Beranda Publikasi Kolom Dunia Sastra Anak Penginyongan dalam Buku Duta Ebeg neng Wanatara

Dunia Sastra Anak Penginyongan dalam Buku Duta Ebeg neng Wanatara

8
0

Mukhamad Hamid Samiaji (Pemerhati Bahasa dan Budaya Penginyongan di Purwokerto)

“Sebuah cerita anak bukan hanya menghadirkan hiburan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang pertama tempat seorang anak mengenal dirinya, bahasa ibunya, dan budaya yang membesarkannya.”

Di tengah derasnya arus cerita anak yang didominasi tokoh-tokoh superhero, dunia fantasi global, dan latar perkotaan, kehadiran buku Duta Ebeg dari Wanatara karya Jefrianto menjadi angin segar bagi khazanah sastra anak Indonesia. Buku ini mengajak pembaca memasuki dunia yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Penginyongan: halaman balai desa, irama gamelan, aroma mendoan, bahasa ngapak, hingga riuhnya pertunjukan ebeg.

Kehadiran karya sastra yang bertumpu pada pengalaman budaya lokal menjadi penting karena sastra anak pada hakikatnya merupakan media yang membantu anak memahami kehidupan melalui dunia yang dekat dengan pengalaman mereka sendiri (Nurgiyantoro, 2016).

Buku ini sesungguhnya lebih dari sekadar kisah seorang anak bernama Dimas yang bercita-cita menjadi pemain ebeg. Di balik alur cerita yang sederhana, tersimpan upaya menghadirkan kembali ruang imajinasi anak-anak yang berakar pada budaya Penginyongan.

Inilah kekuatan utama sastra anak Penginyongan: budaya lokal tidak ditempatkan sebagai latar pelengkap, melainkan menjadi ruang hidup tempat tokoh-tokohnya tumbuh, belajar, dan menemukan jati diri.

Sebagaimana dikemukakan Nurgiyantoro (2004), sastra anak yang baik selalu berangkat dari sudut pandang anak sehingga nilai-nilai kehidupan hadir secara alami melalui pengalaman tokohnya. Dimas tidak digambarkan sebagai anak yang luar biasa sejak awal, melainkan sebagai anak desa yang penasaran terhadap pertunjukan ebeg, kemudian belajar dengan tekun hingga akhirnya mampu menjadi teladan bagi teman-temannya. Perjalanan itu terasa dekat dengan realitas kehidupan anak, sehingga mudah membangun kedekatan emosional dengan pembaca.

Sejak halaman-halaman awal, pembaca langsung diajak menyaksikan pertunjukan ebeg di Balai Desa Wanatara. Keramaian penonton, pedagang cilok, batagor, siomai, mainan anak-anak, serta lantunan lagu Eling-Eling menghadirkan suasana khas pedesaan Banyumas yang hidup di hadapan pembaca. Suasana tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengenal kehidupan sosial masyarakat Penginyongan.

Keistimewaan buku ini terletak pada keberhasilannya mengangkat kesenian ebeg dari sekadar tontonan menjadi media pendidikan budaya. Selama ini masyarakat sering mengidentikkan ebeg dengan praktik mistis dan kesurupan. Melalui tokoh Wak Parjo dan perjalanan Dimas, pembaca justru diperkenalkan pada pemahaman bahwa bagian mendem dalam pertunjukan dapat diwujudkan melalui latihan, penguasaan gerak, dan kemampuan berakting.

Gagasan tersebut memiliki makna yang sangat penting. Di satu sisi, penulis tetap menghormati tradisi yang berkembang di masyarakat, tetapi di sisi lain ia membuka ruang bagi regenerasi kesenian ebeg yang lebih edukatif dan dapat diterima oleh generasi muda. Cara penyampaian seperti ini menunjukkan bahwa sastra anak mampu menjadi jembatan dialog antara tradisi dan modernitas tanpa harus menghilangkan identitas budaya lokal.

Lebih jauh, penggunaan budaya lokal dalam cerita ini juga berfungsi sebagai bentuk literasi budaya. Hermawan dan Anjariyah (2023) menjelaskan bahwa sastra berbasis budaya lokal mampu menumbuhkan kesadaran multikultural serta memperkuat identitas kebangsaan sejak usia dini. Oleh karena itu, ebeg dalam buku ini bukan hanya menjadi objek cerita, melainkan juga media pembentukan karakter dan rasa memiliki terhadap warisan budaya.

Kekuatan lain dari buku ini tampak pada kehadiran tokoh-tokoh dewasa yang berfungsi sebagai penjaga nilai-nilai budaya. Ayah Dimas tidak melarang anaknya belajar ebeg. Sebaliknya, ia mendukung penuh keinginan tersebut bahkan menceritakan bahwa dirinya dahulu juga seorang pemain ebeg. Ia menjelaskan bahwa pertunjukan yang menarik tidak harus dibangun melalui atraksi ekstrem, melainkan melalui latihan yang tekun dan kreativitas.

Sikap ayah Dimas mencerminkan proses pewarisan budaya antargenerasi yang berlangsung secara hangat dan dialogis. Hal ini sejalan dengan pandangan Nurgiyantoro (2011) bahwa dalam sastra anak, tokoh dewasa idealnya hadir sebagai teladan yang membantu anak menginternalisasi nilai-nilai kehidupan melalui keteladanan, bukan melalui paksaan.

Demikian pula tokoh Wak Parjo. Ia bukan hanya pelatih ebeg, melainkan juga guru budaya yang memperkenalkan identitas Penginyongan kepada Dimas. Melalui dialog sederhana, Wak Parjo menjelaskan bahwa Penginyongan merupakan identitas budaya masyarakat bekas Karesidenan Banyumas yang menggunakan kata inyong sebagai penanda diri. Pengetahuan budaya tersebut disampaikan secara alami melalui percakapan, sehingga pembaca tidak merasa sedang menerima pelajaran tentang budaya.

Salah satu kekayaan buku ini adalah keberanian penulis mempertahankan kosakata khas Penginyongan seperti inyong, mendem, mendoan, blangkon, Kuda Lumping, serta nama-nama lagu Banyumasan seperti Ricik-Ricik Banyumasan, Eling-Eling, dan Ana Maning Polahe Wong Purbalingga. Istilah-istilah tersebut dilengkapi dengan penjelasan agar tetap mudah dipahami oleh pembaca dari luar Banyumas. Strategi ini menunjukkan bahwa bahasa daerah dapat hidup berdampingan dengan bahasa Indonesia tanpa kehilangan identitasnya.

Menurut Ibda dan Wijayanti (2023), penggunaan bahasa daerah dalam sastra anak bukan sekadar memperkaya kosakata, tetapi juga menjadi sarana untuk mewariskan identitas budaya kepada generasi muda. Dalam konteks itu, buku ini berhasil memperlihatkan bahwa bahasa Penginyongan bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga bagian dari memori kolektif masyarakat Banyumas.

Yang menarik, tokoh utama dalam cerita ini bukanlah seorang pahlawan dengan kekuatan luar biasa. Dimas hanyalah anak sekolah dasar yang memiliki rasa ingin tahu, rajin berlatih, dan tidak malu mencintai budaya daerahnya. Melalui ketekunannya tersebut, ia akhirnya dipercaya untuk tampil dalam berbagai pertunjukan hingga memperoleh penghargaan sebagai “Duta Ebeg”.

Pengangkatan Dimas sebagai Duta Ebeg mengandung pesan simbolik yang kuat. Pelestarian budaya ternyata tidak selalu dimulai oleh orang dewasa, melainkan dapat tumbuh dari keberanian seorang anak untuk mencintai budayanya sendiri. Sastra anak, dalam konteks ini, menjadi media pembentukan karakter sekaligus sarana untuk membangun rasa percaya diri terhadap identitas budaya lokal (Nurgiyantoro, 2011).

Lebih dari itu, Duta Ebeg dari Wanatara menunjukkan bahwa sastra anak Penginyongan memiliki potensi besar sebagai media pendidikan budaya. Anak-anak tidak diajak menghafal sejarah atau definisi kebudayaan, melainkan diajak mengalami budaya melalui cerita yang menyenangkan. Mereka mengikuti kegembiraan Dimas saat menonton ebeg, merasakan semangatnya saat berlatih, hingga ikut bangga ketika ia dipercaya menjadi duta budaya.

Di era digital ketika anak-anak lebih mengenal tokoh animasi luar negeri dibandingkan dengan kesenian daerahnya sendiri, karya seperti ini menjadi semakin penting. Sastra lokal menawarkan ruang alternatif bagi anak untuk menemukan identitas budayanya tanpa harus merasa tertinggal dari perkembangan zaman. Justru melalui cerita yang sederhana, budaya lokal memperoleh kesempatan untuk hidup kembali dalam imajinasi generasi muda.

Pada akhirnya, Duta Ebeg dari Wanatara membuktikan bahwa sastra anak Penginyongan bukan sekadar cerita hiburan. Ia merupakan media pewarisan nilai, pelestarian bahasa, pengenalan seni tradisi, sekaligus pembentukan karakter. Ketika seorang anak menemukan dirinya, bahasa ibunya, makanannya, keseniannya, dan lingkungan sosialnya hadir dalam sebuah cerita, sesungguhnya ia sedang membangun rasa memiliki terhadap budaya yang diwariskan kepadanya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Nurgiyantoro (2016), sastra anak memiliki fungsi edukatif sekaligus estetis. Buku karya Jefrianto berhasil menjalankan kedua fungsi tersebut secara seimbang. Ia menghibur tanpa kehilangan pesan, mendidik tanpa menggurui, dan memperkenalkan budaya tanpa terasa seperti buku pelajaran. Dengan demikian, Duta Ebeg dari Wanatara layak dipandang sebagai salah satu representasi penting dunia sastra anak Penginyongan yang menunjukkan bahwa cerita sederhana dari sebuah desa dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga ingatan budaya agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Daftar Bacaan

Hermawan, W., & Anjariyah, D. (2023). Penguatan nilai multikultural sastra lokal sebagai media literasi anak. Journal of Education Research, 4(4).

Ibda, H., & Wijayanti, D. M. (2023). Pembelajaran sastra anak berbasis kearifan lokal Indonesia: Tinjauan literatur sistematis. As-Sibyan, 6(2).

Jefrianto. (2017). Duta Ebeg dari Wanatara. Balai Bahasa Jawa Tengah.

Nurgiyantoro, B. (2004). Sastra anak: Persoalan genre. Humaniora, 16(2), 107–122.

Nurgiyantoro, B. (2011). Sastra anak dan pembentukan karakter. Cakrawala Pendidikan, 30(1), 25–38.

Nurgiyantoro, B. (2016). Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini