Beranda Publikasi Suraos ing Mikrad: Isra’ Mi’raj dalam Pemahaman Orang Jawa

Suraos ing Mikrad: Isra’ Mi’raj dalam Pemahaman Orang Jawa

323
0

Oleh: Siti Mariatul Kiptiyah (Alumni UIN Sunan Kalijaga, Dosen STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta)

Inilah salah satu literatur berbahasa dan beraksara Jawa yang berbicara tentang Isra’ Mi’raj. Judulnya,  Suraos ing Mikrad. Karya ini merupakan tulisan dari Raden Trihardana Sumadiharja, seorang intelektual dari Surakarta. Tepat pada tanggal 27 Rejeb Jimakir 1858 atau 19 Januari 1928 karya tersebut diterbitkan. Kitab Suraos ing Mikrad ini terdiri dari 75 halaman, ditulis dengan huruf carakan standar mesin ketik dan diterbitkan oleh penerbit Swastika, Solo. Seperti halnya literatur-literatur Islam beraksara carakan lainnya,  Suraos ing Mikrad juga menyuguhkan ayat Al-Qur’an berkenaan dengan topik yang sedang dibahas, dalam hal ini adalah QS. Al-isra’(17): 1 lengkap dengan terjemahan versi Jawanya. Ayat tersebut bersama dengan hadis-hadis tentang isra’ mi’raj menjadi dasar atas uraian pengarang mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.

Suraos artinya makna atau arti, sedangkan Mikrad itu sebutan bagi orang Jawa untuk kata Mi’raj. Jadi, Suraos ing Mikrad secara tekstual berarti maknanya mi’raj. Dalam karyanya ini, Raden Trihardana Sumadiharja menyajikan pemahamannya atas peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad saw dengan sudut pandang teosofi. Hal ini terlihat pada anak judul kitab tersebut yang menyatakan hendak menggali pengetahuan hakikat atas perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw dalam peristiwa isra’ mi’raj.

Suraos artinya makna atau arti, sedangkan Mikrad itu sebutan bagi orang Jawa untuk kata Mi’raj. Jadi, Suraos ing Mikrad secara tekstual berarti maknanya mi’raj

Bukan tidak mungkin Raden Trihardana Sumadiharja condong pada perspektif teosofi dalam membaca isra’ mi’raj Nabi yang merupakan peristiwa menakjubkan. Sebagaimana gelar yang dimilikinya, ia merupakan bangsawan kraton Surakarta yang juga aktif di dalam perkumpulan Teosofi di Surakarta yang berkembang sejak abad ke-19. Di sinilah terjadi perkawinan antara Islam, kejawaan, dan teosofi dalam dirinya yang menjadikan pemahamannya tentang isra’ mi’raj menjadi unik.

Sebagai intelektual kraton, Raden Trihardana Sumadiharja membawa unsur identitas kejawaannya dalam karyanya. Literatur Suraos ing Mikrad ditulis menggunakan bahasa dan aksara Jawa (carakan). Dalam menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj juga tidak terlepas dari dialek sosial masyarakat Jawa sebagai komunitas pembaca yang dikehendaki. Selain itu, cara pandangnya terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj pun sangat khas. Isra’ Mi’raj yang merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw yang membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat, oleh Raden Trihardana Sumadiharja dipahami dari sisi teosofi, tasawuf-filsafat atau kebatinan.

Dalam kaca mata orang Jawa yang diwakili oleh Raden Trihardana Sumadiharja, Isra’ Mi’raj bukanlah perjalanan biasa yang nir makna batini. Mikrad dipahami sebagai minggah atau naik, the heavenly ascension (kenaikan surgawi). Artinya wangsul ing jiwa dhateng kamulyanipun (asalipun) atau kembalinya jiwa menuju asalnya. Pemahaman ini erat kaitannya dengan ajaran sufistik atau teosofi Jawa tentang kembalinya ruh kepada penciptanya. Begitu juga dengan orang-orang muslim yang memiliki kecenderungan mistis atau sufistik.

Menurut Omid Safi (2010:166), Mi’raj merupakan pengalaman spiritual Nabi yang paling penting dan mengilhami sekelompok muslim yang memiliki kecenderungan mistis untuk mencapai tahap di mana bisa bertatap muka menemui Tuhannya. Pemahaman Muslim tentang mi’raj atau kenaikan surgawi merupakan cara yang baik untuk mengetahui bagaimana peristiwa yang menakjubkan tersebut menyempurnakan narasi Qur’ani.

Oleh karena itu, setiap tanggal 27 Rajab umat Islam di Nusantara termasuk di Jawa bagian Selatan, Surakarta, memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj. Berbagai perayaan dilakukan untuk mengenang peristiwa menakjubkan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw.

Ingatan akan peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah suatu yang ala kadarnya, melainkan menyimpan mandat untuk mengingat kembali kenyataan perjumpaan Nabi dengan Tuhan dan memperjuangkan perintah-perintah yang dibawa Nabi dalam kehidupan. Hal tersebut pula yang melatarbelakangi penulisan Suraos ing Mikrad.

Ada dua isu utama yang dipaparkan Raden Trihardana Sumadiharja dalam karyanya. Pertama, peristiwa isra’ mi’raj berkenaan dengan perjalanan hidup seseorang untuk bisa sampai pada manunggal ing kawula Gusti. Bagi orang Islam, ini bisa dimulai dari menjalankan lima rukun Islam. Diawali dengan syahadat sebagai pernyataan kesaksian individu akan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti penyerahan jiwa kembali kepada-Nya, kembali kepada asal yang sejati. Tuhan, sebagaimana dijelaskan pengarang, ada di dalam hati setiap manusia, sehingga untuk menjumpai-Nya harus menyelami hatinya sendiri tidak perlu mencari di lain tempat. Sedangkan untuk menemukan Tuhan di dalam hati, setiap orang harus menjalankan syariat terlebih dahulu, menjalankan rukun Islam, dan selanjutnya melampaui apa yang disebut dengan tarekat. Tahap ini perlu ditingkatkan terus menerus hingga sampai pada hakikat dan puncaknya adalah makrifat. Peristiwa isra’ mi’raj Nabi menggambarkan betapa Nabi sebagai manusia telah melampaui tahapan-tahapan tersebut. Inilah yang diredaksikan pengarang sebagai,

“…jumeneng ing manungsa jati ingkang sampun dumugi ing kasampurnanipun, inggih punika sampun dumugi ing wiwaran ing nugraha agung, inggih pungkas-pungkasan ing gagayuhan temah sinengkakaken ing ngaluhur.”

Sedangkan isu yang kedua, pengarang menyoroti ajaran semadi yang diperolehnya dari membaca hadis riwayat Anas bin Malik r.a. tentang keutamaan puasa di bulan Rajab, bulan di mana peristiwa isra’ mi’raj Nabi saw terjadi. Semadi di sini merupakan upaya manusia untuk menahan atau menekan hawa nafsu, untuk bisa lebih jernih hati dan pikirannya yang pada akhirnya melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik, wicaksana. Dengan berpuasa atau menjalani semadi, seseorang akan menemukan raos jati sebagai bekal menjadi manungsa jati. Hubungannya dengan hadis dimaksud, bahwa hanya manusia sejatilah yang dapat mencelupkan dirinya ke dalam sungai kebijaksanaan yakni surga yang airnya disebut lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu.

Kedua isu yang dibahas dalam Suraos ing Mikrad memotret bagaimana resepsi Muslim Jawa kraton dan aktivis perkumpulan Teosofi atas teks-teks yang menceritakan perjalanan spiritual isra’ mi’raj Nabi saw. Bahwa peristiwa isra’ mi’raj mengingatkan manusia akan perjalanan hidupnya, diciptakan oleh Tuhan dan kelak akan kembali kepada-Nya. Ketika kembali ini manusia menginginkan kesempurnaan dalam arti bisa melihat Tuhannya yang mana hal itu tidak akan tercapai tanpa menjalani tahapan-tahapan penyucian diri terlebih dahulu. Dalam proses itulah, religiusitas dan kemanusiaan manusia akan terbangun. Semakin religius seseorang semakin tinggi rasa kemanusiaannya. Manusia akan menjadi lebih bijaksana dan bisa menerima manusia lainnya tanpa membeda-bedakan.

Semakin religius seseorang semakin tinggi rasa kemanusiaannya

Di sinilah letak horizon teosofi pengarang yang menempatkan kemanusiaan beriringan sejajar dengan religiusitas. Manusia religius pada saat yang sama adalah mereka yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan setinggi-tingginya. Dengan demikian, Suraos ing Mikrad menggali nilai-nilai terdalam dari peristiwa isra’ mi’raj Nabi saw terkait cara menggapai ketaqwaan kepada Tuhan sekaligus meningkatkan aspek sosial kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa peristiwa isra’ mi’raj di hadapan orang Jawa bisa dipahami sangat khas teosofi Jawa dan tentu semakin memperlebar khazanah budaya dan pemikiran Islam Nusantara.[]