Beranda Publikasi Kolom Pengaruh Shamanisme dalam Pembentukan Budaya Musik Indonesia Baratdaya

Pengaruh Shamanisme dalam Pembentukan Budaya Musik Indonesia Baratdaya

870
Sumber gambar Wikipedia

Oleh Sunarto (Pengajar Filsafat dan Musikologi pada Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang)

Peta wilayah Etnomusikologis “Southwestern Indonesia”, terbentang dari: Sumatera Selatan, Jawa, Madura, Bali, sampai Lombok (yang di-bold hitam).

Bila diamati selintas, musik tradisional di Indonesia ini sifatnya perkusif. Instrumen utamanya adalah gendang dan gong dalam berbagai ukuran. Gong lebih dominan kehadirannya di daerah paruhan Barat Indonesia, termasuk juga kepulauan Mindanao, Philipina Selatan; lebih dominan lagi di Indonesia Baratdaya (Southwestern) dengan batas-batas Barat Sumatra Selatan dan batas limur pulau Lombok, dengan daerah inti pulau Jawa dan Bali.

Ciri-ciri yang menandai wilayah tersebut yaitu; 1) persebaran genderang perunggu, disebut moko atau nekara; 2) tradisi wayang; 3) tradisi gong dengan gong pencon; 4) tradisi Pelog dan Slendro; dan 5) pemakaian modus: Pathet atau tradisi Pentatonik. Kelima ciri tersebut berakar pada Shamanisme sebagai tradisi religius rakyat Asia Tengah dan Utara kuna pra-Indik.

Tahap Evolusi Musik dan Shamanisme

Jacques Attali, seorang pakar sejarah-kebudayaan bangsa Prancis, barpendapat bahwa musik berevolusi melalui tahap: 1) ritual; 2) representasi; dan 3) pengulangan. Tahap pertama musik di Indonesia ini termasuk tahap ritual.

Ritual sebagai kata kunci, berarti: 1) tiada kritik atas komposisi musik, sebab estetika musik belum ada, atau bukan merupakan ungkapan seni menurut pikiran Barat; 2) musik itu berfungsi untuk menciptakan suasana tertentu; dan 3) definisi musik menurut tradisi Cina kuna, bahwa musik adalah seni yang mengungkapkan “Persatuan antara Sorga dan Bumi”. Definisi tersebut melahirkan konsep adhiluhung pada Gamelan Jawa.

Jaap Kunst, dalam penelitiannya tidak pernah sampai pada dugaan bahwa jauh sebelum kelahiran bahasa lokal: Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok, di wilayah Indonesia Baratdaya telah memiliki satu tradisi musik yang tunggal. Penelitiannya itu juga tidak memberikan petunjuk tentang adanya akar terdalam dari dua wilayah di Asia kuna, yaitu Asia Tengah, Timur, dan Utara, dipandang dari sudut Shamanisme, sebab Animisme, seperti yang lazim dikemukakan oleh para etnolog Belanda, tidak pernah membawa pemahaman kepada panemuan akar-akar terdalam tradisi musik Indonesia. Animisme tidak pernah membicarakan musik ritual, seperti: instrumen musik dalam upacara kematian, nyanyian dalam ritual, dan sebagainya.; sedangkan dalam Shamanisme jaga membicarakan hal-hal  musikal.

Shamanisme: Pengertian and Persebarannya ke Indonesia

Shamanisme adalah tradisi pemujaan terhadap arwah leluhur. Shamanisme dalam tradisi Asia kuna memiliki wilayah induknya di Asia Tengah dan Siberia (Asia Utara) (tentang “Shamanisme”, lihat: Sunarto, “Kuda: Simbol dalam Shamanisme”). Instrumen musik ritualnya terdiri atas: gendang, gong, dan kecrek atau cymbal; dalam melakukan upaca ritualnya itu juga dipraktekkan tari-tarian oleh Shaman (dukun). Peggy menyebutkan bahwa sebenarnya gong adalah perkembangan lanjutan dari gendang, ia merupakan instrumen pokok dalam upacara-upacara relijius.

Arus Shamanisme masuk ke Indonesia berasal dari dua wilayah: 1) Asia Tengah; 2) lembah sungai Huang Ho. Pada sekitar 2000 tahun sebelum Masehi terjadi migrasi ras Mongoloid-Melayu dari Asia Tengah dan Tenggara ke paruhan Barat Indonesia dengan batas Timur Philipina, Sulawesi ke Selatan, hingga lahirlah istilah kombinasi: ras Mongoloid Melayu-Indonesia.

Sumbangan dari Asia Tengah (Birma) dan Asiatik 

Beberapa dari Birma antara 1ain: hpa-si atau nekara dan moko, kyi-waing atau instrumen gong pencon kecil (21 buah) dalam rakitan rotan yang berbentuk setengah lingkaran yang menyebabkan lahirnya terompong dan riyong dalam orkes gong Luwang di Bali Tengah; bonang, di Jawa. Laurence E.R. Picken memberi istilah exciting rhythmic quality untuk teknik pukulan kyi-waing yang riang ria itu. Sedangkan sumbangan Asiatika, antara lain: instrumen sheng berpembuluh bambu-16 (dari Cina) yang kemudian ditransmutasikan dalam masa Kerajaan Kalingga sesudah abad ke-5 M menjadi gender, gong berpermukaan datar (gong bendi), dan tangga nada Pentatonis (Pelog dan Slendro).

Tradisi Pentatonik (lima nada) adalah tradisi Shamanisme untuk memanggil arwah. Sedangkan pusat konsentrasi Shamanisme di Indonesia yang pertama ada di Dieng. Di sana ada tempat bernama Caro yang merupakan pusat pembuatan Gamelan pertamakali di Jawa Tengah bagian Utara yang akarnya dari orkes ritual Gumlao dari Birma kuna.

Teori Peradaban Minor Jawa

Ada dua macam peradaban: peradaban mayor dan peradaban minor (PM). Peradaban mayor terdapat dikalangan orang-orang Mesir dan juga di kalangan ras Mongoloid Asiatik yang mengembangkan peradaban mereka di sekitar lembah sungai Huang Ho. Peradaban mayor lahir, berkembang, dan berpengaruh, dalam wilayah tersebut dan jangkauan pengaruhnya sangat luas. Keberadaan identitas peradaban mayor masih dapat dilacak.

PM adalah cara hidup, kepercayaan, prestasi kelompok ras yang sejak semula menerima limpahan pengaruh dari peradaban mayor. Maka bangsa-bangsa yang menerima barang pindahan itu disebut mempunyai peradaban minor, termasuk Indonesia. Keberadaan identitas PM sangat sulit dilacak.

Pada tahun 1945, seorang geografer bangsa Amerika,Ellsworth Huntington, mengetengahkan teori peradaban yang di dalamnya terdapat teori PM, yaitu:

  1. Di seluruh dunia terdapat lima PM, yaitu: PM orang-orang Maya di Meksiko dan Guatemala, PM orang-orang Khmer di Indocina, PM orang-orang Jawa kuna di pulau Jawa, PM orang-orang India Selatan, dan PM orang-orang Singhala di Srilangka;
  2. PM ini memiliki tiga ciri umum, yaitu: a) intrusif sifatnya, artinya tak dapat ditelusuri perkembangannya dari awal hingga akhir; b) asing asal-usulnya, yaitu bawaan para pendatang dari tempat lain; c) runtuh lewat proses menua.
  3. PM sebagai barang bawaan para imigran atau pendatang kuna berasal dari suatu tempat di atas garis lintang 260 beriklim sejuk yang lebih merangsang berkarya daripada iklim tropik seperti di Jawa, tempat terdapatnya warisan kuna, seperti: candi Borobudur.

Kritik atas Pendapat Huntington, Sen, dan Banawiratma

Huntington tidak mengamati dengan mendalam tradisi musik India, Mongoloid Melayu-Indonesia, dan Mongoloid Asiatik, yang mungkin ikut membangun PM Jawa sedikitnya sejak 2000 SM. Demikian pula dengan Sen dan Banawiratma. Huntington juga tidak mengerti bahwa Shamanisme yang berasal dari Siberia dan yang memiliki dua konsentrasi utama, yaitu Asia Tengah dan Utara, menyebabkan adanya anggapan seolah-olah PM Jawa hanya memiliki sebuah akar utama, yaitu tradisi peradaban anak benua India.

“Rasa”: Teori Estetika India

Dalam rangka meng-India-nisasi masyarakat Hindu kuna di Jawa pada abad ke-5, maka perlu diperkenalkan teori estetika, yang disebut: “Rasa”. Teori ini memiliki dua aspek, yaitu 1) Rasavastha; 2) Sthayi Bhava; dan 3) Vyabhicari Bhava. Rasavastha adalah keadaan transedental (tidak sadar) yang dialami oleh penikmat sajian seni. Sthayi bhava (suasana hati yang dominan yang memungkinkan sang seniman mengabstraksikan kehendak (mood) yang dipilihnya untuk kemudian menghadirkannya kepada para penikmat sajian seni itu. Vyabhicari Bhava, yaitu sasaran presentasi artistik.

Teori estetika India ini ibarat lima jari yang dipersatukan oleh sebuah telapak tangan dalam posisi telapak tangan terbuka seolah-olah menggenggam sebuah bola dengan jari-jari yang ujung-ujungnya menghadap ke atas. Kelima jari itu adalah cabang kesenian: drama, tari, musik, pahat, dan arsitektur. Rasa adalah pengikat dasar atau pemersatu.

Tradisi Musik di Indonesia Baratdaya

Beberapa petunjuk yang ada (jumlahnya 7 buah) khususnya untuk PM Jawa, sebagai berikut:

  1. Masuknya drama, tepatnya drama-tari, dari India ke Jawa;
  2. Kata-kata Aum atau Um dan Rajadhiraja, yaitu berusaha menerapkan sistem mnemonik dan ketepatan intonasi dalam pembacaan himne-himne Rig Veda;
  3. Kata bata (bhava dalam bahasa Sanskerta) yang dipakai dalam komposisi Gamelan Jawa untuk mengantar penikmat gendhing ke sasaran presentasi artistik;
  4. Ditemukannya lontar: Candrakarana yang berisi pelajaran bernyanyi;
  5. Mridangga, sebutan halus untuk karawitan sebelum Perang Dunia II, yang menjadi semacam “panji-panji” tradisi musik Hindu untuk menghindukan pola-pola ritme dalam musik ritual shamanik pra-Indik di Jawa. Kemudian mridangga ini berkembang menjadi teknik kendangan.
  6. Adanya pathet bagi modus musik Jawa. Pathet ini berasal dari istilah Hindu “patta” yang akar-akarnya berasal dari Birma dan wilayah lainnnya di Asia Tenggara kontinental dan Asia Timur. Pathet ini analog dengan raga dalam komposisi, musik India;
  7. Adanya kombangan atau dengung dalam Wayang Kulit Jawa, yang juga analog dengan kharaja dalam teori musik India, fungsinya sebagai “peda” yaitu mempertahankan tonal; dalam pementasan wayang kulit erat kaitan-nya dengan pathet.

Bangkitnya Hinduisme di Jawa

Bangkitnya Hinduisme di Jawa terjadi pada zaman Pembangunan Candi Prambanan. Pada masa Prambanan menjadi pusat budaya dari berbagai seni Jawa-Hindu. Tradisi Hindu gemar sekali akan festival seni, sehingga musik Jawa, Gamelan atau orkes Gumlao dari Birma kuna memakai mridangga dan rebab sebagai instrumen yang tepat untuk kharaja (dengung) yang menjadi satu kesatuan bagi persembahan untuk Trimurti.

Penutup

Budaya musik di Indonesia merepresentasikan percampuran dari keragaman repertoar, yang identitas individualnya melangkaui batas-batas Negara. Dasar budaya dan etnis berjumlah ratusan, masing-masing memiliki perspektif estetika berbeda dan juga sejarah musik yang berkembang secara berbeda.

Terlepas dari disparitas antara budaya-budaya individual, sebagian adalah karena lingkungan budaya dan fisiknya, tingkat, dan derajad berbeda penyerapan pengaruh dari luar yang ditambahkan pada keunikan yang diskret (memiliki ciri sendiri). Kelimpahan sangat besar bentuk-bentuk ekspresi musik telah berkembang di Indonesia, bertingkat dalam karakter dan fungsi dari ekspresi kuno, seperti dalam: Gamelan Yogyakarta dan Surakarta. Semua fenomena tersebut adalah karena limpaham tradisi Shamanisme.

 Bibliografi

Banawiratma. 1977. Yesus sang Guru: Pertemuan Kejawen. Yogyakarta : Kanisius.

Becker, Judith. (1980) Traditional Music in Modern Java: Gamelan in a Changing Society. Honolulu: University of Hawai Press.

Berger, Judith. 1980. Music in Modern Java: Gamelan in a Changing Socienty. Honolulu: The University of Hawai.

Eliade, Mircea. 1974. Shamanism: Archaic Tecniques of Ecstas. New Jersey: Princenton University Press.

Huntington, Ellsworth. 1959. Mainspring of Civilization. New York: New American Library, a Mentor Book.

Kartomi, Margaret J., R. Anderson Sutton, Endo Suanda, Sean Williams, and David Harnish. “Indonesia”. in Terry E. Miller and Sean Williams. (Ed.). (2008). The Garland Handbook of Southeast Asian Music. New York: Routledge. hlm. 334-405.

Kunst, Jaap. 1973. Music in Java: Its History, Its Theory and Its Technique. Martinus: Nijhoff, The Hague.

Malm, William P. 1967. Music Cultures of The Pasific: The Near and Asia. Englewood Cliffs, New Jersey: Pretice-Hall Inc.

Peggy A. Wright. “Rhythmic Drumming in Contemporary Shamanism and Its Relationship to Auditory Driving and Risk of Seizure Precipitation in Epileptics”.  Anthropology of Consciousness. Vol. 2. 01 October 1991., Issue 3‐4. pp: 7-14. https://doi.org/10.1525/ac.1991.2.3-4.7.

Price, Neil S. (ed.). 2001. The Archaeology of Shamanism. London and New York: Routledge.

Roth, Alec. “Indonesia”. In Denis Arnold (Ed.). 1984. The New Oxford Companion to Music Volume 1 (AJ). Oxford: Oxford University Press. pp. 924- 935.

Rouget, Gilbert. 1985. Music and Trance: A Theory of the Relations between Music and Possession. Translated from the French and revised by Brunhilde Biebuyck. Chicago: University of Chicago Press.

Soemono, R. 1985. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid I, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sunarto. “Kuda: Simbol dalam Shamanisme”. https://www.Indonesiainstitute.com/ kuda-simbol-dalam-shamanisme/

Van Ness, Edward C., and Shita Prawirohardjo. 1982. Javanese Wayang Kulit: An Introduction. Kuala Lumpur, New York: Oxford UniversityPress.

Voigt, V. (1990). “Shamanism in Siberia”. Scta Ethnographica: 26. hlm. 385-395.

Artikulli paraprakAku Dulu Ingin Jadi Dalang
Artikulli tjetërCall for Book Chapters “Perempuan dan Budaya Nusantara”
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini