Beranda Info & Event Nusantara Institute – BCA Pertahankan Budaya Nusantara dengan Dialog Budaya

Nusantara Institute – BCA Pertahankan Budaya Nusantara dengan Dialog Budaya

128
Nusantara Academic Award
Komisaris BCA Sumantri Slamet didampingi Direktur BCA Santoso, Executive Vice President CSR BCA Inge Setiawati, bersama Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby, usai menyerahkan piagam penghargaan Nusantara Academic Award 2019 di acara Dialog Budaya Nusantara & Anugerah Nusantara Academic Award di Jakarta, Rabu (19/7/19). BCA mendukung Nusantara Institute dan Nusantara Kita Foundation menggelar Dialog Budaya Nusantara dalam rangka melestarikan budaya nusantara yang beragam dan mendorong masyarakat untuk memiliki apresiasi dan penghormatan terhadap kehidupan yang multikultural.

U

paya untuk mengapresiasi dan mempertahankan keberagaman budaya nusantara terus dilakukan baik secara perorangan maupun kelembagaan. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), salah satu lembaga keuangan terdepan di Tanah Air, selalu berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan dalam rangka melestarikan budaya nusantara melalui berbagai bentuk kegiatan. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui dukungan terhadap gelaran Dialog Budaya Nusantara dan Anugerah Nusantara Award yang diadakan oleh Nusantara Institute dan Nusantara Kita Foundation di Jakarta, pada pertengahan Juli ini.

Acara dialog yang diselenggarakan pada 17 Juli itu dihadiri antara lain Komisaris BCA Sumantri Slamet, Direktur BCA Santoso bersama Pendiri dan Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby, Ketua Nusantara Kita Foundation Ida Widyastuti, didampingi oleh Executive Vice President CSR BCA Inge Setiawati dan Vice President CSR BCA Ira Bachtar. Hadir sebagai pembicara dalam Dialog Budaya Nusantara adalah Ida Rsi Wisesanatha, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, dan Romo Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno.

Direktur BCA Santoso mengatakan, pelestarian dan penghormatan terhadap kultur dan budaya yang beragam di Indonesia mutlak dibutuhkan mengingat bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan jumlah pulau sekitar 17.499, Indonesia memiliki suku, budaya, bahasa, agama, dan kepercayaan yang berbeda-beda.

“Pelestarian harus terus dilakukan agar kekayaan budaya dan kultur tersebut dapat dipelihara dan menjadi khasanah kekayaan yang memperkuat identitas budaya Indonesia di kancah internasional. Dialog kebudayaan mendorong terciptanya situasi yang kondusif agar perbedaan dan keberagaman tersebut menjadi perekat dalam membangun Indonesia secara berkelanjutan,” katanya.

Dukungan terhadap dialog kebudayaan seperti yang dilakukan BCA saat ini sebenarnya merupakan rangkaian dari komitmen yang sudah dilakukan BCA di berbagai daerah. Berbagai kegiatan dalam payung program Bakti BCA dengan konsep desa binaan telah mengangkat budaya lokal menjadi industri kreatif baru yang memberikan manfaat berkelanjutan untuk komunitas lokal di berbagai daerah tersebut.

“Sebagai bank swasta nasional, BCA memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi komunitas lokal yang kaya akan budaya dan tradisi, serta memiliki kehidupan yang multikultural. Ketahanan ekonomi melalui desa binaan BCA menjadi fondasi untuk memitigasi berbagai risiko sosial dan memperat hubungan masyarakat yang beragam tersebut,” tutup Santoso.

Executive Vice President CSR BCA Inge Setiawati menambahkan, program desa binaan melalui Bakti BCA adalah upaya membangun ketahanan nasional berbasis potensi dan budaya lokal untuk memperkuat komunitas lokal. Program tersebut dikembangkan dengan tren ekowisata yang saat ini sedang gencar dilakukan Pemerintah Indonesia.

Desa-desa wisata yang saat ini menjadi desa yang konsisten didampingi BCA, antara lain komunitas masyarakat di Goa Pindul, Desa Pentingsari, Desa Tamansari, Desa Wukirsari, Desa Gemah Sumilir, Desa Tinggan, komunitas Petani Jahe Emprit di Pemalang dan Jepara, serta desa binaan Bukit Peramun & Wisata Aik Rusa’ Berehun di Belitung.

Pada kesempatan yang sama, BCA memberikan penghargaan kepada pejuang budaya, baik akademisi maupun non-akademisi, yang secara konsisten melestarikan budaya Nusantara. Penghargaan terbagi menjadi dua kategori yakni Nusantara Academic Award dan Waskita Nusantara Award. Nusantara Academic Award adalah penghargaan untuk karya akademik hasil riset ilmiah seperti disertasi doktor dan tesis master yang membahas aneka ragam kebudayaan Nusantara.

Sedangkan Waskita Nusantara Award adalah penghargaan non-akademik untuk para pelestari budaya Nusantara. Tahun 2019 ini yang berhasil meraih Nusantara Academic Award adalah Badrus Shaleh dan Siti Mariatul Kiptiyah sedangkan untuk Waskita Nusantara Award diraih oleh Goenawan Agoeng Sambodo.

Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen dan tanggung jawab moral-intelektual sebagai anak bangsa untuk turut serta menjaga, merawat, memerjuangkan, dan melestarikan aneka ragam tradisi dan budaya Nusantara agar tetap lestari sepanjang masa.

“Kegiatan seperti ini harus terus digalakkan apalagi sekarang mulai bermunculan berbagai kelompok primordial-sektarian yang tidak lagi peduli dan bahkan antipati terhadap keragaman tradisi dan budaya Nusantara,” katanya.

Sumber: Sindonews.com