Beranda Publikasi Kolom Ritus Kematian Masyarakat Toraja

Ritus Kematian Masyarakat Toraja

133
Dok pribadi penulis

Oleh: Regar (Akademisi Musik dan Peneliti Seni Budaya Toraja) dan Sunarto (Pengajar Filsafat dan Musikologi pada Jurusan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang)

Pemikiran akan kematian menghadirkan kognisi emosianal antara lain: dilema kematian akhir, memilah rumusan kepercayaan yang positif, pandangan yang menghibur, kepercayaan berdasarkan kultur akan alam baka, jiwa yang tidak bergantung pada pisik, terlebih kekuatan emosional akan kehidupan setelah kematian.

Serangkaian ritus kematian menyatakan suatu kesan persatuan dengan yang ditinggalkan, pemujaan roh-roh leluhur, bahkan persembahkan kurban secara berlebihan. Dalam tradisi masyarakat umum Toraja, ritus kematian merupakan kebudayan yang paling dikenal dengan kompleksitas ritus yang megah, harta dan strata sosial sebagai penentu kemegahan-nya.

Mengenai ritus kematian, manusia seringkali menjadi pelaku adat-istiadat dan mewujudkan struktur sosial dari masyarakatnya sebagai suatu gagasan kolektif. Aktivitas budaya secara khusus ritus kematian yang merupakan salah satu ciri khas budaya masyarakat Toraja, dikenal secara internasional karena kemegahannya beserta segala keunikan yang nampak melalui rangkaian panjang ritusnya.

Namun ini hanya berlaku bagi kelas atau strata sosial tertentu, bahwa tidak semua masyarakat Toraja berada pada strata sosial yang sama dan kekayaan finansial yang cukup untuk ritus yang megah. Pada pembahasan ini, kita akan fokus melihat kemegahan kesenian dalam ritus kematian masyarakat Toraja ketika pelaksana ritus berada pada strata sosial kelas bangsawan.

Upacara kematian tidak terlepas dari perasaan pribadi bahkan dari kelompok atau orang-orang yang terlibat dalam ritus kematian. Emosional pribadi seperti haus akan ritual-ritual yang akan menjawab dan memuaskan keinginan Hasrat manusia mewujudkan kecintaannya kepada sang “mendiang” melalui persembahan-pemsembahan terakhirnya.

Persoalan “kurban” (pemotongan kerbau, dsb. secara berlebihan) telah banyak ditulis oleh para sarjana, bahkan peneliti-peneliti budaya Toraja. Pada bagian ini, menguraikan gagasan yang lebih kompleks dan terarah pada kesenian yang megah, berwibawa, sebagai tanda bahwa keluarga adalah kalangan kaya akan harta dan tinggi di dalam strata.

Beberapa penelitian beranggapan bahwa musik sebagai suatu media yang dapat mengendalikan emosi manusia. Ekspresi kesenian masa kini telah berada pada posisi yang semakin berkembang, bahkan segala bentuk ekspresi dukacita dalam upacara rambu solo’ (ritus kematian) tertuang dalam kesenian, baik dalam musik, tarian, dsb.

Dengan demikian, preferensi pembahasan ini difokuskan pada kesenian diantaranya: ma’marakka (seni suara yang dinyanyikan oleh satu atau dua orang, diiringi alat musik tradisional Toraja yang terbuat dari bambu dikenal dengan sebutan suling lembang/ suling te’dek), ma’badong (seni suara akapela yang dinyanyikan oleh kor atau kelompok penyanyi), dan ma’katia (tarian namun juga berunsur nyanyian) sebagai kesenian dalam upacara rambu solo’ masyarakat Toraja.

Kesenian-kesenian tersebut memiliki kesamaan bahwa masing-masing menguraikan lirik-lirik kematian berdasarkan kalimat sastra Toraja, dengan demikian kita dapat sepakat bahwa ketiga kesenian tersebut secara emosional bernuansa kesedihan. Peneliti-peneliti terdahulu menunjukkan bahwa musik yang bernuansa kesedihan dapat meningkatkan kesenangan tidak hanya melalui regulasi emosi, melainkan juga melalui konteks estetis dari stimulus.

Rambu solo’ dan Kesenian

Rambu solo’ dalam kebudayaan Toraja dikenal sebagai upacara kedukaan atau rangkaian keseluruhan dari ritus kematian. Rambu solo’ dalam bahasa Toraja berasal dari kata “Rambu” yang berarti Asap, dan “Solo’” yang berarti Turun, sebagai suatu makna kiasan terkait “persembahan”. Pendapat lain menyabutkan rambu solo’ sebagai rangkaian ritus yang dilakukan saat sisi matahari terbenam.

Persembahan yang dimaksud diantara adalah pengorbanan sembelihan, seni suara/lagu-lagu pemakaman, musik seruling, ratapan, bahkan pembuatan patung atau artefak-artefak dalam ritual, dsb. Setiap rangkaian ritus dalam upacara tersebut dimulai pada saat matahari mulai condong ke Barat sampai petang. Persembahan ditujukan kepada orang yang telah meninggal, sebagai persembahan terakhir kepada mendiang.

Masyarakat Toraja meyakini bahwa segala sesuatu yang dikorbankan baik yang bernyawa maupun tidak, akan dibawa oleh mendiang menuju Puya (dunia orang mati). Ritus-ritus berlangsung salama beberapa hari bahkan berbulan-bulan sesuai kesepakatan bersama dan berdasarkan ketentuan adat.

Peran kesenian ialah mengisi ruang-ruang hampa dalam keberlangsungan ritus-ritus di tengah tindihan duka keluarga yang ditinggalkan. Rengeng tangisan yang diejawantahkan ke dalam nyanyian oleh keanggunan pa’marakka (penyanyi marakka) menggambarkan ekspresi duka mendalam. Nyanyian kebersamaan yang berwibawa, membentuk melingkar, sibali-bali (bernyanyi berbalas-balasan), bergandengan tangan oleh para pa’badong (penyanyi badong) menyatakan penguatan emosional di tengah kedukaan.

Perwujudan gengsi dan penceritaan status sosial melalui tarian ma’katia, sebagai penyambutan kepada keluarga, kerabat, handai tolan, dan seluruh tamu yang datang turut merasakan duka. Intensitas nyanyian dan tarian tidak hanya dikumandangkan satu jam, melainkan berjam-jam. Tidak berlangsung hanya satu hari melainkan berhari-hari. Kolektivitas diantara kesenian tersebut membangun wibawa ekspresi dukacita melalui stimulus yang estetis.

Kesenian yang megah berdasarkan harta dan strata

Secara finansial, untuk menghadirkan beberapa kesenian yang telah disebutkan di atas membutuhkan biaya yang cukup besar, namun harta bukan penentu segalanya. Ketika keberadaan mendiang bukan dari kalangan strata tinggi dalam konteks kelas sosial masyarakat Toraja, maka kesenian secara khusus ma’katia menurut aturan adat tidak dapat dipertunjukkan. Menghadirkan pa’marakka membutuhkan biaya yang dapat mencapai harga seekor kerbau untuk sekitar tiga hari mengisi ritual rambu solo’.

Sedangkan untuk menghadirkan kesenian ma’badong profesional, membutuhkan biaya seharga seekor berbau bahkan lebih. Untuk menghadirkan kesenian ma’katia juga membutuhkan biaya yang cukup besar seperti kesenian lainnya. Dengan demikian dapat diperkirakan berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk menghadirkan kesenian-kesenian tersebut.

Berhari-hari dalam serangkaian ritus, sehabis petang tak lekang untuk ber-ibadah, meminta penguatan serta berkat dari sang Pencipta. Malam panjang diiringi gemaung badong. Adakalanya bernyanyi untuk ma’kampa to mate (menemani sang mendiang) disepanjang malam, merengeng-rengeng dalam nyanyian, meratap untuk mengenang, beriba-iba dalam kesedihan. Sungguh musik memberi pengaruh besar secara emosional bagi orang-orang yang ditinggalkan, mengiringi hari-hari terakhir bersama mendiang.

Ada banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa salah satu media terkuat dalam menggerakkan emosi seseorang dalam kesedihan ialah dengan mendengar musik atau bahkan secara langsung mengungkapkan ekspresi bantin melalui musik. Inilah sebagian daripada wujud persembahan dan bentuk cinta kasih yang tanpa batas kepada sang mendiang.

Tiba pada puncak dari segala ritus yang telah berlangsung selama berhari-hari. Arak-arakan membawa jenazah mengililingi kampung lalu kembali dan tida di lapangan tempat berlangsungnya ritus, lakkean berupa tandu berada di tengah lapangan sebagai tempat bersemayam mendiang sebelum mengantarnya menuju liang lahad.

Inilah pertandah bahwa segala sesuatunya telah siap sedia. Tibalah pada hari yang disebut allo katongkonan di mana keluarga, kerabat, handai tolan, bahkan semua tamu mulai berdatangan berbagi duka dengan segala bentuk persembahannya berupa kurban yang akan disembelih seperti babi, kerbau, bahkan berupa uang sebagai tanda berbelasungkawa.

Allo katongkonan berlangsung selama kurang lebih tiga hari, inilah puncak menggemahnya kesenian-kesenian ritus kematian. Kedatangan tamu diiringi tarian ma’katia (menari sambil menyanyikan syair-syair sanjungan kepada mendiang). Pa’badong mulai mengambil tempat, membentuk melingkar, bergemuruh dalam perpaduan suara, menyampaian syair-syair kematian (terus-menerus menyanyi dan menari).

Ketika tamu tiba pada tempat yang telah disediakan (lantang karampoan), mulailah ritual ma’papangngan (keluarga mengantarkan suguhan berupa sirih, dsb) diiringi kesenian ma’marakka. Nyanyian seperti tangisan beribah-ibah ini membawa setiap pendengar merasakan duka atas meninggalnya mendiang. Syairnya diawali sapaan kepada yang datang, menyatakan sanjungan kepada mendiang, keberadaan sosial, serta hubungan dengan Tuhan.

Hiruk pikuk seni suara beriring kalimat-kalimat puitik dalam sastra Toraja oleh protokoler yang dikenal dengan istilah gora-gora tongkon menghadirkan disonansi yang gempar mensugesti emosional semua yang mendengarkan. Demikianlah riuh gemuruhnya suasana serangkaian ritus kematian dan kesenian masyarakat adat Toraja, oleh mereka yang kaya akan harta dan tinggi dalam strata.

Bibliografi

Cook, T., Roy, A. R. K., & Welker, K. M. (2019). Music as an emotion regulation strategy: An examination of genres of music and their roles in emotion regulation. Psychology of Music, 47(1), 144–154. https://doi.org/10.1177/0305735617734627

Dana Rappoport. (2014). Nyanyian Tana Diperciki Tiga Darah: Penceritaan Etnografi. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

George, K. M., Hollan, D. W., & Wellenkamp, J. C. (1998). The Thread of Life: Toraja Reflections on the Life Cycle. The Journal of the Royal Anthropological Institute, 4(3), 590. https://doi.org/10.2307/3034199

Gertz, S. H. K. (2006). Umberto Eco. Modern European Criticism and Theory: A Critical Guide, c, 347–353. https://doi.org/10.5840/harvardreview1993312

Kobong, T. (1992). Aluk, Adat, dan Kebudayaan Dalam Perjumpaannya Dengan Injil. Pusbang Badan Pekerja Sinode.

Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan. Gramedia.

Artikulli paraprakMusikanan: Komunitas Para Musisi Kraton Orcest Djogja
Artikulli tjetërKerajaan Mataram Kuno
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini