Beranda Publikasi Kolom Tradisi Sisemba’ di Toraja

Tradisi Sisemba’ di Toraja

804
Tradisi Sisemba’

Theofilus Welem (Mahasiswa Magister Sosiologi Agama UKSW Salatiga)

Setiap kelompok masyarakat di berbagai daerah di Indonesia selalu memiliki tradisi unik ataupun tradisi khusus yang membuat mereka dikenal atau menjadi suatu ciri khas bagi perjalanan kehidupan mereka sendiri. Salah satu tradisi yang dapat dijumpai dalam masyarakat ialah permainan tradisionalnya.

Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya, permainan tradisional  merupakan salah satu bagian dari tradisi masyarakat. Setiap permainan tradisional dalam suatu masyarakat merupakan warisan yang diberikan serta diturunkan dari satu generasi ke generasi  berikutnya. Permainan tradisional dikatakan memiliki karakteristik tersendiri yang dapat membedakannya dari karakteristik yang lain.

Pertama, permainan itu cenderung menggunakan alat atau fasilitas di lingkungan tanpa membelinya. Karakteristik kedua, permainan tradisional dominan melibatkan pemain yang relatif banyak atau berorientasi komunal. Tidak mengherankan, hampir setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya. Sebab, selain mendahulukan faktor kegembiraan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud lebih pada pendalaman kemampuan interaksi antar pemain. Kebanyakan permainan tradisional dalam suatu masyarakat selalu memiliki nilai-nilai sosio-rligi yang terkandung didalam pelaksanaannya.

Dalam kehidupan masyarakat di Toraja, terdapat beberapa tradisi yang berkaitan dengan permainan tradisional, salah satu permaianan tradisional yang menjadi tradisi dan yang sering dilaksanakan oleh masyarakat Toraja ialah tradisi Sisemba’.

Sisemba’ merupakan permainan tradisional dan menjadi salah satu kekayaan tradisi orang Toraja yang dimaknai serta dipercayai sebagai bentuk kegembiraan serta kesenangan. Siesemba’ sebagai tradisi lokal orang Toraja serta menjadi warisan turun-temurun dan dipercayai telah ada sejak datangnya manusia pertama dalam cerita atau mitos manusi Toraja. Tradisi adu kaki atau sisemba’ dimainkan oleh dua kubu atau dua kelompok petarung yang berbeda.

Sisemba’ juga dipahami sebagai latihan perang untuk membuat mental seseorang menjadi kuat melawan musuh. Pada pelaksanaannya, tradisi sisemba’ lebih banyak dilakukan atau ditampilkan oleh para pria, dimana mereka akan saling beradu kekuatan dengan cara saling menendangkan kaki mereka. Dari beberapa informasi yang ada, sisemba’ dilakukan dengan tiga cara yaitu simanuk (satu lawan satu), siduanan (dua lawan dua) dan sikambanan (kelompok lawan kelompok) yang biasanya dilakukan di lapangan yang luas.

Cara memainkannya yaitu partisipan akan memasuki lapangan dan akan berlari untuk menghampiri lawan lalu saling menendang. Kebanyakan yang terlihat bahwa tradisi adu kaki ini dipraktikkan pada kelompok anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun. Jika dilihat lebih dekat, tradisi aksi adu kaki lebih terlihat seperti tawuran massal, dikarenakan masyarakat saling berhadap-hadapan untuk melumpuhkan lawan dengan cara beradu kaki “tending” secara massal.

Karena pada dasarnya permainan tradisional ini adalah tentang kaki, maka para petarung di setiap kubu akan bersatu dengan cara penumpangan tangan, baik saat menyerang lawan maupun dalam posisi bertahan. Salah satu peraturan penting dari tradisi sisemba’ ialah masyarakat yang ambil bagian tidak diperbolehkan menyerang lawan dengan menggunakan tangan, dalam hal ini berupa menampar atau memukul.

Pelaksanaan tradisi sisemba’ sering kali dilakukan pada saat ritual pengucapan syukur (Rambu Tuka’) dan juga dalam ritual kematian (Rambu Solo’). Dalam rambu tuka’ sisemba’ dilakukan sebagai sebuah ungkapan syukur atas hasil panen yang boleh didapat oleh masyarakat. Tradisi sisemba’ tidak hanya berupa permainan adu kaki atau bentuk hiburan bagi masyarakat akan tetapi, masyarakat percaya kegiatan sisemba’ dapat membuat hasil panen yang melimpah pada tahun-tahun selanjutnya.

Pelaksanaan kegiatan sisemba’ dipercayai oleh masyarakat Toraja dapat mencegah gagal panen serta dapat meningkatkan hasilnya dari tahun ke tahun.  Tradisi sisemba’ dikatakan sebagai suatu kegiatan wajib yang diadakan tiap tahun oleh masyarakat pasca panen padi karena jika tidak dilakukan, dipercaya bahwa panen padi selanjutnya akan mengalami penurunan dari segi hasil serta kualitasnya. Sisemba’ sebagai suatu kegiatan yang sangat unik dan tidak pernah dilakukan di luar Toraja.

Sedangkan dalam rambu solo’, seringdilaksanakan pada ritual tingkat atas sebagai sebuah bentuk ungkapan syukur karena dengan adanya berkat yang diberikan oleh Tuhan (Puang Matua) kepada anak cucu dari orang yang meninggal sehingga dapat membeli kerbau yang baik. Sisemba’ yang dihadiri oleh berpuluh-puluh bahkan sampau beratus-ratus warga merupakan wadah bersilaturahmi untuk warga kampung mempererat tali persaudaraan sekaligus untuk mengcegah adanya permusuhan.

Partisipan sisemba’ bukan hanya dari orang Kristen atau jemaat yang mengadakan kegiatan ini, melainkan tidak seringa terdapat juga masyarakat beragama Islam serta berbagai warga dari beberapa kampung yang ikut serta dalam memeriahkan pelaksanaan tradisi sisemba’. Tidak hanya orang Kristen, bahkan seluruh masyrakat Toraja memahami bahwa sisemba’ dapat menjadi wadah untuk mempererat rasa persaudaraan antar partisipan bahkan seluruh masyarakat Toraja.  

Pada saat akan melakukan tradisi sisemba’, para partisipan akan menyebutkan “Sisemba’-semba’ sangmane” artinya bermain kaki lewat persaudaraan. Sisemba’ juga berarti kiat solidaritas orang Toraja Meskipun pada kenyataannya dan tidak dapat dipungkiri oleh orang Toraja bahwa kegiatan sisemba’ merupakan kegiatan yang dinilai sebagai bentuk tindakan kasar, akan tetapi sampai hari ini masih banyak masyarakat justru sangat menyambut dengan baik dan memanfaatkan dari tradisi ini sebagai tempat atau ruang  bertemunya masyarakat dari berbagai kampung dari latar belakang yang berbeda dengan tujuannya untuk memainkan sisemba’ dalam hal positif.

Melalui tradisi sisemba’ dalam pelaksanaan ritual rambu tuka’ maupun rambu solo’, menjadi sebuah bentuk tindakan masyarakat menaikkan ungkapan emosionalnya yaitu syukurnya serta menjadi ruang bertemunya individu dalam menghasilkan interaksi yang intens satu dengan yang lain yang membentuk ikatan emosional antara satu dengan yang lainnya.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapakan oleh Durkheim yang menyebutkan bahwa kesadaran dalam ritual suci keagamaan menjadi perhatian masyarakat yang merupakan bentuk interaksi dan saling merangsang dalam psikologi kerumunan.36 Ketika individu berkumpul dalam suatu upacara ritual keagamaan menjadi tempat bertemunya individu dan menghasilkan interaksi yang intens dengan fokus pada satu objek yang sama sehingga terbentuklah peningkatan sisi emosional.

Jikalau nantinya terdapat hal yang tidak diinginkan  terjadi, yaitu adanya konflik antara pasrtisipan maka para pemuka agama, tokoh adat serta pemerintah setempat akan mempertemukan pihak-pihak yang memiliki persoalan serta mendiskusikan hal apa saja yang menyebabkan konflik antara mereka terjadi dan kemudian berusaha untuk memperdamaikan mereka dalam nilai-nilai adat dan keagamaan dan diharapkan setelah hal itu tidak ada lagi dendam dalam diri mereka.

Meskipun tidak dapat dipungkiri juga bahwa mungkin saja  ketika telah didamaikan pada saat kejadian, mereka dapat bertemu di tempat lain dan masih dendam yang ada dapat timbul kembali. Segala nilai sosial-religi serta berbagai dampak positif dan negative adalah bagian yang mewarnai kebanyakan tradisi masyarakat Toraja, akan tetapi kerinduan untuk tetap melaksanakannya serta tindakan dalam upaya agar nilai positif itu lebih dapat terwujud adalah kerinduan dari setiap orang Toraja dan menjadi pola pikir yang ada sebagai upaya mempertahankan serta menghargai warisan leluhurnya.

Referensi

Luden, Lisdayanti Wiwik, Hana Senolinggi, and Risdayanti Padang. “Penerapan Nilai-Nilai Anti Korupsi Melalui Permainan Tradisional Sisemba’ Tradisi Toraja.” In Prosiding Seminar Nasional PGSD “Transformasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Berbasis Teknologi,” 267–73. Tana Toraja: Universitas Kristen Indonesia Toraja, 2021.

Maulidia, Hanifa. “Relasi Agama dan Masyarakat Dalam Perspektif Emile Durkheim dan Karl   Marx”, Jurnal Sosiologi USK, Vol 13, No. 2 (2019).

Wijayanti, Rina. “Permainan Tradisional”. Cakrawala Dini, Vol.5, No.1, (2014).

Luden, Lisdayanti Wiwik, Hana Senolinggi, and Risdayanti Padang. “Penerapan Nilai-Nilai Anti Korupsi Melalui Permainan Tradisional Sisemba’ Tradisi Toraja.” In Prosiding Seminar Nasional PGSD “Transformasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Berbasis Teknologi,” 267–73. Tana Toraja: Universitas Kristen Indonesia Toraja, 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini