Beranda Publikasi Kolom Paduan Suara di Toraja

Paduan Suara di Toraja

1134

Regar (Arranger dan Akademisi Musik)

Ada begitu banyak tim paduan suara yang telah terbentuk di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Baik paduan suara profesional yang dibentuk secara independen, maupun paduan suara yang disusun secara sementara dalam jangka waktu tertentu untuk ajang kompetisi. Paduan suara adalah istilah untuk menunjukkan ensemble musik yang terdiri dari vokal atau penyanyi-penyanyi yang menyanyikan lagu dalam harmoni baik menggunakan alat musik iringan maupun tanpa iringan (acapella). Di tengah masyarakat, sekolah, kampus, gereja, tidak jarang ditemukan tim paduan suara.

Dalam tradisi Yunani Kuno, paduan suara tertua muncul pada abad ke-2 SM. Dalam tradisi ini, paduan suara dipahami sebagai aktivitas bernyanyi dalam satu bagian secara serempak. Sementara itu, bernyanyi membentuk harmonisasi dalam paduan suara merupakan tradisi dari Eropa kontemporer. Sejak mula-mula paduan suara digunakan sebagai sarana ibadah gerejawi, dan sampai saat ini paduan suara berfungsi sebagai sarana ritual dan/atau upacara, sebagai hiburan, sebagai tujuan estetis.

Paduan suara terdiri dari sedemikian banyak karakter yang berbeda yang kemudian disatukan sebagai tim. Untuk itu, seyogiahnya setiap tim paduan suara memiliki pemimpin masing-masing. Ada beberapa penelitian terdahulu yang mengkaji tentang paduan suara baik dari segi nilai pendidikan/karakter, teknik bernyanyi, hal terkait direksi, dsb. Ini menjadi jawaban bahwa paduan suara memiliki banyak nilai yang dapat mengedukasi baik bagi setiap pribadi yang berkecimpung di dalamnya, maupun bagi penikmat paduan suara.

Meskipun fokus artikel ini pada peran kondaktor, penting untuk melihat semua bagian dalam sebuah tim paduan suara. Tulisan ini tidak hanya melihat bagaimana semestinya sikap seorang konduktor dalam memimpin timnya, tetapi juga bagaimana sikap masing-masing anggota tim dalam merealisasikan keberhasilan tim.

Apa saja pengaruh yang dapat diberikan conductor dalam memimpin paduan suara? Bahwa paduan suara tidak hanya sekedar berbicara tentang keindahan vokal dari setiap penyanyi, keseimbangan harmoni, garapan lagu yang akan ditampilkan dalam sebuah performance, melainkan juga tentang bagaimana edukasi nilai karakter dari pelatih kepada setiap penyanyinya, bahkan dalam upaya membangun hubungan harmonis antara semua anggota paduan suara.

CONDUCTING

Istilah conducting dapat berarti menkondak, mendireksi, memimpin paduan suara, memimpin orkes. Dalam pertunjukkan musik orkestra atau paduan suara, seorang konduktor berdiri di depan sebagai pemimpin yang mengatur derap ritmik dengan menggunakan sepotong tongkat kecil namun biasanya juga hanya menggunakan tangan untuk memberi aba-aba.

Konduktor atau juga biasa disebut dirigen sudah dikenal sejak abad ke-15, pada zaman abad pertengahan tersebut karya musik belum mengenal pembagian birama yang baku sehingga kehadiran seorang dirigen sangat dibutuhkan. Tongkat kecil yang digunakan konduktor yang bentuknya seperti sekarang diperkenalkan pertama kali oleh Weber dalam sebuah konser di kota Dresden pada tahun 1817, kemudian digunakan oleh Mendelssohn dalam suatu konser di Leipzig tahun 1835.

Sesuai dengan substansi pembahasan ini, istilah konduktor difokuskan pada pengertian “pemimpin paduan suara”. Tidak jarang bahwa konduktor adalah pemimpin sekaligus sebagai pelatih dalam suatu paduan suara. Seorang konduktor sebelum melatih timnya terlebih dahulu harus menganalisis lagu yang akan dimainkan untuk mengetahui harmoni lagu tersebut, memahami ritme dan birama, dinamika, menyiapkan interpretasi lagu, memahami setiap lirik, bahkan memahami makna secara keseluruhan dari lagu yang akan dibawakan. Demikianlah tugas seorang konduktor secara musikal, atau yang nampak pada umumnya.

Dewasa ini, konduktor tidak lagi hanya dipandang sebagai pemimpin yang bertindak pada ruang-ruang musikal seperti dalam uraian di atas, tidak hanya dalam membangun keseimbangan harmoni SATB dan lain sebagainya, lebih daripada itu, penting juga membangun karakter tim, membangun keharmonisan baik antara pemimpin dan anggota, maupun antara sesama anggota paduan suara.

Habel Kombongkila’ sebagai salah seorang pelatih/ konduktor terkenal berasal dari Tana Toraja menjelaskan bahwa tugas pemimpin paduan suara tidak hanya sampai pada menyiapkan paduan suara secara musikal, melainkan pembentukan nilai karakter diantaranya: rasa percaya diri, jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan sikap saling menghargai juga sangat penting.

Karakter Pemimpin sebagai Cerminan Karakter Tim

Beberapa pendapat sepakat bahwa baik-buruknya seorang pemimpin selalu merujuk pada karakternya. Tidak jarang bahwa pemimpin selalu menjadi contoh kepada orang-orang yang dipimpin. Mengacu pada kekawatiran akan lunturnya karakter baik dari setiap anggota paduan suara, selaku generasi penerus masa kini, penting untuk memunculkan pokok-pokok pikiran yang sebenarnya sudah ada sejak mula-mula, namun melalui kesempatan ini ditawarkan sebagai hasil analisis kemudian dideskripsikan sebagai hasil kajian yang edukatif.

Bagi mereka yang gemar berpaduan suara tentu sering mengalami sentuhan emosional dari lagu yang dinyanyikan. Rasa-rasanya hidup sedang berada di dalam nyanyian yang disampaikan, demikianlah hebatnya sentuhan musikal dari paduan suara, bahkan menjadi daya tarik untuk ikut berkecimpung dalam tim paduan suara. Namun, terkadang pengaruh-pengaruh emosional menjadi buruk ketika satu tim mengikuti ajang kompetisi.

Dalam pengamatan penulis, ketika satu tim kalah dalam sebuah kompetisi, pemimpinnya terkadang sarkasme kepada tim lain bahkan kepada dewan juri yang menyebabkan anggota tim juga ikut dalam hal tersebut, mirisnya ketika hal tersebut dipertontonkan bahkan sampai pada ruang-ruang publik atau media sosial. Keburukan karakter tim secara satu kesatuan menjadi nampak bukan?

Karakter seorang pemimpin paduan suara sangat berpengaruh dalam mencapai keberhasilan tim. Sebelum lebih jauh membahasnya, kita mesti sepakat bahwa “keberhasilan tim” yang di maksud di atas tidak hanya ketika tim tersebut berhasil dalam mementaskan lagu-lagu yang telah dipersiapkan baik di gereja maupun dalam wadah pentas paduan suara umum, atau juara dalam kompetisi. Tidak hanya itu, keberhasilan tim juga dilihat dari keberhasilan membangun karakter yang baik setiap individu dalam tim.

Dapat dikatakan keberhasilan yang menyoal pada juara menjadi poin kedua bahkan poin kesekian, mengingat bahwa keindahan musik/ paduan suara bisa saja diapresiasi secara kurang objektif, tergantung selerah apresiator/ juri dalam kompetisi, pengaruh-pengaruh nepotisme, bahkan tidak dapat dipungkiri objektifitas suatu kompetisi dapat dipengaruhi oleh adanya suap, memberikan bayaran lebih demi hasrat meraih juara.

Inilah alasan mengapa artikel ini menyatakan bahwa keberhasilan tim tidak terlalu bersoal pada perolehan juara pada kompetisi melainkan sejauh mana karakter baik yang dibangun dalam tim tersebut. Apa guna meraih juara ketika dengan hasil yang dicapai digunakan untuk menertawakan mereka yang tidak juara. Sebaliknya sekalipun tidak mendapat juara, sikap lapang dalam tim tetap nampak, mau menyadari kelemahan diri sendiri bahkan kelemahan tim, mengakui kelebihan orang lain, dan terus belajar dari pengalaman. Jika sepakat demikian agaknya kita telah sepaham sampai dimana ukuran keberhasilan tim yang sesungguhnya.

Peran Pemimpin Paduan Suara

Nah, untuk mencapai keberhasil satu tim choir atau paduan suara, kita kembali menyoroti bagaimana karakter seorang pemimpin paduan suara. Mengapa demikian? Karena pusat yang paling berpengaruh adalah pemimpin, sekalipun adanya sikap arogansi, kesombongan, dsb. oleh beberapa anggotanya, yang akan berperan penting dalam mengingatkan atau mengarahkan pada sikap yang lebih baik adalah pemimpinnya.

Seorang tokoh yang juga terkenal sebagai pelatih paduan suara berpengalaman di daerah Toraja Utara bernama Junita Lebang, ia bahkan menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian utama dalam paduan suara. Dalam pengalamannya, sering kali menemukan penyanyi-penyanyi paduan suara yang matang dari segi vokal tetapi gagal dalam menerapkan nilai-nilai karakter. Junita (2023) mengibaratkan paduan suara sebagai sebuah kekeluargaan, dalam satu tim semua pribadi disatukan untuk saling melengkapi, menerima kekurangan masing-masing, karena itu sikap rendah hati sangat penting untuk membentuk paduan suara yang baik.  

Dalam menghadapi problematika yang berkaitan dengan nilai karakter anggota paduan suara, ternyata peran pemimpin memang sangat berpengaruh. Penting untuk memberikan pendampingan baik secara individu maupun kelompok paduan suara. Ketika pemimpin paduan suara mampu memberi pengaruh dalam pembentukan karakter baik di dalam tim, bahkan mempersiapkan setiap penyanyi untuk bernyanyi dengan baik, maka demikianlah keberhasilan yang sesungguhnya dari sebuah tim paduan suara.

Referensi

Banoe, P. (2015). Kamus Umum Musik. Institut Musik Poni Banoe.

Hafi Hilmiah Almanda. (2020). Interpretasi Lagu “Segalariak” Karya Josu Elberdin oleh Yosafat Rannu Lepong dalam Tinjuauan Conducting. 1(1), 169–179.

Ishak, I., & Siahaan, R. (2020). Pengaruh Karakter Conductor Terhadap Keberhasilan Paduan Suara Resital Di Sekolah Tinggi Filsafat Jaffray Makassar. Repository Skripsi Online, 88–94. https://skripsi.sttjaffray.ac.id/index.php/skripsi/article/view/84

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini