Beranda Publikasi Kolom Menjaga Eksistensi Bahasa Daerah

Menjaga Eksistensi Bahasa Daerah

784
Ilustrasi: Rencongpos

Oleh: Roy Martin Simamora (Dosen PSP ISI Yogyakarta & alumnus National Dong Hwa University, Taiwan)

Bahasa adalah kumpulan simbol yang membentuk sistem yang digunakan untuk mengkomunikasikan budaya. Manusia belajar bahasa dari orang tua mereka. Karena itu, bahasa dan budaya tidak bisa dipisahkan. Bahasa berkembang ketika manusia mengembangkan kemampuan neurologis, kemampuan berbicara, dan sesuatu untuk dibicarakan.

Bagi saya, bahasa adalah seni—suatu cara mengekspresikan diri. Kebahagiaan saya, kekecewaan saya, kesedihan saya, frustrasi saya, kegembiraan saya. Tanpa bahasa, saya tidak akan bisa melakukan itu. Seperti budaya dan studi lain yang menarik, saya melihat bahasa sebagai sesuatu yang menarik dan tak terbatas, bukan sebagai suatu “hal statis tak bernyawa” yang tidak dapat tumbuh dan berevolusi.

Ketika berbahasa, saya merayakan keragaman dan berbagai bahasa memperkaya pemahaman saya tentang berbagai daerah dan budaya dengan banyak minat yang terus berkembang, yang tampaknya tidak terbatas. Semakin banyak bahasa saya ketahui, semakin banyak orang yang dapat saya ajak bicara. Seorang antropologis-linguis Amerika, Edward Sapir, dalam bukunya Language: An Introduction to the Study of Speech, berkata, “bahasa adalah metode yang murni manusiawi dan non-instingtif untuk mengkomunikasikan ide, emosi, dan keinginan melalui sistem simbol yang diproduksi secara sukarela” (Sapir 1921:7).

Bila menilik ke belakang, pada zaman prasejarah, manusia dalam kawanan belum mengembangkan apa yang kita sebut sebagai bahasa. Mereka berkomunikasi lewat bahasa isyarat. Bila mereka lapar, mereka hanya menunjuk perutnya dengan tangan atau menggosokkan tangan di sekitar perutnya. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan masuk ke dalam gua, mereka mengambil tombak dan mengarahkan ujung tombaknya ke gua kepada kawanan. Bila mendapat pesan berupa gerakan tangan, mereka pergi dan berburu sampai membawa pulang sesuatu yang bisa dimakan.

Beberapa pesan pada masa itu ditemukan dalam bentuk lukisan-lukisan magi di gua. Tidak ada kata-kata yang dapat digunakan seperti yang kita pahami sekarang, tetapi siapa yang tahu bagaimana mereka saling meminta kawanannya untuk mencampur lebih banyak pewarna merah atau pergi dan mencari ranting kecil atau bebatuan kecil untuk digunakan sebagai alat lukis?

Bahasa bergulir. Dari merangkai kata-kata hingga menjadi pesan yang lebih kompleks. Satu kawanan membentuk kawanan baru, berpindah dan menghuni satu wilayah. Untuk membentuk kawanan yang solid, mereka menciptakan bahasa sendiri untuk kawanannya. Budaya mendongeng kemudian mendominasi kawanan mereka. Di sekitar api unggun, kisah-kisah para leluhur dikisahkan kepada sesama kawanan dengan bahasa mereka. Bahasa terus berkembang dan berbeda-beda di setiap wilayah. Budaya terbentuk, bahasa juga ikut terbentuk dengan sendirinya. Semua orang terhubung dengan bahasa ibu mereka yang kita sebut bahasa lokal (daerah).

Di Indonesia, bahasa daerah beragam dan unik. Setiap pulau bahkan memiliki beberapa bahasa daerah sekaligus. Mungkin, ada ratusan bahasa daerah yang tersebar di Indonesia. Uniknya lagi, ketika memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, setiap orang juga memiliki banyak aksen yang sangat dipengaruhi oleh bahasa ibunya. Contoh: ketika saya di Yogyakarta, saya hampir tidak mengerti apa yang dikatakan orang di sana. Mereka kadang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Sama halnya dengan orang Papua yang kadang mencampur bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Tetapi, jika saya meminta mereka untuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang umum (bukan formal), tentu mereka dapat berbicara dengan cukup lancar.

Kehidupan Berbahasa di Tanah Batak

Bagaimana dengan kehidupan berbahasa di daerah saya? Saya lahir, dibesarkan dan dididik di Parlilitan, tanah Pakpak Klasen, Sumatera Utara. Lahir dari dua perkawinan sub-etnis: Bapak saya adalah Batak Toba, Omak saya adalah Batak Pakpak. Sedari kecil saya terbiasa menggunakan bahasa Pakpak. Dalam keluarga saya, kami biasanya lebih dominan menggunakan bahasa daerah bila berkomunikasi. Ketika berbicara dengan Omak, saya menggunakan bahasa Pakpak. Kalau dengan Bapak, kadang campursari, bahasa Indonesia dan Toba—tapi sering pakai tutur Toba, meski kadang saya tak paham di beberapa kalimat. Bisa dikatakan, Bapak saya mahir berbahasa Toba, bahasa Pakpak, juga bahasa Karo. Omak cakap berbahasa Pakpak dan Toba. Kalau Bapak berkomunikasi dengan Omak, mereka menggunakan bahasa Toba.

Tumbuh dan berkembang baik di kampung halaman, saya selalu menggunakan bahasa Pakpak. Ketika berbicara dengan teman sebaya, mendiang kakek saya dan orang-orang di kampung juga menggunakan bahasa Pakpak. Kadang-kadang, saya mencoba bahasa Toba, meskipun saya sering ditertawai perkara bahasa Toba tidak cocok dengan lidah saya. Suatu ketika, teman saya pernah berseloroh “bahasamu marambalangan”—yang berarti bahasa saya kacau.

Tapi, saya tidak enggan untuk belajar. Lingkungan yang ikut serta mempengaruhi cara berbahasa, belajar dan berpikir saya. Kalau dipelajari dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya. Saya mulai belajar bahasa Toba ketika duduk di bangku SMA ke perguruan tinggi hingga sampai sekarang saya masih bangga bertutur Batak, meski belum terlalu fasih. Kuncinya: mempertinggi keingintahuan untuk belajar bahasa daerah—terutama bahasa daerah sendiri.

Ketika jauh di perantauan, saya ingat betul dengan identitas saya. Marga dan bahasa adalah identitas yang tidak bisa saya hilangkan dalam diri saya. Ia mengalir dalam darah saya. Satu hal yang membikin saya bangga adalah ketika bertemu sesama “halak hita” (baca: Orang Batak) yang sedang menempuh studi atau bekerja di perantauan. Bisa dibilang “mangkuling mudar” atau dalam artian “darah yang berbicara.” Ini merujuk kepada keterikatan batin yang kuat antar sesama orang Batak. Bila bertemu dengan orang baru, berjabat tangan dan umumnya, orang Batak “marsipatandaan” atau memperkenalkan diri dengan menyebut marga dan mencari tutur yang pas. Kalau sudah begitu, tanpa muluk-muluk bercakap-cakap dengan bahasa Batak.

Sependek pengamatan saya, banyak anak muda di komunitas saya yang tidak berbicara bahasa orang tua atau nenek moyang mereka cukup malu untuk mempelajari bahasa leluhur mereka. Mereka hidup di “dunia lain,” alam remaja, sporadis dan prioritas mereka berbeda dengan prioritas orang tua mereka. Saat ini, mereka semua tumbuh dengan keluarga mereka sendiri, dan beberapa dari mereka mengenang masa lalu dan beberapa berharap mereka telah mempelajari bahasa leluhur mereka, bukan karena mereka ingin tahu lebih banyak tentang budaya mereka dan tentang dari mana mereka berasal. Mereka tahu bahwa mereka telah mendengar kisah-kisah luar biasa yang diturunkan dari para tetua kampung, kisah-kisah hebat generasi berikutnya, bagaimana pun, tidak tertarik untuk mempelajari atau mewariskan kisah-kisah ini karena berpikir “masa lalu tidak dapat membantu saya saat ini.”

Ketika kakek saya meninggal beberapa tahun yang lalu, pengetahuan yang dia miliki pun berlalu bersamanya. Cerita para tetua di kampung halaman meskipun didokumentasikan secara tertulis dan direkam berupa audio/audiovisual, tidak seperti daya tarik sekarang, dan beberapa orang yang sedang tertarik pengetahuan ini adalah “orang luar,” bukan dari masyarakat setempat dan “orang luar” tidak berhubungan sama sekali dengan kebudayaan masyarakat setempat. Dari mereka yang berasal dari komunitas, mereka memiliki prioritas yang berbeda, namun hidup aman karena mengetahui bahwa “orang luar” akan mengurus artefak-artefak peninggalan nenek moyang mereka dan meneliti bahasa mereka. Makanya, ada banyak fakta sejarah yang belum jelas kebenarannya.

Kematian Bahasa Daerah

Yang memprihatinkan adalah kematian bahasa daerah tersebar luas disebabkan oleh bahasa asing dan sekarang mengambil alih semua bahasa lain karena orang-orang di seluruh dunia merasa mudah untuk berkomunikasi dalam satu atau dua bahasa internasional. Dengan globalisasi, tingkat kepunahan bahasa daerah terus meningkat secara mengkhawatirkan dan kemungkinan akan terus meningkat di masa depan.

Berdasarkan amatan saya, ada dua alasan bahasa daerah bisa mati atau hampir mati. Alasan pertama: tidak ada lagi penutur asli. Ini terjadi ketika bahasa dari budaya yang mendominasi menjadi menguntungkan secara ekonomi dan sosial, dan generasi yang lebih baru mulai semakin banyak berbicara bahasa asing. David Crystal, dalam bukunya Language Death, mengatakan “dalam hampir semua kasus ketika suatu bahasa mati, tidak ada kemungkinan terjadinya resusitasi.”

Alasan kedua, generasi yang akan datang tidak mempelajarinya dan kemudian menggantinya dengan bahasa asing. Seperti contoh: Bahasa Batak menghadapi krisis di mana orang-orang yang berbahasa Batak pindah dari satu daerah ke daerah lain, terpengaruh bahasa orang lain, dan sedikit demi sedikit bahasa Batak menjadi semakin jarang digunakan di kalangan orang Batak hingga ke generasi berikutnya. Bisa dipastikan ada banyak generasi muda Batak yang lahir di perantauan tidak bisa berbahasa Batak sebab tidak diajarkan oleh orangtua mereka.

Apa yang terjadi bila suatu daerah kehilangan bahasa?

Kita mungkin akan kehilangan kemampuan untuk memahami sepenuhnya seluk-beluk masyarakat, identitas kita sendiri, silsilah marga, bukan hanya organisasi marganya, tetapi bagaimana dan mengapa ia berevolusi dengan cara tertentu, bagaimana dan mengapa orang membangun dan kemudian menerima untuk hidup dalam organisasi marga tertentu itu. Padahal, fungsi utama organisasi marga bukan hanya sekadar kumpul-kumpul belaka, tetapi lebih dari itu: sebagai tempat untuk memperkenalkan budaya dan bahasa daerahnya.

Bahasa pribumi lebih sering dirusak melalui rasa malu, merendahkan dan “folklorization.” Bahasa kehilangan pamornya di antara penuturnya sendiri, terutama generasi muda. Seperti contoh: saya menaruh simpati kepada beberapa kawan yang lahir dan besar di tanah rantau dan tidak paham bertutur Batak, tapi mau belajar bahasa daerahnya sendiri. Mereka tidak malu “marhata Batak.” Sekarang kembali pada generasi muda Batak, kapan lagi kita bisa memperkenalkan budaya Batak kepada garis keturunan berikutnya kelak? Jangan sampai bahasa leluhur, marga yang melekat pada diri kita, dan identitas kebanggaan kita luntur dimakan zaman yang penuh dengan lompatan zaman, kompleks, tak terprediksi dan modern ini.

Tidak hanya kepada orang Batak, pengamatan ini juga secara khusus menjadi pengingat untuk daerah lain ihwal eksistensi bahasa daerahnya. Bagaimana kalau dua puluh tahun ke depan bahasa daerah dari masing-masing wilayah di Nusantara mulai menghilang? Bagaimana nasib bahasa daerah bila generasi muda dari desa yang bermigrasi ke kota? Bagaimana jika mereka berhenti kembali dan membawa anak-anak mereka untuk tinggal di desa dan berbicara dalam bahasa asli? Seberapa besar kemungkinannya, dapatkah kita membayangkan?

Desa perlahan-lahan akan bertambah tua dan tua, sampai tidak ada lagi penutur baru yang lahir dan menerima warisan bahasa dan budaya yang dibawanya, dan bahasa itu akan segera mati. Bukankah bahasa hidup karena penuturnya, dan terpenting bahasa itu tetap hidup dalam komunitas penuturnya. Tanpa “komunitas tutur” yang kuat, jumlah penutur berkurang, dan bahasa daerah akhirnya mati dengan penutur asli terakhir.

Lantas, bagaimana agar bahasa daerah tetap hidup dalam komunitas sosial kita, meskipun generasi muda bermigrasi ke daerah lain?

Bisa dilakukan lewat mengisahkan cerita rakyat, lagu, lelucon, cerita, sajak, peribahasa yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Walaupun, meneruskan tradisi semacam ini membutuhkan dedikasi dan upaya-upaya yang dilakukan secara sadar oleh beberapa orang, baik penutur asli, ahli bahasa, pengajar dan orang-orang yang memiliki minat memperkenalkan bahasa daerahnya. Mereka memiliki tanggung jawab mendesak untuk “masuk ke sana” dan melakukan sesuatu. Untuk mencapai semua itu, membutuhkan proses yang tidak sebentar dan upaya pengajaran yang memadai di dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat itu sendiri. [NI]

Artikel sebelumyaSemangat Kebangsaan Islam Nusantara
Artikel berikutnyaSejarah Majapahit: Struktur Pemerintahan & Pembagian Area Kerajaan
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here