Beranda Publikasi Kolom Bahasa Rupa Tabrani dan Panil Relief Candi Borobudur

Bahasa Rupa Tabrani dan Panil Relief Candi Borobudur

35

Oleh: Riza Istanto (Pemerhati Seni Rupa Percandian)

Bahasa Rupa adalah ilmu seni rupa temuan Tabrani (berkisar tahun 1980) yang digunakan untuk membaca gambar-gambar naratif atau bercerita. Teori ini telah tersingkap melalui penelitian Tabrani setelah sekian lama terbenam dalam dominasi bahasa rupa modern barat sejak zaman Renaissans.

Bahasa rupa modern memiliki kecenderungan membekukan ruang dan waktu, di mana gambar yang dibuat seperti layaknya hasil foto. Tidak heran, apabila orang-orang dalam kacamata gambar modern menjadi keliru ketika membaca gambar-gambar atau relief bercerita pada dinding-dinding percandian seperti di Candi Borobudur.

Panil-Panil Relief Bercerita di Candi Borobudur

Candi Borobudur dihiasi oleh 1460 panil relief yang mengisahkan beragam cerita dan tersebar pada permukaan dinding kaki candi, dinding-dinding lorong candi, dan langkan-langkan candi. Pada dinding kaki candi dipahat 160 panil relief yang mengisahkan cerita Karmawibangga.

Lalu kisah Lalitawistara yang terdapat pada dinding lorong tingkat satu yang berjumlah 120 panil. Selanjutnya kisah Jataka/Awadana berjumlah 720 panil yang dipahatkan pada dinding lorong dan langkan tingkat satu serta dinding lorong tingkat dua. Ada pula kisah Gandawyuha yang dipahat pada dinding serta langkan lantai tiga dan empat yang berjumlah 332 panil.

Mempelajari Teori Bahasa Rupa Tabrani

Terdapat dua sistem bahasa rupa, yaitu sistem bahasa rupa Naturalis-Perspektif-Momenopname (NPM) yang berkembang dari Barat dan sistem bahasa rupa Ruang-Waktu-Datar (RWD) yang merupakan temuan Tabrani. Cara NPM merupakan cara gambar dengan membekukan ruang dan waktu.

Gambar yang dihasilkan dari cara ini adalah gambar foto yang diam, di mana ruang dan waktu dipenjarakan dalam satu frem gambar. Contohnya lukisan Raden Saleh, lukisan-lukisan pemandangan, dan gambar lainnya. Adapun RWD adalah cara gambar dengan matra ruang dan waktu.

Pada satu frem gambar terdapat aneka ruang dan waktu yang disatukan pada bidang gambar datar. Gambar dengan cara ini memungkinkan untuk bercerita. Di dalam gambar terdiri atas sejumlah adegan, di mana objek dapat bergerak pada ruang dan waktu. Menurut Tabrani, ciri gambar dengan cara ini adalah ditembak atau dishoot dari beragam arah, jarak, dan waktu. Sedangkan pada gambar contohnya lukisan wayang beber, lukisan kamasan, relief candi, dan lain sebagainya. Untuk memahaminya, simak contoh gambar berikut.

Keterangan Gambar: Gambar kiri merupakan lukisan Raden Saleh, tampak subjek-subjek gambarnya berada pada satu ruang dan waktu yang dibekukan (Sumber: Bustaman, 1990). Gambar kanan lukis Wayang Kamasan, adegan Anoman perang. Banyaknya sosok Anoman pada gambar bukan berarti ada lebih dari satu Anoman, melainkan penggambaran sosok Anoman yang sedang bergerak dari kejadian satu ke kejadian berikutnya (Sumber: Sunaryo, 2018).

Membaca Relief-Relief di Borobudur dengan Bahasa Rupa Tabrani

Pembacaan pertama atas relief bercerita di Candi Borobudur yang sempat tercetak dalam sebuah tulisan dilakukan oleh Karl With di tahun 1989. Pembacaannya kala itu memperlihatkan sebuah kebingungan dalam memahami relief-relief bercerita di Candi Borobudur. Pembacaan Karl With mengesampingkan unsur bercerita pada relief. Ia melihatnya pada dimensi artistik.

Baginya, penyusunan subjek-subjek gambar pada relief bercerita di Candi Borobudur merupakan aspek komposisi dan bukan sebuah cara untuk bercerita. Dugaan tersebut bahkan sampai mengarahkan pada satu pendapatnya yang ekstrim, yaitu para pemahat relief bercerita di Candi Borobudur menyusun subjek-subjek gambar dengan berpegang pada aturan pembagian tertentu.

Pembacaan selanjutnya atas relief bercerita di Candi Borobudur dilakukan oleh Dr. N. J. Krom. Berbeda dengan Karl Wit, pembacaan Krom atas relief cerita di Candi Borobudur dibantu dengan sutra (kitab suci keagamaan). Sutra tersebut berisikan cerita, dibuat dalam paragraf-paragraf yang mana ceritanya dirupakan dalam bentuk relief di Candi Borobudur.

Mengingat banyaknya relief yang terdapat pada Candi Borobudur, tulisan ini akan fokus pada salah satu penggambaran cerita yang dipahatkan pada dinding tingkat satu Candi Borobudur, yaitu Lalitavistara serta empat panil relief yang banyak dikomentari Tabrani.

Sutra Lalitavistra

Sutra Lalitavistara yang banyak digunakan oleh pakar Borobudur adalah terjemahan versi Bahasa Inggris edisi Lefmenn (1902). Sutra tersebut terdiri atas 420 halaman dengan masing-masing halaman berisi 22 paragraf. Untuk menghubungkan antara sutra yang berparagraf-paragraf dengan relief cerita yang hanya 120 panil bukan persoalan mudah. Namun, Krom berhasil menemukan paragraph-paragraf mana saja yang dirupakan pada relief di Borobudur dan berhasil memberi judul serta deskripsi cerita pada tiap panil relief Lalitavistara.

Meskipun berpegang pada sutra atau teks cerita, nampaknya kesalahan yang dialami oleh Karl With berulang pada Krom. Kesalahan yang dilakukan Krom adalah membaca teks kemudian melihat reliefnya untuk dicocokkan dengan teks tersebut. Tampaknya, baik Karl With maupun Krom membaca relief bercerita di Candi Borobudur menggunakan cara baca gambar NPM, akibatnya banyak kebingungan dan kekeliruan yang dialami.

Setidaknya ada empat panil relief yang dikomentari Tabrani akibat dari intepretasi Krom yang keliru dalam memahami cara bercerita relief Lalitavistara di Candi Borobudur. Empat panil tersebut adalah panil nomor 28 tentang kelahiran sang Bodhisatwa, panil nomor 42 Bodhisatwa memberikan cincin pada Gopa, panil 49 sayembara memanah, dan panil 84 Suyata menjamu Bodhisatwa.

Dalam kacamata Krom yang NPM, menganggap bahwa pada tiap panil relief terdiri atas bagian-bagian dari adegan cerita yang dibekukan. Padahal, panil-panil relief tersebut merupakan sekuel filem yang berisi rangkaian adegan, tiap panil relief terdapat lapis-lapis kejadian yang digambar tumpang tindih. Pembacaannya perlu dilakukan dengan melihat urutan cerita tertentu.

Pada panil 28 Krom beranggapan hanya ada tiga adegan cerita sehingga beberapa cerita tidak ditampilkan pada relief. Hal ini keliru karena panil 28 merupakan sekuel filem yang berisi rangkaian adegan. Misalnya pada panil 28 tidak digambarkan proses kelahiran Bodhisatwa, bukan berarti adegan ini tdak penting, pemahat Borobudur menggambarkannya dengan kandungan Ratu Maya yang telah kempis.

Pada panil 42 terdapat adegan yang membingungkan, disebutkan di sutranya bahwa saat Putri Gopa bersila di depan Bodhisatwa, para putri lainnya meninggalkan tempat karena tidak tahan dengan sinar dari tubuh Bodhisatwa, namun pada panil 42 para putri tidak meninggalkan Bodhisatwa.

Dimensi Ruang dan Waktu yang Berbeda

Menurut bahasa rupa Tabrani, gambar/relief tersebut memiliki dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Untuk dapat bercerita, pembacaannya dilakukan dengan melihat sekumpulan putri yang menghadap Bodhisatwa. Kemudian adegan selanjutnya Bodisatwa berhadapan dengan Putri Gopa. Oleh pemahat Borobudur dua kejadian itu dibuat tupang tindih dalam satu frem.

Kebingungan Krom selanjutnya pada panil 49 dan 84 yaitu adanya subjek gambar yang dibuat lebih dari satu. Akibatnya Krom mengira para pemahat di Candi Borobudur menggunakan kitab/sutra yang berbeda. Seperti adanya dua Bodhisatwa yang sedang memanah di panil 49 yang sebenarnya memperlihatkan adanya perpindahan adegan dari Bodhisatwa.

Hal yang sama terjadi pada panil 84, di sutra/kitabnya disebutkan bahwa hanya ada satu wanita (Suyata) yang mengerjakan segalanya dan seorang pelayan, namun pada panil 84 ada 14 wanita. Dalam bahasa rupa, cara ini adalah cara kembar yang digunakan untuk menggambarkan suatu subjek gambar yang sedang bergerak pada ruang dan waktu yang berbeda. [NI].

Sejumlah adegan yang diurai dari panil 49 Sayembara Memanah. Sumber: Tabrani 2012.

Bibliografi

Krom, N.J. 1927. Barabudur Archeological Description. Martinus Nijhoff,The Hague.

Soekmono. 1978. Candi Borobudur. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Tabrani, P. 2000. Prinsip-Prinsip Bahasa Rupa. Jurnal Budaya Nusantara, 1 (2).

Tabrani, P. 1999. Belajar dari Sejarah dan Lingkungan, Sebuah Renungan Mengenai Wawasan Kebangsaan dan Dampak Globalisasi. Bandung: ITB.

Tabrani, P. 2012. Bahasa Rupa. Bandung: Kelir.

Tabrani, P. 2017. Bahasa Rupa dan Kemungkinan Munculnya Seni Rupa Indonesia  Kontemporer yang Baru. Jurnal Komunikasi Visual dan Multimedia 8 (1), 1-12.

With, Karl. 1989. Harmony within the Texture of Rhythm. Dalam Badil R.dan Rangkuti N.(ed.).  Rahasia di Kaki Candi Borobudur. Jakarta: Katalis.

 

 

Artikel sebelumyaMacapat: Antara Tradisi Keraton dan Masyarakat Umum
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here