Beranda Publikasi Kolom Masyarakat Baduy: Dari Wisata Menjadi Saba

Masyarakat Baduy: Dari Wisata Menjadi Saba

945

Oleh: Akhmad Idris (Pengajar Bahasa Indonesia di STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya)

Pada pertengahan tahun 2020, Indonesia dibuat heboh dengan edaran sepucuk surat permohonan kepada Presiden untuk menghapus desa adat Baduy sebagai bagian dari destinasi wisata. Surat tersebut mengatasnamakan perwakilan dari Lembaga Adat Baduy yang meliputi Heru Nugoroho sebagai pegiat internet, Henri Nurcahyo sebagai pegiat seni & budaya, Anton Nugroho sebagai pegiat sosial & lingkungan, serta Fajar Yugaswara sebagai pegiat seni.

Alasan permohonan tersebut (kurang lebih) disebabkan oleh faktor kelestarian dan kepatuhan. Banyak wisatawan yang datang hanya untuk meninggalkan tumpukan sampah serta kunjungan yang dilakukan hanya untuk melanggar pantangan (mempublikasikan foto maupun video suku Baduy, padahal pantangan ini sudah dijelaskan sejak awal berkunjung).

Masalah surat permohonan ini menjadi perbincangan hangat yang dapat memicu polemik di tengah masyarakat, namun beruntung Jaro Saija, Kepala Desa Kanekes melalui wawancara Zaenudin[1] (2020) segera mengklarifikasi kabar tersebut. Jaro Saija menuturkan dengan jelas bahwa permohonan tersebut adalah kabar hoaks. Kendati menolak kebenaran surat permohonan tersebut, Jaro Saija tak menampik ihwal keresahannya terhadap sebutan ‘wisata’ untuk suku Baduy. Rasa resah inilah yang membuat Jaro Saija lebih nyaman dengan sebutan ‘saba’ yang berarti merekatkan hubungan atau bersilaturahmi.

Memangnya apa yang membuat masyarakat Baduy menarik untuk dijadikan destinasi wisata? Lalu apa pula yang membuatnya diubah menjadi saba budaya Baduy? Pada akhirnya, pesan kebijaksanaan apa yang dapat direnungi dari budaya masyarakat Baduy yang terus dijaga hingga saat ini?

Mengapa Suku Baduy Menarik Sebagai Destinasi Wisata

Yoeti Oka. A[2] (2002) mengungkapkan bahwa hal utama yang membuat sebuah daerah layak dikembangkan sebagai destinasi wisata adalah daya tarik yang bisa berbentuk keindahan alamnya, tata cara hidup masyarakatnya, upacara keagamaan, maupun kandungan nilai sejarah di dalamnya. Semua daya tarik ini memang dimiliki oleh kampung adat masyarakat Baduy atau yang biasa disebut dengan nama Urang Kanekes.

Kampung yang berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini memiliki bentang alam yang indah dan masih alami karena pola hidup masyarakatnya yang terus mempertahankan nilai-nilai kelestarian alam. Ditambah lagi, masyarakat Baduy juga rutin mengadakan tradisi tahunan yang bernama Seba.

Beberapa hal inilah yang membuat masyarakat Baduy memiliki daya tarik untuk memikat masyarakat luas (bahkan hingga ke taraf Internasional) sebagaimana kehidupan suku Amish di Amerika serikat, suku Inca di Manchu Pichu Peru, hingga suku Aborigin di Australia.

Sementara dalam perkembangan bidang ilmu pengetahuan, kehidupan masyarakat Baduy menarik sekaligus asyik untuk penelitian di bidang Antropologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya yang masih berkaitan. Seperti yang telah diketahui oleh masyarakat umum, masyarakat Baduy (terlebih Baduy Dalam) adalah sekelompok orang yang tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal di tengah-tengah kemajuan teknologi yang telah sampai di era disrupsi seperti saat ini.

Masyarakat Baduy hidup dengan sederhana di pedalaman Kabupaten Lebak dengan memanfaatkan kekayaan alam seperlunya, tidak mengeksploitasi dengan membabi buta. Oleh sebab itu, kehidupan masyarakat Baduy selalu menarik minat masyarakat luar untuk memasukkan kampung adat masyarakat Baduy ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi.

Pergantian Wisata Budaya Menjadi Saba Budaya

Karena dianggap dapat lebih mudah dilestarikan jika banyak masyarakat yang berkunjung, pada akhir dekade 1980-an[3] kampung adat masyarakat Baduy dibuka sebagai destinasi wisata. Sebutan ‘wisata’ terus digunakan hingga muncul Perdes Suku Baduy Nomor 1 tahun 2007 yang mengganti konsep ‘wisata’ menjadi ‘saba’.

Arti saba menurut Rena Yulia[4] (2020) adalah mengunjungi. Lebih jauh lagi Rena Yulia menjelaskan bahwa dalam saba, baik yang berkunjung (nyaba) dan yang dikunjungi (disaba) sama-sama berperan sebagai subjek. Artinya, siapapun yang berkunjung ke kampung adat masyarakat Baduy harus menghargai masyarakat Baduy dengan cara mematuhi adat istiadat yang berlaku di sana. Hasilnya adalah saba dapat menciptakan interaksi antara sesama subjek, bukan memposisikan masyarakat Baduy sebagai objek.

Sayangnya Perdes tersebut dirasa kurang efektif dalam mengatur sikap para pengunjung yang datang ke kampung adat masyarakat Baduy. Hal ini dibuktikan dengan ancaman terhadap kelestarian lingkungan seperti pencemaran sampah plastik hingga ancaman terhadap kesakralan adat istiadat seperti ketakpatuhan pengunjung pada peraturan[5].

Akhirnya pada tanggal 18 Juli 2020 para pemangku adat desa Kanekes melakukan Musyawarah Lembaga Adat dengan hasil keputusan yang berupa menggunakan konsep saba budaya di setiap kegiatan wisata di kampung adat masyarakat Baduy[6]. Pada dasarnya penggantian kata ‘wisata’ menjadi ‘saba’ tidak bermaksud untuk menolak kunjungan dari masyarakat luar, karena adat yang berlaku dalam masyarakat Baduy adalah menerima pendatang sebagai tamu.

Hanya saja kunjungan yang dilakukan harus selayaknya seorang tamu yang tetap menghormati kebiasaan tuan rumah, tidak malah melanggar atau menentang kebiasaan tersebut. Selain itu, kunjungan sebagai tamu harus mengedepankan aspek silaturahmi daripada sekadar memenuhi hasrat kepentingan pribadi.

Karena Budaya Baduy Lebih Dari Tontonan: Sebagai Tuntunan untuk Kehidupan

Beberapa contoh di antara budaya masyarakat Baduy yang sudah seyogianya tidak hanya menjadi tontonan (namun juga menjadi tuntunan dalam kehidupan) adalah keseragaman bentuk rumah adat. Selain menyajikan panorama susunan rumah adat yang rapi, bentuk rumah adat masyarakat Baduy merupakan simbol ketiadaan kesenjangan status sosial antarmasyarakat dari bentuk rumahnya.

Budaya lainnya yang perlu direnungi oleh pengunjung adalah kesederhanaan yang membawa pada hidup bahagia, hemat, dan sehat. Masyarakat Baduy Dalam tidak berkenan memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai wujud kontribusi menjaga kelestarian lingkungan dan budaya nenek moyang. Oleh sebab itu, masyarakat Baduy Dalam terhindar dari dampak negatif kecanduan teknologi.

Hal ini membuat masyarakat Baduy Dalam dapat menikmati momen hangat saat berkumpul dan berbincang dengan keluarga ketika malam tiba. Sementara kebiasaan berjalan kaki masyarakat Baduy Dalam untuk menempuh perjalanan (sejauh apapun) akan berdampak pada kesehatan tubuh sekaligus stabilitas pengeluaran karena tidak dialokasikan untuk membeli sekaligus merawat kendaraan bermesin seperti mobil maupun motor.

Budaya lainnya lagi yang tidak boleh ketinggalan adalah kearifannya dalam bertani. Dilansir dari akun resmi media sosial Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lebak, masyarakat Baduy selalu bertani dengan mekanisme yang ramah dengan alam; sesama; dan masa depan sejak dulu. Konsep ladang berpindah yang dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Baduy akan memberikan kesempatan pada tanah yang ditinggalkan (pernah digarap) untuk mengembalikan kesuburannya (agar bisa digarap lagi).

Adat masyarakat Baduy yang berupa memperlakukan alam dengan baik akan menghindarkan mereka dari ancaman rawan pangan. Hal unik lainnya yang dilakukan masyarakat Baduy dalam menjalin hubungan baik dengan alam adalah memberikan jatah tanaman pada hama di pojok ladang.

Kebiasaan ini dilakukan untuk menghindarkan ladang utama dari gangguan hama. Saking arifnya masyarakat Baduy dalam bertani, hasil panen pun diperlakukan selayaknya darmabakti yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Tidak boleh ada butiran padi yang tercecer satu pun tanpa dipungut dengan tekun. Sikap tekun inilah yang menjadi satu di antara faktor keberhasilan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya.

Akhir kata, budaya masyarakat Baduy tercipta bukan sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi tuntunan dalam menggapai kebijaksanaan.

________

[1] https://tirto.id/desa-baduy-wilayah-adat-yang-dipaksa-jadi-objek-wisata-fSzE

[2] dalam bukunya yang berjudul Pemasaran Wisata Melestarikan Budaya yang Nyaris Punah. Bandung: Angkasa.

[3] https://tirto.id/desa-baduy-wilayah-adat-yang-dipaksa-jadi-objek-wisata-fSzE

[4] https://koranbernas.id/baduy-destinasi-wisata-atau-saba-budaya

[5] Waluya, Bagja dkk. (2021). Kajian Nilai-Nilai Saba Budaya Baduy sebagai Modal Sosial untuk Menjaga Lingkungan dari Ancaman Kerusakan Akibat Pariwisata. Jurnal Sosietas. https://ejournal.upi.edu/index.php/sosietas/article/download/41617/17599

[6] https://www.beritasatu.com/nasional/657131/lembaga-adat-minta-istilah-wisata-diganti-dengan-saba-budaya-baduy

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakNI Webinar Series 16-Belajar Mengelola Keragaman Agama dari Jepara dan Pati
Artikulli tjetërMenjalin Relasi dan Memupuk Etika dalam Keramaian
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini