Beranda Publikasi Kolom Darurat Budaya Jawa?

Darurat Budaya Jawa?

743

Akhmad Idris (Dosen Bahasa Indonesia di STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya & penulis buku Cinta dan Pala)

Suku Jawa menjadi satu di antara suku besar di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah karena kebudayaannya. Kebudayaan Jawa menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan istilah unggah-ungguh (sopan santun) yang menjadi pilar penting masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Di era modernisasi seperti saat ini, keberlangsungan sebuah kebudayaan terancam dengan perkembangan arus modernisasi yang semakin sulit dibendung. Contoh nyata dalam hal ini adalah budaya silaturahmi (berkunjung) antar-kota, antar-provinsi, bahkan antar-pulau; yang mulai terganti dengan video call (panggilan video).

Selain budaya silaturahmi, kesenian wayang kulit (hiburan khas masyarakat Jawa) juga mulai kehilangan eksistensinya semenjak kemunculan hiburan-hiburan modern (k-pop, drama musikal kontemporer, bahkan game-game online yang digandrungi oleh mayoritas remaja masa kini). Memang; jika diamati lebih jauh, budaya Jawa di era modernisasi sedang berstatus emergency (darurat). Bagi penulis, aktor utama yang berperan sentral dalam menggerus kebudayaan adalah media sosial.

Berdasarkan sebuah laporan yang bertajuk Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World yang diterbitkan Digital Information World pada tanggal 30 Januari 2018, disebutkan bahwa dari total populasi Indonesia sebanyak 265.4 juta jiwa, pengguna aktif media sosial dari jumlah total tersebut mencapai 130 juta jiwa dengan penetrasi 49 %.

Di pembuka tahun 2024 ini, jumlah tersebut kemungkinan besar mengalami kenaikan, sebab jumlah pengunduh aplikasi media sosial tidak semakin berkurang, tetapi justru semakin bertambah. Hal ini berbanding terbalik dengan pengguna kebudayaan. Jika pengguna media sosial semakin meningkat, maka pengguna kebudayaan justru semakin langka. Hal inilah yang menjadi pemicu kebudayaan mulai kehilangan eksistensinya, khususnya budaya Jawa.

Satu di antara budaya Jawa adalah enggan membicarakan keburukan orang. Budaya ini tercermin dalam peribahasa “Ana Catur Mungkur”. Sementara itu, realita yang terjadi di dalam masyarakat adalah beberapa akun media sosial (mulai dari bukumuka hingga insta-kilogram) justru memberikan informasi tentang keburukan para public figure, pejabat pemerintah, bahkan orang-orang yang berkaitan dengan mereka (seperti keluarga, teman, dst).

Gosip-gosip tentang keretakan rumah tangga, isu-isu perselingkuhan, dugaan ‘panjat sosial’, tuduhan memakai ‘susuk’ untuk jenjang karier di dunia entertainment; menjadi ‘bahan’ postingan yang dapat mengundang banyak like dan comments. Lebih parahnya lagi, membicarakan keburukan orang dalam konteks postingan media sosial dianggap sebagai hal yang lumrah-lumrah saja. Hal tersebut juga dianggap sebagai risiko seorang public figure jika seluruh sendi kehidupannya dikonsumsi oleh khalayak ramai. Dulu; ghibah (membicarakan keburukan orang) hanya bisa dilakukan ketika membeli sayur, arisan, atau ketika petanan (saling bergantian mencari kutu rambut). Kini, ghibah bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Ghibah bisa dilakukan di dalam rumah, bahkan di dalam WC hanya dengan gesekan jemari.

Budaya Jawa yang lain adalah orang tidak pintar yang tetap berusaha melakukan suatu hal lebih dihargai daripada orang pintar yang hanya bisa berbicara, tetapi tidak pernah mengimplementasikan kepintarannya ke dalam tindakan. Sesuai dengan peribahasa Jawa yang berbunyi “Blilu Tau Pinter Durung Nglakoni”.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mempermudah manusia untuk menunjukkan ‘kepintarannya’ melalui status atau cuitan di dalam media sosial. ‘Kepintaran-kepintaran’ yang disampaikan dalam status tak jarang yang berisi kritikan terhadap hal-hal yang dianggap perlu untuk dikritik. Sayangnya, tidak jarang pula kritikan-kritikan tersebut hanya berisi bualan belaka tanpa disertai aksi yang nyata. Misalnya, sebuah kritikan tentang banjir Jakarta beberapa waktu lalu. Kritikan tersebut berisi tentang deskripsi kesalahan pemerintah yang dianggap tidak serius dan tidak becus dalam menyelesaikan masalah banjir Ibu Kota.

Padahal beberapa orang lebih memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengomentari ihwal penyebab banjir Ibu Kota. Beberapa orang tersebut lebih memilih untuk memberikan sumbangan pada korban banjir daripada sibuk mencari kesalahan pihak-pihak pemerintahan dan mereka lebih memilih berjanji kepada diri mereka sendiri untuk berhati-hati dalam membuang sampah secara sembarangan.

Selain ghibah dan sibuk menyalahkan orang lain, budaya Jawa juga menganjurkan kepada manusia untuk berhati-hati dalam menjaga perkataan. Hal ini sesuai dengan peribahasa “Car Cor Kaya Kurang Janganan” (Berbicara ceplas-ceplos tanpa pernah berpikir dampak dari hal yang telah diucapkannya). Sayangnya, masyarakat milenial saat ini justru mulai ‘melupakan’ peribahasa tersebut.

Generasi saat ini lebih mudah menghakimi sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Kebebasan dan kemudahan berpendapat membuat manusia terkadang mengabaikan dampak yang dapat ditimbulkan gegara komentarnya. Apalagi, komentar di dalam jejaring media sosial dapat dilakukan dengan akun-akun tersembunyi yang dapat dengan mudah menyembunyikan identitas asli sang komentator.

Fakta yang dapat dijadikan contoh adalah kasus dugaan ‘perlakuan istimewa’ terhadap pramugari yang baru-baru iniviral. Banyak akun media sosial yang menghujat para wanita yang berprofesi pramugari, tanpa pernah mempertimbangkan perasaan seluruh perempuan yang berprofesi sebagai pramugari di seluruh Indonesia. Di sisi lain, hal itu masih berstatus dugaan, tidak berstatus kenyataan.

Fakta lainnya adalah beberapa orang kehilangan jabatannya gegara komentar keluarganya di media sosial, beberapa orang harus merasakan suasana ruangan berjeruji besi gegara cuitannya di media sosial, dan beberapa orang harus terancam nyawanya gegara postingannya di dalam media sosial berhasil memancing emosi pihak-pihak tertentu. Oleh sebab itu, peribahasa Jawa “Car Cor Kaya Kurang Janganan” perlu direnungi dengan dalam sebagai bahan pertimbangan hidup.

Pada akhirnya, fakta-fakta yang telah disajikan di atas tidak bertujuan untuk mendiskreditkan media sosial atau modernisasi, tetapi untuk memberikan pemahaman bahwa modernisasi dan kebudayaan tetap dapat berjalan beriringan. Manusia dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa harus menyingkirkan kearifan dan kebijaksanaan sebuah budaya, khususnya budaya Jawa. Sebab di dalam kebudayaan, terdapat nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sebuah pelajaran. [NI]

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakTradisi Sambelien di Banyuwangi
Artikulli tjetërCall for Book Chapters: Musik di Indonesia
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini