Beranda Publikasi Kolom Pentingnya Etnoparenting, Cara Mengasuh Anak Berbasis Kearifan Lokal

Pentingnya Etnoparenting, Cara Mengasuh Anak Berbasis Kearifan Lokal

9
0

Dewi Ayu Larasati (Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)

Beberapa rekan yang baru berumah tangga dan sedang menanti sang buah hati, pernah meminta saran kepada saya, “Bisa rekomendasi buku parenting (buku pola asuh) yang bagus, mbak?” Atau sekadar menanyakan, “Kira-kira metode apa ya, yang bagus diterapkan untuk mengasuh Gen Alpha?”.

Seperti biasa, saya hanya memberi saran beberapa judul buku yang pernah saya baca. Namun, saya tidak menampik bahwa buku-buku yang saya sarankan itu lebih banyak berkaitan dengan pola asuh jadul atau khas tempo dulu. Sedangkan yang sebenarnya mereka butuhkan kebanyakan metode pola asuh kekinian yang cenderung kebarat-baratan. Untungnya, mereka tidak terlalu mempersalahkan apa yang saya sarankan. Paling kami hanya terlibat diskusi ringan, tanpa perlu debat kusir.

Namun yang sering menjadi renungan saya adalah, mengapa saat ini kebanyakan kita seringkali mengandalkan buku atau scroll media sosial untuk mempelajari cara-cara mengasuh anak. Karena kompleksnya interaksi antara orang tua, anak, dan sekitarnya, orang tua sering kali merasa bingung dan mencari jawaban di buku parenting?

Kita mengakui bahwa saat ini kita terlalu sibuk mengejar teori dan membandingkan diri dengan orang tua lain, hingga lupa memahami karakter anak kita sendiri. Bahkan tren gaya parenting modern ala Barat lebih sering dijadikan panutan karena dianggap lebih memenuhi kebutuhan zaman dan dapat menjadikan kita sebagai orang tua yang lebih baik. Nah, pertanyaannya, apakah parenting Barat lebih baik untuk kita jadikan model pengasuhan anak?

Perlu diketahui, tak semua pola asuh dari luar bisa serta-merta diterapkan di Indonesia. Apalagi, masyarakat Indonesia masih mewarisi adat ketimuran, di mana hubungan orang tua dan anak layaknya hierarki. Sebaliknya di Barat, pola asuh cenderung egaliter dan ekspresif. Hubungan orang tua dan anak lebih pada prinsip kesetaraan, sehingga anak dididik untuk lebih percaya diri dan berani berargumen atau menyampaikan pendapat, termasuk kepada orang yang lebih tua. Dalam relasi ini, tentu ada berbagai hal yang dapat mengaburkan batas rasa hormat dan memicu hilangnya sopan santun.

Misalnya saja, memanggil orang yang lebih tua langsung dengan namanya, bukan ibu, bapak, kakak, dan sebagainya, dianggap lumrah dalam budaya Barat. Sebaliknya, dari kacamata orang Indonesia, cara anak-anak di Barat memperlakukan orang tua tersebut dianggap melanggar norma kesopanan.

Dalam hal kebebasan berbicara, orang tua di Barat memberikan hak kepada anak-anaknya untuk mengkritik, mengoreksi, dan menegur mereka. Namun, dalam kultur Indonesia, hal itu biasanya masih dianggap “tidak etis”. Menyampaikan pendapat dalam budaya Indonesia setidaknya harus  mempertimbangkan adab dan sopan santun.

Cara Membangun Karakter ala Etnoparenting

Deputy Director Program SEAMED CECCEP, Widodo Suhartoyo (dikutip dari kumparan.com, 21/12/2025), menyatakan, “pengasuhan anak tidak bisa dilepaskan dari budaya, nilai masyarakat, hingga struktur sosial tempat anak tumbuh.”.

Kita tentu merasa kagum dengan pola asuh orang tua pada zaman dahulu. Tanpa smartphone, internet, atau aplikasi pengasuhan, mereka berhasil membesarkan anak dengan mengandalkan insting, ikatan sosial, dan lingkungan sekitar. Anak pun tumbuh menjadi sosok yang berkarakter.

Saat dianugerahi seorang anak, tugas orang tua yang utama adalah bertanggung jawab untuk mengenalkan pendidikan dan karakter kepada anak. Termasuk elemen ketuhanan. Uniknya, elemen ini tidak dimiliki oleh orang tua di Barat. Nilai ketuhanan merupakan akar dan fondasi pengasuhan anak di berbagai etnis (Zuleha, etnoparenting.com., 23/1/2024).

Seperti halnya tradisi mengayun atau menidurkan anak dengan syair-syair yang berisi doa, nasihat, serta harapan orang tua bagi sang anak. Tradisi yang hampir punah ini dulunya lazim dilakukan oleh seorang ibu di hampir seluruh masyarakat adat di Indonesia. Hal ini merupakan upaya untuk menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan pada anak sejak bayi.  Di samping itu, hubungan batin antara anak dan orang tuanya tentu akan semakin terjaga.

Tradisi mengayun anak sambil mendendangkan syair dalam masyarakat Aceh dikenal dengan istilah “Peuayoen Aneuk” atau “Do Da Idi”.  Pada suku Melayu Riau, tradisi itu dikenal dengan istilah “Dodoi”. Sementara di Minangkabau, tradisi nyanyian pengantar tidur anak dikenal dengan istilah Manjujai.

Namun, sayangnya, syair pengantar tidur anak tersebut saat ini sudah mulai ditinggalkan, bahkan dilupakan, oleh para orang tua. Anak-anak lebih sering diperkenalkan pada lagu-lagu modern melalui perangkat elektronik dibandingkan dengan mendengarkan suara ibu mereka secara langsung.

Selain itu, dalam upaya membentuk karakter anak, orang tua dulu kerap menceritakan cerita-cerita rakyat kepada anak-anaknya. Dongeng ini serupa dengan bedtime story (dongeng sebelum tidur) modern, tetapi berakar kuat pada budaya dan lingkungan setempat. Suku Dayak, misalnya, menggunakan pandom (cerita rakyat) untuk menanamkan nilai keberanian, kejujuran, dan keharmonisan dengan alam pada anak-anak. Masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten, juga memiliki tradisi mendongengkan anak dengan sejumlah kisah tentang masa lampau, yang penuh dengan nilai edukasi. Tradisi ini disebut Pupulih. Uniknya, dongeng tersebut tidak hanya dibacakan, tetapi juga dinyanyikan.

Selanjutnya, untuk menjadi teladan bagi anak-anak mereka, orang tua harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dalam falsafah Jawa “andhap asor”. Sikap andhap asor berarti rendah hati (Anshoriy & Sudarsono, 2008:148). Sifat andhap asor tentu saja dibarengi dengan perilaku sopan santun dalam kehidupan (Susetya, 2019:186). Dalam bahasa lain, andhap asor juga disebut dengan istilah lembah manah.  Jiwa lembah manah adalah jiwa yang mampu meredam segala emosi negatif yang hendak mengemuka dalam tindakan-tindakan perilaku (Harini, 2019:227). Dalam hal ini, orang tua harus memiliki sifat rendah hati dan sopan santun. Ketika orang tua mampu bersikap andap asor lembah manah, anak juga akan meniru.

Misalnya, sikap orang tua yang selalu menjaga tutur kata yang lembut dan sopan, termasuk saat menegur sikap anak yang tidak pantas, akan membuat anak menggunakan bahasa yang sopan juga kepada lawan bicaranya.  Dan apabila orang tua melakukan kesalahan kepada anak, maka sewajarnya orang tua bersikap rendah hati dan berani meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang telah dilakukan.

Untuk masalah kemandirian, siapa bilang parenting Barat hanya bisa membuat anak mandiri? Suku-suku di Indonesia sejak dulu nyatanya juga sudah menekankan kemandirian anak sejak usia dini. Misalnya, Suku Baduy. Kemandirian adalah pendidikan yang telah diterapkan oleh masyarakat suku Baduy sejak kanak-kanak. Kemandirian tersebut terlihat dari anak usia dini yang ikut terlibat dalam keseharian atau pekerjaan orang tua, seperti anak perempuan yang belajar beres-beres rumah, mencuci di sungai, dan lain-lain. Sedangkan anak laki-laki sejak dini sudah diajarkan cara mencari kayu bakar, mengangkat kayu, pergi berkebun, dan lain sebagainya.

Dari segi penghormatan terhadap alam, masyarakat adat sangat terkenal dengan tradisi mengajarkan anak-anak agar dekat dengan alam. Seperti halnya cara orang tua Suku Dayak melibatkan anak dalam melakukan malian (ritual ucapan syukur), agar mereka memahami bahwa bumi harus dirawat karena bumi memberi kehidupan. Dalam budaya Sunda, ada tradisi nincak bumi, yaitu mengenalkan bayi kepada tanah sebagai simbol pijakan hidup dan hubungan dengan alam.

Dari ulasan di atas, kita bisa memahami bahwa berbagai pola pengasuhan berbasis kearifan lokal (etnoparenting) memiliki nilai-nilai luhur dalam membentuk karakter anak. Di tengah tantangan modernitas, globalisasi, dan melemahnya peran keluarga dalam pendidikan nilai, penguatan kembali etnoparenting menjadi strategi penting untuk menjaga kesinambungan nilai budaya serta pembentukan karakter yang humanis.

Daftar Pustaka

Andriani, F., & Rachmawati, Y. (2022). Etnoparenting: Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkawinan Multi Etnis. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(5), 4669-4680.

Anshoriy Ch, Nasruddin & Sudarsono. 2008. Kearifan Lingkungan: Dalam Persepektif Budaya Jawa. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Harini, Sri. 2019. Tasawuf Jawa. Yogyakarta: Araska Publisher

Mengenal Etnoparenting, Gaya Pengasuhan Anak Berbasis Budaya. 21 Desember 2025. Diunduh dari https://kumparan.com/kumparanmom/mengenal-etnoparenting-gaya-pengasuhan-anak-berbasis-budaya-26SSOLqNmdB

Susetya, Wawan. 2019. Falsafah Asthagina. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Zuleha, Vita Siti. 23 Januari 2024. Pernikahan Beda Suku. Diunduh dari https://etnoparenting.com/2024/01/23/pernikahan-beda-suku-poster/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini