Beranda Publikasi Kolom Beragama Berbasis Cinta, Lima Nilai Budaya Kerja, dan Moderasi Beragama

Beragama Berbasis Cinta, Lima Nilai Budaya Kerja, dan Moderasi Beragama

13
0

Nur Syam (Mantan Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya)

Belum lama saya diundang oleh Rektor UIN Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto untuk menghadiri acara yang membahas moderasi beragama dalam kaitannya dengan ASN di dunia pendidikan. Selain saya, narasumber lainnya adalah Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMPSDM) Kemenag RI, Prof. M. Ali Ramdhani.

Hadir di dalam acara ini,  Rektor UIN SAIZU, Prof. Dr. Ridwan, para Wakil Rektor, dan ASN UIN Saizu. Sebuah acara yang menyadarkan kita semua bahwa nilai budaya kerja, moderasi beragama, dan beragama berbasis cinta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam acara ini, yaitu:

Pertama, suatu kebanggaan bahwa para Menteri Agama memiliki legacy yang tidak terlupakan. Prof. Dr. Mukti Ali dengan Metode Penelitian Agama, Jenderal Alamsyah Ratu Prawiranegara dengan Tri Kerukunan Umat Beragama, Prof. Dr. Munawir Syadzali dengan Fiqih Tata Negara, Prof. Dr. Maftuh Basuni dengan manajemen haji, Dr. Suryadharma Ali dengan Gerak Jalan Kerukunan, Dr. Lukman Hakim Saifuddin dengan Moderasi Beragama dan Lima Nilai Budaya kerja, Cholil Yaqut Qoumas dengan Moderasi Beragama dalam RPJMN, dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan Beragama Berbasis Cinta dan Ekoteologi.

Lima nilai budaya adalah sebagai berikut: Integritas (bekerja di dalam kejujuran), Profesionalitas (bekerja berdasarkan keahlian dan kemampuan), Inovasi (bekerja dengan menghasilkan kebaruan), Tanggung Jawab (bekerja dengan pengetahuan, sikap dan perilaku yang terukur), dan Keteladanan (bekerja dengan menjadi teladan dalam pemahaman, sikap dan perilaku sebagai ASN).

Lima substansi beragama berbasis cinta meliputi: cinta kepada Allah dan rasulnya merupakan  satu kesatuan cinta. Cinta kepada ilmu. Cinta kepada diri dan kemanusiaan. Cinta kepada lingkungan dan cinta tanah air. Empat  substansi moderasi beragama meliputi: menghargai cinta tanah air. Menghargai toleransi. Menghargai budaya lokal. Menghargai sikap dan perilaku antikekerasan. Lima nilai budaya kerja: integritas,  profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan.

Relasi antara nilai budaya kerja, moderasi beragama dan beragama berbasis cinta dapat diibaratkan sebagai  sebuah gambar:  beragama berbasis cinta adalah inti atau substansinya atau inti lingkar dalamnya, nilai budaya kerja adalah isinya atau lingkar dalam  dan moderasi beragama adalah kulit luarnya atau lingkar luarnya.  Beragama berbasis cinta tidak akan terjadi jika tidak terdapat nilai budaya kerja dan nilai budaya kerja tidak akan ada artinya tanpa moderasi beragama.

Kedua, ada filsafat hidup yang penting sebagaimana yang sudah kita kenal, bahwa filsafat hidup orang Jawa adalah “Rukun, Harmoni dan Slamet”. Orang Jawa itu mengedepankan kerukunan. Rukun merupakan prasyarat di dalam sebuah relasi sosial yang baik. Tanpa kerukunan maka relasi sosial akan terganggu. Bahkan bisa terjadi disharmoni sosial.

Secara empiris, kita harus bersyukur. Kita menjadi orang Indonesia. Saya lahir pada sore hari. Katakanlah jam 18.00 WIB. Saya lahir di Tuban, Jawa Timur. Andaikan saya lahir jam 21.00, maka saya akan lahir di Afghanistan. Sebuah negara yang selalu berada di dalam nuansa konfliktual. Hanya ada tujuh suku, tetapi konflik  antarsukunya nyaris tidak pernah berhenti. Saling ingin menguasai dan saling berebut kekuasaan. Yang terbesar Suku Fashtun, maka bahasa nasionalnya adalah Bahasa Fashtun. Yang lain iri karena tidak mendapatkan hak untuk berbahasa secara nasional dengan bahasanya.

Bayangkan dengan menjadi orang Indonesia, negeri dengan jumlah suku 1.340 suku bangsa, 17.000 pulau dan 718  bahasa daerah, tetapi kita dapat menggunakan Bahasa Nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Semua merasa memiliki bahasa ini. Seandainya bahasa yang menjadi identitas bahasa di Indonesia berdasarkan atas suku terbesar, maka yang digunakan adalah Bahasa Jawa. Tetapi itu tidak menjadi pilihan. Semua ini terangkai karena kita memiliki perilaku rukun yang menjadi filsafat kehidupan.

Lalu, harmoni atau keselasaran. Hidup  yang baik adalah yang selaras atau yang seimbang. Tidak berlebihan. Jangan menganggap diri sebagai yang terbaik sendiri, yang berkuasa sendiri, yang terkuat sendiri, yang beragama terbaik sendiri. Semua ada kebaikannya. Sikap wasathiyah adalah sikap jalan tengah. Tidak ekstrem kiri dan kanan. Sikap ekstrim kanan akan melahirkan fundamentalisme atau radikalisme bahkan terorisme yang merasa berdasar atas ajaran agama. Lalu ekstrim kiri itu mengagungkan kebebasan yang berlebihan, sehingga menganggap kebebasan sebagai segala-galanya. Orang bisa menjadi atheis dan juga bisa menjadi individualis dan kapitalis. Semua serba “aku” sehingga tidak ada kata “kita”. Islam mengajarkan perilaku seimbang, mengayuh di antara yang kiri dan kanan.

Tidak kalah penting adalah slamet. Sebuah filsafat hidup yang menekankan pada keselamatan. Islam mengajarkan keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat. Keselamatan di dunia tidak cukup sebab diyakini bahwa ada kehidupan yang berlanjut, di akhirat. Maka orang Islam harus mengamalkan kebaikan agar selamat di keduanya. Ketika di dunia tidak bersikap berlebihan. Kaya tetapi dari uang korupsi. Berkuasa tetapi dengan politik uang. Ungkapannya berkata jujur, tetapi perilakunya rusak. Banyak orang yang menyatakan kebaikan tetapi dibalik itu terdapat kerusakan yang luar biasa. Kenyataan di media sosial sungguh merupakan tindakan yang melebihi batas. Dan setiap tindakan yang melebihi batas pasti terdapat peluang di dalamnya untuk tidak selamat.

Orang Jawa, khususnya orang Purwokerto, lebih khusus ASN UIN Saizu, pasti masih mengenal suatu idiom, seperti: “rukun agawe santosa, congkrah agawe bubrah, barji barbeh”. Sebuah ungkapan betapa luhurnya kerukunan, dan betapa rendahnya konflik. Jika kemudian konflik yang terjadi, maka bubarlah semuanya. Rukun membikin kesentosaan, konflik menjadi penyebab kehancuran, rusak satu rusaklah semuanya. Filsafat hidup seperti ini bukan hanya khas Jawa, tetapi bagi keseluruhan masyarakat Nusantara.

Ketiga, kita semua adalah Aparat Sipil Negara (ASN). Kita wajib memberikan pelayanan yang optimal kepada siapa saja, baik para pelanggan internal maupun pelanggan eksternal. Jangan pilih kasih. Berikan pelayanan sesuai dengan prinsip kesamaan, keadilan dan kehormatan. Janganlah satu dengan lainnya saling membedakan. Terhadap pelanggan internal perlu dilakukan survei kepuasan pelanggan atas pelayanan dasarnya. Kemudian kepada para mahasiswa, atau stakeholder lainnya sebagai pelanggan eksternal juga perlu dilakukan survei kepuasan pelanggan. Jika ini bisa dilakukan, maka kita akan mendapatkan umpan balik, sehingga kita dapat membenahi atas kekurangan di dalam pelayanan publik.

Prof. Ridwan adalah nakhoda yang baik dan prospektif. Ibarat seorang kemudi di sebuah kapal, maka akan dapat mengarahkan kapalnya ke arah tujuan atau visi dan misi universitas. Dengan memahami peta jalan yang akan ditempuh, kapal atau UIN Saizu tidak hanya berputar-putar di tengah samudra pendidikan, tetapi juga akan dapat mencapai tujuan yang sudah direncanakan bersama. Saya yakin: “Bersama kita bisa”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Keterangan: artikel ini semula diterbitkan di https://nursyamcentre.com/opini/beragama-berbasis-cinta-lima-nilai-budaya-kerja-dan-moderasi-beragama/

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini