Beranda Publikasi Kolom Syekh Yasin al-Fadani dan Nasionalisme Indonesia

Syekh Yasin al-Fadani dan Nasionalisme Indonesia

1307

Oleh Ulil Abshar-Abdalla (Kiai dan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta)

Sebuah informasi menarik saya temukan dalam buku karangan Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (1995). Informasi ini berkaitan dengan sosok kiai dari Makah yang sangat berpengaruh di Indonesia, yaitu Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani (meninggal 1990), seorang alim dari Indonesia (Padang, Sumatra) yang tinggal di Makah dan mendirikan madrasah yang terkenal, Dar al-‘Ulum al-Diniyyah. 

Sebelum madarasah itu berdiri, ada sejumlah madrasah lain yang cukup terkenal di Makah, antara lain Madrasah Shaulatiyyah. Madrasah ini didirikan (dan disponsori) oleh seorang tokoh perempuan dari India, Shaulah al-Nisa’, pada 1874, karena itu disebut sebagai Shaulatiyyah. Pengelolaan madrasah itu diserahkan kepada seorang ulama militan yang dikenal karena polemik-polemiknya melawan para misionaris Kristen di India, yaitu Rahmatullah ibn Khalil al-‘Utsmani.

Banyak pelajar Indonesia yang menjadi murid madrasah itu, termasuk Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani. Ada suatu kejadian di madrasah itu yang membuat Syekh Yasin marah dan kemudian memutuskan untuk keluar dari sana. Yaitu, seorang guru merobek koran berbahasa Melayu (Indonesia) yang dibaca oleh sejumlah mahasiswa asal Indonesia di madrasah itu. Guru itu juga mengejek aspirasi nasonalis orang-orang Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa bodoh yang memakai bahasa seperti itu tak akan bisa meraih kemerdekaan. Menurutnya, hanya bahasa Arab yang paling afdhol.

Kejadian ini disaksikan langsung oleh Syekh Yasin, dan tentu saja membuatnya marah dan memutuskan untuk keluar dari madrasah itu. Ia kemudian terlibat dalam usaha-usaha bersama dengan sejumlah pelajar lain dari Indonesia untuk mendirikan madrasah terpisah guna menampung mahasiswa asal Indonesia.

Kemudian berdirilah Madrasah Dar a-‘Ulum al-Diniyyah pada 1934. Ada sekitar 120 santri Jawa (istilah Jawa saat itu mecakup seluruh kawasan Indonesia, Melayu, bahkan termasuk Thailand Selatan) yang pindah ke madrasah baru itu, termasuk Syekh Yasin sendiri. Belakangan, Syekh Yasin menjadi mudir madrasah tersebut hingga dia wafat pada 1990. Di Makah, Syekh Yasin juga mendirikan madrasah khusus untuk perempuan (Madrasah Ibtidaiyah li al-Banat al-Ahliyah).

Semasa dia masih hidup, banyak jamaah Indonesia yang selalu menyempatkan mampir di madrasah itu. Syekh Yasin juga memelihara relasi dengan sejumlah kiai di Indonesia, bahkan menuliskan semacam “thabaqat/tarajum” atau biografi sejumlah kiai di tanah air.

Dia sempat hadir dalam Muktamar NU ke-26 di Semarang pada 1979. Pada kesempatan itulah dia menyempatkan diri untuk mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Tengah, antara lain pesantren milik kakek saya, KH. Muhammadun, dari Pondohan, Tayu, Pati. Meskipun saya tidak melihatnya sendiri, konon Syekh Yasin menulis tarjamah atau biografi singkat Kiai Muhammadun menurut tradisi thabaqat yang kita kenal dalam khazanah historiografi Islam klasik.

Kunjungan Syekh Yasin ke pesantren kakek saya itu meninggalkan kenangan yang mendalam pada diri saya. Saat itu, saya berumur 13 tahun. Tentu saja saat itu saya belum mengerti mengenai sosok Syekh Yasin. Tetapi ribuan orang yang datang ke pesantren kakek saya saat itu untuk betemu dan melihat langsung sosok Syekh Yasin membuat saya berpikir bahwa tentu sosok ini bukanlah orang sembarangan.

Di kalangan santri Indonesia, Syekh Yasin dikenal sebagai “benteng” doktrin Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah di tanah Haramain (Makah dan Madinah) berhadapan dengan kampanye agresif ideologi Wahabi yang disokong oleh pemerintah Saudi. Salah satu bukunya yang dikenal di kalangan pesantren adalah al-Fawa’id al-Janiyyah yang berisi ulasan mengenai kaidah usul fikih.

Informasi dari Martin van Bruinessen ini menarik karena memperlihatkan sosok Syekh Yasin bukan saja sebagai seorang alim yang mempertahankan doktrin Sunni di tanah Haramain, tetapi juga seorang nasionalis yang memiliki kecintaan pada tanah air. Tahun saat madrasah Dar a-‘Ulum itu berdiri, yakni 1934, jelas merupakan periode di mana gerakan-gerakan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan di tanah air sedang mencapai tahap kematangan.

Dengan demikian, kita patut mengenang Syekh Yasin sebagai seorang patriot yang cinta tanah air Indonesia, selain sebagai seorang muhaddits (pakar hadis) dan faqih (ahli mengenai hukum Islam).

1 KOMENTAR

  1. Trimakasih tulisannya menambah wawasan saya tentang ulama ulama Indonesia yang ada di Arab,selain mad sumanto al qurtuby kakak kelas di UIN hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here