Beranda Publikasi Kolom Kanjuruhan, Kerajaan Pertama di Jawa Timur

Kanjuruhan, Kerajaan Pertama di Jawa Timur

5766
ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/

Oleh: Risa Herdahita Putri (Alumnus Arkeologi FIB UGM, Kolomnis di historia.id)

Ada seorang raja bijaksana dan berkuasa, namanya Dewasimha. Di bawah lindungannya api putikeswara yang menyebarkan sinar di sekelilingnya. Juga Limwa, putranya, yang bernama Gajayana, melindungi manusia bagaikan anaknya, ketika ayahnya marak ke langit.

Limwa melahirkan anak perempuan, namanya Uttejana. Dia adalah permaisuri raja Pradaputra. Dia juga ibu A-nana yang bijaksana, cucu Gajayana, orang yang selalu berbuat baik terhadap kaum brahma, dan pemuja Agastya, tuan yang dilahirkan dari tempayan.

Demikianlah sebagian informasi dalam Prasasti Dinoyo yang beratrikh 682 Saka (760 M). Prasasti ini ditemukan terbelah menjadi tiga bagian. Bagian tengah yang terbesar ditemukan di Desa Dinoyo, Malang. Sedangkan bagian atas dan bawah ditemukan di Desa Merjosari dan Dusun Kejuron, Desa Karangbesuki, Malang.

“Sejauh telah ditemukan, Prasasti Dinoyo adalah prasasti tertua di wilayah Jawa Timur,” ujar Dwi Cahyono, dosen sejarah di Universitas Negeri Malang.

Dari prasasti itu dapat diketahui kalau di wilayah Malang sekarang pernah berdiri Kerajaan Kanjuruhan. Secara khusus, prasasti ini memberitakan kalau Gajayana melihat arca Agastya yang dibuat nenek moyangnya telah lapuk karena terbuat dari kayu cendana. Gajayana menggantinya dengan batu hitam yang lebih elok.

“Sampai sekarang belum banyak yang tahu kalau di Jawa Timur ada kerajaan tua, tahunya sudah masa Sindok, Airlangga, lalu Singhasari, dan Majapahit,” lanjut Dwi.

Melihat angka tahunnya berarti Kerajaan Kanjuruhan berkembang semasa dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti Kerajaan Tarumanegara di Jawa bagian barat, Kalingga dan Mataram Kuno di Jawa bagian tengah. Dengan begitu, Kanjuruhan menjadi kerajaan pertama yang memulai era kemonarkian di Jawa Timur sekarang.

Menurut Dwi, sistem pemerintahan kerajaan di Kanjuruhan mungkin dimulai dari pemerintahan Raja Dewa Simha, ayah Gajayana. Pasalnya dialah yang disebut paling awal di antara tiga deret penguasa dalam prasasti.

“Dialah penguasa pertama di Jawa Timur yang menjadi pemangku budaya Hindu sekaligus pemimpin kerajaan yang bercorak India,” kata Dwi.

Dalam Kaladesa, arkeolog Agus Aris Munandar menyebut berhubung sumber tentang Kerajaan Kanjuruhan sangat terbatas, hanya Prasasti Dinoyo, kajian tentangnya pun belum ada mendalam. Nama Kanjuruhan sendiri disinyalir kemudian berubah menjadi Dusun Kejuron, tak jauh dari Dinoyo, di tepi Kali Metro. Di dusun itu sampai sekarang berdiri candi Hindu.

Candi itu, menurut Agus, memiliki ciri arsitektur abad ke-8 M. Relung-relungnya sudah tak berarca yang mungkin dulunya berisi arca Nandiswara dan Mahakala (di kanan-kiri pintu), Durga Mahisasuramardini (relung di dinding utara sekarang masih ada), Ganesa (relung belakang), dan Rsi Agastya (relung selatan). Di dalam bilik candi masih terdapat lingga-yoni.

“Dengan ciri arsitektur tuanya dapat dinyatakan bahwa Candi Badut, berkaitan dengan Prasasti Dinoyo yang ditemukan di kawasan yang tidak terlalu jauh dari candi itu,” jelas Agus.

Selain Candi Badut, ada pula reruntuhan bangunan kuno. Penduduk setempat menyebutnya Candi Besuki dan Candi Urung. Namun, Candi Besuki hanya tinggal pecahan bata besar yang berserakan di tepi lahan garapan penduduk.

Tak lama bertahan

Sulit mengetahui perkembangan Kerajaan Kanjuruhan karena hanya berdasarkan satu prasasti. Namun, Agus menduga sangat mungkin Kanjuruhan bertahan selama satu abad kemudian. Rajanya tak lagi mengeluarkan prasasti karena wilayahnya sudah menjadi bagian dari Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah sekarang. Kanjuruhan pun diperintah oleh penguasa daerah yang mungkin dianggap sebagai raja bawahan bergelar rakryan kanuruhan.

Gelar ini pertama kali muncul dalam Prasasti Raja Watukura Dyah Balitung (898-910 M). Kedudukannya menjadi amat penting pada zaman Dharmmawangsa Airlangga dan masa Kadiri (Abad ke-12 M).

Jabatan itu mulai nampak dalam hierarki pemerintahan pusat sejak masa Mpu Sindok. Pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Airlangga, ia merupakan pejabat terpenting sesudah para putra raja. Keadaan itu terus berlangsung sepanjang masa Kadiri. Ia pun yang utama di antara para tanda rakryan ring pakirakiran.

Sementara pada masa Majapahit, ia tetap anggota kelompok yang sama tapi bukan yang terpenting. Pada masa ini yang terpenting adalah rakryan mapatih. Sebutan kanuruhan tak lagi muncul pada abad ke-15.

Kata kanuruhan muncul dalam beberapa candi perwara di Kompleks Candi Prambanan. Kompleks percandian ini selesai dibangun pada abad ke-9 M. “Hal itu dapat ditafsirkan bahwa sekira 856 M, wilayah Kanjuruhan telah berpartisipasi dalam pembangunan tempat suci terbesar bagi umat Hindu Siwa itu,” jelas Agus.

Pejabat bergelar rakryan kanuruhan hingga kini hanya dijumpai dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Jawa Timur. Misalnya, Prasasti Balinawan (891 M), Prasasti Kubu-kubu (905 M), Prasasti Sugih Manek (915 M), dan Prasasti Sanguran (928 M).

Menurut Agus masa surut Kanjuruhan mungkin bersamaan dengan berkembangnya Mataram Kuno. Kanjuruhan kemungkinan ditaklukkan Rakai Watukura Dyah Balitung. Pasalnya dari masa raja ini muncul Prasasti Kubu-kubu (827 Saka/905 M) yang menyebut pada masa pemerintahannya terjadi penyerangan ke Banten. Agus menafsirkan Banten sebagai daerah di Jawa Timur dan berkaitan dengan Kerajaan Kanjuruhan.

Meski umurnya tak panjang, menurut Dwi, sudah cukup alasan untuk menyatakan Kanjuruhan adalah peletak dasar sekaligus pembentuk sistem sosial-budaya yang teratur di Malang Raya. Lebih jauh lagi, kerajaan dan watak Kanjuruhan merupakan modal bagi pembangunan pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari hingga pusat negara vasal Majapahit.

“Kehadiran Kerajaan Kanjuruhan menjadi pemicu bagi lahirnya areal perkotaan di lembah Metro dan Brantas, yang dalam lintas masa menjadi sentra pemerintahan dan peradaban,” kata Dwi.[]

Artikel sebelumyaAksara Jawa, Sebuah Kekayaan Bahasa di Nusantara yang Perlu Dilestarikan
Artikel berikutnyaKH. Faqih Maskumambang, Guru Para Ulama Makkah dari Nusantara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here