Pada 27 Juni 2026, Nusantara Institute kembali menggelar acara tahunan penganugerahan Nusantara Academic Writing Award (NAWA), sebuah penghargaan penulisan pascapenelitian (post-research writing grant) untuk tesis dan disertasi bagi mahasiswa magister dan doktor di perguruan tinggi di Indonesia. Tema-tema tesis/disertasi tersebut harus selaras dengan visi, misi, dan platform Nusantara Institute.
Lebih jelasnya, kegiatan ini dimaksudkan untuk memilih sejumlah proposal tesis magister atau disertasi doktor yang berkualitas untuk diberi bantuan finansial penulisan tesis/disertasi yang membahas aneka ragam tradisi, kebudayaan, keagamaan, pendidikan, dan kerajaan lokal di Indonesia dari berbagai macam perspektif, pendekatan, metodologi, teori, dan disiplin keilmuan.
Kegiatan NAWA diadakan oleh Nusantara Institute sejak 2019 bekerja sama dengan Bakti BCA. Untuk penganugerahan NAWA 2026, selain didukung oleh Bakti BCA, juga didukung oleh Garudafood (PT Garudafood Putra Putri Jaya) dan Marimas (PT Marimas Putra Kencana). Penganugerahan NAWA 2026 digelar di Metro Park View Hotel, Semarang.
Sejak 2019, tercatat 55 penerima penghargaan (awardee) NAWA dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka dipilih melalui kompetisi nasional yang sangat ketat, dengan melibatkan lebih dari 15 dewan juri setiap tahunnya yang terdiri dari para akademisi, guru besar, dan praktisi yang kompeten. Anggota Dewan Juri NAWA 2026, selain Sumanto Al Qurtuby, PhD (Pendiri & Direktur Nusantara Institute) selaku Ketua Dewan Juri, dan Dr. Tedi Kholiluddin (Deputi Direktur Nusantara Institute yang juga sekretaris Dewan Juri), adalah Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil (UIN Walisongo, Semarang), Prof. Dr. Islah Gusmian (UIN Surakarta), Irene Ludji, PhD (Universitas Kristen Satya Wacana), Ali Amin, PhD (IAKN Manado), Dr. Indra Kertati (Untag Semarang), dan lain-lain.
Selain dinyatakan lolos seleksi berkas-berkas lamaran, para awardee juga harus lolos seleksi saat wawancara daring (melalui Zoom) oleh para juri. Setiap tahun, Nusantara Institute menerima antara 150 dan 200 pelamar untuk program ini.
Selain mendapatkan dana bantuan penulisan tesis/disertasi, para penerima award juga memperoleh sertifikat penghargaan. Selain itu, mereka juga dilibatkan dalam proyek-proyek yang diinisiasi oleh Nusantara Institute, seperti webinar, penulisan buku bunga rampai, dan penulisan kolom di portal lembaga (https://www.nusantarainstitute.com/).

***
Dalam sambutannya, Sumanto Al Qurtuby mengatakan bahwa program ini dimaksudkan untuk memberi dorongan atau stimulus kepada para akademisi dan intelektual muda yang sedang menyelesaikan penulisan tesis magister atau disertasi doktor agar segera menyelesaikan studi magister/doktoral mereka. Selain itu, program ini juga dimaksudkan untuk mendorong para ilmuwan muda agar lebih mencintai bangsa dan budaya Indonesia.
Sumanto menyatakan bahwa program NAWA terinspirasi saat ia menjalani studi doktoral di Boston University, Amerika Serikat. Saat itu, meskipun tidak banyak, ada sejumlah universitas yang menawarkan program beasiswa atau bantuan dana (grant) untuk penulisan disertasi bagi mahasiswa doktoral yang telah menyelesaikan penelitian dan tinggal merampungkan penulisan disertasi. Menurutnya, cukup banyak program beasiswa atau bantuan penelitian disertasi yang dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun nonpemerintah, tetapi sangat sedikit untuk penulisan disertasi pascariset. Padahal, penulisan disertasi pasca-riset juga merupakan fase yang sangat penting bagi mahasiswa doktor.
Meski terinspirasi oleh perguruan tinggi di Amerika, Sumanto menggelar NAWA dengan cara yang berbeda dari yang terjadi di sana. Misalnya, tidak seperti di Amerika, di mana pelamar cukup dinilai secara rahasia oleh tim reviewer, pelamar NAWA tidak hanya dievaluasi berkas-berkas lamaran mereka, tetapi juga diuji secara daring (via Zoom) di hadapan dewan juri untuk mempertahankan disertasi mereka. Juga, berbeda dengan Amerika, di mana program penulisan pasca-penelitian tersebut hanya untuk mahasiswa doktoral, program NAWA juga untuk mahasiswa magister.
Terakhir, berbeda dengan perguruan tinggi di Amerika, kandidat yang mendapatkan award juga “dirayakan” dalam sebuah acara yang menghadirkan masyarakat umum. Para awardee juga harus menampilkan video pendek mengenai proyek tesis/disertasi mereka untuk ditayangkan pada acara penganugerahan award. Tujuannya agar publik juga mengetahui topik tesis/disertasi yang sedang ditulis sehingga layak mendapatkan award.
***
Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono, mengapresiasi program NAWA sebagai bagian dari upaya melestarikan dan memajukan kearifan lokal serta budaya Nusantara yang kaya melalui karya ilmiah. Program ini sangat penting karena Indonesia memiliki banyak peninggalan tradisi dan budaya warisan para leluhur serta kerajaan tempo dulu yang perlu terus dipelajari, digali, dan dikaji melalui berbagai cara, termasuk riset ilmiah dan penulisan tesis/disertasi.
Dian Astriana, Head of Corporate Communication and External Relations, PT Garudafood Putra Putri Jaya, juga sangat mengapresiasi program NAWA sebagai bagian dari upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan Indonesia, khususnya di dunia akademik, serta mendorong sarjana, peneliti, dan akademisi muda untuk lebih giat meneliti persoalan keindonesiaan. Dalam sambutannya, ia menyatakan program NAWA sangat sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Garudafood Basic Mentality, khususnya dalam menjaga dan merawat kelestarian warisan leluhur Nusantara yang begitu beragam dan melimpah.
Setali tiga uang, Harjanto Halim (CEO, PT Marimas Putera Kencana), seorang pebisnis dan filantropi Semarang, juga sangat mengapresiasi kegiatan NAWA yang menurutnya sangat positif bagi para akademisi, khususnya calon master dan doktor, agar lebih peduli terhadap kesenian, kebudayaan, kerajaan, dan keagamaan Nusantara, serta keragaman kebangsaan Indonesia. Harjanto juga berharap para awardee atau akademisi pada umumnya dapat menerjemahkan “bahasa kampus” yang akademis-ilmiah ke dalam bahasa yang lebih sederhana agar karya-karya mereka dapat membumi dan masyarakat awam juga dapat memahaminya.
Masyarakat pada umumnya juga mendapatkan manfaat dari kegiatan ini karena karya-karya para sarjana ini diharapkan bukan hanya sebatas “karya ilmiah” yang berhenti di ruang kelas dan/atau gedung perpustakaan, tetapi juga dapat berdampak positif bagi publik dalam bentuk implementasi kerja nyata di masyarakat melalui berbagai program sosial-kemasyarakatan.

***
Pada tahun 2026 ini, ada 6 penerima NAWA dari berbagai kampus di Indonesia.
Mereka adalah:
- Putri Naomi (S2, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Judul tesis, Wacana Perempuan Dalam Manuskrip Ahādīth Al Nabawīyah Li Al-Banāt: Analisis Wacana Kritis Terhadap Pemikiran Abdul Latif Syakur)
- Novita Sari Sembiring (S2, Center for Religious and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Judul tesis, “Peran Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam Pengembangan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan di Indonesia”)
- Yakomina Mangmah (S2, Center for Religious and Cross-cultural Studies-UGM. Judul tesis, “The Church as an Ecological Community: A Study of the Olang Mangsari Festival at the Evangelical Christian Church in Timor Elim Dadibira, Alor”)
- Mamluatur Rahmah (S3, Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang. Judul disertasi, “Pengaruh Spiritualitas, Syukur, dan Makna Hidup terhadap Kesejahteraan Psikologis dan Kecemasan Kematian pada Lansia di Pondok Pesantren Sepuh Putri Payaman, Magelang”)
- Moh. Rivaldi Abdul (S3, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Judul disertasi, “Kepemimpinan Jiou dan Pembaruan Tradisi Keagamaan: Sejarah Sosial Budaya Masyarakat Muslim Desa Pinolosian, Bolaang Mongondow Selatan, 1976-2015)
- Anju Nofarof Hasudungan (S3, Universitas Indonesia. Judul disertasi, “Dinamika Adaptasi Komunitas Etnis Tionghoa di Kabupaten Bengkalis, 1946-1998)
***
Acara penganugerahan NAWA 2026 dimeriahkan oleh penampilan tari dari Kertypro Official Entertainment, serta door prizes yang disediakan oleh Marimas.
Sejumlah tokoh hadir di acara pagelaran NAWA 2026, antara lain Dian Astriana (Head of Corporate Communication & External Relations, Garudafood), Harjanto Halim (CEO, Marimas), Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil (mantan Wakil Rektor UIN Walisongo Semarang), Dr. Aji Sofanudin (Kepala Pusat Riset Agama & Kepercayaan, Badan Riset dan Inovasi Nasional), Dr. Nur Fathoni (Wakil Direktur Pascasarjana UIN Walisongo), Kiki Martaty Widjaja (Direktur Alliance Francaise, Semarang), Danny Hamdani, PhD (pengajar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), dan lain-lain.
Acara ini ditutup dengan flash mob yang dipimpin oleh Komunitas Diajeng Semarang serta foto bersama dan ramah tamah dengan awardees.



















