Beranda Publikasi Islam Melayu: Potret Akulturasi Islam dengan Budaya di Nusantara

Islam Melayu: Potret Akulturasi Islam dengan Budaya di Nusantara

273
0

Oleh: Zidna Afia (Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta)

Salah satu wilayah persebaran Islam di Nusantara adalah Melayu. Islam masuk ke Nusantara, termasuk Melayu melalui jalan damai, seperti perdagangan, perkawinan, pendidikan, dakwah dan tasawuf.  Dengan demikian, pengaruh Islam di Melayu sangat kuat dan dominan daripada yang lainnya. Hal tersebut pastilah mengakibatkan gesekan antara Islam dan kebudayaan lokal di wilayah tersebut. Berangkat dari situlah akulturasi budaya di Nusantara, khususnya di Melayu ini terjadi.

Akulturasi antara Islam dengan budaya lokal di Nusantara dapat dikatakan sebagai karakter dari Islam Nusantara itu sendiri. Islam mewujudkan dirinya dalam tubuh Nusantara yang telah dulu ada, misalnya akulturasi yang terjadi di Melayu.

Akulturasi budaya tersebut setidaknya dapat kita temui dalam empat hal, seperti aksara Jawi, karya sastra melayu, syair dan musik. Pertama, aksara Arab-Melayu atau aksara Jawi yang digunakan dalam penulisan tradisional masyarakat di Melayu. Aksara tersebut merupakan  kolaborasi antara aksara Arab dengan bahasa Melayu dengan beberapa penyesuaian dan tambahan huruf, seperti “ca”, “nga”, “pa”, “ga”, dan “nya”. Bentuk tempat aksaranya sama dengan aksara Arab namun ditambahkan dengan beberapa titik sebagai pembeda bunyi dan fungsinya. (Ellya Roza, 2017)

Kedua, Karya sastra. Salah satu jalur sumber ajaran Islam di Nusantara adalah dari Persia. Pengaruh persia pada bidang kesusastraan di Melayu terdapat pada beberapa naskah, yang mana naskah tertua di antaranya tidak lebih dari tahun 1600 M, yaitu setelah datangnya Islam ke Nusantara. Hasil pengaruh Persia tersebut adalah dengan adanya karya sastra dengan tulisan Jawi dan menggunakan serapan kata-kata dari Bahasa Arab.

Salah satu jenis sastra yang berkembang di Melayu adalah karya sastra sejarah. Diantara karya sastra sejarah saat kedatangan Islam seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Merong Mahawangsa dan Sejarah Melayu. Selain itu, ada pula karya sastra sejarah yang ada setelah Islam mapan sehingga tidak memuat kisah-kisah kedatangan Islam, seperti Hikayat Aceh, Misa Melayu, Hikayat Johor dan Silsilah Raja-Raja Brunei.

Islam juga membawa beberapa kisah dari berbagai negeri yang kemudian diterjemahkan ke Melayu, seperti Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Kalilah wa Dimmah, Siklus Bakhtiar dan Hikayat Puspawiraja. Sebagai sebuah karya sastra yang sebagian besar ditulis setelah datangnya Islam, di dalamnya banyak unsur-unsur Islam yang berkembang pada masa itu. Misalnya pada teks Sejarah Melayu menggambarkan situasi keislaman saat teks tersebut ditulis. Teks tersebut memberikan gambaran bahwa Islam yang berkembang di Melayu banyak dipengaruhi oleh tasawuf, yang ditandai dengan sang penulis yang memberikan gelar fakir kepada dirinya. Di dalamnya juga banyak menggunakan teks-teks Arab, seperti  firman Allah, sabda nabi dan beberapa istilah lainnya. Juga menyinggung tentang leluhur masyarakat Islam seperti Iskandar Dzulkarnain dan Nabi Sulaiman as dan kisah kerajaan-kerajaan Islam di Melayu. (Maharsi Resi, 2010)

Teks tersebut memberikan gambaran bahwa Islam yang berkembang di Melayu banyak dipengaruhi oleh tasawuf, yang ditandai dengan sang penulis yang memberikan gelar fakir kepada dirinya

Ketiga, syair. Kebudayaan Melayu sebelum datangnya Islam sudah ada syair tradisional yang terlingkupi dalam bentuk mantra-mantra. Isinya masih bersifat animisme, seperti pemujaan atas kayu, laut, sungai , hutan, gunung, hewan dan lain-lain yang dipercaya memberikan kekuatan tertentu bagi orang yang melantunkannya. Tradisi merapal mantra perlahan mendapatkan pengaruh Islam setelah kedatangannya, seperti menyertakan kalimat bismillahirrahmanirrahim atau laa ilaha illallah di dalamnya. Dan tergantikannya kedudukan hal bernuansa animistik dengan beberapa tokoh Islam seperti Nabi Muhammad, Nabi Sulaiman dan Nabi Khidir. Penggunaannya juga disesuaikan dengan ajaran Islam. Hasil perpaduan budaya tersebut seperti zikir, barzanji, marhaban, rodat, dll.

Keempat, musik. Musik Arab-Melayu semakin berkembang menjadi suatu bentuk budaya yang laris manis di tengah masyarakat. Ketika budaya Arab telah berdialektika dengan tradisi Melayu, “wajah Arab” bukan lagi identik dengan seni padang pasir, namun telah menjadi suatu budaya baru yang berbeda. Syair Melayu belakangan semakin banyak memperoleh pengaruh dan menjadi suatu seni suara yang berpadu dengan musik, seperti dangdut. Dangdut merupakan suatu produk musik yang berasal dari seni musik Melayu yang semakin lama semakin berkembang mengikuti zaman. Alat musik yang digunakannya juga hasil perpaduan dengan Islam seperti rebab, biola, gendang nobat, nafiri, serunai, gambus, ‘ud dan lain-lain. Meski perkembangannya sangan jauh, tetapi memiliki suatu identitas yang menunjukkan kaitanya dengan musik Melayu. (M. Dien Madjid, 2013)

Para pendakwah membawa Islam dengan damai dan fleksibel tanpa memaksakan budaya Arab yang notabene menjadi latar sosio-kultural lahirnya Islam

Berdasarkan pemaparan di atas, kita dapat melihat pengakulturasian Islam di dunia Melayu. Para pendakwah membawa Islam dengan damai dan fleksibel tanpa memaksakan budaya Arab yang notabene menjadi latar sosio-kultural lahirnya Islam. Terlebih, didukung keadaan masyarakat melayu yang tinggal di daerah pesisir cenderung mudah terbuka terhadap hal baru. Dari situ, Islam mencoba masuk menghiasi budaya-budaya yang telah mengakar di Melayu sehingga dapat dengan mudah diterima masyarakat.