Beranda Publikasi Kolom Kearifan “Raja Parhata”: Menjaga Identitas Budaya Batak

Kearifan “Raja Parhata”: Menjaga Identitas Budaya Batak

1027

Roy Martin Simamora (Penulis adalah Dosen Filsafat Pendidikan PSP ISI Yogyakarta)

Lahir dan dibesarkan di desa kelahiran saya, Parlilitan, warisan Batak selalu membenamkan saya dalam kekayaan peristiwa-peristiwa Batak. Namun, di antara sekian banyak kenangan, ada satu kenangan yang sangat menonjol dalam benak saya. Kenangan itu adalah kefasihan menawan dari seorang “raja parhata” dalam sebuah acara-acara adat di desa kami. Individu ini adalah seorang penjaga tradisi. Memegang peran penting sebagai pemimpin dan berperan dalam pelaksanaan adat istiadat.

“Raja parhata” berfungsi sebagai “suara marga” dalam hal tradisi. Tidak hanya sekadar pembicara; ia diharapkan menguasai seluk-beluk hukum adat Batak. Selain berbicara, ia juga memikul tanggung jawab untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul dari penerapan adat. Gelar “Raja Parhata” merangkum peran multifaset ini, yang diterjemahkan menjadi “Panjaha di bibir, parpustaha di tolonan”—perwujudan harfiah sebagai “pembaca di bibir dan pustakawan di tenggorokan”.

Karakterisasi itu menggarisbawahi sifat rumit dari tugas juru bicara tradisional. “Raja parhata” tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang luas tentang adat istiadat Batak, tetapi mereka juga harus menunjukkan artikulasi yang tinggi. Kemampuan mereka untuk menavigasi dan menengahi perselisihan membutuhkan pemahaman mendalam tentang harapan masyarakat dan kemahiran untuk memberikan penjelasan yang dapat menenangkan dan menjelaskan dengan baik dan bijaksana.

“Raja parhata” adalah gudang kearifan budaya yang hidup, sebuah “ensiklopedia berjalan” tentang adat istiadat, dan seorang “diplomat” yang terampil dalam seni berdialog. Perannya menuntut lebih dari sekadar kefasihan berbicara; peran ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip dasar adat, ditambah dengan kebijaksanaan untuk menerapkannya secara bijaksana.

Sebagai seorang anak yang terlahir dalam suku Batak, menyaksikan “raja parhata” beraksi dalam satu acara adat tertentu meninggalkan kesan yang tak terhapuskan bagi saya. Ini memicu apresiasi mendalam terhadap perpaduan yang rumit antara tradisi, kepemimpinan, dan kefasihan dalam budaya Batak. Acara seremonial suku Batak bukan hanya sekadar ritual; acara ini merupakan bukti nyata akan pentingnya individu-individu seperti “raja parhata” yang melalui keahlian dan artikulasinya, memainkan peran penting dalam menjunjung tinggi tatanan budaya masyarakat Batak itu sendiri.

Promosi Budaya Batak ke Generasi Muda

Dengan merefleksikan dampak mendalam dari “raja parhata” dan peran penting yang dimainkan dalam adat istiadat masyarakat dalam suku Batak, jelaslah bahwa melestarikan dan meneruskan warisan budaya ini sangat penting, terutama dalam konteks memperkenalkan budaya Batak kepada generasi muda zaman sekarang, khususnya generasi muda Batak yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Kenangan demi kenangan menyaksikan kefasihan dan kebijaksanaan “raja parhata” berfungsi sebagai pengingat akan kekayaan budaya yang tertanam dalam tradisi leluhur.

Dalam dunia yang penuh lompatan dan berubah dengan cepat saat ini, ada risiko bahwa generasi muda Batak dapat terputus dari adat istiadat yang telah mendefinisikan komunitas mereka selama beberapa generasi. Dalam lanskap kontemporer masyarakat global yang berkembang dengan cepat, muncul kekhawatiran tentang potensi terputusnya generasi muda Batak dari adat istiadat yang telah lama dijunjung tinggi dan telah menjalin jalinan komunitas mereka dari generasi ke generasi.

Seiring dengan laju perubahan yang semakin cepat ini, terdapat risiko yang nyata bahwa akar budaya yang mendalam, yang secara historis telah menjangkarkan orang Batak mungkin menghadapi tantangan dalam mempertahankan vitalitas dan resonansi dalam kehidupan generasi muda. Dinamika dunia yang terus berubah, yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan norma-norma masyarakat terus berkembang, menjadi tantangan berat bagi pelestarian tradisi yang telah lama menjadi pilar identitas Batak.

Risiko terputusnya hubungan ini sangat terasa ketika anggota masyarakat Batak yang lebih muda menavigasi arus modernitas, di mana daya tarik dari pengalaman baru dan gaya hidup alternatif dapat lebih menarik perhatian mereka. Dalam lingkungan yang dinamis ini, kekayaan akan adat istiadat, ritual-ritual, dan nilai-nilai Batak berisiko memudar perlahan. Ini berpotensi mengikis rasa kesinambungan budaya yang telah mengikat komunitas Batak selama berabad-abad lamanya.

Ketika orang-orang menavigasi arus modernitas, menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa budaya Batak yang semarak, seperti yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh seperti “raja parhata”, tidak hilang atau dikaburkan. Memperkenalkan generasi muda Batak pada adat dan tradisi melalui lensa para tokoh budaya ini dapat menjadi cara yang ampuh untuk membina hubungan dan pemahaman. Peran penting “raja parhata”—sebagai penjaga tradisi, penengah dalam perselisihan, dan gudang kearifan budaya—dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Batak. Dengan menunjukkan pentingnya pengetahuan, kefasihan, dan diplomasi budaya, kita dapat menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab kepada generasi muda untuk meneruskan warisan adat Batak.

Menyelenggarakan acara-acara yang menyoroti peran juru bicara tradisional, bahkan mungkin menciptakan juru bicara modern yang setara, yang mewujudkan semangat “raja parhata” dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Acara-acara adat ini dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan, yang memungkinkan generasi muda untuk menyaksikan dan terlibat dengan tradisi hidup yang telah membentuk komunitas Batak.

Baru-baru ini, saya menemukan sebuah video di platform media sosial yang menampilkan sekelompok siswa dari kelas VII yang sedang menjalankan peran sebagai “raja parhata” di SMP Negeri 1 Paranginan, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Dalam video itu, tampak sekumpulan siswa-siswi sedang mempraktekkan tradisi suku Batak yang sudah hampir sulit ditemukan di daerah, bahkan di perantauan. Video tersebut menunjukkan dedikasi nyata dalam melestarikan dan mewariskan warisan budaya Batak melalui partisipasi langsung generasi muda Batak. Melalui penyelenggaraan acara semacam itu, tidak hanya terjadi revitalisasi tradisi, tetapi juga diciptakan momen berharga untuk merenungkan nilai-nilai budaya yang diwarisi dari para leluhur.

Mempraktekkan kearifan “raja parhata” di sekolah adalah langkah yang luar biasa dalam memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai kekayaan budaya mereka. Hal ini tidak hanya menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang identitas budaya mereka sendiri, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka.

Maka, menjadi penting untuk secara aktif terlibat dalam strategi yang menjembatani kesenjangan generasi, membina lingkungan di mana generasi muda Batak tidak hanya menghargai tetapi juga secara aktif berpartisipasi dalam warisan budaya yang dianugerahkan kepada mereka. Inisiatif yang memadukan kearifan tradisi dengan dinamika kehidupan kontemporer dapat berfungsi sebagai saluran untuk mentransmisikan pengetahuan dan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Pendidikan, program pelibatan masyarakat, dan dialog antargenerasi dapat menjadi sarana untuk menanamkan rasa bangga dan pemahaman akan warisan budaya mereka di kalangan generasi muda Batak.

Karena lanskap global terus berevolusi tanpa henti, masyarakat Batak harus beradaptasi dan berinovasi dengan cara-cara yang melestarikan esensi adat istiadat mereka sambil memungkinkan integrasi yang harmonis dengan realitas dunia modern. Tantangannya tidak hanya terletak pada upaya menjaga aspek-aspek budaya yang berwujud, tetapi juga pada upaya memupuk apresiasi terhadap hal-hal yang tidak berwujud, yaitu kisah-kisah, kebijaksanaan, dan semangat yang telah menjiwai tradisi Batak selama berabad-abad.

Elemen Kearifan Lokal dalam Kurikulum Pendidikan

Karena itu, penting untuk memasukkan unsur-unsur kearifan lokal ke dalam kurikulum pendidikan, terutama dalam konteks Kurikulum Merdeka yang dibuat oleh pemerintah. Dalam upaya kita untuk membentuk pengalaman pendidikan yang holistik dan berlandaskan budaya bagi generasi muda, menggali kearifan lokal yang mendalam menjadi sangat penting.

Kisah kearifan lokal menjadi narasi yang menarik untuk menyoroti nuansa budaya yang unik, nilai-nilai, dan tradisi yang tertanam dalam masyarakat di berbagai daerah. Penekanan pemerintah pada Kurikulum Merdeka memberikan momen yang tepat untuk menenun benang-benang budaya ini ke dalam tatanan pendidikan, menumbuhkan rasa identitas dan kebanggaan di antara para siswa.

Dalam kasus budaya Batak, peran “raja parhata” sebagai penjaga tradisi, penengah dalam perselisihan, dan penyimpan kearifan budaya bukan hanya sebuah anekdot sejarah, tetapi juga merupakan contoh nyata dari persimpangan antara tradisi dan kepemimpinan. Mengintegrasikan narasi semacam itu ke dalam kurikulum dapat menanamkan pemahaman yang lebih dalam tentang sifat kepemimpinan yang memiliki banyak sisi dan pentingnya melestarikan warisan budaya.

Selain itu, Kurikulum Merdeka dapat berfungsi sebagai platform untuk menunjukkan aspek praktis dari kearifan lokal. Dengan memasukkan hukum dan tradisi adat tiap-tiap daerah ke dalam modul pendidikan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis tetapi juga pemahaman praktis tentang bagaimana adat istiadat ini membentuk dinamika masyarakat. Pendekatan ini menjembatani kesenjangan antara pembelajaran akademis dan penerapan di dunia nyata, sehingga memupuk perspektif yang menyeluruh pada siswa.

Ketika pemerintah sedang gencar mempromosikan Kurikulum Merdeka yang mengakui lanskap budaya bangsa yang beragam, ini menjadi katalisator untuk mendorong inklusivitas dan kepekaan budaya. Setiap daerah menyumbangkan perspektif yang unik, dan dengan memasukkan kearifan lokal, kita dapat menciptakan kerangka kerja pendidikan yang lebih komprehensif dan bernuansa yang mencerminkan keanekaragaman budaya bangsa.

Selain itu, pendekatan ini sejalan dengan tren global yang mengakui pentingnya pengetahuan asli dan kearifan lokal dalam pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman pendidikan, tetapi juga membekali siswa dengan pandangan dunia yang lebih luas dan apresiasi yang lebih dalam terhadap mozaik budaya yang mendefinisikan bangsa kita.

Pada akhirnya, mempertimbangkan penambahan unsur-unsur kearifan lokal ke dalam kurikulum pendidikan merupakan langkah yang layak dipertimbangkan. Ini merupakan upaya untuk memajukan pendidikan yang holistik, berkebudayaan, dan memerdekakan. Tindakan ini bertujuan agar siswa tidak hanya mencapai keunggulan akademis, tetapi juga mengembangkan hubungan yang erat dengan akar budaya mereka sendiri. Selain itu, hal ini dapat menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab dalam melestarikan serta memperpetuasi warisan budaya yang kaya, yang membuat setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. [NI]

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakPrasasti Jawa-Tionghoa di Keraton Yogyakarta
Artikulli tjetërMelihat Adat Budaya Meugoe di Pidie, Aceh
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini