Beranda Publikasi Kolom Nusantara Academic Writing Award, Sumanto Al Qurtuby, dan Nasionalisme Intelektual

Nusantara Academic Writing Award, Sumanto Al Qurtuby, dan Nasionalisme Intelektual

14
0
Sumanto Al Qurtuby berpose bersama penerima penghargaan NAWA 2026

M. Mukhsin Jamil (Guru Besar UIN Walisongo, Semarang)

Ada banyak cara untuk mencintai Indonesia. Sebagian orang melakukannya melalui pengabdian di tengah masyarakat, sebagian lagi melalui kebijakan publik, dan sebagian yang lain melalui karya-karya intelektual yang menembus batas ruang dan waktu. Nusantara Academic Writing Award (NAWA), sebuah penghargaan berupa bantuan finansial untuk penulisan tesis magister dan disertasi doktor bagi mahasiswa S2 dan S3 yang sudah menyelesaikan proses penelitian, adalah salah satu ruang tempat kecintaan itu menemukan bentuk yang paling bermakna: mengabadikan Indonesia melalui penelitian ilmiah.

Ajang yang diselenggarakan sejak 2019 oleh Nusantara Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh Sumanto Al Qurtuby, bukan sekadar seremoni pemberian penghargaan bagi tesis dan disertasi terbaik tentang budaya Nusantara. Lebih dari itu, ia merupakan perayaan atas kerja intelektual yang lahir dari kesabaran membaca realitas, keberanian berpikir kritis, dan komitmen untuk merawat kekayaan budaya bangsa.

Di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan identitas, penghargaan ini menghadirkan optimisme bahwa masih banyak akademisi muda yang menjadikan Nusantara sebagai sumber inspirasi, laboratorium pengetahuan, sekaligus rumah bagi masa depan peradaban.

***

Di balik penyelenggaraan kegiatan ini berdiri sosok intelektual progresif, Sumanto Al Qurtuby, sosok yang saya kenal sejak lama sebagai kolega sekaligus yunior saat masih menjadi mahasiswa S1 di UIN (dulu IAIN) Walisongo pada tahun 1990-an.

Sejak menjadi mahasiswa S1, Sumanto dikenal memiliki daya kritis yang kuat, keberanian melampaui batas-batas pemikiran yang mapan, serta konsistensi dalam memperjuangkan tradisi akademik yang terbuka. Waktu boleh berlalu, jabatan boleh berganti, tetapi semangat intelektualnya tetap sama: kritis, progresif, dan selalu berpihak pada pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Setiap kali bertemu dengannya, selalu muncul rasa haru yang sulit dijelaskan. Ada romantisme perjuangan yang kembali hidup pada masa-masa ketika idealisme menjadi bahan bakar utama, ketika diskusi berlangsung hingga larut malam, dan ketika cita-cita membangun Indonesia melalui ilmu pengetahuan terasa begitu dekat.

Pertemuan dengan sahabat seperjuangan selalu mengingatkan bahwa perjalanan menjadi akademisi bukanlah perlombaan mengejar gelar atau jabatan semata, melainkan ikhtiar panjang untuk memikul tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Kisah hidup Sumanto juga menyimpan pelajaran yang sangat berharga. Berasal dari lingkungan keluarga petani yang sangat sederhana di sebuah kampung terpencil di lereng gunung di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Sumanto membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan finansial serta keterbelakangan tempat tinggal bukanlah penghalang untuk menembus panggung akademik dunia.

Dengan kegigihan dan ketekunan, Sumanto berhasil menempuh studi program doktor di Boston University, Amerika Serikat, dengan beasiswa dari universitas tersebut. Ia berhasil menyisihkan banyak pelamar dari berbagai negara untuk mendapatkan beasiswa studi S3 di kampus tersebut yang hanya disediakan untuk 2 calon mahasiswa  doktor. Sebelumnya, ia juga berhasil meraih gelar master di Eastern Mennonite University, sebuah perguruan tinggi di Virginia, Amerika Serikat, dengan beasiswa dari sebuah lembaga di negeri Paman Sam tersebut.

Selepas menyelesaikan studi S3, Sumanto berhasil membangun reputasi internasional sebagai sarjana agama dan ilmuwan sosial. Berturut-turut, selama puluhan tahun, Sumanto mengajar dan meneliti di berbagai kampus di sejumlah negara seperti University of Notre Dame (Amerika), King Fahd University of Petroleum & Minerals (Arab Saudi), National University of Singapore (Singapura), dan Kyoto University (Jepang).

Pada tahun 2025, ia kembali ke tanah air sebagai dosen di Program Studi Doktor Sosiologi Agama, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) sekaligus tetap mengemban peran sebagai Senior Research Associate di Center for Muslim-Christian Studies, Oxford, Inggris.

***

Pilihan untuk pulang ke Tanah Air adalah pesan moral bahwa pencapaian global tidak pernah memutuskan akar kecintaan terhadap Indonesia. Oleh karena itu, lahirnya NAWA bukanlah program biasa. Ia merupakan manifestasi nyata dari nasionalisme intelektual. Penghargaan ini menunjukkan bahwa mencintai Indonesia tidak selalu diwujudkan melalui slogan atau retorika, tetapi juga melalui penelitian berkualitas, dokumentasi ilmiah yang mendalam, dan keberanian menghadirkan perspektif baru tentang kebudayaan Nusantara kepada dunia.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, penghargaan seperti ini menjadi semakin penting. Kita membutuhkan lebih banyak karya akademik yang tidak hanya memenuhi standar metodologis internasional, tetapi juga berakar pada pengalaman sosial dan budaya Indonesia. Dunia membutuhkan pengetahuan yang lahir dari Nusantara, ditulis oleh putra-putri terbaik bangsa, dan berbicara kepada komunitas ilmiah global dengan percaya diri.

Saya percaya bahwa penghargaan ini akan melahirkan generasi peneliti yang tidak hanya produktif menulis, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Sebab, tesis dan disertasi terbaik sesungguhnya bukan hanya yang memperoleh penghargaan, melainkan yang mampu mengubah cara kita memahami bangsa sendiri dan menginspirasi lahirnya kebijakan serta gerakan sosial yang lebih berkeadilan.

Selamat atas terselenggaranya program NAWA. Semoga penghargaan ini terus menjadi ruang bertemunya para pemikir, peneliti, dan akademisi yang percaya bahwa masa depan Indonesia dibangun bukan hanya oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga oleh kekuatan ilmu pengetahuan, budaya, dan integritas intelektual. Dari ruang-ruang penelitian, dari lembar demi lembar tesis dan disertasi, Indonesia terus ditulis, dirawat, dan diwariskan kepada dunia.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini