Elia Brigade Mali Dunga (Mahasiswa S2 Sosiologi Agama, UKSW)
Mempelajari teori-teori antropologi membuat saya menyadari bahwa memahami suatu masyarakat tidak cukup hanya dengan mengetahui kebiasaan, tradisi, agama, atau sistem sosial yang dimilikinya. Antropologi mengajak saya untuk masuk lebih jauh, yaitu memahami bagaimana manusia memberi makna pada dunia yang mereka huni.
Kesadaran ini menjadi semakin penting bagi saya ketika saya mencoba memahami konteks Sumba. Sebagai seseorang yang banyak berhadapan dengan persoalan agama, budaya, Marapu, dan kehidupan sosial masyarakat Sumba, saya menyadari bahwa selama ini saya sangat mudah melihat Sumba melalui kategori yang saya miliki sendiri. Padahal, teori-teori antropologi justru mengajarkan bahwa masyarakat harus dipahami dalam konteksnya sendiri.
Thomas Hylland Eriksen menjadi salah satu pemikir yang membantu saya memahami hal tersebut. Dalam pembahasannya mengenai antropologi, Eriksen menunjukkan bahwa antropologi tidak hanya ditujukan untuk mempelajari masyarakat yang dianggap eksotis atau berbeda, tetapi juga relevan untuk memahami kondisi manusia secara umum.
***
Antropologi berusaha melihat kehidupan manusia dari bawah dan dari dalam. Bagi saya, gagasan tersebut menjadi sangat relevan ketika memikirkan Sumba. Sumba sering kali dibicarakan oleh orang dari luar dalam kategori tertentu. Kategori tersebut meliputi masyarakat adat, masyarakat tradisional, masyarakat Marapu, masyarakat patriarkal, masyarakat yang masih mempertahankan tradisi, atau bahkan masyarakat yang dianggap tertinggal dalam proses modernisasi.
Persoalannya bukan apakah istilah-istilah tersebut semuanya benar atau salah. Persoalannya adalah apakah istilah tersebut cukup untuk menjelaskan kompleksitas kehidupan masyarakat Sumba. Ketika seseorang mengatakan masyarakat Sumba, sebenarnya kita sedang berbicara tentang masyarakat yang sangat beragam. Ada perbedaan wilayah, kabupaten, kelompok sosial, pengalaman sejarah, agama, kelas sosial, generasi, dan pengalaman hidup. Karena itu, teori antropologi membuat saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah yang terlalu umum.
Berkaitan dengan itu, gagasan tentang etnosentrisme menjadi penting. David Givens menjelaskan bahwa antropologi budaya berusaha memahami logika internal suatu masyarakat. Melalui metode komparatif, antropolog belajar menghindari etnosentrisme, yaitu kecenderungan untuk memahami kebudayaan lain berdasarkan prasangka dan ukuran yang berasal dari kebudayaan sendiri. Jika saya membawa pemahaman saya sendiri tentang agama, keluarga, perkawinan, gender, atau modernitas untuk langsung menilai masyarakat Sumba, sebenarnya saya belum tentu memahami Sumba. Saya mungkin hanya sedang melihat Sumba melalui kacamata saya sendiri.
Kesadaran ini menjadi sangat penting ketika saya berhadapan dengan kebudayaan dan kepercayaan Marapu. Dalam kerangka antropologi, saya tidak dapat begitu saja bertanya apakah kepercayaan Marapu sama atau berbeda dengan agama yang saya kenal. Pertanyaan tersebut sudah membawa kategori tertentu.
***
Pertanyaan antropologis yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat yang menghidupi Marapu memahami hubungan antara manusia, leluhur, alam, komunitas, dan Yang Tertinggi. Dengan kata lain, saya perlu berusaha memahami dunia makna masyarakat Sumba sebelum memasukkan dunia tersebut ke dalam kategori saya sendiri.
Pemikiran Clifford Geertz membantu saya memahami persoalan tersebut dengan lebih mendalam. Dalam The Interpretation of Cultures, Geertz memahami agama sebagai sistem simbol yang membentuk suasana hati dan motivasi manusia dengan merumuskan konsepsi mengenai tatanan umum keberadaan dan memberikan kesan bahwa konsepsi tersebut bersifat nyata. Agama, dengan demikian, tidak hanya berada dalam doktrin atau ajaran tertulis, tetapi juga hadir dalam simbol, ritual, tindakan, relasi sosial, dan cara manusia memahami kehidupan.
Jika saya menggunakan perspektif Geertz untuk membaca Sumba, saya mulai melihat bahwa berbagai praktik kebudayaan tidak dapat dipisahkan begitu saja dari sistem makna yang menopangnya. Sebuah ritual tidak hanya merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan berulang-ulang. Ritual dapat menjadi sarana melalui mana masyarakat memahami hubungan antara manusia dan dunia yang lebih luas. Demikian pula, simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dipahami hanya berdasarkan bentuk luarnya. Simbol menjadi penting karena membawa konsepsi tertentu tentang kehidupan.
Hal ini membuat saya semakin tertarik pada persoalan Marapu dan kosmologi Sumba. Jika Marapu hanya dilihat sebagai kepercayaan lokal, kita berisiko mempersempitnya menjadi sekumpulan kepercayaan yang berbeda dari agama-agama besar. Namun, jika menggunakan pendekatan antropologis Geertz, kita dapat bertanya bagaimana simbol dan praktik Marapu membentuk cara masyarakat memahami keberadaan, hubungan sosial, alam, leluhur, dan Yang Tertinggi. Dengan demikian, Marapu bukan hanya sesuatu yang dipercayai, tetapi juga merupakan bagian dari dunia makna yang membentuk cara hidup.
Fiona Bowie juga memberikan refleksi yang menurut saya sangat penting. Bowie menunjukkan bahwa antropologi agama menghadapi persoalan ketika konsep-konsep seperti agama, kepercayaan, dan belief digunakan untuk memahami masyarakat yang memiliki cara berbeda dalam mengorganisasi pengalaman religius mereka. Contoh Mary Steedly dengan masyarakat Karobatak menunjukkan bahwa istilah percaya kepada roh ternyata tidak selalu berarti pertanyaan tentang apakah roh tersebut ada atau tidak. Maknanya dapat berkaitan dengan relasi dan kepercayaan terhadap roh.
Contoh tersebut membuat saya merefleksikan cara saya menggunakan istilah kepercayaan saat berbicara tentang Marapu. Saya perlu bertanya apakah kepercayaan dalam bahasa akademik benar-benar menangkap pengalaman masyarakat Marapu. Apakah Marapu hanya persoalan percaya atau tidak percaya? Ataukah Marapu juga menyangkut relasi, kewajiban, identitas, leluhur, alam, komunitas, dan cara berada di dunia? Pertanyaan semacam ini, menurut saya, jauh lebih antropologis daripada sekadar mencoba menentukan apakah Marapu memenuhi definisi agama yang sudah ada.
***
Refleksi tersebut juga membawa saya pada persoalan yang lebih luas mengenai adat dan praktik sosial di Sumba. Saya menyadari bahwa antropologi tidak mengajarkan saya untuk menerima setiap praktik budaya begitu saja hanya karena praktik tersebut disebut tradisi. Sebaliknya, antropologi mengajarkan saya untuk memahami bagaimana suatu praktik memperoleh makna dan bagaimana praktik tersebut dipertahankan dalam kehidupan sosial. Dalam konteks Sumba, hal ini penting ketika berbicara tentang berbagai praktik yang berkaitan dengan relasi sosial, status, gender, perkawinan, atau stratifikasi sosial.
Misalnya, ketika membicarakan relasi Maramba, Kabihu, dan Ata, saya tidak cukup hanya mengatakan bahwa masyarakat Sumba memiliki sistem stratifikasi sosial. Saya perlu bertanya bagaimana kategori tersebut dibentuk, diwariskan, diberi makna, dan dialami oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Lebih penting lagi, saya perlu mendengarkan pengalaman orang-orang yang berada pada posisi sosial yang berbeda. Dengan demikian, antropologi mengubah cara saya melihat struktur sosial, yaitu dari sesuatu yang tampak sebagai sistem yang sudah jadi menjadi sesuatu yang terus diproduksi melalui tindakan dan relasi manusia.
Melalui hal inilah saya melihat keterkaitan antara antropologi dan refleksi kritis terhadap budaya. Sebuah praktik dapat memiliki makna positif bagi sebagian anggota masyarakat, tetapi pada saat yang sama dapat dialami secara berbeda oleh orang lain. Karena itu, saya tidak ingin lagi memahami budaya Sumba sebagai satu suara tunggal. Budaya selalu memiliki banyak suara. Ada suara tokoh adat, orang tua, perempuan, laki-laki, anak muda, kelompok yang memiliki status sosial tinggi, maupun mereka yang berada pada posisi yang lebih rentan.
Kesadaran ini sangat penting bagi saya karena saya belajar bahwa menjadi peneliti bukan berarti menjadi orang yang paling mengetahui masyarakat yang sedang diteliti. Justru sebaliknya, peneliti harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengalaman masyarakat jauh lebih kompleks daripada teori yang digunakan untuk menjelaskannya. Teori membantu saya melihat sesuatu yang sebelumnya tidak saya lihat, tetapi teori tidak boleh menggantikan suara manusia yang sedang saya pelajari.
Pada titik ini, saya merasa bahwa teori-teori antropologi memiliki hubungan yang sangat kuat dengan proses belajar saya tentang Sumba. Eriksen mengajarkan saya untuk melihat manusia dari dalam dan memahami perbedaan tanpa menjadikannya hierarki. Givens mengingatkan saya akan bahaya etnosentrisme dan pentingnya memahami logika internal suatu kebudayaan. Geertz membantu saya memahami bahwa agama dan kebudayaan hidup melalui simbol dan sistem makna. Sementara itu, Bowie mengingatkan saya agar berhati-hati dalam menggunakan kategori seperti agama, kepercayaan, dan pengalaman religius ketika berhadapan dengan dunia kebudayaan yang berbeda.
***
Pada akhirnya, mempelajari antropologi membuat saya melihat Sumba dengan cara yang berbeda. Saya tidak lagi ingin hanya bertanya, “Apa budaya orang Sumba?” Pertanyaan tersebut terasa terlalu sederhana. Saya justru ingin bertanya, “Bagaimana orang Sumba memahami dunia mereka? Bagaimana mereka memberi makna pada adat, agama, leluhur, alam, relasi sosial, dan kehidupan bersama? Dan bagaimana makna tersebut berubah ketika masyarakat berhadapan dengan agama-agama dunia, negara, modernitas, pendidikan, ekonomi, dan perubahan generasi?”
Bagi saya, perubahan pertanyaan tersebut merupakan perubahan paling penting yang saya dapatkan dari belajar antropologi. Saya menyadari bahwa antropologi bukan sekadar ilmu tentang masyarakat lain. Antropologi juga merupakan latihan untuk membongkar cara kita memandang manusia. Ketika saya mempelajari Sumba, saya sebenarnya tidak hanya belajar tentang Sumba. Saya juga sedang belajar tentang diri saya sendiri: kategori-kategori yang saya gunakan, asumsi yang saya bawa, dan batas pengetahuan yang saya miliki.
Dengan demikian, refleksi saya setelah mempelajari teori-teori antropologi adalah bahwa memahami Sumba membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tradisi dan kebudayaan. Saya perlu belajar mendengar dari dalam, memahami konteks, memperhatikan simbol, dan memberi ruang kepada masyarakat untuk menjelaskan dunianya sendiri. Bagi saya, di situlah antropologi menjadi penting: bukan untuk menentukan mana kebudayaan yang lebih maju atau lebih benar, tetapi untuk membantu manusia memahami manusia lain dengan lebih kritis, kontekstual, dan rendah hati.
*Keterangan: esai ini semula merupakan tugas mata kuliah Antropologi Agama yang diampu oleh Sumanto Al Qurtuby.
Daftar Pustaka
Eriksen, Thomas Hylland. 2004. What Is Anthropology? Pluto.
Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. Basic Books.
Givens, David. n.d. “Introduction to Anthropology.” http://www.bu.edu/anthrop/about/what-is-anthropology/
Bowie, Fiona. 2008. “Anthropology of Religion.” Religion Compass 2 (5): 862-874.


















