Beranda Publikasi Kolom Gamelan Jawa dalam Pusaran Hinduisme, Budhisme, dan Shamanisme

Gamelan Jawa dalam Pusaran Hinduisme, Budhisme, dan Shamanisme

119
https://momentum.emory.edu/project/11709

Sunarto (Pengajar Filsafat dan Musikologi pada Jurusan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang)

Mengenai kelahiran Gamelan, beberapa sumber yang terpercaya mengarahkan pembaca untuk menganggap bahwa Gamelan lebih tua dibandingkan kedatangan agama Hindu di Jawa (Pernyataan Kedubes Indonesia di Ottawa, April, 1961; Lentz, 1965; 5. Kunst. 1968.). Dalam praktek Shamanisme (perdukunan) di Ceylon, Asia Selatan, China, dan lain-lain, instrument musik, seperti: Gong, Gendang (Jawa= Kendang), atau Kecrek, digunakan untuk musik ritual (Eliade, 1974; tentang “Shamanisme”, lihat: Sunarto, “Kuda: Simbol dalam Shamanisme”).

Sangat mungkin bahwa masa awal terciptanya Gamelan dimulai dengan adanya Gong dan Kendang untuk praktek keagamaan kuno di mana pementasan Wayang telah diketahui sebagai salah satu cara ritual dengan melibatkan arwah leluhur (baca: roh), di mana Dalang bertindak sebagai ‘imam’ (sutradara) (de Wit, 1912). Gamelan menunjukkan perkembangannya dengan menjadi lebih sederhana meski semakin berhubungan erat dengan tradisi dan upacara keagamaan (Lentz, 1965).

Sejauh ini para sejarawan Indonesia meyakini bahwa kepindahan kerajaan-kerajaan Jawa Tengah ke Jawa Timur di sekitar abad ke-10 disebabkan oleh alasan yang tidak diketahui ataupun karena bencana alam. Di dalam hubungan keseimbangan kekuatan politik antara kerajaan Budha dan Hindu di Jawa, dalam kasus Hindu, mereka memutuskan untuk pindah ke Jawa Timur untuk “ruang kehidupan” (libensraum).

Ada suatu perbandingan antara candi Hindu tertua yang berada di dataran tinggi Dieng dengan Candi Borobudur. Disbanding Candi Borobudur, candi-candi yang ada di Dieng tersebar dan tidak semegah Borobudur. Sedangankan Candi Borobudur terlihat begitu megah, indah, dan lengkap, seperti buku visual dalam kebudayaan Budha. Candi Borobudur barangkali lebih menebarkan pesona dibandingkan yang dibangun oleh raja kerajaan Hindu pada waktu itu. Kekalahan sistem-kasta Hindu oleh Budha barangkali juga berkesan positif di mata masyarakat umum. Di Prambanan terdapat dua wilayah yang membagi komplek candi, yaitu: Candi Hindu dan Candi Budha.

Membayangkan kebangkitan Hinduisme dengan keberadaan candi Hindu di Prambanan dan keberadaan candi Budha di sana ‘memaksa’ masyarakat untuk menerima pengaruh perselisihan kedua agama tersebut pada masa itu. Fakta bahwa kedua agama Hindu dan Budha berasal dari ras yang sama dan harapan akan penghapusan sistem kasta merupakan kebanggaan agama Budha namun menjadi masalah bagi para raja yang memanfaatkan posisinya sebagai bangsawan untuk meraup keuntungan demi dirinya sendiri.

Tentang masalah pengkastaan ini, Sen menulis bahwa di Jawa Tengah pemujaan kepada Agatsya merupakan hal yang cukup lazim. Agatsya adalah seorang tokoh dari India dan dipandang, dalam mitologi India, sebagai sosok yang sangat bijaksana, namun di Jawa ia terlihat seakan memperoleh status ketuhanan yang tidak ia nikmati di India (Sen, 1975).

Dalam pandangan Geertz, skala Slendro mulai digunakan untuk mengiringi pementasan Wayang yang membawakan kisah Ramayana atau Mahabharata (Geertz, 1976) dan sejarah yang mencatat bahwa Wayang adalah alat propaganda Hindu untuk menyebarkan agama mereka kemungkinan besar skala Pelog muncul terlebih dulu dibandingkan skala Slendro dianggap secara agama kurang kharismatik atau sudah tercemar pengaruh Budha dari Jawa Tengah (Geertz, 1975).

Berdasarkan teori Nadel, sangat mungkin bahwa kelahiran skala Slendro bukanlah ‘kecelakaan’ atau kemunculan secara tidak sengaja, dikarenakan fungsi pentingnya dalam mengiringi pementasan mitologi Hindu yang sangat kaya, seperti yang tertual dalam Kitab Mahabharata dan Ramayana (Nadel, 1967). Nadel telah memperkenalkan suatu teori bahwa musik di masa lalu muncul atas hasrat orang-orang primitif untuk memiliki suatu bahasa yang berbeda dari bahasa sehari-hari untuk berkomunikasi dengan makhluk supranatural; sangat mungkin bahwa pemilihan waktu berhubungan dengan kepercayaan bayangan sebagai sebuah jiwa orang mati (Nadel, 1967).

Di Jawa Timur, di area yang dianggap bebas dari pengaruh Budha pada masanya, Hinduisme mulai berkembang dengan baik dan disibukkan oleh projek penerjemahan teks Sansekerta ke dalam bahasa Jawa (Jawa Kuno), pementasan naskah kaya dari mitologi Hindu menjadi sangat sering, ditunjang dengan adanya unsur baru, skala Slendro, di bawah perlindungan raja Hindu. Kelihatannya terjadi suatu perang diam-diam dengan Budha, mengingat dibangunnya buku visual sempurna yang maha megah, indah, rumit, yaitu Candi Borobudur. Candi Borobudur yang maha kompleks, namun ditinggalkan tanpa perlindungan dari keraton, dan Hindu muncul dengan masa depan yang lebih cerah dan tradisi oral yang lebih kuat.

Setidaknya sejak periode Hindu-Jawa di dalam kerajaan-kerajaan Jawa Timuran kebanyakan memiliki tendensi artistik tradisional. Di Jawa Timur setelah abad ke-10 yang kaya dengan kreasi kultur dalam kesusastraan Jawa Kuno, diterjemahkan dan terinspirasi dari sastra Sansekerta, ukiran, dan candi-candinya, skala Slendro, pementasan mitologi Hindu, pertapaan, dan lain-lainnya, terlihat seakan mendapat dorongan dengan datangnya pengaruh musik India, terutama karena masalah penyesuaian dengan unsur pribumi yang berkembang di wilayah Jawa. India adalah negeri di mana tradisi oral merupakan yang paling utama. Dan segala ritual Hindu berdasar pada kepercayaan bahwa doa yang dipanjatkan sangat berpengaruh dan mujarab (Varenne, 1976).

Di dalam landasan yang dapat diterima, Kunst menganggap bahwa orang-orang yang mendiami Jawa yang berasal dari Asia Tenggara (Yunnan, via Indochina) berabad-abad Sebelum Masehi, dan yang menaklukkan atau memusnahkan populasi asli, mengerti skala Pelog (Kunst, 1968). Skala Pelog dipakai dalam pementasan kisah-kisah Wayang kerajaan Hindu-Jawa (, dan hal ini mengindikasikan gagasan mengenai toleransi atau sinkretisme di dalam hubungan permusuhan Hindu-Budha Geertz 1976).

Sekitar 1500 tahun Sebelum Masehi, Wayang sudah dipakai dalam praktek keagamaan orang Jawa (Mulyono, 1978) dan di waktu itu India dan China sedang mengalami Zaman Perunggu (Geishinsa, 1978), yang barangkali menunjang produksi Gong (Di dalam ruang utama Taman Isui di eks-ibukota pertama kekaisaran Jepang, Nara, dapat dilihat Gong berukuran sedang yang sama seperti Gong Gamelan Jawa).

Dikatakan bahwa Gong tersebut berasal dari China, dibawa ke Jepang di awal abad ke-16, dan musik Jepang berdasar pada dua fundamen teoritis besar, musik dari China, dan musik dari Budha (Malm, 1978); dan keduanya menggunakan Gong dan Gendang, yang dibarengi dengan Kendang untuk praktek Shamanisme (Eliade, 1974). Hal tersebut seperti yang ada di dalam praktek Shamanisme di Batak yang dihubungkan dengan penghormatan kepada arwah leluhur, dan barangkali di Jawa juga seperti itu (Eliade, 1974).

Daftar Pustaka

de Wit, Augusta. 1912. Java:  Facts and Fancies. The Hague: W. P. van Stockum & Son Ltd.

Eliade, Mircea. 1974. Shamanism: Archaic Techniques of Ecstasy. Princeton University Press.

Geettz. Clifford. 1975. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press.

Geishinsha. Chronological Chart o f World Cultural History,  Tokyo: Geishinsha, 1978.

Kunst, Jaap. 1968. Hindu-Javanese Musical Instruments. The Hague: Martinus Nijhoff.

Kunst, Jaap. 1973. Music in Java. Vol. I and II. The Hague: Martinus Nijhoff.

Lentz. Donald A. 1965. The Gamelan Music of Java and Bali: An Artistic Anomaly Complementary to Primary Tonal Theoretical Systems. Lincoln:  Universitv of Nebraska Press.

Malm. William P. 1978. Japanese Music and Musical Instruments. Rutland. Vermont­ Tokyo:    Charles E. Tuttle Company.

Mulyono, Sri. 1978.Wayang: Asul-usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta: Gunung Agung;

Nadel, S. F. 1967. “Two Nuba Religions: An Essay in Comparison”. In Gods and. Rituals:  Readings in Religious Beliefs and Practices (ed.) J. Middleton. Austin and London:Uni­versity Texas Press. pp. 25-45.

Sen. K. M. 1975. Hinduism.  Harmondsworth:  Penguin books.

Sunarto. “Kuda: Simbol dalam Shamanisme” (https://www.nusantarainstitute. com/kuda-simbol-dalam-shamanisme/).

Varenne, Jean. 1976. Yoga and the Hindu Tradition (Translated from the French by Derek Coltman). Chicago and London:  The University of Chicago Press.

Artikulli paraprakBanjir Pantura Timur Jawa Tengah dalam Perspektif Sejarah
Artikulli tjetërZiarah di Makam Soen Koen Ing
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini