Beranda Publikasi Kolom Urgensi Budaya Marsiadapari di Masa Pandemi

Urgensi Budaya Marsiadapari di Masa Pandemi

384

Oleh: Roy Martin Simamora (Penulis adalah Pengajar Filsafat Pendidikan PSP ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan)

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dan berbudi luhur. Ada begitu banyak budaya yang hidup dan tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Budaya Nusantara itu berasal dari suku-suku yang berbeda dengan ciri khasnya, berjalan dengan tradisinya masing-masing, tetapi tetap dengan fungsi dan tujuan yang sama: sebagai identitas, sebagai komitmen dan media komunikasi.

Sebuah budaya akan berjalan baik jika semua anggota masyarakatnya dapat berkolaborasi, berbagi pengetahuan, berkomunikasi, dan yang terpenting saling mendukung dalam ruang komunitas mereka. Ketika seseorang dalam satu komunitas merasa didukung dan tahu bahwa orang-orang mendukungnya, mereka mampu melakukan hal-hal hebat secara bersama-sama. Ini seperti memiliki “circle” yang memungkinkan siapa pun untuk mengajukan pertanyaan, memiliki kepercayaan diri, hak berbicara dan berpendapat dan menghadapi tantangan bersama-sama.

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam masyakarat dibutuhkan kerja sama karena setiap orang memiliki waktu dan sumber daya intelektual yang terbatas, sehingga masyakarat yang hidup di suatu wilayah dapat belajar bagaimana bekerja sama dengan orang lain untuk meningkatkan efisiensi serta memaksimalkan kemungkinan kompetensi yang ada.

Misalnya, ketika masyarakat di suatu desa melakukan kegiatan membersihkan parit. Mereka kemudian membagi orang-orang dengan kemampuan yang berbeda ke dalam sebuah kelompok. Dengan bantuan tenaga, pikiran dan waktu dari setiap orang, maka suatu pekerjaan akan terselesaikan tanpa kendala.

Selain itu, kita semua hidup bersama-sama dari latarbelakang sosial-budaya yang berbeda. Setiap orang dari kita memiliki karakteristik individu yang berbeda, dan karakteristik tersebut sesuai dengan kondisi di mana kita tinggal. Setiap dari kita lahir dari orang tua yang dibesarkan dan hidup di satu negara yang telah diciptakan dalam perjalanan sejarah panjang.

Lokasi tempat tinggal kita tadi menentukan ciri khas budaya kita. Masing-masing dari kita kemudian berkembang dengan cara yang berbeda, dan dari waktu ke waktu, dan menciptakan budaya yang diakui dalam komunitas adat, bahkan bahasa yang unik, tarian yang unik, tradisi yang unik, dan serangkaian kebiasaan-kebiasaan dan hal-hal lain yang berkontribusi pada identitas nasional.

Pengakuan identitas nasional individu itulah yang mengarah pada cara masyarakat dapat berfungsi di tengah masyarakat majemuk dan berbudaya. Jika identitas itu secara sukarela diterima oleh semua orang, maka itu akan mewakili ciri pemersatu bangsa. Selama persatuan nasional itu ada, ia memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk hidup dan bekerja bersama dalam lingkungan yang saling menghormati dan harmoni.

Tindakan ini sangat tercermin dalam sila ketiga Pancasila, persatuan Indonesia. Persatuan Indonesia adalah bukti bahwa dengan bersatu memungkinkan kita untuk mencapai hal-hal besar yang tidak pernah bisa kita lakukan sendiri. Persatuan Indonesia memungkinkan kita menggabungkan kekuatan kita secara bersama-sama untuk melakukan sesuatu yang menakjubkan.

Persatuan itu penting, karena itulah satu-satunya jaminan bagi kelangsungan hidup kolektif sebuah bangsa, yang sepenuhnya terintegrasi dan saling ketergantungan. Bagaimana persatuan Indonesia itu dapat tercapai?

Salah satu aktualisasi persatuan Indonesia adalah melalui budaya gotong-royong. Secara prinsip, di dalam gotong royong melekat subtansi nilai-nilai ketuhanan, musyawarah dan mufakat, kekeluargaan, keadilan dan toleransi (perikemanusiaan) yang merupakan basis pandangan hidup atau sebagai landasan filsafat Bangsa Indonesia.

KeIndonesian Kita dalam Budaya Marsiadapari

Jika kita melihat Indonesia, ada banyak lembaga lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat budaya gotong-royong. Misalnya, Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Karang Taruna dan lembaga-lembaga lokal lainnya.

Dalam masyarakat Batak Toba, budaya gotong-royong disebut marsiadapari. Marsiadapari adalah suatu sistem gotong royong, saling bahu-membahu, saling membantu sesama, saling bekerja sama yang dilakukan beberapa orang secara serentak di suatu huta (kampung) dengan memberikan bantuan tenaga supaya suatu pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat, efisien dan efektif.

Budaya marsiadapari, pada praktiknya, sangat kontras dalam hubungan-hubungan sosial yang mengatur kekerabatan antar orang Batak Toba: Dalihan Na Tolu. Secara harafiah berarti “Tungku Nan Tiga.” Dalihan Na Tolu merupakan lambang dari sistem sosial masyarakat Batak Toba yang mempunyai tiga tiang penopang: Hula-Hula, Boru, Dongan Tubu.

Hula-hula di sini berarti kelompok marga istri, mulai dari istri, kelompok marga ibu (istri bapak), kelompok marga istri opung doli (istri kakek), dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu (teman semarga).

Boru merupakan anak perempuan, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak orang lain. Dalam hal ini, peran Boru diharapkan dapat membantu mengerjakan pekerjaan dalam adat tertentu. Tanpa kehadiran Boru, suatu kegiatan adat seperti pesta pernikahan, kematian dan lain-lain tidak akan bisa dilangsungkan.

Dongan Tubu berarti saudara laki-laki satu marga. Mereka ini seperti “Hau na jonok do na boi marsiososan.” Artinya, batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, dan kadang-kadang bisa saling bergesekan. Bergesekan artinya, mendatangkan konflik karena kepentingan dan kesalahpahaman. Akan tetapi, konflik ini tidak serta merta membuat hubungan di antara satu marga terpisah begitu saja. Hubungan satu marga itu  seperti air yang dibelah dengan pisau, meskipun dibelah tetapi tetap bersatu.

Menurut Vergouwen dalam bukunya Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba (1986), orang-orang yang bermukim di huta yang sama adalah keturunan dari kakek yang sama. Di huta tetangga, mereka mempunyai hula-hula dan di huta tetangga yang lain mempunyai boru. Dalihan Na Tolu ini menggambarkan kategorisasi berbagai kelompok manusia yang hidup di huta dan kerangka ini juga digunakan dalam pengorganisasian huta sebagai satuan politik.

Perlu dipahami, Dalihan Na Tolu tidak bermaksud membuat pengkategorian tertentu dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan orang Batak Toba. Tidak ada pengkultusan atau mengglorifikasi kasta-kasta dan upaya untuk memandang posisi seseorang dalam adat berdasarkan pangkat, harta atau status sosial. Tidak ada sama sekali.

Dalam sebuah pesta adat, seorang yang memiliki jabatan tinggi di suatu pemerintahan wajib memiliki tangggungjawab untuk memberi bantuan (moril atau materil), melayani dan membantu menyukseskan pesta dari pihak keluarga lain atau dari pihak marga (klan) lain.

Suatu waktu, seseorang bisa saja berada di posisi salah satunya: Ia bisa saja di posisi boru pada hari ini, bisa di posisi hula-hula pada esok hari, dan di posisi dongan tubu pada minggu berikutnya. Posisi itu tergantung pada ulaon (kegiatan) dalam sebuah punguan (kumpulan) marga yang diikutinya. Jelaslah bahwa bantuan tenaga ini bisa saja berasal dari boru, dongan tubu, atau dongan sahuta (teman sekampung) sesuai waktu, kondisi dan domisilinya.

Budaya marsiadapari sudah dilakukan secara turun-temurun oleh nenek moyang zaman dulu dan masih melekat kuat dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan suku Batak Toba. Masyarakat menjalankan marsiadapari dengan cara bergantian atau bergiliran. Bila esok seseorang membutuhkan bantuan, orang-orang yang ada di huta dapat memberikan bantuan kepadanya. Begitu pula sebaliknya, bila beberapa hari kemudian di antara orang-orang di huta itu membutuhkan bantuan, ia juga akan ikut serta membantu mereka. Jadi, ada hubungan saling menguntungkan di sana.

Pun, budaya marsiadapari ini dilakukan dihampir semua kegiatan adat Batak Toba, seperti menanam padi di sawah, mencangkul, membersihkan ilalang di ladang, memanen hasil pertanian, mendirikan rumah, dan membantu orang yang terkena musibah (kemalangan). Karena itu, bagi masyarakat Batak Toba ada sebuah ungkapan “Si solisoli do uhum, si adapari do gogo.” Itu berarti “kau memberi maka kau akan diberi, baik sikap atau pun tenaga dan materi.”

Dengan sistem hukum ini, suatu beban pekerjaan berat akan terasa ringan, dan keringanan akan mendatangkan kemaslahatan bagi orang di sekitarnya. Kuncinya adalah “tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona” yang secara harafiah berarti kebersamaan itu adalah ketajaman, jalan satu-satunya adalah kekuatan. Artinya, bila orang-orang dalam suatu komunitas adat selalu mengandalkan kerja sama, kekompakan, keserasian dan satu persepsi untuk mencapai sesuatu, maka dibutuhkan ketajaman dan kekuatan.

Sejatinya, budaya marsiadapari mencerminkan nilai-nilai luhur, keyakinan, sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama oleh sebuah masyarakat, khususnya bagi masyarakat Batak Toba. Dan, secara filosofis menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila teraktualisasikan dalam budaya marsiadapari itu sendiri. Begitulah seharusnya orang-orang dalam suatu bangsa dapat secara kolektif bekerja sama menuju tujuan bersama dan bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain.

Perannya di tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah menyebar ke seluruh dunia. Virus ini telah menunjukkan kepada kita betapa manusia benar-benar lemah dan rentan. Ratusan ribu orang telah terkena dampak virus dan merenggut banyak korban. Ini jelas bukan kabar baik.

Orang-orang di seluruh dunia berada dalam ketakutan dan itu berdampak negatif pada semua orang, baik secara fisik maupun mental. Para pekerja bergantung pada upah harian berjuang untuk hidup dan beberapa di antara mereka harus di PHK oleh perusahaan. Ini adalah sesuatu yang banyak dari kita bahkan tidak bisa dibayangkan: pandemi virus ini ternyata lebih mematikan daripada perang.

Saya pikir, sebagai bagian dari identitas bangsa kita, tidak ada salahnya jika budaya marsiadapari ini dipraktikkan dalam setiap aspek kehidupan kita hari ini. Bangsa Indonesia yang tengah dirundung pandemi Covid-19 sudah saatnya saling menunjukkan sikap marsiadapari.

Setiap warga negara harus menghormati orang lain dari semua sektor dan ikut berkontribusi dalam memberikan bantuan sekecil apa pun. Kita tahu, sektor yang paling terdampak sekarang adalah sektor kesehatan. Dokter dan perawat bekerja tanpa henti, bekerja berjam-jam, tidak bertemu dengan keluarga dan karena usaha merekalah sebagian besar dari kita bisa tetap aman di rumah. Tenaga kesehatan bekerja untuk menyembuhkan pasien yang membanjiri rumah sakit dan membutuhkan perawatan intensif.

Akan tetapi, tidak banyak dari pasien itu yang selamat. Ratusan mayat ditumpuk setiap hari dan dibawa ke tempat pemakaman untuk dimakamkan. Bunyi ambulan yang menyakitkan dan sirene peringatan kendaraan menggemakan kota dengan mengerikan dan menggetarkan penduduk yang terkurung dengan cemas di rumah.

Orang-orang menyaksikan keadaan menyayat hati yang sedang berlangsung di depan mata mereka. Ini memberi pelajaran penting bahwa kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Tidak ada keraguan bahwa kita harus memberikan dukungan moral atau moril, menghormati usaha dan menghargai kerja-kerja kemanusiaan para tenaga kesehatan.

Pada saat yang sama, inisiatif terpuji oleh para relawan yang ingin membantu juga bermunculan, meskipun mereka tidak mendapat liputan atau sorotan memadai dari media massa. Penggalangan dana untuk pekerja esensial yang terkena dampak Covid-19 atau kepada keluarga yang berjuang setelah sakit atau meninggal.

Munculnya komunitas-komunitas yang tergabung dalam berbagai profesi memberikan bantuan dan mendukung mereka yang paling rentan dan mereka yang bekerja di garis depan, hingga kelompok pertemanan bersatu melalui panggilan telepon berkontribusi pada pengembangan aspek moral dan spiritual melalui pertemuan doa dan kelas pendidikan daring.

Kelompok lainnya adalah TNI dan Polri. Mereka bekerja siang dan malam untuk memastikan semua orang aman dan nyaman. Jika mereka tidak menjalankan tugasnya dengan serius, kita semua akan mendapatkan masalah dikemudian hari. Kita juga tidak boleh mengabaikan fakta bahwa keputusan dan kebijakan yang tepat harus diambil oleh para pemimpin dalam situasi seperti ini. Jurnalis dan reporter selalu ada untuk memberi kita informasi aktual dan pembaruan berita yang diperlukan. Tanpa usaha mereka, keputusan yang diambil oleh para pemimpin tidak akan memiliki efek atau hasil yang baik.

Di samping itu, pasokan kebutuhan pokok juga terkena dampak negatif karena terbatasnya pasokan, seperti toko-toko secara teratur kehabisan makanan, minuman, obat-obatan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Meskipun pihak berwenang memastikan pasokan makanan ke daerah yang terkena dampak, pasokan tidak cukup dan tidak sedikit pula oknum-oknum tak bertanggungjawab menimbun pasokan dan menaikkan harga barang, sehingga sulit bagi masyarakat untuk bertahan hidup selama karantina.

Tak ketinggalan, lini masa kita penuh dengan sikap pro dan kontra. Di tengah pandemi hari ini, orang-orang harus sadar betul bahwa tidak ada gunanya berdebat kusir dan saling menyalahkan. Paling penting adalah bekerja sama, mendengar masukan dan nasihat dari para ahli tentang langkah-langkah keselamatan warga negara.

Semua orang juga harus mengambil peran, tanggungjawab dan menemukan solusi terbaik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Setidaknya, menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh dapat mengurangi dampak buruk virus ini. Karena bagaimanapun, kesehatan sangat berharga dan harus menjadi prioritas utama. Selain itu, perlu mempraktikkan jarak sosial sebagai norma baru: Jarak fisik dan praktik kebersihan lainnya harus menjadi bagian dari kehidupan kita, bahkan tanpa adanya penyakit menular sekalipun.

Budaya marsiadapari ini bisa ditunjukkan dalam perilaku keseharian kita di tengah pandemi dengan mematuhi protokol kesehatan: mencuci tangan, menggunakan masker, dan bekerja dari rumah. Mengikuti semua instruksi yang disampaikan oleh pemerintah dan memberikan edukasi kepada orang-orang yang masih melanggar protokol kesehatan. Jika kita membagikan hal-hal terkait Covid-19 kepada orang-orang, orang-orang juga harus memastikan fakta yang didapatkan berasal dari sumber terpercaya dan akurat sehingga setiap orang dapat mengambil tindakan pencegahan yang cepat dan wajar.

Tak hanya itu, upaya gotong-royong dalam menjaga kelestarian lingkungan juga sangat dibutuhkan. Saya pikir, budaya marsiadapari ini erat kaitannya terhadap pelestarian lingkungan. Berdasarkan pengalaman saya semasa kecil di kampung halaman, masyarakat adat mengatur diri mereka sendiri melalui kontak sosial yang efektif.

Mereka hidup selaras dengan alam, bergantung padanya untuk penghidupan tanpa mengeksploitasinya secara berlebihan. Jika mereka menebang pohon, mereka menanam bibit pohon untuk melindungi ekosistem hutan. Komunitas-komunitas adat di sana juga memiliki sistem kepercayaan, mitos, tabu, dan kontak sosial yang tidak ada dalam masyarakat urban.

Unsur-unsur sosial ini diturunkan dari generasi ke generasi dan diajarkan kepada anak-anak mereka agar selalu menjaga ekosistem hutan. Praktik kearifan lokal ini masih dipraktikkan di beberapa daerah di Indonesia. Mereka bergotong-royong menjaga kelestarian tombak (hutan) dengan tidak menebang pohon secara serampangan. Jadi, pelestarian lingkungan secara bergotong-royong diperlukan untuk melindungi kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita tidak melindungi alam di sekitar kita, kita tidak akan memiliki makanan untuk dimakan, dapat bernapas, melihat pepohonan hijau, dan melihat semua hewan liar yang mengagumkan di alam.

Pelajaran penting dari budaya marsiadapari ini adalah adanya kekuatan kolaborasi dan inovasi. Kita tidak lagi melihat satu sama lain sebagai entitas politik yang terpisah untuk dihilangkan dan dimanipulasi, tetapi sebagai warga negara yang bergantung pada semangat gotong-royong.

Budaya marsiadapari adalah milik bangsa Indonesia sebagai upaya untuk memperkokoh persatuan bangsa. Oleh sebab itu, setiap orang harus saling melindungi, berkolaborasi, membangun solidaritas dan memberdayakan satu sama lain. [NI]

Artikel sebelumyaHikayat Celeng
Artikel berikutnyaKuda: Simbol dalam Shamanisme
Nusantara Institute (NI) adalah lembaga semi-otonom yang didirikan oleh Nusantara Kita Foundation (NKF) yang fokus di bidang studi, kajian, publikasi, scholarship, riset ilmiah, dan pengembangan akademik tentang ke-Nusantara-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here