titik di mana pengembaraan laku hidup telah usai ditunaikan. Pada akhir dari epos Mahabarata, masyarakat Jawa meyakini bahwa Pandawa melakukan jalan suci pendakian di Semeru untuk meraih puncaknya yang bernama Maha Meru.

Sebagai titik pemberhentian, di sanalah mereka menapaki jalan kematian untuk kembali ke surga. Dan oleh masyarakat sekitar, puncak Semeru itu adalah rumah bagi dewa-dewa yang setiap saat menjaga dan mengawasi mereka. Dalam khasanah lokal, pucuk tertinggi dari tumpeng (sebagai representasi dari gunung rekaan) itu dipotong, hanya diberikan pada seseorang yang dianggap spesial atau berarti.

Artinya puncak itu adalah bagian terpenting, di mana tidak semua orang layak untuk mendapatkannya. Manusia-manusia gunung menyadari bahwa hidup berdampingan dengan gunung mengandung konsekuensi pada pembentukan ruang kultural yang unik, melokal, dan berbeda.

Dengan kata lain, gunung itu memberi kemungkinan bagi tumbuhnya episentrum pelbagai tradisi yang mencirikan ekstensi masyarakat akar rumput. Adanya gunung membentuk cakrawala berfikir masyarakatnya. Setiap letusan gunung senantiasa memberi makna dan perilaku baru bagi manusianya.

Oleh sebab itu, pengetahuan tentang gunung, terutama dalam konteks kebudayaan menjadi penting untuk kembali dihadirkan bagi generasi masa kini, di kala gunung semata dipandang sebagai sekadar tempat pelancongan dan turistik untuk memenuhi kebutuhan foto di media sosial.

Mendatangi gunung tidak dalam upaya menjaga dan memahami nilai dan makna yang bersemayam di baliknya, namun sebagai bagian dari hasrat narsistik, menampilkan diri berpose dengan latar alam, awan, dan ketinggian. Jika demikian, dapat dipastikan gunung itu eksis secara fisik namun pada hakikatnya bangkrut secara kultural dan spiritual. [NI]

Artikel sebelumyaMembongkar Istilah Peyoratif Atas Masyarakat Adat/Penghayat
Artikel berikutnyaMacapat: Antara Tradisi Keraton dan Masyarakat Umum
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here