Beranda Publikasi Kolom 48 Tahun TMII, Kuasa Orba Menggenggam Indonesia

48 Tahun TMII, Kuasa Orba Menggenggam Indonesia

661
Sumber foto: dokumentasi Kementerian PUPR

Oleh: Aris Setiawan (Pengajar ISI Surakarta)  

Beberapa tahun lalu, negara mengambil alih pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita yang notabene milik keluarga Soeharto. Lewat Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 disebutkan bahwa pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah oleh Yayasan Harapan Kita (berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 51 Tahun 1977) dinyatakan berakhir. Tidak banyak yang mengetahui bagaimana TMII dibangun dari ambisi penguasa (khususnya ibu negara, Tien Soeharto) saat itu dalam mereduksi Indonesia menjadi miniatur yang sentralistik di Ibukota.

Pada rapat Yayasan Harapan Kita (YHK), tanggal 13 Maret 1970, Tien Soeharto atau biasa dipanggil Ibu Tien melontarkan gagasan untuk membangun miniatur negeri ini di Ibu Kota. Miniatur itu berisi rumah-rumah adat, dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Semangat membangun miniatur Indonesia dilandasi oleh ikhtiar membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta pada tanah air.

Gubernur Ali Sadikin saat itu menyarankan agar lokasi miniatur di daerah Pondok Gede, Kecamatan Pasar Rebo dengan luas tanah kurang lebih 150 hektar. Ibu Tien menerima usul itu. Lahan yang luas memungkinkan eksplorasi dan pembangunan berjalan maksimal.

John Pemberton (2003), mengisahkan pada bulan Juni 1971, sesaat sebelum pemilu Orde Baru yang pertama, ratusan penduduk dari beberapa kampung di pinggiran Selatan kota Jakarta mencari lembaga bantuan hukum untuk masalah-masalah yang tak ada kaitannya dengan pemilu. Rumah-rumah mereka akan digusur dan tanah mereka wajib dijual kepada pemerintah lewat YHK sebagai bagian dari proyek miniatur Indonesia.

Tentu saja harga jual jauh di bawah harga pasar. Bagi yang menolak, siap-siap dicap komunis dan ditangkap. Ya, “cap komunis” adalah senjata paling ampuh oleh negara untuk menjinakkan rakyatnya. Bahkan, untuk kepentingan tertentu, gaya yang demikian hingga kini masih terus disuarakan kendatipun telah dianggap basi.

Tanggal 30 Juni 1972 pembangunan dimulai, penolakan dan kritikan silih berganti datang. Proyek yang menghabiskan dana 25 juta dolar itu dipandang sebagai pemborosan anggaran negara. Harian Sinar Harapan (23 Desember 1971) memberitakan, kumpulan beberapa tokoh yang menamakan diri “Gerakan Penyelamat Uang Rakyat” berbaris menuju kantor YHK melakukan protes, namun empat orang terluka parah oleh tembakan senapan.

Orde Baru, di bawah Soeharto tentu kebal (kata lain anti) kritikan. Kendatipun ekonomi Indonesia sedang kembang kempis kala itu, pembangunan miniatur terus berlanjut hingga tuntas. Tanggal 20 April 1975, miniatur yang megah itu selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto didampingi sang istri, Ibu Tien. Dinamakan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Nama taman mini, menunjukkan bahwa miniatur yang luas itu adalah representasi kecil dari wajah Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia tentulah lebih luas dan megah lagi. Begitulah nama membawa makna dan wacana.

Berdiri rumah-rumah adat (anjungan), dilengkapi dengan amphiteatre, auditorium dan panggung pementasan musik, tari dan upacara-upacara tradisi. Tidak lupa pula ada toko cinderamata yang menjual berbagai pernak-pernik kerajinan tangan dan kaos, warung makan dengan menu makanan lokal. TMII berhasrat meringkas Indonesia. Tak lupa, penggambaran pulau-pulau di Indonesia juga dibuat, di atas kolam atau sungai, nampak indah dan menawan jika kita menaiki kereta gantung (skylift).

Pembangunan TMII menjadi monumen pengekalan, menarik wisatawan berdatangan, mengkultuskan legitimasi seorang penguasa. Soeharto bukan haus dengan patung-patung bergambar dirinya yang terukir di persimpangan jalan layaknya Soekarno. Ia justru membekukan ingatan tentangnya lewat bangungan-bangunan dan wahana wisata di TMII, sebuah pencapaian prestisius dari sebuah dinasti.

TMII bukan sekadar tempat pelancongan yang menarik didatangi, namun juga berisi mimpi dan imaji tentang Indonesia sebagai sebuah keluarga. Seoharto bersama istri menjadi bapak dan ibu dari keluarga yang harmonis bernama Indonesia. Lewat TMII Soeharto mencoba menggenggam dan mereduksi arti Indonesia. TMII tak ubahnya representasi yang setiap saat bisa berubah seiring perubahan yang terjadi di negeri ini, bertambahnya jumlah provinsi misalnya akan berdampak pula bagi bertambahnya anjungan di TMII. Semua dalam kuasa dan kendali bapak dan ibu, Soeharto dan istri.

Segera setelah itu, TMII menjadi mahakarya yang tidak saja dipuja namun juga dikekalkan sebagai warisan yang menumental tiada banding. Nama TMII hilir mudik dalam layar kaca, berita radio, beku dalam gambar-gambar kaos dan gantungan kuci.

Bahkan buku-buku pelajaran Sekolah Dasar kala itu memasukkan nama dan kisah TMII sebagai subjek. S.W. Siswoyo menulis buku berjudul Kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978. Buku itu menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah tentang betapa menyenangkan dan indahnya mengunjungi TMII.

Anak-anak desa berharap dapat pergi ke Ibu Kota untuk berwisata ke TMII. Kita tidak harus melihat Borobudur secara langsung, cukup datang ke TMII dan memandangi miniatur Borobudur maka hasrat itu sudah terpenuhi. Segala hal tentang Indonesia dapat dijumpai di TMII. Kita tidak harus repot dan capek-capek mengunjungi Indonesia dari satu provinsi ke provinsi lain yang membutuhkan waktu dan dana tidak sedikit. Sekadar mendatangi TMII sudah cukup.

Lewat TMII, ada impian dari penguasa mengubah dan melupakan citra dari masa lalu tentang politik yang berdarah penuh tragedi, menjadi citra yang harmonis dan indah di masa kini dan masa depan. Seoharto mengajak kita untuk bersenang-senang, berwisata dan berfoto ria. Konsep tentang “kesinambungan tanda” cukup sesuai dengan makna yang hendak digapai dari adanya TMII. Taman itu adalah “negara kecil” (mikrokosmis) yang digunakan oleh penguasa sebagai poros dan kontrol bagi negara besar (Indonesia).

Seiring runtuhnya Orde Baru, TMII masih tegak berdiri. Tidak hanya menjadi warisan fisik, namun juga tumpukan ingatan tentang ambisi, cita-cita, tragedi dan hasrat penguasa mengenggam Indonesia. Saat negara mengambil alih di usianya yang ke-48 tahun, masihkah ia menjadi miniatur, sebuah taman, sebuah representasi yang berkisah tentang Indonesia di hari ini?

Tim Redaksi

Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

Artikulli paraprakCalalai: Perempuan Terakhir Penjaga Arajang
Artikulli tjetërPeran Syaikh Kholil Bangkalan dalam Penyebaran Islam
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

1 KOMENTAR

  1. Wah, komodo itu benar-benar hewan yang mengagumkan ya! Makanannya heterogen sekali, dari bangkai hingga mangsa hidup. Kemampuan mereka dalam berburu dan menyerang mangsa juga sangat mengesankan. Tapi yang paling mengejutkan, cara mereka menelan mangsa dengan mencabik-cabik daging dan menyelamatkannya bulat-bulat. Itu benar-benar unik! Tapi harus hati-hati juga, jangan sampai komodo tersedak saat makan. Proses pencernaannya yang lambat membuat mereka hanya perlu makan jarang-jarang. Sungguh menakjubkan bagaimana komodo bisa bertahan hidup dengan pola makan seperti itu. Komodo juga punya ritual membersihkan wajah setelah makan, mirip manusia yang nggak suka dengan bau napasnya sendiri. Hewan yang hewan yang menarik dan penuh misteri, komodo memang layak mendapat perhatian kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini