Beranda Publikasi Kolom Via Vallen dan Nella Kharisma, Ditandingkan Demi Penuhi Selera

Via Vallen dan Nella Kharisma, Ditandingkan Demi Penuhi Selera

938
Sumber foto: Jago Dangdut

Oleh: Michael H.B. Raditya (Mahasiswa Ph.D. di Asia Institute, Faculty of Arts, The University of Melbourne; Pendiri dangdutstudies.com; Penulis buku Dangdutan).

Sudah cukup lama rasanya tidak melihat dua biduanita ternama, Via Vallen dan Nella Kharisma berada di satu panggung. Beberapa kesempatan mereka berdua tampil satu panggung terjadi empat tahun silam, tahun 2018, yakni ketika mendukung salah satu calon gubernur Jawa Timur, Gus Ipul dan ketika HUT Kabupaten Karanganyar ke 101.

Bahkan Kabupaten Karanganyar harus mengundang Orkes Melayu di mana mereka bernaung, O.M. Sera dan O.M. Lagista. Jangan tanya berapa mereka harus merogoh kocek untuk mendatangkan dua orkes kondang dengan biduanita ternama. Tidak akan sedikit! Singkat kata menyatukan mereka berdua di satu panggung sungguh sulit.

Namun pada 19 Juli 2022, mereka kembali berada satu panggung. Tiada partai politik atau calon Gubernur yang ingin meraup massa, bukan hari ulang tahun satu kabupaten atau kota yang membuat mereka hadir, melainkan acara personal dari salah satu di antaranya.

Sebuah acara pernikahan dari seorang biduanita ternama, Via Vallen. Ia membuat pesta rakyat dengan panggung dangdut sebagai fokus utamanya. Orkes Melayu Jaka Swara milik sang ayah, Papah Arifin, didaulat sebagai pengisi acara. Selain Via dan suami menyumbangkan lagu, salah satu biduanita yang kerap ditandingkan dengannya, Nella Kharisma, justru ikut bernyanyi.

Ketika itu, Saya memang tidak berada di Surabaya untuk menyaksikannya, tetapi Via maupun Nella menyiarkan aksi panggung mereka secara live melalui Instagram Live. Walau tak menayangkan seluruh jadwal kegiatan, siaran itu sudah memberikan informasi bagaimana kerumunan penonton di sekitar panggung, interaksi antar penampil dan penonton, serta beberapa lagu yang dibawakan.

Bahkan tayangan di Instagram Live turut menayangkan bagaimana pertunjukan berakhir. Lagu “Mendung Tanpo Udan” dinyanyikan oleh Via dan Nella secara duet. Namun belum usai lagu dinyanyikan, tiba-tiba Via dan Nella meninggalkan panggung begitu saja. Usut punya usut, perkelahian antar warga alias tauran terjadi di tengah lagu tersebut dinyanyikan. Jujur saja, hal tersebut membuat pentas berakhir antiklimaks dan merawat asumsi adanya persaingan.

Hal ini tentu menarik, mengapa mereka terus ditandingkan dan dibandingkan? Apakah Via dan Nella memang bermusuhan? Atau jangan-jangan ada hal lain yang membuatnya ditandingkan, jika iya, apakah itu dan mengapa itu terjadi?

Ikon Perubahan Dangdut Koplo

Via dan Nella adalah salah dua putri terbaik Jawa Timur yang mengubah banyak hal pada skena dan citra dangdut koplo di sana. Sejak meledak di lingkup nasional pada tahun 2003, Dangdut Koplo selalu menjadi bulan-bulanan beberapa kalangan masyarakat di pusat (baca: Jakarta). Stigma terlalu sexy dengan goyangan yang mengancam moral bangsa dituduhkan sebagai agenda dari dangdut koplo.

Alih-alih berlalu, kecaman semakin tebal karena terus dan melulu digaungkan oleh kelompok dangdut, Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia (PAMMI) sekaligus sang raja dangdut, Rhoma Irama. Sementara Orkes Melayu Jawa Timur tidak memiliki akses dan hak untuk membantah atau pun membela diri.

Pasca penjegalan Dangdut Koplo di skena industri musik Jakarta, sub-genre dangdut ini tidak lantas hilang begitu saja. Pergerakan mereka tetap berlangsung, karena mau bagaimanapun dangdut koplo lebih memegang peranan penting di skena hiburan Jawa Timur ketimbang grup ibukota yang merasa diri besar hanya karena media terpusat padanya.

Salah satu hal yang dapat dengan sangat mudah dibuktikan adalah dengan semakin bermunculannya Orkes Melayu dan wajah-wajah baru biduanita di sana. Bahkan ada Orkes Melayu yang memang berkonsentrasi pada kaderisasi biduanita, semisal O.M. Adella. Singkat kata, perkembangan dangdut koplo di Jawa Timur tetap sebagaimana mestinya, walau stigma yang kerap dituduhkan turut menjadi pertimbangan tentang bagaimana imajinasi biduanita di masa depan.

Via Vallen dan Nella kharisma adalah salah dua dari biduanita yang kini dikenal luas. Mereka berdua dianggap agen yang cukup penting dalam perubahan kecenderungan performans pada dangdut koplo. Bahkan mereka kerap dianggap sebagai agen perubahan itu sendiri. Hal itu bukan tanpa alasan, apalagi mereka turut berpartisipasi pada masa transisi tersebut.

Di mana Via maupun Nella sudah mulai ikut bernyanyi sejak tahun 2000-an. Mereka berdua sama-sama memulainya sejak di bangku sekolah, Via ketika duduk di sekolah dasar, sementara Nella duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pada usia yang ranum, dua biduanita dangdut koplo ini mengalami dan berinteraksi langsung pada kerasnya skena musik di sana.

Pada tahun 2000-an, performans dangdut koplo lebih mengutamakan interaksi dan biduanita menjadi fokus utama. Hal ini membuat penampilan biduanita, baik busana, goyang, persona, maupun interaksi, menjadi faktor utama dari kesuksesan sebuah orkes. Hal ini lah yang lantas membuat Via Vallen dan Nella Kharisma juga masih bertumpu dengan goyang dan pakaian [yang dianggap] sexy pada tahun 2011-2012.

Apalagi pelbagai macam format biduanita baik solo, duo ataupun trio dengan goyang yang atraktif sekaligus menantang sedang tumbuh subur di Pantura. Alhasil Via dan Nella tidak bisa segera—atau bahkan terpikir—mengubah karakter peformans dari pertunjukan dangdut koplo.

Namun hal yang menarik, perubahan itu terjadi perlahan dengan menjadikan tubuh dan penampilan mereka sebagai medium eksperimen. Kita tentu dapat mengatakannya sebagai cikal bakal akan tindakan perubahan, tetapi pada kenyataannya, mereka melakukannya tidak dengan kesadaran mengubah publik—bahkan menjadi tren—, melainkan berubah karena sesuatu yang personal, yang nyaman untuk mereka kenakan.

Singkat kata, mereka berdua ingin menjadi diri mereka sendiri setelah sedari awal harus terombang-ambing karena dikotomi konstruksi akan dangdut koplo, antara sexy dan santun. Alhasil, mereka mengambil sikap di antara, di mana penggunaan pakaian yang lebih trendy dan mengikuti fashion—tidak terlampau sexy tetapi juga masih dalam kategori santun—, joged tetap ada tetapi mendapat porsi yang lebih minim—tergantikan dengan merespons penonton atau berinteraksi dengan musisi—, bertumpu pada kualitas suara, tetapi tidak dengan cengkok dangdut.

Melalui penampilan dan performans mereka, agenda itu tersalurkan dan berlipat ganda. Apalagi Orkes Melayu tempat di mana mereka bernaung, Via Vallen dengan O.M. Sera dan Nella Kharisma dengan O.M. New Lagista, menjadi Orkes Melayu yang laris akan “tanggapan”. Sementara itu, Vyanisty ataupun Nella Lovers—basis massa mereka—sudah barang tentu mendukung idolanya. Basis massa mereka, Vyanisty maupun Nella Lovers merupakan kelompok penggemar yang militan.

Mereka adalah para penonton yang rela menyaksikan panggung demi panggung sang biduanita dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun. Mereka yang akan memadati panggung warga, pejabat, atau pun negara, hanya untuk melihat idolanya bernyanyi. Mulai dengan saling terhubung melalui Facebook atau media sosial; membuat komunitas dengan menambahkan kota mereka tinggal di belakang kata Vyanisty atau Nella Lovers; menggunakan kaos dengan nama atau wajah idola; menonton, membuat koreografi, bernyanyi, dan berjoged bersama.

Di kehidupan di luar panggung, mereka juga lah yang akan merespons aktivitas sang idola di media sosial, hingga memberikan bingkisan ketika ulang tahun ataupun tahun baru. Singkat kata, mereka adalah yang melanggengkan akan bagaimana biduanita dangdut koplo berlaga.

Namun kecintaan penggemar kepada sang idola pada akhirnya bergesekan ketika dua biduanita saling terkait. Pada tahun 2017 hingga 2019, gesekan itu kentara, terasa, dan semakin tersebar. Hal itu persis ketika Via Vallen dan Nella Kharisma sama-sama dikenal secara luas oleh publik melalui YouTube dan media sosial mereka.

Penonton dan penggemar mereka tidak lagi hanya berasal dari Jawa Timur, tetapi dari bagian lain di Indonesia ataupun dunia. Gesekan antar basis massa ini turut memengaruhi penggemar baru. Bahkan kedua biduanita dijadikan dikotomi pada dangdut koplo. Pertanyaan, “kamu Vyanisty atau Nella Lovers?”, “Lebih suka Via atau Nella yang menyanyikan lagu ‘Sayang’ atau ‘Jaran Goyang’?” acap saya dengar.

Karena menyukai Via Vallen atau Nella Kharisma bukan sekadar menyukai penyanyi mana yang cocok untuk menyanyikan sebuah lagu, tetapi turut menjelaskan preferensi musik, pengetahuan, hingga selera. Industri musik yang memang perlu gelora, menduplikasi dan [ikut berperan dalam] mempertajam persaingan mereka berdua. Alhasil, mereka kerap ditandingkan dan selalu dibandingkan demi satu hal, selera.

Sistem yang Mencipta Selera

Tentu ihwal macam ini bukan sesuatu yang baru dalam budaya populer. Pada dunia musik global, anak muda MTV tahun 2000-an tahu betul bagaimana Britney Spears dan Christina Aguilera ditandingkan. Di tanah air, pendengar musik pop juga paham bagaimana Raisa dan Isyana Sarasvati dibanding-bandingkan. Di dunia olahraga, penonton sepak bola tahu betul bagaimana Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo ditarungkan.

Lantas apakah Cristiano dan Lionel atau Raisa dan Isayana memang bermusuhan satu sama lain? Tentu tidak! Hal itu juga terjadi pada Via dan Nella, di mana mereka tidak memiliki pertikaian dari ihwal panggung hingga soal kasur—perumpamaan dari hal personal. Namun, pada kenyataannya, mereka ditandingkan demi penuhi selera penonton.

Sosiolog-antropolog, Pierre Bourdieu pernah berujar jika selera hanya konstruksi sosial. Maka ketika selera bukan bawaan lahir, tetapi telah diatur. Hal ini tentu patut dicurigai, apalagi dari rivalitas tersebut, selalu dua entitas yang dilawankan. Apakah dengan adanya dua yang ditandingkan, pengelompokan selera akan lebih sederhana ketimbang tersebar dan acak?

Duo teoritikus penting, Theodor Adorno dan Max Horkheimer bicara banyak mengenai hal ini dalam risalahnya mengenai Industri Budaya (1944). Mereka mengkritisi bagaimana pengelompokan, generalisasi, dan pelbagai pola lain yang terbentuk pada budaya.

Bagi Adorno dan Hokheimer, budaya seyogianya menjadi pencerahan bagi umat manusia, tetapi kapitalisme ikut utak-atik membuat budaya mengingkari inti keberadaannya. Budaya yang menjadi pencerahan, justru menjadi penipuan massal. Maka itu mereka dengan lantang menyebutnya sebagai industri budaya, bukan budaya massa dan ihwal selingkarnya.

Bagi mereka berdua, industri budaya membuat semua produk terstandarisasi. Ada aturan dan hitungan yang terus menjadi acuan agar mencipta produk yang “sesuai”. Bahkan dalam On Popular Music (1941), Adorno turut menautkan bagaimana lirik, tema, formulasi musik menjadi seragam.  Tak hanya itu, ia turut mengenalkan konsep pseudo individualisation, di mana ada perasaan seolah-olah terwakili secara personal dari salah satu produk industri budaya.

Sebagai contoh, ketika seseorang tidak menggemari salah satu biduanita, industri akan menunjukkan nama lain untuk menjadi pilihan. Mereka yang memiliki perbedaan pada jenis suara, fashion, hingga persona di atas panggung akan dihadirkan. Penggemar lazimnya akan mulai menerima tawaran demi tawaran tersebut. Pada dangdut, hal ini menjadi sangat tampak, khususnya pada Nella dan Via. Apalagi keduanya selalu menyanyikan lagu yang sama.

Alhasil penggemar seolah-olah sibuk memilih Via atau Nella bernyanyi tanpa sadar mereka [tetap] berada pada satu cangkang (baca: genre atau lagu) yang sama. Singkat kata, mereka tak punya waktu untuk berpikir apakah genre lain atau tidak mendengarkan musik jangan-jangan adalah jalan keluar. Alhasil, pilihannya hanya dua, Via atau Nella, tidak lebih. Sesederhana, maju kena (baca: koplo) mundur kena (baca: koplo).

Namun Via atau Nella yang sengaja dipertentangkan bukan karena kompetisi. Bagi Antropolog, Georg Simmel (2008), hal itu bukan soal kompetisi pasar, karena kompetisi tersebut bukan rivalitas yang ingin mengeliminasi satu di antara yang lain, tetapi kompetisi hanya untuk memenangkan pelanggan, penggemar. Alhasil Via atau Nella memang disengaja dilawankan untuk mendinamisi antar penggemar dangdut semata.

Karena semakin tajam friksi Via dan Nella, semakin menunjukkan bagaimana industri budaya bekerja pada dangdut koplo dan gelora penggemar yang tak ada habisnya. Semakin reda friksi antara keduanya, semakin memperlihatkan bagaimana ujung dari eksploitasi industri budaya pada dua biduanita. Itu menjadi aba-aba bagaimana friksi harus diciptakan kembali atau tanda biduanita baru harus memegang kendali.

Pada logika industri budaya, satu produk akan silih berganti dengan yang lain. Hal itu adalah logika dari komodifikasi dan persebaran yang massif. Secara cepat, hal itu juga terjadi pada dangdut koplo, di mana Happy Asmara, Yeni Inka, ataupun Woro telah menjadi line up terdepan panggung-panggung dangdut kini. Namun hal yang luput dari industri budaya adalah ketika produk terdahulu masih memiliki taji dan dampak pada produk terkini.

Tentu dalam industri budaya, alienasi telah siap merongrong konsumen yang tidak siap berganti produk. Namun kenyataannya, dikotomi Vyanisty atau Nella Lovers yang tidak hilang begitu saja, walau biduanita baru sudah tampil silih berganti. Mereka berdua tetap ditandingkan, alienasi sebagai gertakan ketertinggalan laju produksi tiada lagi arti. Mereka toh bisa hidup berdampingan.

Hal yang menarik adalah alih-alih pasar, penggemar punya kendali yang tidak kalah besar dalam mengatur itu semua. Selera penggemar yang terlanjur terbentuk, justru dengan luwes dan cair saling terkait satu sama lain. Menyaksikan mereka berbagi lagu bersama di atas panggung adalah terapinya. Maka itu, jika bukan karena tauran, pentas malam 17 Juli 2022 dapat disebut sebagai salah satu penampilan duet termanis mereka, sekaligus tanda jika dua biduanita yang kerap ditandingkan dan disaing-saingkan, bisa disandingkan tanpa [lagi] dibandingkan.[]

Referensi

Adorno, T. W. (1941). On Popular Music. Zeitschrift für Sozialforschung, 9, 17-48.

Adorno, Theodor dan Max Horkheimer. (1944). The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception. Dialectic of Enlightenment. New York: Continuum.

Simmel, Georg. (2008). Sociology of competition. Canadian Journal of Sociology/Cahiers canadiens de sociologie, 33, 957–978.

Artikulli paraprakSunan Amangkurat Agung, Raja Zalim yang Disayyidkan
Artikulli tjetërNI Webinar Series #12-Antara Hindu Indonesia dan Hindu India
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini