Beranda Publikasi Kolom Gamelan Bali: Inspirasi Eksotis Colin McPhee

Gamelan Bali: Inspirasi Eksotis Colin McPhee

507
Sumber: https://baligatesofheaven.blogspot.com/2021/04/gamelan-bali-kuno.html

Oleh: Sunarto (pengajar Filsafat dan Musikologi pada Jurusan Sendratasi, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang)

Selama pelayarannya mengelilingi dunia, Sir Francis Dranke (1540–1596) sempat mengunjungi Jawa pada tahun 1580. Dranke, dalam Golden Hind memberi informasi yang berisi reaksinya (dan beberapa pedengar Eropa) terhadap rekaman pertama musik Gamelan Jawa: “Saya berpikir itu adalah jenis suara yang sangat aneh, namun sound itu menyenangkan”.

Gamelan memiliki konteks, yaitu: budaya, musisi, dan penonton. Pengetahuan tentang Gamelan (Jawa dan Bali) semakin meningkat seiring upaya berbagai sarjana Belanda pada abad ke-19, memuncak dengan studi Jaap Kunst di Jawa; dan Colin McPhee, di Bali selama tahun 1930-an dan 1940-an. McPhee mengalami perubahan musikal begitu mendengar Gamelan Bali. Akhirnya, ia konsentrasi penuh pada pembuatan karya musik, yang berupa paduan suara Gamelan Bali yang dituangkan dalam instrument Piano (Barat).

Sekilas tentang Gamelan Bali

Tidak ada bagian dari dunia musik non-Barat yang mendapat perlakuan lebih simpatik dari para musikolog/etnomusikolog Barat selain dari sebuah pulau kecil, Bali, setelah Jawa dalam rangkaian Nusantara. Berbeda dengan Jawa yang, dari kontak dengan Muslim India, sebagian besar berada di bawah pengaruh Islam pada abad ke-15, Bali, setelah menolak agama Buddha sejak awal, lolos dari pengaruh Islam dan sampai hari ini tetap pada dasarnya Hindu. Namun, Gamelan (orkestra) ritual tidak menggunakan instrumen yang terkait dengan pengaruh Hindu, seperti di tempat lain.

Gamelan klasik, yang semula hanya digunakan dalam upacara-upacara yang berhubungan dengan kremasi, hampir seluruhnya terdiri dari idiofon (perkusi/pukul). Satu-satunya instrumen non-idiophonik adalah kendang (drum). Skala instrumen hanya empat nada. Dalam banyak Gamelan klasik, idiofon seluruhnya adalah metalofon; tetapi di beberapa bagian Bali, Gamelan klasik termasuk idiofon kayu: angklung dan dua jenis gambang. Bahkan ketika angklung tidak ada, Gamelan klasik disebut sebagai “Gamelan Angklung”.

Sejak abad ke-16, vokal dari lima nama nada (ding, dong, deng, doeng, dan dang) telah digunakan di Bali untuk merekam melodi. Meskipun nilai waktu tidak ditunjukkan, meter diberi nama.

Tiga transkripsi musik Gamelan Bali yang mengagumkan, untuk dua piano, telah diterbitkan. Salah satunya, Music for the Shadow Play menggunakan tangga nada Slendro dan dua lainnya dalam Pelog.

Di Bali, jenis orkes India, yang terdiri dari rebab, suling dan simbal digunakan untuk dua tujuan. Pertama, satu jenis mengiringi drama klasik, Gamboeh, dimainkan dalam bahasa Jawa abad ke-14, yang temanya diambil dari romantis atau versi mitos sejarah Jawa. Kedua, orkestra seruling dan perkusi serupa mengiringi Ardja, sejenis drama yang sampai batas tertentu mengacu pada kisah-kisah Cina modern. Dalam yang terakhir penggunaan iringan instrumental tampaknya menjadi penggunaan yang relatif modern.

Inspirasi Eksotis

Nama lengkapnya Colin (Carhart) McPhee. Lahir di Montreal, 15 Maret 1900; dan meninggal di Los Angeles, 7 Januari 1964. Ia adalah komposer Amerika dan ethnomusicologis. Dia belajar komposisi dan piano di Konservatorium Peabody dengan Harold Randolph dan Gustav Strube (1918-21), lalu kembali ke Toronto untuk belajar piano bersama Arthur Friedheim. Pada tahun 1920 ia memberikan penghargaan Piano Concerto No.1 dengan Peabody Orchestra dan pada tahun 1924 menampilkan Piano Concerto No.2 dengan Toronto New SO. Dari tahun 1924 sampai 1926 ia belajar di Paris bersama Paul Le Flem dan Isidore Philipp dan kemudian pergi ke New York, di mana selama lima tahun ia menjadi peserta aktif dalam masyarakat musik dan konser baru.

(Sumber: https://www.discogs.com/es/artist/1415016-Colin-McPhee)

Peristiwa yang menentukan dalam karir McPhee terjadi pada akhir 1920-an, saat dia pertama kali mendengar rekaman Gamelan Bali yang baru saja dirilis. Dia terinspirasi untuk pergi ke Bali pada tahun 1931 dan tinggal di sana, dengan hanya beberapa gangguan, sampai akhir 1938. Penelitiannya yang lamban tentang musik Bali, yang mendokumentasikan satu dekade ketika pulau itu masih terbebas dari pengaruh dari luar dan memuncak dalam penulisan Music in Bali, yang tetap menjadi risalah utama musik pulau itu.

McPhee mempelajari tradisi musik yang berkembang, dan juga yang semakin lamban, dengan berkeliling pulau untuk bekerja dengan beragam orkestra dan dengan mengubah rumah bergaya asli di Sayan menjadi tempat berkumpul bagi musisi lokal. Ia mendirikan beberapa ansambel, termasuk gamelan Semar Pegulingan dan Gamelan Angklung, untuk menghidupkan kembali kesenian yang sudah mau mati. Sementara di Bali ia berhubungan dengan sekelompok antropolog Barat dan seniman termasuk Gregory Bateson, Jane Belo, Claire Holt, Margaret Mead, dan Walter Spies.

McPhee menggabungkan peran komposer dan sarjana dalam pendekatannya terhadap musik Bali. Dia mentranskripsikan puluhan karya gamelan untuk dua piano, piano solo, dan seruling dan piano (beberapa di antaranya dia rekam dengan Britten dan Barrère pada tahun 1941), dan pada tahun 1936 dia menulis Tabuh-tabuhan, karya orkestra pertamanya yang utama untuk menggabungkan bahan-bahan Bali. Ini pertamakali dilakukan di tahun yang sama oleh Carlos Chavez dan Orquesta Sinfónica de México.

Setelah McPhee kembali ke New York pada awal tahun 1939, dia menghadapi kesulitan dalam membangun kembali dan mendukung dirinya sendiri. Selama tahun 1940-an ia bekerja untuk Kantor Informasi Perang (1945-1957) dan pada gilirannya berpaling sebagai media kreatifnya. Dia menulis artikel tentang Bali dan ulasan tentang skor dan rekaman untuk Modern Music, Musical Quarterly and Harper’s. Ia menangkap suasana tinggalnya secara puitis di bukunya, A House in Bali (1946). Selama waktu ini ia membuat beberapa upaya yang tidak memuaskan pada komposisi musik, termasuk musik insidental untuk drama oleh Tennessee Williams dan Eugene O’Neill dan Four Iroquois Dances untuk orkestra.

Karya-karya ini, bersamaan dengan sebagian besar musik awalnya, dihancurkan atau ditinggalkan olehnya. Setelah tabuh-tabuhan akhirnya menerima penampilan pertamanya di Amerika pada tahun 1953 (dengan Konduktor Stokowski). Dia menerima penghargaan dari Koussevitzky Foundation, the Louisville Orchestra, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Contemporary Music Society, Robert Boudreau American Wind Symphony dan BMI. Penghargaan lainnya termasuk National Institute of Arts and Letters Award (1954) dan beasiswa Guggenheim dan Bollingen. Bergabung dengan fakultas di UCLA pada tahun 1960.

Karakter khas gaya musik McPhee adalah sensitivitas akut terhadap timbre individu yang digabungkan dengan kecenderungan tekstur ritme berlapis. Ciri-ciri ini hadir dalam beberapa keping awal yang masih ada, terutama Concerto untuk Piano dan Wind Octet (1928), sebuah karya neo-klasik yang ditandai dengan kombinasi suara estetis yang sering terjadi, dan terus berlanjut dalam komposisi yang ditulis McPhee setelah ia meninggalkan Bali. Tidak ada eksperimentalis, McPhee tinggal dalam gaya tradisional dan harmoni tonal bahkan setelah imajinasinya telah terpukau oleh eksotisme Gamelan Bali. Dia senang membuat gerak tubuh yang luwes dan dramatis; dan terutama menulis untuk orkestra dan piano.

Di tabuh-tabuhan, komposisi yang paling terkenal, McPhee menggunakan standar orkestra simfoni bersama dengan “Gamelan Nuklir” (nuclear gamelan), instrumen Barat (dua piano, celesta, xylophone, marimba, dan glockenspiel), dan dua gong Bali. Sebagian besar materi musikal dalam karya ini dan selanjutnya, seperti Symphony No. 2 dan Nocturne untuk orkestra kamar, diambil dari banyak transkripsi yang dibuatnya di Bali – yang semuanya secara sensitif mentransfer notasi gamelan yang rumit, harmoni melodi antara instrumen Bali dan Barat.

Penutup

Claude Debussy (1862–1918) mendengar pertama kali Gamelan (Jawa dan Sunda) di Paris pada World Exhibition tahun 1889 dan menjadi yang pertama di barisan panjang komposer untuk mengakui pengaruh Gamelan, termasuk: Joseph Maurice Ravel (1875–1937), Olivier Eugène Prosper Charles Messiaen (1908–1992), Lou Silver Harrison (1917–2003), Antonius Wilhelmus Adrianus de Leeuw (1926–1996), Stephen (Steve) Michael Reich (1936–), dan Michael Edward Parsons (1938–). Mereka itulah para komposer yang terinspirasi oleh Gameln yang tertuang dalam karya-karya baru mereka.

Dampak dari World Exhibition, yang mengispirasi para komposer Amerika dan Eropa, sangat besar. Pada pertengahan tahun 1950-an, pertunjukan oleh orang Barat dimulai di Belanda, di mana banyak museum memiliki instrumen Gamelan. Atusiasme untuk musik Indonesia (Gamelan) menyebar ke Amerika Serikat di bawah pengaruh Mantle Hood dari Universitas California di Los Angeles, dan banyak Universitas Amerika sekarang memiliki grup pertunjukan dan teknologi (pegajaran) Gamelan (Java, Bali, dan Sunda). Ansambel Gamelan juga semakin banyak tersebar di Australia, dan baru-baru ini, di negara-negara Eropa, termasuk Jerman, Swedia, dan Inggris.

Sejarah musik kontemporer mencatat, Colin McPhee hadir dalam belantika musik kontemporer membawa sesuatu musikal yang eksotis. McPhee, bersama para composer Amerika dan Eropa, telah bergelut dengan Gamelan Bali. Pengaruh McPhee pun dapat terlacak dengan jelas, seperti pada beberapa komposer kontemporer Barat. McPhee telah menampilakan suatu cross-culture, antara Timur (Bali) dan Barat; cross-culture yang eksotis. [NI]

Karya Buku 

A House in Bali, James Murdoch (Introduction). New York: Periplus Editions (HK) Ltd. 1947.

Music in Bali, United States: Yale University Press. 1966.

Karya Musik

 c40 transcrs. gamelan music, 2 pf and solo pf, 1931–62, incl. Balinese Ceremonial Music, 2 pf, 1934, 1938, pubd

2 transcrs. Gamelan Music, fl, pf, 1935–6

[Suite of Balinese transcrs.], 3 pf, cel, xyl, glock, vc, db; New York, 13 Jan 1947.

Chbr: 4 Pf Sketches, op.1, 1916, pubd; 3 Moods, pf, 1924, lost; Pastorale and Rondino, 2 fl, cl, tpt, pf, ?1925, lost; Sarabande, pf, ?1925, lost; Invention, pf, 1926, pubd; Conc., pf, 8 wind, 1928, arr. 2 pf, 1957, pubd; Kinesis, pf, 1930, pubd; pf arrs. of works by Britten and Buxtehude; c25 juvenile pf works, lost

Songs: Arm, Canadians (V. Wyldes), 1v, pf, 1917, pubd; C’est la bergère Nanette, Cradle song, Petit chaperon rouge, Theris, all S, pf, ?1928, lost.

Bibliografi

Becker, Judith. (1980) Traditional Music in Modern Java: Gamelan in a Changing Society. Honolulu: University of Hawai Press.

Kunst, Jaap. 1973. Music in Java, its Theory and its Technique. (2 Volume), Ernst Heinz (ed.). The Haque: Martinus Nijhoff.

Lindsay, Jennifer, 1979, Javanese Gamelan. Kuala Lumpur.

Mueller, R. “Bali, Tabuh-tabuhan and Colin McPhee’s Method of Intercultural Composition”.  JMR, x (1990–1991). pp. 127–75; xi (1991–1992). pp. 67–92.

Oja, C.J. “Colin McPhee: A Composer Turned Explorer”. Tempo. No. 148 (1984). pp. 2–6

Oja, C.J. 1990. Colin McPhee: Composer in Two Worlds.Washington DC.

Riegger, W. “Adolph Weiss and Colin McPhee”.  H. Cowell (ed.). 1933. American Composers on American Music. Stanford: CA. pp. 36–42.

Sigmon, C. “Colin McPhee”, American Composers Alliance Bulletin, xii/1 (1964). pp. 15–16.

Young, D. “Colin McPhee’s Music”. Tempo. No. 150 (1984). pp. 11–17; No. 159 (1986). pp. 16–19.

Young, D. “Colin McPhee’s Music: (II) ‘Tabuh-Tabuhan’”. Tempo. New Series, No. 159 (Dec., 1986). pp. 16-19

2 KOMENTAR

  1. Begitu indahnya jika mendengar musik gamelan,baik Java,Bali maupun Sunda
    Semua indah tapi memiliki karakter berbeda. Apalagi pesan yang disampaikan dan berbau mistis.
    Dengan tulisan tersebut mengingatkan, betapa geniusnya orang sebagai pencipta utama dari gamelan tersebut, hingga orang2 Eropa terkagum- kagum karnanya.Mengucapkan selamat atas tulisannya,dan pasti akan mengingatkan kita sebagai generasi yang peduli tentang musik tradisional ” GAMELAN “

  2. Musisi & komposer barat mendengar timbre sound gamelan telinga dan imajinasinya cepat menangkap sesuatu yang unik, singular, khususnya gamelan Bali. Sebuah kebanggaan bagi kita yang hidup tinggal di Indonesia dengan beraneka ragam budaya lokal yang melimpah ruah. Tulisan ini menyadarkan kita sebagai bangsa Indonesia harusnya bangga dengan warisan2 budaya Nusantara yang kaya makna, edukasi, filosofi. Bukan malah lebih bangga terhadap budaya negeri asing. Tetap di tunggu tulisan2 edukasi berbobot selanjutnya pak Narto. Salam hormat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here