Oleh: Ali Romdhoni (Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang Indonesia)

Pada satu diskusi, ketika saya menceritakan temuan-temuan tentang jejak pusat Kesultanan Demak di Prawoto, seorang teman kemudian memberitahukan kesan Pramoedya Ananta Toer (Pram) pada kota Demak yang baginya ‘tidak penting’. Pasalnya, Pram dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (rampung ditulis April 1995) dengan terang mengaku tidak tertarik untuk sekedar singgah di Demak atau mengunjungi masjid-nya yang mashur, meski telah beberapa kali melewati wilayah itu.

Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mengulas kota-kota penting yang berbaris membentang di pesisir utara pulau Jawa, terutama yang dilalui Jalan Raya Pos: mulai dari Anyer sampai Panarukan. Pesan yang ingin disampaikan sang penulis buku adalah menceritakan tragedi pembantaian orang-orang Pribumi Indonesia di balik pembangunan—atau tepatnya pelebaran jalan hingga 7 meter, karena jalan sudah lama terbangun di sebagian kota—Jalan Raya Pos.

Di luar itu, Pram terkadang juga mengulas sejarah kota terkait, dan kemudian menghubungkan dengan tokoh dan peristiwa penting di masa yang lebih awal. Dan ketika sampai pada pembahasan kota Demak, Pram menegaskan, Demak adalah kota muda. Paling jauh, Demak baru mulai dikenal sekitar tahun 1500 M, yaitu sejak kekuasaan Majapahit di sekitar Mojokerto, Jawa Timur memudar.

Ada satu hal yang mengganggu pikiran saya. Ulasan Pram atas Demak dengan segala ceritanya yang melegenda: tentang Masjid Agung Demak, kemudian Demak sebagai pusat (berkumpul) para wali penyebar Islam, hingga keberadaan serambi masjid yang dimashurkan berasal dari Majapahit, semua disampaikan secara mengambang. Saya menangkap kesan, Pram tidak yakin dengan semua itu.

Keragu-raguan Pram bermula dari pencariannya sendiri. Menurutnya, selama Kesultanan Demak berjaya tidak pernah melahirkan karya sastra (Jawa) yang memberi kesaksian tentang kehadiran Kesultanan Islam terbesar di Jawa itu. Kalapun ada tulisan sastra Jawa tentang Demak, hal itu baru lahir jauh setelah Kesultanan Demak berakhir. “…Itu pun dengan menggunakan bahasa Jawa yang tergolong baru,” kata Pram.

Dulu Kota Demak itu Pelabuhan

Selanjutnya, Pram menduga, pada masa-masa awal Kesultanan Demak, Kota Demak yang sekarang ini merupakan pelabuhan, yang fungsi dan kedudukannya setingkat dengan Jepara. Saya tentu kaget membacanya. Bukan karena baru pertama kali menemukan kesimpulan sejenis ini, tetapi lebih pada kenyataan bahwa ternyata Pram pun memiliki kesimpulan yang demikian.

Kesimpulan Pram tentang Demak sebagai pelabuhan terbangun setelah melacak literature, kemudian mengamati kondisi Demak secara faktual. Penulis produktif kelahiran Blora pada 1925 ini juga membuat jarak dengan cerita masyarakat tentang Demak, untuk selanjutnya membacanya dengan kritis.

Hingga di sini, membaca catatan Pram tentang Demak tempo dulu kita akan kesulitan membayangkan di tempat itu telah memiliki daratan yang cukup pada kisaran 1500.  Apa lagi sampai membenarkan di sana juga telah dibangun satu unit istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan.

Dari catatan Pram saya juga mengetahui, tahun 1602 terdapat orang Belanda pertama yang tertarik dengan Demak, yaitu Admiral Jacob van Heemskerk. Lebih dari seabad setelah itu, pada 1746, Demak berada dalam cengkeraman Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Seabad lagi kemudian, pada 1848/1849, Demak menjadi wilayah kabupaten dengan jumlah penduduk 336.000 jiwa.

 

Demak pada 1800-an Berupa Rawa

Pram menuturkan, ketika proyek pembangunan Jalan Raya Pos (di bawah tekanan Herman Willem Daendels) ingin menyambungkan Semarang sampai ke Demak, orang-orang kita yang dipaksa bekerja tanpa upah oleh Penjajah Belanda menghadapi kesulitan yang serius. Dari Semarang hingga Demak terdapat banyak sungai pantai. Demak sendiri dibelah oleh Kali Tuntang yang cukup besar. Tanah Demak masih tertutup oleh rawa-rawa pantai. Sebagian lainnya adalah laut pedalaman, atau teluk-teluk dangkal.

Untuk membuat jalan di medan yang demikian, satu-satunya cara adalah dengan melakukan pengurukan. Di sini, korban dari orang-orang kita berjatuhan. Bukan hanya karena kelelahan akibat kerjapaksa, tetapi juga kelaparan dan terkena sengatan nyamuk malaria. Dari kerjapaksa ini, sekitar 36.000 bau rawa berhasil dikeringkan kemudian diolah menjadi sawah. Jalan Raya Pos dibangun Rampung dan dipergunakan pada tahun 1809 M.

Selama proses pengerjaan Jalan Raya Pos, dan juga setelahnya, bajir dan air genangan tetap mengancam wilayah Demak yang rendah. Kondisi ini memaksa pengelola daerah setempat untuk terus melakukan pengerukan sungai-sungai, dan meninggikan jalan rayanya. Ini terjadi hingga pada masa Orde baru 1986. Dan, bahkan hingga saat ini, bukan?

Selanjutnya, akibat pembunuhan sistematis (genosida) melalui politik tanampaksa (cultuurstelsel), dua pertiga penduduk Demak tewas. Tahun 1850, dari jumlah 336.000 jiwa hanya tersisa 120.000 jiwa. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Grobogan. Dari 98.500 total penduduknya yang tersisa tinggal 9.000 jiwa akibat peristiwa yang sama di Demak dan kota-kota lainnya.

Pada tahun 1900-1902, setengah abad kemudian, Demak dan Grobogan kembali dilanda wabah yang mematikan. Bukan hanya penduduknya yang meninggal, tetapi hewan ternak seperti kerbau dan sapi pun banyak yang tewas. Pram tidak menyebutkan detail wabah yang dimaksud.

Jejak Pusat Kesultanan Demak ternyata di Prawoto

Iya, Pram tidak menyinggung kota Demak (yang sekarang) sebagai bekas pusat pemerintahan Kesultanan Demak di masa lalu. Artinya, mustahil membangun istana kerajaan sebagai basis pertahanan utama di wilayah ber-air (rawa, atau bahkan laut). Paling jauh tempat itu hanya mungkin menjadi pelabuhan.

Sampai di sini, saya semakin mengerti dan menganggap wajar ketika tim kepurbakalaan daerah Demak kesulitan menemukan kepingan benda (data-data arkeologi) bekas bangunan kuno yang bisa dicurigai sebagai jejak bekas bangunan kerajaan di kawasan Demak yang sekarang ini (Bakosurtanal, 1986).

Selanjutnya Pram justru membicarakan para kesatria Kesultanan Demak ketika mengulas Rembang. Itu pun terbatas dalam hubungannya dengan kehebatan pasukan angkatan laut Demak. Tetapi, lagi-lagi ia putus-asa untuk bisa menemukan peninggalan orang-orang Demak dalam bentuk benda yang bisa menunjukkan kebesarannya di masa lalu.

Menurut Pram, armada Pati Unus (1480-1521) yang mashur telah melakukan penaklukan Portugis di Malaka pada 1 Januari 1513 dibuat di Rembang. Di Rembang pula, Ratu Kalinyamat (1509-1579) membuat armada perang untuk membantu pejuang melawan Portugis: membantu Johor pada 1550 dalam penyerangan di Malaka, membantu Aceh pada 1573 dan 1574. Bahkan Pram menduga, armada perang Sultan Trenggono (1483-1546) juga disiapkan di Rembang.

Jika Pram berkesempatan menginjakkan kaki di Prawoto (kini sebagai Desa Prawoto Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah), sambil memandangi bekas Selat Muria di sebelah utara dari dataran yang lebih tinggi, sangat mungkin keraguanya atas Kebesaran Kesultanan Demak di masa lalu sirna. Prawoto lebih memiliki bukti cukup (bekas istana, artefak, toponimi, makam kuno, cerita lokal, hingga letak geografis yang khas) untuk disimpulkan sebagai bekas pusat Kesultanan Demak. Mengenai hal ini telah saya tulis dalam buku Istana Prawoto: Jejak Pusat Kesultanan Demak (Jakarta, 2018).

Satu lagi temuan terbaru yang menguatkan kesimpulan bahwa Kesultanan Demak sejak awalnya didirikan di Prawata adalah keberadaan tempat yang benama ‘alas Glagah’ (hutan Glagah) di Prawoto. Hingga kini, pohon Glagah masih tumbuh subur di wilayah tersebut.

Menurut pengakuan warga di sekitar alas Glagah, para pencocok tanam di wilayah itu sampai bosan membabat pohon Glagah sebelum mereka menanam palawija. Sejauh 2 kilometer ke arah barat daya dari alas Glagah terdapat tempat bernama ‘bumi wangen’, atau ‘bumi telon’.

Keberadaan dua tempat (alas Glagah dan bumi wangen) ini, sekali lagi, mengingatkan sejarah asal-usul pembangunan Kesultanan Demak yang kala itu, atas petunjuk Kanjeng Sunan Ampel, agar Raden Fatah (1455-1518) terlebih dahulu menemukan Hutan Glagah, dan selanjutnya membangun kerajaan di tempat itu.

Apakah Pram belum mendengar Prawoto dan hubungannya dengan Demak? Rasanya tidak mungkin.

Saya menandai, Pram telah membaca literatur semacam Babad Tanah Djawi dan Serat Centhini. Dan bila memang demikian, tidak ada alasan baginya untuk tidak mengetahui Prawoto, yang di sana disebutkan sebagai tempat para raja Demak ngedaton.

Saya menduga, karena faktor jarak, atau posisi Prawoto yang berada di pedalaman pasca Selat Muria mendangkal menjadikan Pram tidak melibatkan Prawoto ketika membicarakan jejak Demak. Toh, fokus kajian Pram dalam buku di atas dibatasi pada kota-kota yang dilalui Jalan Raya Pos, kecuali Blora, misalnya.

Jadi wajar bila Prawoto yang berada jauh di pedalaman, dan saat itu telah menjadi desa yang terisolir—atau paling jauh sebagai kawedanan sejak 1860—tidak terlalu menarik dibahas.[]

 

Artikel sebelumyaKH. Faqih Maskumambang, Guru Para Ulama Makkah dari Nusantara
Artikel berikutnyaMelacak Literatur Tafsir Al-Qur’an Beraksara Jawa Abad ke-20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here