Beranda Publikasi Tari Bedhaya Bedhah Madiun di Pura Mangkunegaran

Tari Bedhaya Bedhah Madiun di Pura Mangkunegaran

268
Foto: Koleksi Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran
Foto: Koleksi Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran

Oleh: Sriyadi (Mahasiswa Program Studi Seni Program Magister Pascasarjana ISI Surakarta serta peraih Nusantara Dissertation/Thesis Writing Grant 2020 yang diselenggarakan oleh Nusantara Institute dan Bank Central Asia)

Tari yang berkembang di Mangkunegaran pada dasarnya menggunakan gaya Surakarta. Tetapi pada masa pemerintahan Mangkunegara VII terdapat tari Bedhaya Bedhah Madiun dengan gaya Yogyakarta. Meskipun berakar dari tari bedhaya gaya Yogyakarta, tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran memiliki ciri khas dan perbedaan signifikan dengan tari bedhaya gaya Yogyakarta. Artikel ini bertujuan mengkaji awal mula keberadaan tari Bedhaya Bedhah Madiun gaya Yogyakarta di Mangkunegaran dan menganalisis gaya penyajiannya. Kajian historis tari Bedhaya Bedhah Madiun berguna untuk mengetahui kronologi dan penyebabnya. Analisis gaya penyajian digunakan untuk mendeskripsikan teknik penyajian, karakteristik, serta memahami faktor pembentukan gayanya. Studi ini menggunakan pendekatan etnokoreologi dengan metode archival research.

Tinjauan Historis

Keberadaan tari Bedhaya Bedhah Madiun gaya Yogyakarta di Mangkunegaran disebabkan oleh beberapa faktor. Upaya Pura Mangkunegaran yang ingin merdeka dari Kraton Kasunanan Surakarta mempengaruhi stabilitas keadaan sosial politik. Keadaan sosial politik Mangkunegaran yang kurang stabil menyebabkan terjadinya politik pernikahan antara Mangkunegaran dengan Kraton Kasultanan Yogyakarta pada masa pemerintahan Mangkunegara VII. Dampak dari politik pernikahan adalah terjadinya interaksi budaya antara Mangkunegaran dan Yogyakarta. Interaksi budaya didukung dengan adanya kebijakan Mangkunegara VII untuk mengembangkan kesenian di Mangkunegaran. Gaya kepemimpinan Mangkunegara VII yang demokratis, modern, dan berpandangan luas menyebabkan terjadinya absorpsi tari gaya Yogyakarta dari interaksi budaya.

Absorpsi tari gaya Yogyakarta dimanfaatkan Gusti Timur untuk menegaskan kedudukan Gusti Nurul sebagai putri mahkota Mangkunegaran. Tindakan Gusti Timur dalam menegaskan kedudukan putri tunggalnya itu mempengaruhi perkembangan seni tari di Mangkunegaran. Gusti Nurul disertai dengan para kerabat dan niyaga (penabuh gamelan) Mangkunegaran belajar Tari Bedhaya Bedhah Madiun di KBW Yogyakarta. Tari ini merupakan repertoar tari yang digunakan untuk menegaskan kedudukan Gusti Nurul melalui ketrampilan dan eksistensinya dalam menari bedhaya.

Gaya Penyajian

Tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran secara struktural memiliki kemiripan dengan tari bedhaya gaya Yogyakarta. Kemiripan struktur sajian dapat dilihat dari struktur gending dan struktur penerapan formasi. Struktur gending Bedhaya Bedhah Madiun adalah lagon serta Ldr. Langenbranta dengan garap irama I untuk bagian ajon-ajon dan mundur. Bagian beksan pokok satu (beksan enjeran) menggunakan Gendhing Gandakusuma sebagai gending pokok, setelah itu dhawah Gendhing Gambuh yang dilanjutkan dengan Ldr. Gurisa Mengkreng. Pada bagian beksan pokok dua (beksan ketawang) menggunakan Ktw. Mijil Wedharingtyas.

Struktur penerapan formasi yang digunakan pada bagian beksan enjeran adalah lajur, endhel lumebat lajur, endhel medal lajur, baris, serta ­tiga-tiga. Bagian beksan ketawang menggunakan formasi lajur, gelar, dan tiga-tiga. Pada formasi gelar menjadi bagian inti pengungkapan cerita yang diangkat dalam tari Bedhaya Bedhah Madiun. Pada bagian tersebut peranan endhel dan batak memiliki kedudukan yang signifikan dalam menampilkan cerita.

Rangkaian gerak yang digunakan dalam tari Bedhaya Bedhah Madiun pada dasarnya adalah rangkaian gerak dalam tari bedhaya gaya Yogyakarta. Rangkaian gerak tersebut adalah nggrudha, gidrah, gudawa, ngunduh sekar, dan sebagainya. Seperti dalam tari bedhaya gaya Yogyakarta, rangkaian gerak ngenceng menjadi motif atau gerak dasar dalam tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran. Di dalam sistem menghubungkan rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak lainnya menggunakan sendhi (panambang) yang tidak jauh berbeda dengan tari bedhaya gaya Yogyakarta.

Tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran meskipun berakar dari gaya Yogyakarta tetapi memiliki perbedaan gaya penyajian yang signifikan. Perbedaan gaya penyajian dapat dilihat dari pola gerak, jumlah penari, gending, serta tata rias dan busana. Perbedaan signifikan dalam pola gerak terletak pada teknik pelaksanaan rangkaian gerak, posisi dan sikap lengan, bentuk tolehan kepala, dan sebagainya.

Tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran disajikan oleh tujuh orang penari sedangkan tari Bedhaya Bedhah Madiun gaya Yogyakarta disajikan oleh sembilan orang penari. Perbedaan jumlah penari ini mempengaruhi bentuk formasi yang digunakan, karena peranan endhel wedalan ngajeng dan endhel wedalan wingking dalam tari bedhaya sanga dihilangkan.

Kemudian, gending tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran memiliki laya yang lebih cepat dibandingkan gending tari bedhaya gaya Yogyakarta. Perbedaan laya menyebabkan perbedaan intensitas dan penyaluran tenaga dalam pelaksanaan setiap rangkaian gerak. Tari bedhaya gaya Yogyakarta memiliki intensitas dan penyaluran tenaga yang lebih tinggi daripada tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran.

Pembentukan Gaya Penyajian

Pembentukan gaya penyajian tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran tidak terjadi dalam suatu peristiwa akan tetapi merupakan sebuah proses. Proses pembentukan gaya penyajian diawali dengan adanya adaptasi dari absorpsi tari gaya Yogyakarta di Mangkunegaran pada masa pemerintahan Mangkunegara VII. Adaptasi disebabkan karena adanya permasalahan perbedaan budaya dan keadaan sosial politik. Permasalahan perbedaan budaya timbul karena Mangkunegaran memiliki tradisi berorientasi pada tari gaya Surakarta, sedangkan tari Bedhaya Bedhah Madiun menggunakan gaya Yogyakarta.

Permasalahan keadaan sosial politik ini disebabkan karena pengembangan budaya sebagai bentuk konflik politik pecahan Kraton Mataram Islam. Permasalahan perbedaan budaya dan keadaan sosial politik menjadi faktor perubahan teknik gerak, musik tari, jumlah penari, serta tata rias dan busana. Inovasi dalam respon permasalahan budaya tidak memberikan perbedaan signifikan pada bentuk dan struktur gerak, sebab absorpsi dilakukan secara aktif dari sumber primer dengan sistem pembelajaran bermutu tinggi.

Revolusi kemerdekaan menyebabkan kekuasaan Mangkunegaran dilucuti. Aset kekayaannya juga dibekukan. Mangkunegara VIII kemudian mendirikan Biro Pariwisata sebagai respon permasalahan tersebut. Tari Bedhaya Bedhah Madiun menjadi repertoar tari sajian pariwisata sehingga terjadinya pengurangan durasi sajian dengan cara mengambil bagian beksan ketawang. Hal tersebut mempengaruhi sistem pewarisan tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran dengan durasi sajian secara lengkap.

Hubungan sosial yang kurang baik antar seniman tari pada akhir masa pemerintahan Mangkunegara VIII dan awal masa pemerintahan Mangkunegara IX menyebabkan terjadinya kegagalan sistem pewarisan tari Bedhaya Bedhah Madiun. Masing-masing seniman tari membuat sebuah interpretasi yang diyakini kebenarannya mengenai teknik dan bentuk gerak tari Bedhaya Bedhah Madiun, meskipun tidak seluruhnya seniman tari belajar langsung ke KBW Yogyakarta maupun secara intensif mendalami karya tari ini. Gaya penyajian tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran sekarang ini merupakan hasil interpretasi yang tidak didasarkan dari sumber primer.

Respon terhadap permasalahan sistem pewarisan yang disebabkan dari konflik hubungan sosial antara seniman tari memiliki dampak negatif dan positif. Dampak negatif dari interpretasi yang dilakukan adalah kegagalan dalam sistem pewarisan, sehingga pengetahuan yang berkembang sebelumnya tidak tersampaikan pada generasi penerus. Dampak positif interpretasi adalah memberikan perbedaan yang semakin signifikan antara tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran dengan tari bedhaya gaya Yogyakarta. Perbedaan signifikan ini memperkuat karakteristik tari Bedhaya Bedhah Madiun di Mangkunegaran. [NI]