Beranda Publikasi Kolom Melihat Adat Budaya Meugoe di Pidie, Aceh

Melihat Adat Budaya Meugoe di Pidie, Aceh

572

Muhammad Syawal Djamil (Pegiat budaya di Komunitas Beulangong Tanoh)

Memasuki bulan penghujan, September, orang Pidie sudah terlihat sibuk dengan aktivitasnya turun temurun dalam menjalani hidupnya, yakni “meugoe”. Ya bagi orang Pidie, meugoe (turun sawah) merupakan aktivitas yang, bisa dikatakan, sudah menjadi semacam ritus budaya; dilembagakan dan dibanggakan hingga sekarang. Jadi sekaya apapun ia, sehebat apapun jabatannya, turun sawah —selanjutnya akan ditulis meugoe— tetap digemari dan menjadi sesuatu bagian dari perjalannya hidupnya.

Maka itu, dalam momentum meugoe ini, jangan heran apabila kita masuk ke daerah-daerah yang di Pidie, pemandangan indah nan memanjakan mata terlihat begitu mengagumkan, di mana orang-orang terlihat baik individu dan berkelompok semuanya sibuk dengan, merapikan lahan, memberikan pupuk dan menanam.

Pidie dan meugoe memang tidak bisa dipisahkan. Hal ini karena sebagian besar masyarakat Pidie memiliki kesibukan dan kehidupan ekonominya pada sektor tersebut. Bahkan, pada logo Pidie tersemat slogan “Pangulee buet ibadat, Pang ulee hareukat meugoe”. Yang berarti, ibadah dan bertani sebagai sebaik-baiknya aktivitas hidup dan sebaik-baiknya mata pencaharian.

Ketika masa meugo tiba, khususnya ketika tiba waktu cocok tanam padi, maka pasar-pasar di Pidie yang pada hari-hari biasanya ramai menjadi sepi –dan bahkan ditutup— karena tidak ramai pembeli. Jalan-jalan di pusaran Pasar pun menjadi lebih lowong dari biasanya. Namun demikian, akan ada saatnya Pasar-pasar yang sepi itu ramai kembali, bahkan lebih ramai dari hari-hari biasanya, yakni ketika tiba dan usainya musim panen padi.

Sebagai wilayah yang masih memegang teguh adat dan budaya, Pidie memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri dalam hal cocok tanam, yang masih dijaga oleh masyarakat Pidie hingga saat ini, yakni budaya meugoe. Budaya meugoe merupakan bentuk keteraturan sosial yang mengatur cara cocok tanam di sawah, mengatur pola hubungan sesama petani di sawah, mengatur pola pengaliran dari sawah seseorang ke sawah orang lain, serta mengatur sanksi adat bagi pelanggar atau orang yang berkelahi dalam lingkungan persawahan.

Peran Keujruen Blang

Para petani di Pidie, ketika hendak meugoe maka mereka terlebih dahulu menunggu amaran atau perintah dari Keujruen Blang —sebutan untuk orang yang “dituakan” dalam bidang persawahan. Keujruen Blang merupakan orang yang sangat paham tentang duduk perkara perihal meugoe dan blang. Dengan demikian, posisi Keujruen Blang adalah posisi yang harus ditempati oleh meusoe-soe ureueng, yang dalam arti lain, tidak ditempati oleh sembarang orang.

Keujruen Blang sebelum memberi perintah (red;amaran) untuk turun sawah kepada para petani, sudah terlebih dahulu bermusyawarah dengan orang yang disebut Malem -–yang dipercaya paham akan kondisi cuaca dan memiliki insting baik untuk waktu ideal turun ke sawah.

Adalah sebuah pantangan dan dikatakan hana roih (red; pamali) bila tidak mengindahkan pola keteraturan yang sudah menjadi warisan sosial di bidang meugoe ini. Barangsiapa yang melangkahi proses keujruen blang dalam aktivitas meugoe, diyakini oleh orang Pidie akan berakibat gagal atau tidak maksimalnya hasil panen nantinya.

Setelah mendapat instruksi Keujruen Blang, baru kemudian para petani memulai aktivitas meugoe, yang diawali dengan acara peugleh lueng (pembersihan anak sungai), peutron langai (pembajakan lahan sawah), pileh bijeh (memilih benih), tabu bijeh (menabur benih) , seumula ( menanam padi), keunduri blang (keunduri blang) dan koh pade (memanen).

Menarik ketika acara peutron langai di Pidie, yang menandakan sudah dimulai dan saatnya mengolah lahan sawah. Konon, acara peutron langai ini tidak boleh dilakukan kecuali oleh Kejruen Blang yang didampingi tokoh gampong. Prosesi peutron langai dilakukan pada salah satu sawah yang biasanya kepunyaan orang yang kaya. Kenapa harus pada orang kaya? Ini karena pada masa itu orang Pidie punya pandangan, bahwa sifat dan karakter manjur atau keberuntungan dalam beraktivitas –seperti orang kaya– akan turun pada orang-orang lainnya yang mengikuti mereka.

Langai (alat olah tanah tradisional) dipeutron (diturunkan) dengan dibantu oleh hewan ternak Kerbau atau Sapi. Sapi atau kerbau ini, setelah ia menarik beberapa meter anak langai, di sawah yang sudah ditentukan tersebut maka Sapi atau kerbau akan ditepungtawari alias dipeusijuek oleh Kejruen Blang. Baru setelah itu, orang lain yang memiliki sawah di sekitarnya mulai mengolah sawah secara bersama-sama.

Orang Pidie juga memuliakan sawah-sawahnya dengan memberikan nama yang unik dan punya nilai sejarah tersendiri bagi sang pemiliknya. Misal nama sawahnya, blang rapai, blang cot lam gudham, blang lhok mata ie, dan sebagainya.

Setelah prosesi turun langai selesai, maka dilanjutkan dengan acara tumpukan dan reundam bijeh, dan selang beberapa hari kemudian dilanjutkan dengan acara tabue bijeh pada neuduek. Meski tidak serentak tapi terlihat beriringan dengan hari yang berbeda antara satu pemilik sawah yang satu dengan pemilik sawah lainnya. Dan selang 4-5 pekan kemudian barulah memasuki musim seumula (menanam).

Sama seperti biasanya, sebelum penanaman padi (seumula), para petani di Pidie terlebih dahulu melakukan proses beut bijeh atau pencabutan bibit yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita secara bergotong royong –hari ini sudah ada dan dilakukan berkelompok dan diberikan upah yang sempurna. Bibit yang sudah dicabut, kemudian diikat agar mudah diangkat dan diangkut untuk ditanam.

Membuat Peuneuphon

Menarik saat proses atau permulaan semester di Pidie. Permulaan penanaman bibit padi dilakukan dan ditandai dengan penanaman 7 (tujuh) batang bibit di sekeliling sebuah tiang bambu yang sudah dipancangkan di tengah sawah yang diawali dengan pembacaan Basmallah (Bismillah). Di Samping tiang bambu itu, sudah ada bungkusan yang disebut peneuphon yang terdiri dari on seunijuek, breuh pade, wewangian, bunga-bunga, beulukat, kapas, dan telur kampung.

Sebagian besar orang menempatkan peuneuphon tersebut pada salah satu sudut pematang sawahnya, yang memberikan batasan pada sawah orang lain. Dan proses peneuphon ini, lazimnya dilakukan oleh pemilih sawah atau bila sekarang dilakukan oleh salah satu anggota kelompok seumula yang dianggap sebagai orang paling tua, bijak, dan diikuti tindak tanduknya dalam masyarakat.

Semua barang-barang yang ada dalam bungkusan peuneuphon memiliki makna tersendiri bagi para petani, dan menjadi semacam tafaul agar padinya bagus dan mendatangkan hasil yang maksimal ketika dipanen kemudian hari.

Sekilas pola membuat peneuphon ini mirip dengan ritual orang Hindu yang memuliakan tanaman dengan sesembahan/sesajen. Namun demikian, ada perbedaannya dengan ritual orang Hindu, karena orang Pidie ketika melakukan sebagai bentuk pemuliaan tanaman yang sudah memberikan “keberlanjutan kehidupan” bagi mereka petani.

Sebagai orang Pidie, Aceh –yang juga bagian dari Indonesia, kita harus bangga punya adat meugoe yang khas rupa. Karena melalui budaya itulah identitas kita terjaga. Dewasa ini memang beberapa bagian dari adat sudah mulai lentur, namun demikian kita semua punya andil untuk melestarikannya kembali . Dan mudah-mudahan saja, masuknya modernisasi di bidang pertanian, tidak merusak tatanan masyarakat kehidupan tani kita. [NI]

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakKearifan “Raja Parhata”: Menjaga Identitas Budaya Batak
Artikulli tjetërUndangan Menulis Kolom NI
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini