Beranda Publikasi Kolom Makna Simbolik Tradisi Mepe Kasur di Banyuwangi

Makna Simbolik Tradisi Mepe Kasur di Banyuwangi

17
0

Dewi Ayu Larasati (Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)

Perayaan Idul Adha di Indonesia memiliki kekhasan karena adanya tradisi yang diwariskan turun-temurun di berbagai daerah. Tradisi tersebut mencerminkan kekayaan budaya yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai Islam. Walaupun setiap daerah memiliki cara unik dalam merayakan Idul Adha, semuanya tetap mengusung pesan pengorbanan, rasa syukur, dan kepedulian.

Seperti halnya tradisi unik yang dilakukan masyarakat adat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur. Tradisi ini dikenal dengan nama tradisi mepe kasur, yaitu menjemur kasur secara massal di depan rumah warga dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Pelaksanaan tradisi ini dilakukan pada minggu pertama bulan Dzulhijjah, antara hari Kamis dan hari Minggu dalam kalender Jawa dan Islam, karena menurut masyarakat Desa Kemiren kedua hari tersebut merupakan hari-hari yang sakral (Prabasari, 2021).

Tradisi mepe kasur warga Osing kerap diikuti tradisi bersih desa dengan arak-arakan barong dan berziarah ke Makam Buyut Cili yang diyakini masyarakat sebagai penjaga desa. Sebagai puncak dari ritual tersebut, warga bersama-sama menggelar selamatan tumpeng sewu atau selametan desa sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Sejarah mepe kasur masyarakat adat Osing sejatinya tidak tertulis, artinya, tidak ada buku yang menjelaskan sejarah mepe kasur melainkan memuat pengetahuan lisan atau tradisi lisan yang disampaikan dari satu individu ke individu lainnya. Namun, hingga saat ini, warga Desa Kemiren yang dihuni oleh masyarakat asli Suku Osing masih mempertahankan adat dan budaya leluhur mereka.

Simbolisme yang terdapat dalam ritual adat mepe kasur mencerminkan sikap dan perilaku masyarakat adat Osing yang selalu menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualitas. Secara visual, hamparan kasur bukan hanya menciptakan lanskap budaya yang memukau, tetapi juga mengandung pesan-pesan moral dan spiritual yang jauh lebih dalam.

Simbol Pembersihan Diri dan Bersih Desa

Mepe kasur merupakan istilah Jawa yang mengacu pada kegiatan mengeringkan kasur. Pembersihan kasur dilakukan dengan menggunakan tongkat anyaman untuk mengeluarkan debu secara maksimal, sehingga debu yang ada di dalam kasur dapat hilang dan kasur pun kembali empuk.

Setelah itu, kasur harus segera dimasukkan ke dalam rumah setelah tengah hari, sesuai kepercayaan masyarakat bahwa penjemuran yang berlebihan dapat menghilangkan manfaat ritual dan menyebabkan debu jalanan kembali masuk.

Nah, pertanyaannya, mengapa kasur?

Warga Osing beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, karena kasur memiliki kedekatan yang sangat erat dengan manusia, menjadi tempat istirahat dan pemulihan energi (kabarbanyuwangi.co.id, 29/5/2025). Maka dari itu, mereka mengeluarkan kasur dari dalam rumah lalu menjemurnya di luar agar terhindar dari berbagai macam penyakit.

Tradisi ini juga sering dihubungkan dengan fenomena ketika dulunya salah satu warga mengalami penyakit aneh yang menular (Rahman, dkk., 2024:187). Karena masyarakat Desa Kemiren sering kali dihubungi oleh leluhur melalui alam mimpi, konon pada suatu malam, leluhur mengunjungi dan memberitahu cara penyembuhan kepada orang tersebut melalui ritual adat, yang mencakup serangkaian upacara mepe kasur. Setelah warga menjalani ritual tersebut, beberapa minggu kemudian penyakitnya sembuh.

Hingga saat ini, menjelang Hari Raya Idul Adha, begitu matahari terbit, orang ramai-ramai menjemur (mepe) kasur di halaman rumah mereka, seraya memercikkan air bunga di halaman dan membaca doa agar terhindar dari segala penyakit. Sambil menjemur kasur, warga menghidangkan jajanan khas Kemiren seperti kue kucur (kue cucur), cenil, pisang goreng telur, tape buntut, kue apem, dan sebagainya.

Jadi, tradisi Mepe Kasur dalam hal ini bukan hanya membersihkan diri dari kotoran saja, kegiatan ini juga dilakukan sebagai ritual bersih desa yang dilakukan setiap menjelang Hari Raya Idul Adha.

Simbol Penolak Bala

Tradisi mepe kasur bukan sekadar menjemur dan membersihkan, namun juga dipercaya sebagai ritual menolak bala dan mengusir energi negatif. Warga Suku Osing meyakini dengan melakukan ritual ini, desa mereka terjaga dari marabahaya selama setahun.

Makna doa dan penggunaan air suci yang telah direndam kelopak bunga pada tahap pertama ritual adat mepe kasur adalah untuk menolak hal-hal negatif bagi pemilik rumah. Air dianggap sebagai lambang pembersihan dan disiramkan ke jalan depan rumah untuk menyucikannya. Kelopak bunga yang direndam juga berfungsi sebagai pengharum, dan penaburan kelopak di jalan bertujuan untuk membuat jalan Desa Kemiren lebih indah dan memberikan aroma yang wangi.

Begitu pula upacara “Ngarak Barong” setelah menjemur kasur diartikan sebagai simbol penjaga Desa Kemiren. Termasuk tradisi “Tumpeng Sewu” yang menjadi acara puncak dari tradisi Mepe Kasur, selain sebagai wujud syukur warga Desa Kemiren atas berkat yang telah dilimpahkan, juga sebagai harapan agar masyarakat dan Desa Kemiren dijauhkan dari segala mara bahaya dan penyakit.

Warna Kasur Merah dan Hitam, Simbol Kelanggengan Rumah Tangga

Kasur yang digunakan dalam tradisi mepe kasur adalah kasur khas yang hanya dapat dijumpai pada masyarakat adat Osing di Desa Kemiren. Kasur itu disebut “Kasur Gembil”. Warnanya pun khusus, yaitu abang cemeng. Abang artinya merah dan cemeng berarti hitam. Abang cemeng merupakan bahasa Osing (Sopanah, 2020:105). Sisi atas dan bawah kasur kapuk itu berwarna hitam, sedangkan kelilingnya berwarna merah.

Pemilihan warna tersebut mengandung makna simbolis bagi masyarakat Osing Kemiren, khususnya dalam kehidupan berumah tangga. Makanya setiap pengantin baru akan menerima kasur baru dengan warna serupa dari orang tua mereka.

Pemberian kasur berwarna hitam dan bertepi merah kepada pengantin baru dipercaya dapat melanggengkan hubungan rumah tangga. Alasannya, kasur merupakan tempat berdiskusi suami dan istri. Selain itu, keberanian akan muncul untuk mengungkapkan perasaan bahkan mencari solusi bagi rumah tangga.

Dalam filosofi perkawinan, warna hitam pada kasur bermakna kelanggengan atau harapan akan kehidupan pernikahan yang bertahan hingga usia tua (Prabasari, 2021). Di samping itu, warna hitam atau “cemeng” dalam bahasa Suku Osing dimaksudkan untuk mengusir energi negatif atau sial (Rahman, 2024:185). Dengan demikian, setiap pasangan baru berharap untuk terhindar dari kesialan dan hubungan rumah tangga tetap harmonis.

Sebaliknya, warna merah pada kasur melambangkan keberanian bagi seorang gadis dan suaminya dalam memulai hidup baru (Prabasari, 2021). Warna merah juga menjadi simbol kerja keras. Maksudnya, kaum lelaki harus bekerja keras agar kebutuhan rumah tangga terpenuhi serta hubungan suami istri tetap langgeng dan harmonis.

Simbol Kerukunan Warga

Tradisi mepe kasur yang diikuti dengan tradisi Tumpeng Sewu merupakan simbol untuk mempererat tali silaturahmi tidak hanya bagi tetangga, sesama masyarakat Desa Kemiren, tetapi juga persahabatan dengan setiap tamu atau wisatawan, yang berkunjung ke Desa Kemiren. Ini menjadi modal penting untuk membangun semangat daerah, simbol kerukunan dan kebersamaan, sekaligus menjaga tradisi.

Setiap orang yang hadir atau menyaksikan upacara Tumpeng Sewu dengan lauk khas warga Osing, yaitu pecel pithik alias ayam panggang dengan parutan kelapa, akan diajak untuk makan bersama secara gratis. Ini menunjukkan sifat pribadi yang terbuka terhadap orang lain.

Berdasarkan uraian di atas, tradisi mepe kasur warga Osing di Desa Kemiren menunjukkan bahwa desa dengan akar budaya yang kuat dapat maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya. Konsistensi dalam merawat budaya di tengah gempuran modernisasi membuat Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Banyuwangi, menjadi salah satu desa wisata budaya yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.

Daftar Pustaka

Menguak Makna Tradisi Sakral “Mepe Kasur” Masyarakat Using Desa Kemiren Banyuwangi. 29 Mei 2025. Diunduh dari https://kabarbanyuwangi.co.id/berita/detail/menguak-makna-tradisi-sakral-mepe-kasur-masyarakat-using-desa-kemiren-banyuwangi

Mepe Kasur, Tradisi Unik Suku Osing Banyuwangi Jelang Idul Adha. 22 Juni 2023. Diunduh dari https://banyuwangikab.go.id/berita/mepe-kasur-tradisi-unik-suku-osing-banyuwangi-jelang-idul-adha

Prabasari, Arga Diena. 2021. Makna Tradisi Mepe Kasur Merah Hitam Pada Suku Bangsa Osing. Jurnal Biokultur, 10 (2), hal. 135-144.

Rahman, Abdul, et.al, 2024. Ragam Mozaik Kearifan Lokal Nusantara-1. Sumatera Barat: CV Suluah Kato Khatulistiwa

Sopanah, Ana. 2020. “Partisipasi Masyarakat dalam Proses Penganggaran Berbasis Kearifan Lokal di Suku Osing” dalam Harnovinsah. Et al. (editor), Bunga Rampai Akuntansi Publik: Isu Kontemporer Akuntansi Publik.2020. Jawa Timur: Unitomo Press

Nusantara Institute
Tim Redaksi

Nusantara Institute adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Budaya Nusantara Indonesia yang berfokus di bidang studi, kajian, riset ilmiah, publikasi, scholarship, fellowship, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini