Beranda Publikasi Kolom Tradisi Sambelien di Banyuwangi

Tradisi Sambelien di Banyuwangi

538

Ali Mursyid Azisi (Pengusus Asosiasi Penulis-Peneliti Islam Nusantara Se-Indonesia LTNNU Jawa Timur 2022-2024 & Peneliti Centre for Religious and Islamic Studies)

Sebagai masyarakat yang kental akan keragaman, Indonesia memiliki berbagai ekspresi dalam melaksanakan ritual, tradisi, adat, budaya dengan unsur keagamaan. Dari berbagai penjuru negeri, seperti halnya menyambut hari-hari tertentu yang dipandang istimewa, penuh akan fadhilah (keutamaan), bahkan keyakinan kuat akan kemustajaban doa, dijadikan momen yang tak boleh terlewatkan. Khususnya masyarakat Islam lokal Nusantara, demikian banyak ritual keagamaan di momen-momen tertentu, seperti halnya menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Serangkaian kegiatan ritual dan sosial di sepuluh terakhir bulan Ramadhan diekpresikan oleh masyarakat Jawa-Madura. Khususnya di Kebun Pancurejo, Afdeling Malangsari, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, yang notabennya adalah wilayah pedalaman memiliki tradisi unik menjelang lebaran. Bahkan kebiasaan ini tidak terjadi di berbagai wilayah.

Karakteristik mayarakatnya yang mayoritas madura swasta (acap disebutnya, bukan yang tinggal di pulau Madura), menjelang satu / dua hari lebaran melaksanakan tradisi “sambelihen / sembelihen” (bahasa Madura), yang artinya: sembeleh atau pemotongan hewan ternak (sapi) untuk menyambut Idul Fitri.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan dianakturunkan hingga sekarang. Sebagaimana penyebutan suatu tradisi dalam ilmu sosial, bahwa kegiatan yang dilakukan berulang-ulang akan menciptakan sebuah kebiasaan yang nantinya disebut dengan budaya, tradisi, atau adat istiadat.

Kegiatan sembelihen di setiap tahunnya berbeda dengan penyembelihan hewan Qurban, justru di sini dilakukan secara patungan / iuran atau bahkan salah sorang blantik sapi menyediakan jasa pemotongan hewan dan warga yang menginginkan daging tersebut dikenakan membayar uang sesuai kesepakatan. Daging tersebut kemudian diolah dengan berbagai varian untuk menyambut kemenangan yang Fitri.

Berbicara masalah tradisi, Coomans (1987), menyebutnya sebagai suatu gambaran perilaku dan sikap manusia yang sudah melalui proses yang begitu lama, diamalkan secara turun temurun sejak zaman para leluhur, dan tradisi yang sudah membudaya akan menjadi rujukan/sumber berbudi peketi luhur dan akhlak. Lalu Soejono Soekamto (1990) mendefinisikan tradisi sebagai suatu kegiatan serangkaian kegiatan/laku yang diamalkan oleh suatu kelompok masyarakat dengan cara diulang-ulang (langgeng).

Sedangkan dalam Islam, Syaikh Shalih bin Ghanim al-Sadlan seorang Ulama dari Saudi Arabia berpendapat demikian:

Dalam kitab Durar al-Hukkam Syarh Mujallat al-Ahkam al’Adliyyah berkata: “Adat (tradisi) adalah suatu yang menjadi keputusan banyak orang dan diterima oleh orang-orang yang memiliki karakter yang normal.” (al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa ma Tafarra’a’anha: 333).

Tradisi yang lahir dari perkawinan agama dan budaya nampaknya sudah mengakar kuat dan tidak boleh terlewatkan tiap tahunnya. Daging sapi yang sudah diolah sedemikian rupa, nantinya akan dihidangkan pada kegiatan keagamaan yang disebut dengan rebbaan atau slametan selepas sholat maghrib pada akhir ramadhan. Hidangan yang disajikan adalah makanan atau masakan terbaik dari warga sekitar.

Tentu hal ini sesuai dengan anjuran rasulullah saw, bahwa ketika menghidangkan suatu makanan terhadap orang lain maka berilah yang terbaik.Tidak jarang selain sembelihen, juga terdapat tradisi seperti halnya tumpeng suroan, petik laut, sapi-sapian, jenang suro, dan tumpeng suroan juga diselenggarakan di Banyuwangi, tentu dilaksanakan di hari-hari tertentu yang dianggap sakral dan doa yang dilangitkan dinilai mustajab.

Berawal dari tradisi sosial (sembelihen), bermuara pada tradisi spiritual dan ritual (slametan), adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat muslim pedalaman di bagian barat Banyuwangi. Masyarakat lokal percaya bahwa, dengan melanggengkan tradisi dan ritual keagamaan dalam menyambut hari-hari yang utama dalam Islam akan membawa keberkahan hidup, di dunia hingga akhirat.

Kembali pada identitas muslim Indonesia, adanya selamatan di berbagai daerah dengan berbagai bacaan kalimah thayyibah dan muhasabah diri secara massal tentu memiliki kesakralan tersendiri. Demikian merupakan serangkaian cara bagaimana menghidupkan malam asyura yang tidak keluar dari koridor ber-Islam, sebab amalan yang dibaca merupakan kalimah thayyibah meski berbungkus tradisi lokal (selamatan dan sejenisnya).

Seusai membaca amalan-amalan yang dipimpin oleh seorang yang diakui keilmuan keagamaannya (tokoh agama / Kiai kampung), maka momen yang paling ditunggu adalah makan bersama antar jamaah dari hasil sembelihen / ada yang dibawa pulang. Hal yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah, selain menambah amal ibadah dalam menyambut hari kemenangan (Idul Fitri), hadirnya tradisi sembelihen dan selametan menjadi salah satu wadah/media perekat sosial dalam lingkup kehidupan masyarakat.

Pasalnya, warga sekitar dipertemukan dalam satu ruangan (tempat ibadah), melaksanakan kebaikan dan saling berinteraksi satu sama lain yang nantinya akan menciptakan hubungan antar individu menjadi harmonis. Sebagaimana fungsi agama yang dinyatakan oleh Emile Durkheim, bahwa tidak hanya terbatas pada gagasan tentang Roh dan Tuhan, ia menekankan pula pada aspek sosial. Dalam pandangannya, agama adalah sekumpulan praktek dan keyakinan yang kaitannya erat dengan kesakralan, yaitu sesuatu mengenai hal-hal yang terlarang serta praktik-praktik keyakinan yang mengatukan suatu komunitas moral tunggal.

Lebih praktisnya, agama menurut Durkheim sebagai perekat sosial, memupuk perdamaian dan solidaritas serta membawa umatnya pada jalan keselamatan. Maka perlu disadari bersama bahwa tradisi selamatan termasuk salah satu media dalam mencapai tujuan tersebut. [NI]  

Referensi

Asmani, Jamal Ma’mur. (2019). Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh. Elex Media Komputindo.

Berger, Peter L, and Thomas Luckman. (1991). The Social Construction of Reality. Penguin Books.

Huda, Mohammad Thoriqul. (2017). “Harmoni Sosial dalam Tradisi Sedekah Bumi Masyarakat Desa Pancur Bojonegoro”, Religio: Jurnal Studi Agama-Agama, Vol. 7, No. 2. https://doi.org/10.15642/religio.v7i2.753

Kementerian Agama RI, Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat. (2012). Dinamika Sistem Keagamaan Lokal Di Indonesia. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Setiawan, Eko. (2016). “Eksistensi Budaya Bahari Tradisi Petik Laut di Muncar Banyuwangi”, Universum: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan, Vol 10, No. 2.

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakPaduan Suara di Toraja
Artikulli tjetërDarurat Budaya Jawa?
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini