Beranda Publikasi Kolom Prasasti Jawa-Tionghoa di Keraton Yogyakarta

Prasasti Jawa-Tionghoa di Keraton Yogyakarta

1532

R.M. Surtihadi (Staf Pengajar Prodi Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia-Yogyakarta, serta Pemerhati Budaya Keraton Yogyakarta)

Ada sebuah prasasti unik terdapat di dalam kompleks Keraton Yogyakarta. Prasasti tersebut berhuruf Jawa kuno dan berhuruf Tionghoa. kemungkinan banyak orang yang belum mengetahui apa makna keberadaan  prasasti berhuruf Jawa dan huruf Tionghoa di dalam kompleks Keraton Yogyakarta. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Keraton Yogayakrta sudah barang tentu akan bertanya-kepada pemandu wisata keraton, kira-kira apa maksud dan tujuannya serta mengapa prasasti itu ada di sana? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini akan disampaikan oleh wisatawan kepada pemandu wisata keraton.

Gambar di atas merupakan peristiwa peresmian peletakkan batu prasasti Tionghoa yang disaksikan oleh pihak Keraton Yogyakarta dalam hal ini Sri Sultan Hamengku Buwono IX beserta kerabat keraton dengan beberapa tokoh orang-orang Tionghoa di Yogyakarta yang akan menyerahkan prasasti tersebut kepada sultan.

Hubungan antara masyarakat Tionghoa dengan Keraton Yogyakarta begitu dekat dan akrab.  Keberadaan dua klenteng yakni Klenteng Tri Dharma atau biasa disebut Cheng Ling Kiong (Istana Kejujuran) di Poncowinatan, dan Klenteng Hok Tak Cheng Sin di Gondomanan sesungguhnya merupakan simbol manunggalnya warga Tionghoa dengan Keraton Yogyakarta.

Hubungan Masyarakat Tionghoa dan Keraton Yogyakarta

Di Yogykarata orang Tionghoa hanya memiliki satu pecinan saja yakni di wilayah ibukota. Adapun wilayah-wilayah tersebut adalah Kranggan, Malioboro, Ketandan, dan Ngabean. Sultan Hamengku Buwono IX mempunyai peran sangat besar terhadap komunitas keturunan Tionghoa. Hal itu terbukti ketika menjelang masuknya tentara Jepang di Yogyakarta, sultan selalu melibatkan warga Tionghoa dalam segala pembicaraan. Juga berkat campur tangan sultan, orang-orang Tionghoa di Yogyakarta terluput dari aksi kekerasan fisik dan perampokan. Tidaklah mengherankan apabila hubungan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta dengan Keraton Yogyakarta sangat dekat.

Salah seorang warga Tionghoa bernama Gunawan mengungkapkan:

“Dalam lubuk hati, warga Tionghoa merasa bahwa dirinya adalah abdi dalèm kraton. Keberadaan dua buah klenteng di Tengah Kota Yogyakarta memang untuk mengayomi kraton. Tujuannya agar semua pimpinannya menjalani kejujuran, adil dari manah dan memiliki peribudi yang tinggi dalam menjalankan roda kepemimpinannya”.

Gambaran tentang kedekatan itu sesungguhnya juga terekam dalam bait-bait kalimat yang terdapat dalam Prasasti Tionghoa-Jawa,[1] sebuah batu prasasti hitam setinggi satu meter dengan lebar delapan puluh sentimeter yang kini berdiri kokoh di depan Tepas Hapitopuro, atau sebelah Timur Bangsal Trajumas Keraton Yogyakarta. Satu sisi batu kenangan ini berisi lima bait tembang Kinanthi dalam huruf Jawa, dan sisi lain terjemahan bebas dalam aksara Tionghoa. Prasasti Tionghoa di Keraton Yogyakarta tersebut dirancang oleh masyarakat keturunan Tionghoa setempat. Meskipun hanya sebuah batu hitam sederhana, prasasti ini memiliki perjalanan panjang. Pemrakarsa pembuatan prasasti itu adalah delapan warga keturunan Tionghoa di bawah pimpinan Lie Ngo An[2]

Seperti yang tertulis dalam catatan, Paul W. Suleman[3] menuliskan:

Semula dikandung maksud untuk mempersembahkan batu tersebut tepat pada waktu tahun penobatan 1940, tetapi karena berbagai kesulitan teknis (termasuk mendatangkan batu khusus dari Tiongkok, pada waktu itu Tiongkok sedang bertempur dengan Jepang), maka batu peringatan baru siap sesudah penobatan, dan belum sempat dipersembahkan secara resmi kepada Sultan Hamengku Buwono IX, ketika setahun kemudian Jepang menyerbu dan menduduki Hindia Belanda pada tahun 1941.

Zaman pendudukan Jepang berakhir tahun 1945, diikuti masa revolusi fisik Republik Indonesia melawan Belanda yang berakhir dengan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (R.I.S.) pada akhir tahun 1949. Selama masa itu batu peringatan yang sudah siap dipersembahkan, untuk sementara disimpan di halaman rumah Liem Ing Hwie”. Suleman (tt.: 3).

Ketika situasi keamanan sudah terkendali sekitar tahun 1951, maka Liem Ing Hwie sebagai ketua panitia persembahan batu peringatan menghadap kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk mohon pertimbangan sultan, apakah sultan masih berkenan menerima persembahan batu tersebut, mengingat bahwa persem-bahan itu sebenarnya sudah terlambat lebih dari sepuluh tahun, lagi pula dalam naskah tulisan pada batu tersebut terdapat kata-kata yang menyebutkan: ”membantu Baginda Raja dengan setia dan berbakti” (maksudnya tentu Ratu Belanda Wilhelmina pada waktu penobatan tahun 1940), yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkem-bangan sejarah dan kemerdekaan Indonesia.

Ternyata bahwa Sri Sultan menyatakan tetap berkenan menerima persembahan tersebut, dan mengenai kata-kata tersebut beliau menganggapnya sebagai sesuatu historis yang berlaku di masa lampau pada waktu batu itu dibuat.

Tentang kesediaan Sultan Hamengku Buwono IX menerima prasasti tersebut, lebih lanjut Suleman (1978: 3) menuliskan kesan-kesannya:

Ini membuktikan pandangan Sri Sultan yang luas, rasional dan obyektif. Sultan tidak merasa tersing-gung dengan kata-kata tersebut, karena sultan lebih dapat menghargai maksud dan tujuan tulus dan luhur masyarakat Tionghoa di Yogyakarta yang ingin menyatakan penghormatan dan terima kasih sehu-bungan dengan kenaikkan tahtanya.

Demikian maka dicapai kata sepakat untuk mengadakan upacara resmi penyerahan batu peringatan tersebut tepat pada kesempatan Hari Ulang Tahun kenaikan tahta sultan ke dua belas, yaitu pada tanggal 18 Maret 1952, Selasa Legi, 20 Jumadilakir, Alip 1883, atau tertunda selama dua belas tahun dari pembuatan prasasti tersebut. Upacara diadakan di bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta hanya dihadiri lima dari tokoh masyarakat Tionghoa, karena tiga di antara mereka sudah meninggal. Para tokoh Tionghoa yang namanya tercantum dalam prasasti, yakni:

(1) Li Ngo An (mantan Kapiten Tionghoa di Yogyakarta); (2) Siem Kie Ay (dokter umum terkenal di Yogyakarta);  (3) Tio Poo Kia (pedagang); (4) Liem Ing Hwie (ketua berbagai perkumpulan sosial, perdagangan dan pendidikan dan kemudian anggota Dewa Pertimbangan Agung R.I.); (5) Lie Gwan Ho (pedagang arloji dan emas); (6) Tan Koo Liat (pedagang); (7) Oen Tjoen Hok (pemilik restoran-restoran terkenal dan toko “Oen” di berbagai kota di pulau Jawa); (8) Sie Kee Tjie (pengusaha batik).

Ing Mataram duk rumuhun, telenging Karaton Jawi, mangkya ing Ngayogyakarta, Hadiningrat Kraton Aji, Jeng Sultan Mangkubuwana, nglenggahi dhampar mulyadi.

Prabawếng Pangwasa Prabu, muncarken prabềng herbumi, mangku sarawediningrat, Dera nrusaken hujwalaning, Keprabon Jeng Sri Mahraja, Lir lumaraping jemparing.

Tumujwềng leres nềripun, Susatya tuwin mahoni, Pamengku nirếng buwana, lus manis cipta tresnasih, sih marma mring bangsa Tionghoa, asli saking manca nagri.

Pinrệnahkện manggềnipun, ing papan ingkang pakolih, laras lan upajiwanya, kang limrah samya mong gramin, ing riki nagari hardja, tệntrệm pra dasih geng alit.

Bangsa Tionghoa matur nuwun, Harsayềng tyas tanpa pami, Tan bangkit angucapana, Mangkya kinệrtyềng sếla mrih, Ềngệt saklami laminya, Rat raya masih lệstari.

Sedangkan terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tulisan dalam bahasa Jawa berbentuk Kinanthi terdiri dari lima bait, yang berbunyi, sebagai berikut:

Tanah Jawa kuno, Yogya kerajaan baru

Sultan naik tahta kerajaan,

memerintah seluruh negara,

mengabdi Yang Maha Esa

membantu Baginda Raja, dengan setia dan berbakti,

membikin tenang bangsa Tionghoa,

dengan kebajikan serta kerelaan hati.

Rakyat Tionghoa yang mengembara,

datang di sini telah mendapat tempat,

untuk menuntut penghidupan dalam ekonomi.

Kesejahteraan meliputi tanah bahagia ini.

Perasaan terima kasih dari rakyat Tionghoa

begitu besar, sukar diucapkan.

Oleh karena itu mereka memahat batu ini,

dengan maksud mencatat dan memperingati

perasaan terima kasih tadi buat selama-lamanya.”

Atas nama seluruh penduduk Tionghoa di Yogyakarta:

            Kaptwa Lie Ngo An,                           Lie Gwan Ho,

            Dr. Sim Ki Ay                                     Tan Ko Liat

            Ir. Liem Ing Hwie,                              Oen Tjoe Hok,

            Tio Poo Kia,                                       Sie Kee Tjie

Demikianlah kalimat-kalimat dalam lagu Kinanthi yang dibuat oleh orang-orang Tionghoa di Yogyakarta, yang pada intinya berisi pujian kepada Sultan Hamengku Buwono IX serta ungkapan terima kasih atas anugerah tempat yang strategis untuk berdagang dan perlindungan terhadap masyarakat Tionghoa. 

Batu prasasti itu mencantumkan tahun Cina Min–kuo 29, bulan 3 hari 18 dilengkapi Candra Sengkala (penanggalan tahun bulan) berbunyi:

      Jalma           Wahana         Dirada        Hing   Wungkulan

                      1                   7                    8                              1    

Kalimat itu mempunyai arti: “Manusia mengendarai gajah di atas benda bundar”. Jalma Wahana Dirada Hing Wungkulan berarti angka tahun Jawa Dal 1871, tahun penobatan Sultan Hamengku Buwono IX, atau tahun 1940 Masehi. Tanggal penobatan selengkapnya yakni Senin Pon, 8 Sapar, Dal 1871 atau 18 Maret 1940.

Sebagai menantu Liem Ing Hwie, Bernie dapat bertutur banyak tentang keberadaan prasasti itu, bahkan ia tergerak untuk melestarikan prasasti yang telah terlupakan zaman itu. Bernie terpanggil untuk merawat prasasti itu, dan bukan sekedar membersihkan, tapi sekaligus mengingatkan kembali tentang hubungan akrab yang pernah terjalin antara Keraton Yogyakarta dengan masyarakat Tionghoa pada masa lalu. Setiap dokumen maupun foto yang berkisah tentang prasasti itu, disimpan dengan baik oleh Paul W. Suleman.

Dengan terjalinnya hubungan dekat antara Sultan Hamengku Buwono IX sebagai penguasa wilayah Yogyakarta dengan masyarakat Tionghoa di sekitarnya, sudah barang tentu terjadi hubungan yang sinergis dan harmonis antar keduanya. Hal ini dapat menciptakan suasana kedamaian, ketenteraman dan penuh kekeluar-gaan di antara warga masyarakat Tionghoa yang tinggal di Yogyakarta.

Dalam suasana penuh kedamaian tersebut, sangat memungkinkan melakukan segala aktivitas kehidupan dengan penuh keyakinan dan semangat untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidup. Sultan Hamengku Buwono IX juga sangat konsern terhadap dunia pendidikan; terbukti dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia Universitas Gadjah Mada diperkenankan menggunakan sebagian bangunan Keraton Yogyakarta pada awal kemerdekaan. 

Dengan demikian, perhatian sultan yang mengerti terhadap kebutuhan warganya sangat dihormati karena kebijaksanaan dan kharismanya. Hal ini tentu saja karena sikap Sultan yang tidak pilih kasih terhadap kawula-nya, baik golongan pribumi, maupun golongan asing termasuk orang-orang Tionghoa, semua dihormati dan dihargai tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Masyarakat Tionghoa mempunyai peranan yang besar terhadap terciptanya situasi keamanan di wilayah Yogyakarta, demikian pula warga masyarakat pribumi yang mau bekerja sama dengan masyarakat Tionghoa dalam menciptakan suasana damai, sehingga aktivitas kehidupan baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, perdagangan maupun keamanan di Yogyakarta dapat berjalan dengan baik.

Referensi

Carey, Peter. (1985),  Orang  Jawa  dan  Masyarakat  Cina (1755 – 1825) Pustaka Azet, Jakarta.

Kwartanada, Didi. (1995), “Riwayat Hidup Tan Thiam Kwie”, Yogyakarta.

_________. (1997), “Kolaborasi dan Resinifikasi: Komunitas Cina Kota Yogyakarta pada Jaman Jepang 1942-1945”, Skripsi Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

_________. (2004), “Tionghoa-Java: A Peranakan Family History From The Javanese Principalities”, Chinese Heritage Centre Bulletin, Journal of  Chinese Overseas, The National University of Singapore Press, Singapore.

Kwintanada, Kiki. (2004), “Eksistensi Musik Barat di Yogyakarta Sebelum 1950”, Skripsi S-1, Jurusan Musik , Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Lohanda, Mona. (2002), Growing Pains The Chinese and The Dutch in Colonial Java, 1890 – 1942, Yayasan Cipta Loka, Jakarta.

Suleman,  Paul  W.  (tt.),  “Hubungan  Sultan  Hamengku  Buwana  IX  dengan Masyarakat Tionghoa di Yogyakarta”, Yogyakarta.

Vasanty, Puspa. (1979), “Kebudayaan Orang Tionghoa Indonesia”, dalam Koentjaraningrat (ed.), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, Jakarta.


 

              [1]Prasasti Tionghoa tersebut pernah direnovasi untuk dibersihkan pada tanggal 19 Agustus 2004 oleh para penggiat budaya dari Jogja Heritage Society (JHS) antar lain: Bernie Liem, Bimo Yuwono, A Simon Wido dan perajin batu prasasti dari Semarang Tan Hay Ping. Ide pembersihan prasasti tersebut dari Bernie Liem, seorang penggiat budaya di Yogyakarta dan sekaligus menantu pemrakarsa pendirian prasasti (Liem Ing Hwie).  Sebagai menantu Liem Ing Hwie, Bernie dapat bertutur banyak tentang keberadaan prasasti itu, bahkan ia tergerak untuk melestarikan prasasti yang telah terlupakan zaman itu. “Saya memang terpanggil untuk merawat prasasti itu. Ini bukan sekedar membersihkan, tapi sekaligus mengingatkan kembali tentang hubungan akrab yang pernah terjalin antara Keraton Yogyakarta dengan masyarakat Tionghoa pada masa lalu”,  demikian penuturan Bernie, (2004). Setiap dokumen maupun foto yang berkisah tentang prasasti itu, disimpan dengan rapi oleh Paul W. Suleman suaminya.

[2] Lie Ngo An adalah Ketua Masyarakat Tionghoa di Yogyakarta. 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini