Beranda Publikasi Kolom Belajar Mengelola dan Melestarikan Lingkungan dari Komunitas Adat Ammatoa Kajang

Belajar Mengelola dan Melestarikan Lingkungan dari Komunitas Adat Ammatoa Kajang

568

Oleh: Chusnul C. (Penulis adalah alumni Center for Religious and Cross-cultural Studies [CRCS] Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Buku pertamanya, diterbitkan oleh CRCS, berupa ‘buku foto’ berjudul Ekologi Adat Komunitas Ammatoa. Email korespondensi: chusnul.c@mail.ugm.ac.id

Komunitas Ammatoa merupakan salah satu kelompok adat Nusantara yang terletak di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Secara kepercayaan, mereka memeluk agama Islam. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka menjalankan berbagai ritual adat leluhur yang berdasarkan pada ajaran Pasang ri Kajang, sebuah pengetahuan tradisional yang ditradisikan secara lisan.

Sebagaimana karakteristik masyarakat adat yang hidup dengan tradisi lisan, mereka cenderung mengutamakan laku kehidupan. Pasang ri Kajang berisi seluruh ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup kelompok adat Ammatoa, termasuk di dalamnya mengenai eksistensi ketua adat, Amma (yang dituakan) yang berperan penting dalam menjaga eksistensi hukum.

Sebagai bentuk kepatuhan terhadap ajaran Pasang ri Kajang, kelompok adat Ammatoa terus mengupayakan pelestarian lingkungan termasuk di dalamnya dengan cara mempertahankan budaya mereka, dan mendialektikkan nilai-nilai tradisional Pasang ri Kajang dengan berbagai nilai non-tradisional. Mereka terbukti mampu bertahan meski dihantam gelombang zaman dan berhasil mempertahankan hutan adat yang pada hakikatnya tidak terpisahkan dengan kepercayaan yang dipraktikkan.

Keberhasilan mereka mempertahankan diri terbukti dengan diterbitkannya Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba No. 9/2015 terkait pengakuan dan perlindungan komunitas Ammatoa sebagai kelompok adat. Perda tersebut diikuti dengan diterbitkannya Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) No. 6746/MENLHK-PSKL/KUM.1/12/2016 terkait pengakuan tanah dan atau hutan adat Ammatoa sekitar 313.99 hektar di Kecamatan Kajang, Bulukumba.

Pembagian Wilayah Adat Ammatoa

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi yang mereka lakukan, salah satunya dengan membagi wilayah adat mereka menjadi dua, yakni Kawasan Dalam (Ilalang emba) dan Kawasan Luar (Ipantarang emba). Kawasan Dalam merupakan area yang melarang adanya hal-hal yang berkaitan dengan kemodernan seperti listrik, sumur tanah, aspal, barang-barang elektronik dan lain-lain. Mereka bukannya menolak, hanya saja penggunaannya tidak di Kawasan Dalam. Semua perangkat elektronik yang tidak dizinkan masuk di Kawasan Dalam, diperbolehkan di Kawasan Luar. Namun hal tersebut tidak berarti bahwa Kawasan Dalam dan Luar saling membelakangi, alih-alih keduanya saling melengkapi dan memiliki fungsi masing-masing.

Kawasan Dalam Ammatoa berfungsi sebagai pusat kosmologi atau axis mundi, sementara Kawasan Luar berfungsi sebagai penopang yang menyaring berbagai nilai non-tradisional yang datang dari luar seperti Islam, nasionalisme, dan modernisme. Tidak semua nilai yang datang dari luar mereka terima begitu saja, namun terlebih dahulu melewati proses dialektika yang panjang. Hanya nilai-nilai yang bisa dimaknai sesuai ajaran merekalah yang kemudian bisa diterima.

Prinsip ekonomi modern seperti penggunaan uang sebagai alat tukar misalnya bisa diterima karena bisa dimaknai ulang sebagai alat untuk saling berbagi, bukan alat untuk memperkaya diri. Pembagian tersebut merupakan salah satu manifestasi dari pengetahuan tradisional. Pengetahuan tersebut, karena mengutamakan pelestarian lingkungan maka disebut juga sebagai ekologi adat. Sebagai kawasan yang dijaga kemurniannya, Kawasan Dalam juga merupakan tempat diselenggarakannya berbagai ritual komunitas seperti ritual tahunan andingingi (pendinginan alam) dan battasa jerak (ritual berkunjung ke makam leluhur) dan berbagai ritual komunitas lainnya.

Sebagai Axis Mundi, Kawasan Dalam juga merupakan wilayah yang ditempati pemimpin adat, Amma. Sepanjang jabatannya, Amma tidak diperkenankan untuk keluar Kawasan Dalam. Untuk bisa mengatur komunitasnya, Amma juga dibantu oleh beberapa pemangku adat yang juga merupakan kepala desa di enam desa di wilayah adat Ammatoa. Pembagian wilayah Dalam dan Luar pada hakikatnya ditujukan untuk menjaga Kawasan Dalam sebagai Axis Mundi. Menjaga Kawasan Dalam juga berarti menjaga ekologi adat, dan lebih luas berarti pula menjaga eksistensi kelompok adat Ammatoa. Dengan demikian, pembagian wilayah juga merupakan manifestasi dari ekologi adat.

Makna dan Fungsi Ekologi Adat

Ekologi adat Ammatoa merupakan seperangkat pengetahuan, praktik dan kepercayaan mengenai relasi antar subjek di semesta kehidupan, yakni antara manusia dan non-manusia (lingkungan, hewan, dan berbagai ciptaan lainnya). Relasi tersebut tidaklah statis, namun dinamis dan terus berkembang melalui berbagai proses adaptasi diantaranya melalui ritual dan praktik keseharian.

Sebagiamana umumnya tradisi lisan, pengetahuan tradisional Ammatoa juga diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Ekologi adat bagi Komunitas Ammatoa merupakan jalan hidup yang mencakup berbagai aspek kehidupan seperti praktik relasi antar subjek, antara manusia dan non-manusia. Relasi antar subjek disini maksudnya manusia sebagai subjek memperlakukan bentuk ciptaan lain sebagai subjek yang setara. Di point inilah letak perbedaan antara masyarakat adat dan masyarakat modern yang cenderung menekankan relasi subjek-objek.

Ekologi adat bagi Komunitas Ammatoa Kajang lebih jauh merupakan prinsip hidup yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari berupa berbagai aturan yang disepakati bersama. Aturan tersebut misalnya pelarangan barang-barang modern di Kawasan Dalam, tidak mengenakan alas kaki, menggunakan pakaian serba hitam, tidak menggali tanah dan membuat sumur, mengenakan pasappu atau ikat kepala bagi laki-laki, dan berbagai aturan adat lainnya. Aturan tersebut sekali lagi ditujukan untuk melestarikan lingkungan, tujuan utama dari ekologi adat.

Aturan Kawasan Dalam dan Kawasan Luar

Aturan-aturan yang berlaku di Kawasan Dalam, berbeda dengan yang berlaku di Kawasan Luar. Masyarakat Ammatoa yang tinggal di Kawasan Dalam bukannya tidak boleh menggunakan HP dan barang-barang modern lainnya, tetapi mereka harus menggunakannya ketika berada di Kawasan Luar. Sebaliknya, mereka yang tinggal di Kawasan Luar tidak wajib mengenakan Pakaian Hitam, Pasappu, atau tidak beralas kaki, namun ketika berada di Kawasan Dalam, mereka harus melakukannya. Mereka menjadikan kesederhanaan sebagai gaya hidup mengikuti prinsip Kamase-kamasea. Prinsip tersebut sepaket dengan pelarangan untuk hidup berlebih, serakah atau disebut juga dengan istilah Kalumanyang.

Mereka yang tinggal di Kawasan Dalam – meminjam istilah agama – tidak berarti dianggap lebih “saleh” dibandingkan mereka yang hidup di Kawasan Luar. Begitupun sebaliknya. Mereka yang tinggal di Kawasan Dalam mungkin saja bersikap kalumanyang misalnya ketika mereka menebang pohon di hutan lebih dari yang dibutuhkan. Sementara mereka yang tinggal di Kawasan Luar, yang hidup dengan cara modern, belum tentu bersikap berlebihan misalnya ketika mereka makan secupuknya, atau mengkonsumsi barang-barang modern dengan bijak.

Praktik relasi intersubjektif juga bisa dilihat dari cara mereka melakukan ritual, baik ritual keseharian atau ritual tahunan, baik di Kawasan Dalam maupun Luar. Dalam setiap ritual, mereka selalu memberikan sesaji atau sesembahan sebagai hadiah terhadap ciptaan non-manusia. Selain itu, sesaji yang biasanya berupa hasil dari pertanian seperti beras, jagung, pisang dan lain-lain merupakan wujud syukur atas apa yang mereka dapatkan dari semesta. Nilai-nilai berbagi antar sesama baik dengan manusia maupun non-manusia merupakan karakteristik dari masyarakat adat, baik masyarakat adat Ammatoa maupun masyarakat adat pada umumnya. [NI]

*Catatan: artikel ini, termasuk foto, merupakan bagian dari tesis saya yang berjudul “Creative Economy for Indigenous Tradition and Environment Preservation (A Community based Ecotourism (CBET) Program in the Ammatoan Indigenous Community of Bulukumba, South Sulawesi” yang diterbitkan oleh CRCS UGM (2020).

**Keterangan foto: beberapa perempuan adat Ammatoa ikut berpartisipasi meramaikan karnaval adat, salah satu rangkaian acara dalam festival Budaya Kajang yang diselenggarakan setiap tahun. Karnaval adat melibatkan seluruh bagian masyarakat, dari berbagai usia dan latar belakang. Mereka berjalan mengelilingi Kawasan Luar dengan mengenakan pakaian serba hitam dan sarung tenun khas Ammatoa. Foto diambil di Kawasan Luar yang secara aturan membolehkan masuknya modernisasi seperti jalan yang sudah beraspal, adanya bangunan masjid, dan menggunakan alas kaki. Foto perempuan Ammatoa yang mengenakan pakaian hitam menggambarkan bahwa mereka masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat. Di sisi lain, gambar masjid sebagai latar belakang foto juga merupakan tanda bahwa masyarakat adat Ammatoa memeluk agama Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here