Beranda Publikasi Kolom Menggagas Wisata Spiritual Lokal Lintas Agama

Menggagas Wisata Spiritual Lokal Lintas Agama

122
Foto courtesy: Media Indonesia

Oleh: Sumanto Al Qurtuby (Pendiri Nusantara Institute)

Sejak beberapa tahun terakhir ini, seiring dengan maraknya gairah keislaman umat Islam di Indonesia, aktivitas “wisata rohani” atau “wisata religi” pun ikut-ikutan marak. Bisnis umroh pun, baik yang umroh biasa maupun “umroh plus,” laris-manis. “Umroh plus” itu adalah paket perjalanan umroh plus turisme alias “ngelencer” ke sejumlah negara.

Dengan kata lain, selain ke Makah dan Madinah untuk menjalankan ibadah umroh dan ziarah makam Nabi Muhammad dan Masjid Nabawi, mereka juga berwisata ke negara-negara lain seperti Mesir, Yordania, Turki, dlsb tergantung bujet. Meskipun ada sejumlah perusahaan travel spesialis di bidang keumrohan yang tersandung masalah mega korupsi sehingga membuat para pemiliknya berurusan dengan aparat penegak hukum, bisnis umroh tetap marak.

Sampai di pelosok-pelosok desa, banyak warga yang kepincut dengan “paket umroh” yang ditawarkan oleh sejumlah biro umroh atau agen travel. Para agen ini gigih mencari orang-orang yang dipandang mampu di kampung-kampung untuk “dirayu” supaya bersedia ikut program umroh, baik yang plus maupun bukan. Bahkan ada yang menggunakan cara menarik.

Misalnya, jika ada yang berhasil mencari sekian orang untuk medaftar umroh, maka yang bersangkutan bisa mendapat bonus gratis umroh. Ini yang membuat mereka berlomba-lomba mencari mangsa. Ada lagi yang menggunakan cara atau taktik “memajang” para seleb agar semakin menarik minat orang untuk ikut wisata umroh yang mereka tawarkan.

Bukan hanya umroh saja. Para agen ini juga menggalang wisata religi di Indonesia untuk ziarah ke makam-makam Walisongo atau para tokoh politik (raja, sultan, bangsawan, dlsb) dan ulama Islam terkemuka tempo doeloe terutama mereka yang berafiliasi ke Kerajaan Demak Bintara, Giri Kedaton, Kesultanan Pajang, Mataram, Cirebon, Banten, dlsb.

Bukan hanya umat Islam saja. Umat Kristen juga cukup marak berwisata rohani ke Israel, Yarusalem, Yordania dan tempat-tempat lain untuk “napak tilas” jejak kekristenan awal di Timur Tengah.

Tentu saja tidak ada salahnya berwisata religi model seperti ini. Setiap umat agama berhak untuk mengekspresikan identitas keagamaannya melalui aktivitas “wisata rohani” ini.

Wisata Spirital Lintas Agama

Selain aktivitas “wisata religi” yang sudah ada, akan sangat menarik jika diadakan semacam wisata spiritual lintas agama. Selama ini, wisata religi bersifat eksklusif: hanya untuk kalangan sendiri dan mengunjungi situs-situs yang mereka anggap “properti agama” mereka. Maka, umat Islam hanya berwisata religi dengan sesama umat Islam serta mengunjungi situs sejarah yang dianggap berkaitan dengan Islam atau makam-makam para tokoh Muslim. Begitu pula umat Kristen.

Seperti namanya, wisata spiritual lintas agama ini bersifat terbuka atau inklusif dengan melibatkan berbagai kelompok atau umat agama. Dalam bingkai spirit kemajemukan, kebangsaan dan keindonesiaan, saya melihat aktivitas bersama ini sangat positif dan akan berdampak positif.

Kegiatan ini bisa mencairkan ketegangan, meminimalisir kecurigaan, dan mengurangi kesalahpahaman antarumat agama. Aktivitas spiritual ini juga bisa menjadi ajang pembelajaran antarumat agama sekaligus menambah wawasan dan pengetahuan tentang keagamaan masa lalu (tokoh atau situs sejarah).

Nilai signifikan dari wisata spiritual model ini bukan hanya terletak pada situs-situs yang dikunjungi saja tetapi juga “semangat kebersamaan” yang melintas batas agama itu sendiri.

Dalam praktiknya nanti, kelompok wisata lintas agama ini mengunjungi aneka ragam situs agama bersejarah (masjid, gereja, pura, wihara, kelenteng, dlsb) yang selama ini diklaim milik kelompok agama tertentu. Bukan hanya situs agama-agama besar (atau “world religions” menurut Peter L. Berger) saja. Mereka juga bisa bersama-sama mengunjungi tempat-tempat ibadah para pemeluk agama/kepercayaan lokal yang cukup banyak jumlahnya di Indonesia.

Mereka juga bisa mengunjungi makam-makam para tokoh agama dan alim-ulama masa lampau atau masa kini, misalnya para anggota Walisongo, misionaris Kristen, atau para “brahmana”. Makam-makam para tokoh agama pluralis era kontemporer juga bisa menjadi target ziarah spiritual, misalnya makam Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) di Jombang atau Romo Mangunwijaya di Yogyakarta.

Situs-situs seperti tempat ibadah, petilasan, atau makam historis di Indonesia banyak sekali jumlahnya sehingga tak perlu repot-repot wisata ke Luar Negeri.

Signifikansi dan Alasan Mendasar

Wisata spiritual lintas agama ini sangat penting untuk digalakkan karena sejumlah alasan fundamental berikut ini.

Pertama, iklim keagamaan di Indonesia yang cenderung “in group”, tertutup, eksklusif dan narrow-minded dalam beragama dan memahami teks, simbol, tradisi, dan diskursus keagamaan. Maka, wisata spiritual yang bersifat terbuka, inklusif, dan open-minded ini diharapkan bisa membuka wawasan dan kesadaran umat beragama tentang pentingnya kebersamaan dan saling memahami keunikan tradisi agama dan menghargai kekayaan masing-masing ajaran agama.

Kedua, wisata spiritual yang bersifat “lokal Nusantara” ini juga bisa memulihkan atau membangkitkan spirit dan nilai-nilai kebangsaan dan ke-Nusantara-an yang agak mengendur belakangan ini akibat serbuan gelombang modernisasi, globalisasi maupun dari ormas-ormas Islam impor, kelompok syar’i, Islamis, dan khilafah yang kurang menghargai keindonesiaan, nasionalime, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur Nusantara.

Ketiga, merosotnya spirit toleransi dan pluralisme agama juga menjadikan wisata spiritual lintas agama ini semakin signifikan dan menemukan momentumnya. Pluralisme agama adalah sebuah filosofi dan pendekatan yang berbasis pada pentingnya merayakan kebebasan beragama, kemerdekaan berekspresi dalam menjalankan ritual keagamaan, dan menjunjung tinggi keragaman agama.

Dalam bingkai pluralisme agama ini, tidak ada mayoritas-minoritas atau superior-inferior. Semua agama diperlakukan sama karena dianggap memiliki derajat dan kualitas yang sama di hadapan Sang Pencipta, meskipun boleh-boleh saja masing-masing umat agama mengklaim agamanya sebagai yang paling sahih, valid, dan legitimate di mata Tuhan yang mereka imajinasikan.

*Keterangan: tulisan ini semula diterbitkan oleh Deutsche Welle.

Artikulli paraprakNI Webinar Series #10-Hubungan Kristen-Muslim di Papua
Artikulli tjetërSistem Kepercayaan dan Kesenian di Bali
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini